logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4

Sepulang dari tempatnya bekerja, AIra datang ke sebuah tempat hiburan malam bersama seorang teman wanitanya. Sudah bukan hal yang tabu lagi bagi Aira karena gadis itu sering datang ke tempat yang banyak orang bilang penuh dosa itu. 
kedatangan Aira dan satu temannya disambut ramah oleh beberapa orang yang mereka kenal. Aira datang dengan mengenakan pakaian serba mini, seperti kebanyakan pengunjung wanita lainnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan menggoda bagi pria-pria hidung belang yang melihatnya. 
Suara musik yang menyakitkan telinga sama sekali tidak mengganggu mereka yang mengunjungi tempat itu. Banyak orang menikmati hiburan musik DJ yang diadakan oleh pemilik kelab malam. Aira ikut bergabung dengan pengunjung lainnya yang sedang menari di lantai dansa. Meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang diputar. 
Peluh membasahi tubuh Aira karena gerakannya yang energic. Napasnya sedikit tersengal-sengal karena terlalu semangat bergerak. Namun, wajahnya terlihat sumringah, tidak seperti orang kelelahan. Rasa marah, kesal, cemburu yang beberapa hari ini selalu menyelimuti hatinya kini sedikit berkurang setelah Aira meluapkannya dengan menari. Namun, tak hanya itu, ia sudah memiliki rencana untuk membalas dendam serta menyingkirkan Lidia dari hidupnya dan juga Evan. 
"Sudah lebih baik?" tanya teman Aira yang datang bersamanya. 
"Ya, lumayan. Gimana, katanya lo ada kenalan yang bisa bantu gue. Mana?" tanya Aira kembali teringat dengan tawaran temannya. 
"Sabar dulu, Sista, tenang aja, gue udah hubungin dia, tapi, kayaknya dia belum datang deh. Maklum sih, dia orang sibuk, jadi ya, agak telat dikit gak papa lah ya. Sadar diri juga sih, kita bukan orang penting banget yang haru diprioritaskan," jawab teman Aira. 
Mendengar ucapan temannya, Aira sedikit tersentil egonya. Ia memandang sinis pada temannya itu. Kalau saja dirinya tidak sangat membutuhkan bantuan itu, Aira akan mengurungkannya saat ini juga. Akan tetapi, saat ini, hancurnya Lidia jauh lebih penting ketimbang harga dirinya. Tak apa, hanya sementara. 
Sambil menunggu kedatangan orang tersebu, Aira dan temannya menikmati minuman beralkohol yang mereka pesan dari barista handal di sana. Meski harga yang dipatok manjapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tapi, Aira sama sekali tak masalah. Padahal, sekali masuk bar, setidaknya uang satu juta rupiah akan melayang sia-sia. 
Seorang pria masih mengenakan setelan kerja berjalan mendekati meja yang ditempati Aira dan temannya. Pria itu berhenti di samping teman Aira. 
"Maaf gue sedikit terlambat, Nay," ucap pria itu pada Naya, teman Aira. 
"Its oke, Arkan, nunggu lo sampai pagi pun gue gak masalah, asal lo tetep datang," jawab Naya. Aira yang mendengarnya merasa risih karena menurutnya itu sangat berlebihan. Sepertinya Naya menyukai Arkan. 
"Who is she?" tanya Arkan menatap Aira. 
"Dia Aira, yang gue bilang waktu itu bisa ngebantu rencana lo, Arkan." 
"Oh, yeah, jadi, ada gimana?" 
Mendapat respon positif dari Arkan, Aira segera menceritakan keinginannya. Ia menjelaskan sepintas tentang rencana yang sempat ia pikirkan pada Leon dan Naya. Arkan menanggapinya dengan mimik wajah yang menunjukkan ketertarikan pada pemikiran Aira. 
"Gue rasa ide lo bagus juga, dan gue pikir, kalau musuh gue bisa menghamili temen lo itu, reputasi dia di dunia bisnis juga akan hancur. Selama ini gue ingin sekali menjatuhkan dia dengan cara itu, tapi, ya ... lo tahu kan orang bisnis tuh pinter-pinter, jadi, gue masih belum nemuin celah buat hancurin dia," tutur Arkan. Meski Aira tak begitu paham, intinya Arkan setuju dengan niatnya itu sudah sangat bagus. 
"Gue akan buat rencana yang akan mendukung rencana kamu, so, kamu tinggal tunggu kabar dari gue, gimana?" tawar Arkan. 
"Gue sih setuju aja asal lo beneran bisa dipercaya, karena gue pengen temen gue ini segera hancur, terus pergi dari kehidupan cowok yang gue cinta. Kalaupun akhirnya gue juga gak bisa memiliki dia, temen gue juga sama gak bisa milikin dia," ucpa Aira dengan tatapan matanya yang penuh dengan kebencian. 
"Gue suka cewek seperti lo. Kalau dia gak mau sama lo, gue gak akan menolak lo," ucap Arkan yang jsutru menimbulkan percikan api cemburu di hati Naya. 
Aira menyadari tatapan mata Naya padanya mulai berubah setelah mendengar kalimat Arkan. Wanita itu pun buru-buru menolak mentah-mentah tawaran tersembunyi dari Arkan. Saat ini dirinya masih membutuhkan Naya dan Arkan sampai rencananya benar-benar sukses. 
"Oke girls, gue yang akan traktir kalian malam ini, so,  kalian bisa pesen apa aja yang kalian inginkan, semuanya gue yang bayar." 
Mendengar kata traktir, dua wanita muda itu tersenyum senang. Itu artinya mereka tak perlu memikirkan berapa harga minuman yang mereka tengguk. 
*** 
 "Kak Evan, ini sudah malam, kenapa Kakak ke sini? Kalau ibu kos tahu nanti bisa jadi masalah panjang," ucap Lidia dari balik pintu kamar kosnya. 
"Tenang saja, aku sudah meminta ijin pada ibu kos kamu. Kebetulan tadi aku papasan sama orangnya di depan," jawab Evan dengan santainya. 
Mau tak mau, Lidia pun menemui tamu tak diundangnya itu. Lidia meminta Evan menunggunya sebentar di luar kamar kos. Ia mengambil sebuah tikar mini yang biasa ia gelar untuk bersantai di depan kamar kosnya. Biasanya ia juga menjamu Evan di depan kamar kos seperti ini. Pantang bagi Lidia mengajak masuk pria ke dalam kamarnya. Pesan dari ibu panti sebelum dirinya pergi dari panti asuhan sangat dijaga oleh Lidia hingga kini. 
Evan membawa beberapa makanan berat dan juga cemilan untuk Lidia. Selalu saja pria itu tak pernah datang dengan tangan kosong ketika mengunjungi gadis yang ia cintai. 
"Harusnya Kak Evan gak perlu repot-repot bawa makanan segini banyak," ucap Lidia. 
"Gak baik menolak pemberian orang, Lidia. Lagian aku bawanya juga gak ada yang maksa. Suka-suka aku gitu." 
"Terserah Kak Evan aja deh." 
Keduanya saling diam beberapa saat, memandang langit gelap yang menjadi atap mereka malam itu. Tak banyak bintang yang terlihta meski langit terlihat cerah tanpa awan mendung. 
"Lid, pernah nggak sih kamu punya pikiran buat menjalin hubungan sama seseorang?" tanya Evan tiba-tiba. 
Lidia menolehkan kepalanya sejenak pada lawan bicaranya. Sebelum menjawab, terdengar helaan napas panjang dari bibir Lidia.  Pandangannya menunduk menatap lantai keramik di depan kamar kosnya. 
"Tujuanku saat ini hanya untuk mencari uang, Kak, gak ada sedikitpun pikiran untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Adik-adik panti ku masih banyak yang membutuhkan biaya. Aku rela pergi jauh ke kota ini demi mereka juga, Kak," ucap Lidia lirih. 
"Lid, aku tahu, mungkin kamu merasa berhutang budi sama ibu pantai yang udah ngurus kamu dari kecil, tapi, kamu juga harus memikirkan kebahagiaan kamu sendiri. Mungkin, kalau kamu punya kekasih, dia bisa menjadi tempat kamu berkeluh kesah, bukan?" ucap Evan mencoba membuka pikiran Sarah.
"Kak Evan nggak bakalan ngerti  posisi aku meski aku jelasin ke Kakak, kalau Kak Evan emang pengen menjalin hubungan, kenapa Kak Evan nggak coba deketin Aira? Dia ... suka sama Kak Evan," ucap Lidia yang merasa terdesak dengan kalimat Evan. 
Seketika pria itu terdiam. Ia mengalihkan tatapan matanya yang sebelumnya memandang Lidia penuh harap. Mungkin apa yang dia lakukan barusan terkesan sangat memaksa, sehingga Lidia merasa tak nyaman. 
"Maaf, Lid, aku sama sekali gak ada niatan untuk maksa kamu, tapi, kamu tahu kan, kalau aku punya perasaan lebih untuk kamu? Aku hanya berharap kamu mau mempertimbangkannya dan memberi kesempatan sama aku buat bahagiain kamu." 
"Kak, kalau boleh jujur ... aku gak mau pertemanan aku sama Aira rusak karena sebuah perasaan yang salah, Kak Evan mengerti kan maksud aku?" 
"Apa itu artinya ... kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan, Lid?" tanya Evan seolah memastikan jika keputusan Lidia masih bisa berubah. 
"Cukup kita berteman saja, Kak Lida , maaf. Aku harap Kak Evan juga memikirkan perasaan Aira. Sudah malam, Kak, sebaiknya Kak Evan lekas pulang, aku takut nanti ibu kos datang ke sini dan menegurku," ucap Lidia mengusir Devan dengan cara yang cukup halus. 
***

Komentar Buku (181)

  • avatar
    ZaZa

    kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭

    14/09

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa

    10/09

      0
  • avatar
    Ikbar

    mantap

    03/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru