"Lidia! Astaga!" Evan sangat panik ketika melihat orang yang ditabrak bosnya adalah Lidia. "Lid, kamu baik-baik aja kan? Kita ke rumah sakit ya?" "Aku ... gak papa, Kak, cuma ... masih kaget aja," jawab Lidia dengan suara lirih. Tenaganya serasa habis karena insiden barusan. Evan keluar dari dalam mobil, berjalan ke sebuat toko kelontong tak jauh dari tempat mereka saat ini. Ia membeli minuman untuk Lidia. Setelah memastikan kalau memang Lidia tidak mendapat luka, akhirnya Deva mengantarkan gadis itu ke tempat kerjanya seperti permintaan Lidia. Hampir satu jam Lidia terlambat datang ke mini market. Rekan kerjanya hari itu merasa lega setelah melihat Lidia datang bersama Evan. Meski bukan dirinya penyebab Lidia nyaris tertabrak mobil dan membuat gadis itu terlambat datang bekerja, Evan tetap meminta maaf atas hal tersebut. "Lo gak papa kan, Lid? Beneran?" tanya teman kerja Lidia setelah mendengar penjelasan Evan. "Gue gak papa, Kak Rio. Gak ada yang luka kok," jawab Lidia meyakinkan. "Lo kalau mau istirahat gak papa, beneran. Gue bisa handle sendiri." "Gue istirahat di sini aja, Kak," tolak Lidia. Kalau Lidia tak masuk, itu artinya gaji bulan ini akan berkurang. Padahal selama ini, dirinya tak pernah mengambil jatah libur. Justru dia bersedia lembur ketika ada temannya yang libur. Setelah memastikan Lidia benar-benar dalam keadaan baik, Evan pamit dari tempat kerja wanita itu. Bahkan sebelum pergi Evan sempat menitipkan Lidia pada Rio seperti anak kecil. Perhatian yang diberikan Evan benar-benar membuat Lidia merasa malu di hadapan Rio. Sejak kepergian Evan, Rio terus saja menggoda karyawati muda itu. "Dia cowok yang diincer Aira bukan sih?" tanya Rio tiba-tiba. Lidia mengangguk membenarkan. "Tapi, gue lihat dia malah tertarik sama elo deh, Lid, lo bakal jadi saingan beratnya si Aira nih." "Gue gak pernah mau saingan, Kak Rio. Gue juga gak ada perasaan apa-apa sama kak Evan. Sebisa mungkin gue jaga jarak sama kak Evan, karena gue tahu Aira suka sama kak Evan, tapi, apa daya, tiap kali gue menghindar, dia selalu muncul di depan gue." Bahu Lidia merosot tanda dia lelah dengan keadaan ini. "Ya ... gue tahu, bukan salah lo juga di sini. Gue cuma khawatir aja, Aira jadi benci sama lo. Kita di sini tuh rekan kerja, satu tim, gue sih maunya kita semua baik-baik aja, gak ada masalah apa-apa gitu," ucap Rio yang memiliki posisi leader di dalam lingkup kerja mini market itu. "KakRio bisa jaga rahasia kan? Aku berharap Kak Rio gak ngasih tahu siapa-siapa kejadian yang baru saja nimpa aku hari ini, termasuk juga tentang kak Evan, Sebenernya tadi yang mau nabarak gue itu bukan kak Evan, entah bosnya atau temennya, mereka tukeran kendaraan setelah orang yang hampir nabrak gue ketemu sama kak Evan." "Iya, gue paham. Rahasia lo aman sama gue. Gue harap jug lo sama Aira baik-baik aja, gak ada salah paham di antara kalian." Dalam hatinya Lidia pun juga membenarkan *** Geraldi keluar dari ruang rapat dengan wajah kaku, terlihat menahan emosi yang memuncak. Gara-gara kejadian pagi tadi, dia terlambat bertemu dengan client pentingnya. Alhasil, kerja sama yang seharusnya menjadi miliknya harus melayang tanpa bisa dipertahankan. Dia harus kehilangan puluhan miliar hanya gara-gara masalah sepele. "Dita, siapkan penerbanganku hari ini ke Thailand, kamu, ikut denganku, bawa semua keperluan tender yang baru saja gagal kita dapatkan. Kita tidak bisa melepaskan begitu saja sumber uang kita, " ucap Geraldi pada sekretarisnya yang sedari tadi mengikuti langkah kaki tegapnya. "Baik, Pak." Wanita muda itu dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan sang bos. Untuk perama kalinya, pihak mereka harus mengejar-ngejar tender sampai ke luar negeri, dan sebagai sekretaris Dita harus sigap dan bersedia dibawa ke mana-mana oleh sang bos. Geraldi memasuki ruangannya. Dia mencoba menenagkan pikirannya yang sudah dikuasai emosi. Lagi-lagi, Geraldi kembali menyalahkan gadis ceroboh yang nyari tertabrak mobilya. Kalau gadis itu tidak muncul tiba-tiba, dia tidak akan mendapat masalah yang merugikan perusahaannya begitu banyak. "Harusnya dia yang menanggung akibatnya, bukan perusahaanku seperti ini. Dasar sialan!" Prang! Sebuah asbak kaca yang menghiasi meja tamu di ruangan Geraldi telah hancur berkeping-keping akibat terkena hempasan tangan Geraldi yang sedang melampiaskan kemarahannya. "Maaf, Pak, apa terjadi sesuatu?" Dita masuk ruangan bosnya tanpa permisi karena mendengar bunyi pecahan benda kacar dari ruangan Geraldi. "Panggilkan CS, suruh membersihkan pecahan kaca itu," jawab Geraldi datar dan dingin. Nyali Dita seketika menciut mendengar suara bosnya yang hampir tidak pernah ia dengar dengan nada penuh kemarahan. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pak Gerald semarah itu dengan tender ini? Padahal kan biasanya juga santai saja kalau ada tender gak masuk ke tangan perusahaan," guman Dita bergidik ngeri setelah keluar dari ruangan Geraldi. Geraldi menghubungi asisten pribadinya untuk segera datang ke kantor dan menghadap dirinya. Pria angkuh nan keras itu berjalan menuju meja kerjanya. Beberapa saat kemudian ada seorang cleaning service datang untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai. "Buatkan aku kopi pahit," ucap Geraldi setelah cleaning service itu menyelesaikan pekerjaannya. "Baik, Pak." *** Evan sudah berada di lobi kantor ketika Geraldi menghubunginya. Sehingga tidak sampai sepuluh menit, dia sudah berada di hadapa Geraldi dan siap menerima pekerjaan lagi. "Apa sudah beres urusan dengan gadis ceroboh tadi?" tanya Geraldi dingin. "Sudah, Pak, kebetulan gadis tadi teman saya. Dia tidak mau saya antar ke rumah sakit, keadaannya juga baik-baik saja, tidak ada luka, hanya dia mengalami shock saja." "Aku tidak peduli. Seharusnya dia mati saja, gara-gara dia, tender hari ini harus lepas dari tanganku. Dia memperlambat aku sampai di kantor," ucapan Geraldi membuat Evan mengernyitkan dahi. "Tapi, Pak, bukankah ... Pak Gerald yang ...." Evan tak jadi melanjutkan ucapannya ketika melihat wajah Geraldi yang kian mengeruh. Tatapan ingin membunuh yang dilayangkan Geraldi menciutkan nyali Evan. Beralih pada bahasan tender yang gagal. Geraldi menyuruh asisten pribadi dan sekretarisnya untuk bekerja sama menyelesaikan semua keperluan perusahaan. Semua berkas telah siap dan Dita juga sudah memesan tiket pesawat menuju Thailand yang akan lepas landas sore nanti. "Jadi, lo yang berangkat nemenin pak Gerlad?" tanya Evan memastikan. "Iya, pak Evan sendiri yang meminta gue menemaninya. Lo kan tadi gak ikut di rapatnya. Mungkin karena itu pak Gerald ngajak gue," ucap Dita sambil memasukkan semua berkas ke dalam koper kecil khusu berkas. "Iya, semoga perjalan lo dan pak Gerald membuahkan hasil untuk perusahaan," ucap Evan. "Iya, setelah ada lo, pak Evan jarang ngajak gue buat keliling kota, kali ini bakalan gue manfaatin dengan baik, siapa tahu kalau tender ini dapat balik lagi, gue bisa dapet bonus lebih gede, lagi butuh duit banyak nih gue," kelakar Dita. Evan hanya tersenyum menanggapinya. Ia kembali merapikan beberapa dokumen sebelum memasukkannya ke dalam koper. *** Aira mengurungkan niatnya melewati pintu penghubung gudang dengan area mini market karena tak sengaja mendengar obrolan Lidia dan Rio yang membahas tentang kejadian tadi pagi. Di sana ia mendengar dengan jelas nama Evan beberapa kali disebut. Untuk memperjelas pendengarannya, Aira menempelkan telinganya pada daun pintu untuk memperjelas pendengarannya. Apa yang didengar Aira membuat hati gadis itu terbakar api cemburu untuk kesekian kalinya. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Ra, ngapain lo?" tegur rekan kerja Aira yang juga hendak memasuki gudang. "Eh, ini, Ron, gue mau masuk tapi kayaknya Lidia sama Kak Rio lagi ngobrol serius," jawab Aira. "Tapi, muka lo kok kelihatan kesel gitu? Lo cemburu Rio lagi berduaan sama Lidia?" tebak pria bernama Roni itu. "Ngasal lo, gue sama sekali gak ada persaan sama kak Rio." "Ya udah, mending lo ke depan, dari tadi ditunguin ambil barangnya malah diem di sini," ucap Roni lagi. Pria itu langsung saja membuka pintu gudang karena ada barang yang harus segera ia ambil. "Kalian kalau mau pacaran mending cari tempat deh, kasihan noh, temen lo yang satunya, cemburu buta ara-ara kalian mojok di sini," ucap Roni sambil mencari barang yang ia perlukan. Aira berjalan menuruti apa yang disuruh oleh Roni. Gadis itu kembali berdiri di balik meja kasir menunggu pembeli yang hendak membayar belanjaan mereka. Seorang ibu-ibu dengan membawa satu keranjang penuh belanjaan. Dengan wajah cemberutnya Aira melayani ibu itu. Selagi tangannya sibuk menginput belanjaan, telinga Aira tak sengaja mendengar obrolan dua gadis yang mengantre di belakang ibu itu. "Dari cerita yang gue dapat sih dia kayak dicekokin minuman gitu sama lakinya sampai mabuk tuh, dikasih obat perangsang juga gitu, jadi lo tau sendiri lah ya terus mereka ngapain," ucap gadis berambut pendek. "Jadi kayak dijebak gitu ya, ah kasihan banget si Riri, udah gitu sekarang dia hamil dan lakinya gak mau tanggung jawab kan?" timpal si gadis berambut cokelat. Aira terus mencuri dengar apa yang dibicarakan dua gadis seusianya itu. Sebersit pikiran jahat mulai muncul dalam otaknya Aira. Dalam diamnya ia tengah merencanakan sesuatu untuk membalas sakit hati dan rasa cemburu yang selama ini disebabkan oleh Lidia. ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 31 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (181)
ZaZa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1
Nurul Huda
temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
10/09
0mantap
03/07/2025
0Lihat Semua