Evan sampai di sebuah rumah megah yang tak lain adalah kediaman Geraldi. Sang bos meminta dirinya untuk mengantarnya ke salah satu kelab malam yang hampir dikunjungi oleh Geraldi. Tak seperti biasanya Geraldi meminta Evan menemaninya. Karena hal tak biasa itu, Evan pun segera mempersiapkan diri dan orang-orang kepercayaannya untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan sang bos. "Ambil mobil yang jarang aku gunakan," ucap Geraldi saat berdiri berhadapan dengan asisten pribadinya itu. "Baik, Pak." Evan menerima sebuah kunci mobil dari tangan Geraldi. Pria itu segera menuju garasi yang berada di balik rumah mewah itu. Di sana berjejer berbagai jenis mobil yang kebanyakan limited editon koleksi Geraldi. Evan menekan remote control yang ada di kunci itu untuk mencari keberadaan mobil yang diinginkan Geraldi. Jalanan malam tak pernah sepi di kota besar yang menjadi pilihan tempat tinggal Geraldi. Evan mengendarai mobil milik bos besarnya itu penuh kehati-hatian dengan Geraldi yang duduk di kursi belakang. Di tangan bosnya itu, ada sebuah tablet yang selalu dia gunakan untuk bekerja di luar ruang kerjanya. "Berkas yang kuminta kamu memeriksanya, apa sudah selesai?" Tatapan elang Geraldi seolah bisa menghancurkan kaca spion tengah ketika memandang Evan. Tanpa sadar Evan menegakkan duduknya. Ia memandang sekilas tatapan Geraldi dari kaca spion tengah lalu kembali fokus ke jalanan yang padat dengan kendaraan. "Masih belum selesai, Pak. Malam ini akan segera saya kirim ke email Bapak," jawab Evan jujur. Geraldi mengerutkan keningnya. Tak biasanya asisten pribadinya itu menyelesaikan tugas yang dia berikan sedikit lambat seperti sekarang. "Maaf, Pak, tadi sepulang dari kantor saya ada keperluan lain menjemput sepupu dari tempat kerjanya." Sebelum Geraldi mempertanyakan alasannya, Evan lebih dulu mengatakan alasannya walau sedikit berbohong. "Aku mau malam ini juga semua harus sudah kamu kerjakan." "Baik, Pak." Evan menghentikan mobil yang ia kendarai di tempat parkiri VIP. Geraldi sudah berdandan jauh berbeda dengan dirinya ketika berada di kantor. Penampilannya saat ini terlihat jauh lebih muda dari usianya. Dengan rambut yang sedikit berantakan khas seorang bad boy, Geraldi berjalan memasuki pintu masuk tempat hiburan malam. Evan mengambil jarak agak jauh dari bosnya dan memastikan tak ada satu pun paparazi yang mengenali dan mengambil gambar Geraldi. Setelah memastikan sendiri semuanya aman, Evan ikut masuk menyusul Geraldi yang sudah duduk manis di salah satu tempat VIP bersama teman-teman pria itu. Beberapa wanita berpakaian kurang bahan mendekati Geraldi tanpa malu-malu. Mereka bersikap agresif menggoda pria tampan mempesona itu yang juga sama sekali tidak menolak rayuan wanita-wanita itu. Hingar bingar musik yang diputar dengan suara sangat keras terasa menyakitkan telinga. Akan tetapi, hal itu sama sekali tak berarti bagi para pengunjung tempat hiburan malam. Justru mereka terlihat senang dan menari-nari di lantai dansa mengikuti alunan musik yang menghentak. Di tempatnya, Geraldi begitu menikmati setiap belaian dan sentuhan dua wanita yang menemaninya. Salah satu di antaranya mengambilkan minuman berbau alkohol dan mengulurkannya pada Geraldi. Malam itu, Geraldi berakhir dengan menghabiskan malamnya dengan ditemani wanita kupu-kupu malam, seperti malam-malam sebelumnya. *** Lidia masih terjaga hingga larut malam. Wanita itu tengah duduk di lantai bersandar pada tempat tidur kecil yang hanya muat menampung dirinya seorang. Memang, kamar kos yang ia sewa tidak begitu besar. Setidaknya cukup untuk tempat tidur dan sebuah almari kecil, serta ada kamar mandi dalam. Bagi Lidia, meski tidak besar asal nyaman. Sejak dulu, dia sudah terbiasa hidup sederhana di sebuah panti asuhan yang berada jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Terkadang, jika Lidia sedang sendirian seperti saat ini, sering ia merasa rindu dengan suasana panti yang sudah ia tinggalkan sejak lima tahun yang lalu. Ada keinginan kembali ke sana, tapi, Lidia malu jika pulang ke panti tidak membawa apa-apa. Niatnya ingin menjadi orang sukes dengan merantau hingga juah ke ibu kota. Akan tetapi, bayangannya tak seperti kenyataan yang ia alami saat ini. Hidup di kota besar justru dia harus bisa bertahan hidup, tanpa seorang pun yang dia kenal. "Bu, Lidia rindu ibu dan adik-adik panti," ucap Lidia lirih ketika mengingat keluarga yang dia miliki. Pikiran Lidia yang sedang sedih itu sedikit teralihkan ketika satu notifikasi masuk di layar ponselnya. Bukan sebuah ponsel bagus seperti yang dimiliki kebanyakan orang. Ponsel milik Lidia terbilang sudah kuno dan ketinggalan jaman. Baginya, model tidak penting, yang penting benda pipih itu bisa ia gunakan untuk berkomunikasi dan bekerja. Satu pesan dari Evan yang menanyakan kabar makan malam Lidia. Sedikit senyum terukir di bibir polosnya. Matanya juga secara langsung melihat pada bungkusan plastik yang teronggok di atas meja mungil di sudut kamarnya. Makanan yang diberikan Evan untuknya sangat banyak bahkan bisa ia bagi dengan seluruh penghuni kos lantai satu. Tangannya bergerak lincah mengetikkan ucapan terima kasih dan kata maaf karena Evan tidak kebagian makanan itu. Tak sampai satu menit, balasan pesan yang ia kirimkan sudah mendapatkan balasan lagi. Evan begitu cepat membalas pesannya. Akhirnya malam itu, Lidia mau menemani Evan mengerjakan tugas dari bosnya melalui panggilan video call sebagai ucapan terima kasinya pada Evan untuk makanan yang beitu banyak tadi. "Apa perkerjaan kak Evan sulit?" tanya Lidia ketika melihat betapa seriusnya Evan membaca berkas dan mengetik di laptop sekaligus. "Sebenarnya tidak sulit, hanya saja, bosku meminta semua laproan selesai malam ini. Jadi, ya ... seperti yang kamu lihat, aku harus lembur," jawab Evan sekilas ia melihat wajah Lidia yang memenuhi layar ponselnya. "Apa masih banyak?" tanya Lidia lagi. "Lumayan," jawab Evan sambil meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. "Kalau saja aku bisa membantu, pasti aku akan menawarkan diri untuk membantu kak Evan, sayangnya aku mana paham tentang pekerjaan kakak." "Cara kamu membantuku cukup mudah temani aku seperti ini saja sudah sangat membantu," ucap Evan dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Mendengar jawaban itu, memunculkan rasa bersalah di dalam hati Lidia. Tentu, dia merasa sangat bersalah pada Aira. Selama ini ia juga tahu kalau Aira menyukai Evan. Sudah sering pula Aira memberikan peringatan untuk Lidia supaya dia menjauhi Evan. Sayangnya, ketika Lidia semakin menjauh, maka Evan semakin mendekatinya. Posisi Lidia menjadi serba salah. "Sar, kamu mikirin apa sih?" tegur Evan. "Hah? Kak Evan ngomong apa?" "Kamu mikirin apa?" ucap Evan mengulang pertanyaannya. Lirik menggelengkan kepalanya. Wanita itu menutup mulutnya ketika menguap. Evan melihat jam di sudut laptopnya telah menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Pria itu pun menyuruh Lidia segera berisitirahat. "Selamat tidur, sampai bertemu besok, Lid, bye," ucap Evan. "Bye, kak Evan. Jangan sering-sering begadang, kak," balas Lidia lalu mematikan sambungan video call mereka. "Huh, sorry banget, Ra, gue sama sekali gak ada niatan buat memiliki kak Evan, gue tahu lo suka sama kak Evan," guman Lidia pelan sebelum memejamkan matanya untuk menjemput mimpi. *** Geraldi mengenakan kembali pakaiannya yang sebelumnya tercecer di dalam kamar hotel. Seorang wania yang juga tak mengenakan pakaian tengah terbaring dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Permainan panas yang mereka lakukan membuat sang wanita kehabisan tenaga. "Sayang, kamu mau ke mana?" panggil wanita itu menghentikan langkah Geraldi. "Urusan kita sudah selesai," jawab Geraldi dingin. Tak lupa Geraldi mengeluarkan segepok uang seratus ribuan dan melemparkannya ke atas kasur. Setelah itu dia melenggang pergi mengabaikan panggilan wanita yang baru saja memuaskan hasratnya. Memang seperti itu tabiat Geraldi. Setelah puas dengan wanita yang ia gagahi, dia akan memberikan uang lalu pergi. Tak pernah khawatir jika dia akan menghamili anak orang, karena setiap pertempuran panas di atas ranjang yang ia lakukan, Geraldi selalu mengunakan pengaman yang dibeli Evan ketika dia memintanya. "Sialan! Gue pikir dia gak akan ninggalin gue setelah gue servis sampai puas!" geram wanita itu kesal ditinggal begitu saja oleh Geraldi. Sementara Geraldi sendiri telah meninggalkan hotel dengan mengendarai mobilnya sendiri, mobil yang semalam ia bawa ke kelab malam bersama Evan. Hari sudah berganti dan cahaya matahari telah bersinar terang ketika Geraldi mengendarai mobilnya kembali ke rumah. Konsentrasninya sedikit terganggu karena rasa kantuk yang menyerang dirinya. Semalaman suntuk Geraldi tidak memejamkan mata sama sekali demi mencapai kenikmatan surga dunia. Ciit! Bunyi rem diinjak begitu dalam terdengar memekakan telinga. Seorang wanita berdiri ketakutan sambil memegangi kepalanya menghadap ke mobil yang hampir menabraknya. Tubuh gadis itu menggigil ketakutan. Kalau saja sang sopir terlambat menginjak rem, mungkin wanita itu sudah meregang nyawa. "Sial!" geram Geraldi yang berada di dalam mobil. Pria itu segera keluar dan menghampiri gadis yang terduduk lemas di hadapan mobilnya. Karena tak mau ribut dengan orang sekitar, Geraldi segera membawa masuk gadis itu ke dalam mobilnya dan mengatakan pada orang-orang akan membawanya ke rumah sakit. Beberapa orang membantu gadis berseragam minimarket itu masuk ke dalam mobil Geraldi. Setelah mengendarai mobilnya cukup jauh dari lokasi kejadian, Geraldi menepikan mobilnya, ia melihat gadis di sampingnya yang terlihat shock berat hanya diam dengan terus mengeluarkan air mata. Geraldi segera menghubungi Evan dan meminta asistennya itu segera menemui dirinya. Geraldi mengirimkan lokasinya saat ini pada Evan dan meminta pria itu harus datang dalam waktu lima belas menit. Meski diam, samar-samar, Lidia, wanita yang nyaris tertabak oleh Geraldi itu masih mendengar apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya. Tak ada satu kata pun terucap dari mulut Geraldi sekedar menanyakan keadaan Lidia. Geraldi hanya diam sambil terus mengecek ponselnya. raut wajahnya terlihat kesal karena orang yang dihubunginya tak kunjung datang. Suara motor berhenti di depan mereka mengalihkan perhatian keduanya. Geraldi segera keluar mobil kala menyadari orang yang ia tunggu telah datang. Entah apa yang dibicarakan dua orang itu, Lidia hanya melihat dari dalam mobil. Lambat laun, Lidia merasa mengenal postur tubuh orang yang sedang berbicara dengan pemilik mobil, tapi, ia merasa ragu untuk meyakininya. Lidia melihat pemilik mobil yang ia tumpangi justru menaiki motor yang baru saja datang itu. Dalam hatinya, Lidia berpikir kalau orang itu sungguh tidak bertanggungjawab dengan apa yang sudah terjadi. Sementara itu, si pemilik motor berjalan mendekati mobil. Pandangan mata Lidia semakin yakin jika dia mengenal orang itu. "Kak Evan ...." "Lidia? Astaga!" ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 35 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (181)
ZaZa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1
Nurul Huda
temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
10/09
0mantap
03/07/2025
0Lihat Semua