logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Please, Be Mine

Please, Be Mine

fan_story


Bab 1

"Selamat datang, selamat berbelanja di mini market," ucap penjaga toko tiap kali ada pelanggan masuk ke mini market tersebut. Wajah ramah dan senyum manis yang ditampilkan gadis itu mampu menular pada beberapa pengunjung yang ia sapa. 
Kembali kalimat sambutan itu terucap dari bibir Lidia tatkala pintu mini market terbuka. Kali ini orang yang masuk  adalah seorang pria berjas yang sudah menjadi pelanggan setia mini market tersebut. 
"Selamat datang, Kak Evan, mau beli yang biasanya ya?" seloroh penjaga toko yang lain ketika melihat Evan berjalan mendekati Lidia dan temannya di meja kasir. 
Lidia tersenyum biasa saja. Memang sudah biasa juga sikap teman kerjanya  bernama Aira itu sedikit lebih ramah jika pengunjung toko mereka adalah Evan. Ketika Evan menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Aira, wanita itu segera mengambilkan sesuatu yang tersembunyi di balik meja kasir, benda yang selalu dibeli Evan tiap kali ke mini market.  
"Gak ada beli yang lain, Kak? Ini aja?" tanya Aira dengan gestur tubuhnya yang jelas menunjukkan ketertarikan pada Evan. 
"Gak ada, terima ksaih, Ra. Lidia, aku pergi dulu, sampai ketemu nanti," ucap Evan sambil menerima belanjaanya dari Aira. 
Wajah Aira seketika berubah masam karena hanya Lidiia yang diberi ucapan perpisahan oleh Evan. Lidia hanya menghembuskan napas panjang mencoba bersabar menghadapi sikap teman kerjanya yang selalu saja seperti itu tiap kali Evan berkunjung. Lidia mengalihkan perhatiannya pada pengunjung lain yang hendak membayar belanjaannya. Gadis itu melayani mereka dengan ramah dan telaten. Beberapa kali juga menawarkan produk-produk yang sedang promo dengan sopan. 
*** 
"Sudah kau bawaka apa yang aku minta?" tanya pria berjas yang duduk di balik meja kerjanya. Penampilannya lebih berwibawa dan berkharisma pria itu daripada Evan. Pria itu tak lain adalah Geraldi, orang yang mempekerjakan Evan sebagai asisten pribadinya. 
 "Sudah, Pak, seperti biasanya yang Bapak minta." Evan mengulurkan kantung palstik yang sejak tadi ia simpan di balik jas yang ia kenakan. 
Geraldi tersenyum senang dan segera mengambil benda itu. Kedua bola matanya melirik ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih terlalu sore untuk berkunjung ke tempat hiburan malam. Tempat Geraldi biasa melampiaskan hasrat napsunya selama ini bersama wanita-wanita kupu-kupu malam yang ia inginkan. 
"Apa ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Evan menunggu perintah selanjutnya. 
"Tentu, seperti biasanya, pastikan semua aman dari paparazi, dan satu lagi, ada beberapa berkas yang belum sempat aku cek. Segera cek untukku, aku tunggu laporannya lewat email." 
"Baik, Pak, pasti akan saya lakukan dengan sempurna." Evan selalu menjawab dengan percaya diri. Satu nilai plus yang disukai Geraldi, sehingga dia mau mempercayakan beberapa pekerjaannya pada asisten pribadinya itu. 
Setelah mendapat perintah dari bosnya untuk meningalkan ruangan, barulah Evan keluar dari ruangan mewah sang bos. Ia masuk ke dalam ruangannya sendiri yang berada tepat di samping ruangan Geraldi. Ia mulai sibuk mengerjakan apa yang diperintahkan bos besarnya. Memastikan semua orang-orangnya telah membasmi paparazi yang suka mencuri gambar. Privasi bos Geraldi adalah yang utama, sekali saja fotonya beredar di media massa bisnis, habis sudah riwayat Geraldi di dunia perbisnisan. Karena orang tua pria itu yang berada di luar negeri sangat tidak menyukai kehidupan gemerlap metropolitan. 
Usai mengerjakan tugas pertamanya,  Evan sedikit meluangkan waktu untuk mengecek ponselnya. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard kecil mengetikan sesuatu di ruang obrolannya dengan Sarah. Gadis penjaga mini market yang telah mencuri hatinya. 
"Kenapa sih, Lid, lo selalu aja nolak ajakan gue? Lo nyadar gak sih gue suka sama lo." Evan berguman sambil menatap layar ponselnya. 
Perhatiannya untuk Lidia selalu saja diabaikan oleh wanita itu. Akan tetapi, tak ada keinginan untuk menyerah mendapatkan hati Lidia. Tanpa berpikir dua kali, Evan kembali meninggalkan ruangannya. Kali ini ia berniat menjemput Lidia pulang kerja meski di ruang obrolan Lidia  sudah menolanya. 
Tak lupa juga Evan membawa berkas yang diberikan Geraldi padanya untuk dikerjakan di rumah. Ia berniat mengerjakannya setelah menjemput Lidia. Dengan mengendarai mobil kesayangannya, Evan kembali membelah jalanan yang kali ini sedikit lebih macet dari sebelumnya. Tak masalah meski harus terjebak macet, masih ada banyak waktu untuk sampai di mini market tempat LIdia bekerja. 
Evan sengaja menunggu Lidia di salah satu tempat duduk yang tersedia di depan mini market setelah membeli minuman dan rokok. Sejak langit masih senja hingga berubah menjadi gelap, Lidia tak kunjung keluar. Beberapa kali Evan menengok ke bagian tempat kasir dan masih melihat Lidia berdiri di sana, tapi, sudah siap untuk pulang. Evan tersenyum senang akhirnya setelah menunggu hampir satu jam, Lidia keluar juga dari temat kerjanya. 
"Lidia!" 
"Kak Evan?" 
"Ayo, aku sudah menunggumu sejak tadi, dan aku tidak menerima penolakan," ucap Evan sedikit memaksa  Lidia. 
Dari dalam mini market, Aira melihat adegan di mana Evan menarik lembut tangan Lidia. Seketika rasa cemburu menyelimuti hatinya. Ia memandang penuh emosi dua sejoli yang berjalan bersisian menuju mobil putih yang terparkir di halaman mini market. 
"Aira! Lo ngelihatin apa sih?" satu karyawan yang saat itu bekerja dengan Aira menyenggol bahunya. Ia mengedikkan dagunya pada pengunjung yang hendak membayar belanjaan. 
Dengan ogah-ogahan karena moodnya sedang tidak baik, Aira melayani ibu-ibu itu. Ketika seharusnya ia menawarkan berbagai promo yang tersedia, tapi, saat itu Aira hanya diam saja sambil menginput total belanja ibu itu. 
"Lain kali kalau jualan jangan merengut gitu, Mbak! Kabur semua pelanggannya kalau yang jual gak bisa senyum. Mending-mending mbak kasir yang satunya, orangnya ramah," tegur ibu-ibu itu setelah membayar dan menerima belanjaan. 
Ingin sekali Aira meremas mulut menyebalkan orang itu. Tentu 'mbak kasir' yang dimaksudnya adalah Lidia. Karena hanya mereka berdua penjaga toko wanita yang bekerja di minimarket itu. Semakin memuncak saja kekesalan Aira pada Lidia. 
"Makanya kerja dengan senyum, merengu mulu lo bawaannya kalau Lidia dijemput cowok," sindir rekan kerja Aira malam itu. 
"Diem lo, banyak bacot juga lo. Harusnya lo tuh kesel kan cewek idaman lo itu jalan sama cowok lain," balas Lidia mengandung perdebatan di sana. Untungnya suasana mini market malam itu sedang tidak ada pengunjung berbelanja.
"Gue  hanya sekedar suka, enggak yang jatuh cinta lalu harus memiliki dia sih, jadi, ya bodo amat  si Lidia mau jalan sama siapa aja," jawab pria itu dan membuat Aira semakin kesal. 
Sebelum perdebatan semakin berlanjut, pria  rekan kerja AIra itu memilih keluar dari meja kasir dan melakukan pekerjaan yang lainnya. Tak ada gunanya juga memancing emosi teman kerjanya yang selalu saja iri jika melihat Lidia bersama seorang pria. 
Di tempat lain, Evan mengajak Lidia makan malam di warung pinggir jalan. Bukannya tak mampu mengajak gadis itu makan di restoran mewah, tapi, Lidia sendiri  yang tak pernah mau jika Evan mengajaknya makan di tempat yang mahal. Sejak kecil, Lidia sudah terbiasa hidup sederhana dan jauh dari kemewahan. Bahkan tak banyak orang tahu jika gadis itu pernah tinggal belasan tahun di sebuah panti asuhan karena tak memiliki orang tua. Baru lah setelah ia lulus SMA, Lidia memutuskan keluar dari panti dan mengadu nasib di kota metropolitan. Walau nasibnya masih belum begitu beruntung, setidaknya wanita itu tidak lagi menjadi beban ibu panti dengan hidup mandiri sampai sekarang. 
"Makan di sini atau di kosan kamu?" tawar Evan. 
"Terserah Kak Evan aja sih," jawab Lidia pasrah. Sejujurnya ia tak begitu suka dengan makan di tempat ramai seperti ini, tapi, ia tak pernah menunjukkannya pada Evan tiap kali pria itu memaksanya makan malam bersama. 
"Tunggu di mobil saja, aku akan pesan dibawa pulang," ucap Evan seakan paham meski Lidia hanya mengatakan terserah.
Pria itu keluar mobil dan menyeberangi jalan raya yang cukup ramai kendaraan berlalu lalang menuju sebuah waring kaki lima di seberang ia memarkir mobil. Menyebutkan beberapa menu makanan pada si penjual, lalu Evan duduk di salah satu kursi ikut mengantre bersama pembeli lainnya.
Dari dalam mobil, Lidia melihat pria yang selalu baik padanya itu. Awalnya, Evan hanyalah salah satu pengunjung mini market yang beberapa hari sekali selalu membeli sesuatu titipan bosnya. Dari situ lah awal dirinya dan Aira mengenal Evan, karena saking seringnya pria itudatang ke mini market. 
Akan tetapi, Lidia sadar, jika teman kerjanya itu memiliki perasaa lebih pada Evan, tapi, ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Bukan dirinya yang mendekati Evan. Pria itu sendiri yang terus mendekatinya. Sementara Lidia adalah tipe orang yang tidak bisa menolak kebaikan orang. Sejak kecil, dia telah dididk oleh ibu panti untuk tidak mengabaikan kebaikan orang lain. 
"Hei, kok ngelamun? Bosan nunggu lama ya? Maaf, antreannya cuku banyak," ucap Evan memasuki mobil dengan membawa satu kantung palstik penuh berisi makanan. 
"Eeh, gak ngelamun kok, Kak. Kak Evan beli segini banyak buat siapa?" 
"Bua kamu, kali aja kamu mau bagi-bagi sama temen kos kamu." Jawaban Evan selalu bisa membuat Lida sulit menolak kebaikan pria itu. Wanita itu pun hanya menghela napas panjang. Toh sudah dibeli, tak mungkin juga ia bisa menolak Evan dengan segala alibinya yang mampu membuat Lidia kehabisan kata-kata. 
Di tengah perjalanan menuju kosan Lidia, bos kesayangan Evan menghubungi pria itu dan memintanya menjemput sang bos di suatu tempat. Lida bisa mendengar samar-samar obrolan mereka berdua. Setelah mengakhiri panggilan dengan sang bos, Lidia meminta Evan untuk menurunkannya di tempat mereka berhenti saat ini. Tentu Evan tak mau melakukannya. 
"Aku akan mengantarkanmu sampai di kosan, tapi, maaf, aku gak bisa menemani kamu makan , gak papa kan?" 
"Gak papa, Kak Evan . Aku turun di sini juga gak papa kok. Kosan aku udah deket, Kak." 
Tak mau mendengarkan permintaan Lidia, Evan kembali menjalankan mobilnya hingga beberapa menit kemudian ia berhenti di depan sebuah rumah kos khusus perempuan. Lidia turun dari mobil dan menunggu sampai mobil Evan hilang di ujung jalan. 
"Kak Evan terlalu baik buat gue, gue gak bisa menerima perasaan dia, tapi, gue juga gak pernah bisa menolak kebaikannya," guman Lidia merasa ini menjadi beban berat dalam pikirannya. 
*** 

Komentar Buku (181)

  • avatar
    ZaZa

    kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭

    14/09

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa

    10/09

      0
  • avatar
    Ikbar

    mantap

    03/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru