“Mulai, deh. Udah sana Mama keluar aja. Rin mau mandi, pengin berendam juga,” usir Rinjani yang sudah paham dengan sifat sang ibu yang suka menggoda. Bukannya langsung pergi, Hanna justru semakin gencar menggoda Rinjani. “Aduh senangnya, Anak Mama udah mulai peka lagi. Nanti malam sekalian kenalan sama anak Tante Eisha, ya.” Mata Rinjani terbuka lebar, bibirnya maju mengerucut menandakan jika gadis itu sudah kesal. “Udah, deh, Ma. Kalau gitu terus mending Rin nggak usah ikut sekalian.” “Oke-oke, Mama keluar sekarang …. Mandi yang bersih biar wangi dan nggak malu-maluin!” teriak Hanna dari balik pintu membuat Rinjani sangat kesal tetapi justru berakhir tertawa mendapati tingkah aneh sang ibu. Mata bulat itu melihat ke arah pintu, lalu sebuah senyuman terukir di wajah gadis itu. Rinjani sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu ada untuknya. Terutama sosok ibu yang selalu bisa memahami suasana hatinya, serta tahu bagaimana cara membuat dia kembali tersenyum. Rinjani kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Sesuai ucapannya barusan, gadis itu berendam sejenak untuk menetralkan tubuh agar lebih segar. Setelah selesai berendam, ternyata jam masih menunjukkan pukul lima sore. Rinjani tidak berniat untuk turun karena sedang malas mendengar godaan sang ibu. Dia memutuskan untuk kembali ke ranjang sambil menonton salah satu kartun yang di sebuah aplikasi video berlangganan. *** Satu jam telah berlalu, Rinjani memilih untuk mematikan laptopnya kemudian keluar kamar menuju dapur. Perutnya terasa lapar tetapi gadis itu belum ingin makan. Hingga akhirnya Rinjani memilih untuk mengambil es krim yang selalu tersedia di lemari pendingin. “Jangan lupa, nanti jam tujuh berangkat.” “Ya Tuhan, Mama mengejutkanku!” gerutu Rinjani sambil menutup kembali lemari pendinginnya. “Abisnya kamu lucu. Di rumah sendiri tapi ambilnya diem-diem. Udah kaya maling aja,” sanggah Hanna tidak mau kalah. Bibir Rinjani mengerucut kesal. Dia berlalu begitu saja kembali ke kamarnya. *** “Ayo turun,” ajak Tama pada istri dan anaknya, saat mobil mereka sudah berhenti di parkiran sebuah restoran. Rinjani menatap takjub gedung tinggi tiga lantai di depannya. Terlihat begitu menawan, degan hiasan lampion yang menyala terang saat malam. Beberapa pasang kekasih juga terlihat keluar masuk dari sana. “Ayo, masuk. Jangan melamun,” tegur Hanna pada putrinya. Rinjani mengikuti kedua orang tuanya yang sudah melangkah lebih dulu. Ketiganya berhenti di depan resepsionis untuk menanyakan ruangan yang akan menjadi tempat makan mereka. “Permisi, tolong antarkan kami ke ruangan yang dipesan atas nama Sebastian,” pinta Tama kepada petugas resepsionis. “Mari ikuti saya, Tuan,” ajak wanita berperawakan tinggi yang menjadi petugas resepsionis di sana. Keluarga Rinjani dipandu ke sebuah ruangan tertutup yang cukup privasi, cocok untuk membas rencana bisnis atau acara keluarga. “Selamat datang Hanna,” sambut Eisha saat keluarga Rinjani sudah sampai di ruangan tersebut. “Kenapa kamu sendirian?” tanya Hanna sambil melepas pelukannya dengan Eisha. “Loh, kalian tidak bertemu dengan putraku? Dia sedang keluar untuk mengambil berkas yang tertinggal di mobil.” “Kami tidak melihatnya, atau mungkin kami tidak mengenalinya. Karena terahir bertemu ‘kan dia masih kecil.” “Ah, iya. Ayo duduk. Sambil menunggu putraku, kita pesan makan saja lebih dulu.” Rinjani hanya diam saja. Dia bingung mau bicara apa. Bahkan ibunya sendiri seolah lupa kepadanya. “Oh iya, ini Rinjani ‘kan, ya?” tanya Eisha. “Iya, benar. Dia putriku. Cantik ‘kan,” sahut Hanna sebelum Rinjani sempat menjawab pertanyaan Eisha. “Iya, can—” “Permisi, maaf jika aku terlalu lama,” ucap seorang pria yang baru saja memasuki ruangan tersebut. Semua orang di ruangan itu menoleh kea rah pintu. Mata rinjani membulat tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya sekarang. Dia bahkan sampai berdiri dari duduknya. Pria tersebut juga sama terkejutnya dengan Rinjani. Bahkan langkahnya sampai terhenti, dan terus bersitatap dengan gadis itu. “Kamu?” ucap Agam dan Rinjani bersamaan. Para orang tua menatap anak-anak mereka dengan wajah bingung. Hingga salah satu dari mereka angkat bicara. “Loh, kalian sudah saling kenal?” tanya Hanna sambil melihat putrinya dengan tatapan menggoda. “Sudah,” jawab Agam tanpa mengalihkan pandangannya dari Rinjani. Mata Agam seolah terkunci melihat sosok di depannya sekarang. Rinjani terlihat sangat berbeda dari biasanya. Rambut yang biasa dikucir atau kadang digerai bebas, kini terikat sebagian. Menyisakan poni dan beberapa anak rambut di dekat telinga, yang membuat gadis itu bertambah manis. Bukan hanya itu, tampilannya yang feminim dan polesan di wajahnya menjadikan Rinjani terlihat lebih dewasa dari biasanya. Degub jantung pria itu semakin cepat. Sebuah aliran tak kasat mata merambat dengan cepat dari ke dadanya. Sebuah bernama cinta tumbuh secara kilat, membuat Agam merasa sesak. Suara batuk yang dibuat-buat mencoba menarik paksa Agam dan Rinjani agar kembali sadar. “Apa kalian akan terus berdiri begitu? Ayo duduk,” tegus Tama yang merasa geli melihat kelakuan anak-anak itu yang terus saling berpandangan. “Jadi, kalian di mana?” tanya Hanna saat semuanya sudah kembali duduk. “Kebetulan kita satu kampus, Tan. Cuma beda fakultas,” jelas Agam sambil sesekali melirik Rinjani. “Loh, kan beda fakultas, kok bisa kenal? Apa jangan-jangan kalian udah pacaran?” Eisha bertanya dengan nada jenaka, berniat menggoda putranya. Namun, Eisha keliru. Karena Rinjani lah yang terkejut, hingga dia terbatuk saat mendengar pertanyaan tersebut. “Doakan Agam, Bunda,” bisik Agam yang masih bisa didengar semua orang di sana termasuk Rinjani. Mata gadis itu terbuka dan menatap tajam kepada Agam lalu berkata, “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Dia hanya salah satu dari puluhan mahasiswa yang mencoba mendekatiku,” ucap Rinjani dengan nada angkuh. Hanna yang mendengar jawaban Rinjani merasa sedikit kesal. “Hus! Yang sopan!” “Nyatanya memang benar sps yang diucapkan Rinjani, Tan,” sahut Agam yng membuat Hanna semakin merasa tidak enak. Beruntung seorang pelayan datang dan memecah suasana tidak enak yang Rinjani ciptakan. Makanan dan minuman sudah tersaji di meja dan sangat menggiurkan. Terlebih ada udang krispi kesukaan Rinjani. Akan tetapi, gadis itu seperti kehilagan selera makannya. “Mari kita makan dulu, sebelum nanti membahas kerjasa,” ucap Tama berusaha mencairkan suasana. Acara makan berlangsung ssangat hening. Rinjani sudah mulai menikmati udang pesanannya dan tak memerdulikan sekitar. Bahkan gadis itu tidak sadar, jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus melihatnya dengan tatapan memuja. Tangan kiri Agam terulur menyentuh dadanya yang terus saja bedetak kencang. Rasa penasaran yang awalnya hadir telah lenyap tergantikan oleh cinta. “Agam, lanjutkan makanmu! Atau … menatap Rinjani sudah membutmu kenyang?” celetuk Eisha membuat semua orang di sana melihat ke arah Agam. Agam yang tertangkap basah merasa sangat malu. Wajahnya memerah meski tidak terlalu terlihat. “Agam permisi ke belakang sebentar,” pamit Agam dan langsung pergi begitu saja membuat orang-orang di sana tertawa, kecuali Rinjani yang terus memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus asik
5d
0good
23/03
0keren
22/01
0Lihat Semua