logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 10 Kamu Cantik

Rinjani dan kedua orang tuanya sudah berada di rumah. Acara makan malam sudah selesai, dan kesepakatan kerjasama untuk membuka cabang toko perhiasan sudah ditandatangani.
Sejak kembali dari acara makan malam tadi, Rinjani terus memasang wajah tanpa senyum. Hanna yang menyadari perubahan putrinya hanya bisa menghela napas. Karena mau memancing bembicaraan untuk membuat Rinjani tertawa juga bukan saat yang tepat.
“Lihat itu putrimu! Bagaimana dia bisa punya kekasih kalau terus saja bersikap dingin begitu,” keluh Hanna kepada suaminya sambil memerhatikan Rinjani yang langsung ke kamarnya.
Tama memeluk sang istri dari samping seraya berkata, “Sudah, biarkan saja. Nanti kalau sudah waktunya juga pasti punya. Lebih baik kita istirahat, ini sudah malam.”
Sementara itu, Rinjani yang sudah berada di kamar memilih untuk mandi sebelum tidur. Hati dan logikanya sedang berperang, dan gadis itu butuh penyegaran.
Setelah selesai mandi, di naik ke ranjang dan bersiap untuk tidur, tapi sebuah notifikasi menarik perhatiannya.
Rinjani mengambil pnsel yang tadi tergeletak di nakas, untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Sederet angka tidak dikenal, terlihat di layar ponsel hitam tersebut. Karena penasaran, akhirnya Rinjani membuka pesan itu.
Hanya ada dua kata yang tertulis di sana, tetapi hal itu mampu membuat hati Rinjani semakin tidak karuan.
Kamu cantik. Begitulah isi dari pesan tersebut. Dan saat Rinjani melihat nama penggunanya, ternyata itu adalah nomor Agam. Logika gadis itu terus menentang hatinya, rasa .
“Apaan, sih. Nggak jelas banget!” gerutu Rinjani seraya mematikan ponsel lalu meletakannya di laci meja.
***
Kucing yang terus mengeong membangunkan sang majikan seolah tak mengusik tidur gadis itu. Rinjani masih betah bergelung dalam selimut. Dia berniat bangun siang karena hari ini kuliahnya libur.
Hanna membiarkan Rinjani tetap di kamarnya. Dia tahu anaknya sedang butuh waktu sendiri untuk melawan ego dan traumanya yang kembali teringat.
Pagi ini, saat Hanna kembali menemukan kertas yang tertempal di pintu kamar Rinjani. Rin sedang hibernasi, jangan diganggu nanti ngamuk. Rasanya ingin tertawa saat Hanna membaca tulisan tersebut. Jika saja dia tidak tahu maksud dari kalimat itu, bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja.
Sarapan akhir pekan kali ini terasa hampa. Hanya ada Hanna dan Tama di meja makan.
“Rin belum bangun, Ma?” tanya Tama saat Hanna mulai menyajikan sarapan.
“Rin lagi hibernasi, Pa. Kayaknya perlu dijodohkan aja, deh. Biar nggak manja terus,” keluh Hanna sambil mengambilkan sarapan untuk sang suami.
“Hus, Papa nggak setuju. Biarkan aja Rin menemukan cintanya sendiri.”
Meski sebenarnya Tama adalah sosok ayah yang tegas, tetapi dia tidak suka memaksakan kehendaknya. Dia membebaskan putrinya untuk memilih jalan hidupnya sendiri, asalkan tahu batasan.
***
“Dava … Dav, Dava ….” Rinjani bangun dengan tubuh basah karena keringat.
Dia kembali mengingat kejadian yang telah berlalu. Rinjani sadar, kehadiran Agam membuat traumanya kembali terpancing ke permukaan.
Tubuh gadis itu masih gemetar dan suhunya naik. Rinjani tidak terkejut dengan kondisi fisiknya yang kembali memburuk. Seolah baik-baik saja, dia justru mandi dan berendam dengan air dingin.
Memori kenangan tentang Dava kembali merasuki otak gadis itu. Membuat hatinya gelisah, fokusnya hilang, dan tangisnya bisa pecah kapan pun.
Rasa tidak ikhlas masih menguasai hati gadis itu. Dia bahkan merasa bahwa Tuhan tidak adil padannya. Rinjani ingin sembuh, tetapi otaknya masih terus saja mengingat Dava.
“Aku harus jauhin Agam. Gimana pun carannya, besok pas di kampus jangan sampai ketemu cowok itu,” gumam Rinjani sambil memijat pelipisnya. “Cuma itu satu-satunya cara yang aku tau sekarang.”
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, Rinjani memutuskan untuk turn karena sakit lambungnya mulai terasa.
Dengan langkah malas dan sambil memegangi perut yang terasa dipelintir, Rinjani menuju dapur. Dia mengambil dua lembar roti tawar dengan keju, segelas susu, dan beberapa camilan, lalu kembali ke kamarnya.
Sudah tidak aneh jika akhir pecan rumah tetap sepi, karena kedua orang tua gadis itu pasti sedang pergi ke rumah neneknya Rinjani. Bukannya Rinjani tidak diajak, tetapi gadis itu yang sedang malas dan memilih untuk tetap di rumah.
Seharian ini Rinjani menghabiskan waktunya di kamar saja. Kadang menonton film, mendengarkan musik, menulis, atau kembali tidur.
Hingga malam datang dan dimulailah waktu-waktu tidak menyenangkan untuk gadis itu, di mana matanya terus terjaga hingga dini hari. Bahkan obat tidur sudah tidak mempan pada gadis itu. Jadi, dengan pasrah Rinjani duduk di balkon sambil menatap sang rembulan dan menunggu kantuk datang.
Terpaan angin seolah tidak berasa bagi Rinjani. Dia terus saja melihat ke langit malam. Hingga pada pukul dua dini hari, gadis itu mulai menguap. Matanya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit pening.
Rinjani memutuskan untuk berbaring tanpa menutup pintu balkon dan membiarkan angin malam meninabobokan dirinya. Mata yang sudah memerah itu perlahan terpejam menghantarkan Rinjani pada mimpi yang menyakitkan.
***
Mata gadis itu masih terpejam. Badannya bergetar dan bibir pucat itu yang terus menyebut nama Dava. Kenangannya bersama cintanya terus saja berputar dalam mimpi gadis itu. Ingin sekali rasanya dia membuka mata, tetapi tenaganya seolah menguap entah ke mana. Bahkan cerahnya sinar mentari tak bisa menembus mimpinya.
Suara ketukan pintu pun tak terdengar oleh Rinjani yang terus saja mengigau. Gadis itu masih terus menggeleng sambil memanggil-manggil nama Dava.
Hanna yang merasa jaggal karena tidak ada sahutan dari dalam membuka pintu dengan paksa. Beruntung Rinjani tidak mengunci pintunya.
Wanita paruh baya itu bergegas masuk. Matanya terbuka lebar, dia terkejut melihat keadaan putrinya yang tidak baik saja. Keringat membanjiri pelipis gadis itu dan matanya masih terpejam.
Hanna mendekati Rinjani dengan suasana hati yang sudah kalut. Matanya memerah dan bulir-bulir air sudah membasahi pipinya. Bayang-bayang masa lalu saat putrinya berada di titik terendah memenuhi otaknya.
“Rin, bangun …. Rinjani, bangun, Sayang ….” Hanna terus mengguncang tubuh Rinjani, berusaha membangungkannya tetapi tidak berhasil.
Dengan mata sembam dan pikiran kalut, Hanna berlari keluar kamar Rinjani dan berteriak-teriak memanggil sang suami. “Pa! Papa .... Pa … cepat kemari!”
Tama sangat panik mendengar teriakan sang istri dari lantai dua. Dengan wajah pias dia lari tunggang anggang menuju kamar putrinya.
Bagai teriris belati, hatinya sakit melihat Hanna masih berusaha membangunkan Rinjani. Tama bergegas mendekat dan langsung menggendong anaknya.
“Siapkan mobil, Ma. Kita bawa Rin ke rumah sakit sekarang!” titah Tama sambil membawa Rinjani keluar kamar.
***
Kedua pria itu berjalan beriringan menuju salah satu meja di pojok kantin. “Arsha! Di mana Rinjani?”
“Nggak berangkat, Gam. Emang dia nggak ada yang ngabarin kalau dia sakit?” tanya Arsha tanpa melihat ke arah Agam.
“Nggak ada!” sahut Agam dengan nada kesal, karena Arsha seolah sedang mengejeknya.
“Oh, iya lupa. Kamu ‘kan bukan siapa-siapanya Rin,” ledek Arsha membuat Agam semakin kesal.
“Udah, deh. Mending kasih tau aku, di mana Rinjani sekarang?”
“Dia dia rumah sakit yang tidak jauh dari perumahan Rinjani.” Setelah berkata demikian, Arsha berlalu begitu saja meninggalkan Agam yang sedang duduk terdiam.

Komentar Buku (740)

  • avatar
    Putrinurma

    bagus asik

    4d

      0
  • avatar
    Arrirat Boonkanha

    good

    23/03

      0
  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    22/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru