logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Part 6. Kehadiran Sosok Baru

Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM
"Assalamualaikum, Dina," sapa Merwais dengan ramah.
"Walaikum Salam, Pak," sahutku sambil tersenyum.
"Eehhh, jangan panggil Pak, dong. Panggil saja Merwais," katanya dengan logat cadel.
Rupanya Merwais adalah seorang warga keturunan. Ayahnya berasal dari negeri Pakistan. Sedangkan ibunya dari Indonesia. Ibu Merwais adalah adik dari ayahnya Kak Vera. Merwais menuruni wajah ayahnya. Ketampanannya hampir mendekati kesempurnaan. Dengan wajah yang tampan, badan yang tinggi, kulit putih bersih dan ....
Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Aku takut hatiku mendua.
Merwais membukakan pintu masuk untukku. Dengan sungkan aku masuk ke butik Kak Vera, sebab tidak terbiasa diperlakukan seperti itu, pun oleh suami sendiri.
"Assalamualaikum. Hai, semua, apa kabar?" sapaku pada teman-teman butik.
"Wa'alaikumussalam. Kak Dina kerja lagi, ya? Asik, ada Kak Dina," seru Lisa kegirangan.
Ya, aku sangat dekat dengan mereka, walau mereka jauh dibawahku, tetapi mereka tetap menghormati meski sesama karyawan.
Aku segera melakukan aktivitas bersama teman-teman sekerja dan mereka sangat senang aku kembali kerja di butik ini.
Pukul setengah lima sore butik di tutup. Teman-teman yang lain sudah pulang semua. Hanya aku yang belum pulang karena menunggu jemputan Bagas.
"Belum pulang, Din?" tanya Kak Vera.
Kak Vera dan Merwais yang baru saja keluar dari butik dan segera mengunci pintunya.
"Belum dijemput, Kak," sahutku.
"Ini hampir Magrib, lo. Masa suamimu belum jemput, sih. Biasanya juga jam lima udah nonggol."
"Gak tahu, Kak. Dia nggak ada menelepon dan atau pun kirim sms. Mungkin Bagas lembur," sahutku berusah tersenyum.
"Ya udah, Kakak pulang dulu, ya. Ada janji sama anak-anak."
"Yuk, Wais kita pulang," ajak Kak Vera kepada Merwais.
"Kak Vera duluan aja, biar Wais yang menemani Dina. Kasihan sendirian."
"Yakin, nih, mau menemani Dina di sini?" tanya Kak Vera meyakinkan Merwais.
Merwais mengangguk sembari mengeringkan matanya.
"Oke deh. Kakak duluan, ya," ujar Kak Vera sambil mengerlingkan matanya padaku.
Adzan Magrib sudah berkumandang, aku belum juga dijemput. Akhirnya aku dan Merwais pun ke Musola untuk segera menunaikan sholat Magrib berjama'ah. Segera ku-silent ponsel agar tidak mengganggu saat sholat.
Selesai sholat, aku segera mengecek ponsel. Mungkin ada telepon atau pesan dari Bagas. Ternyata, ada puluhan panggilan masuk dan beberapa pesan darinya.
[Kenapa telponku tidak di angkat!]
[Kamu di mana? Kok tidak ada di depan butik!]
[Angkat be*o!]
[Pasti kamu selingkuh!]
[Dasar, istri si*lan!] dengan emoji marah.
Itulah Bagas. Kalau dia sedang marah, dia tidak akan memanggilku dengan sebutan bunda lagi. Aku segera meneleponnya kembali.
(Hei be*o, istri si*lan, istri durhaka, kenapa gak kau angkat teleponku dari tadi. Pasti kamu selingkuh ya!) Terdengar napas yang memburu tanda amarah Bagas sedang meledak saat menerima telepon dariku.
(Astagfirullah, mulutmu di jaga dong, Yah. Jangan sembarangan menuduhku. Kalau gak ada bukti itu namanya fitnah.) sahutku tidak mau kalah.
(Cepat pulang!)
Tut ... tut ... tut ....
Telepon pun langsung terputus.
"Menelepon suamimu, Din?" tanya Merwais.
"Iya. Dia memintaku segera pulang."
"Biar aku antar ya, Din?"
Aku ragu. Takut kalau keluarga Bagas berpikiran negatif pada Merwais. Aku tak ingin memperkeruh keadaan. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan jasa ojek. Karna di dekat Mushola ada tempat mangkal para abang ojek.
"Gak usah Wais, biar aku naik ojek saja."
Merwais mengantarkanku ke tempat abang ojek dan segera membayar ongkosnya.
"Terima kasih, ya. Aku pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku ya, Din"
Aku cuma menganggukan.
Sesampainya di rumah mertua, aku langsung disambut dengan kemarahan Bagas.
"Ini nih, istri si*lan, baru datang setelah asyik-asyik bersama selingkuhannya!"
"Baru sehari kerja udah berani macam-macam!"
Tidak kuperdulikan omelan Bagas, Aku langsung menggendong Galang dan memberikannya ASI.
Bagas terus menceracau dengan kalimat pedasnya. Tak ada seorang pun di rumah itu yang peduli. Hanya bapak mertua yang mau membelaku.
"Sudahlah, Bagas. Harusnya kamu melihat keadaannya dulu. Kamu 'kan menjemput Dina saat orang sedang sholat. Tanyalah dulu, jangan asal ngomong begitu," kata bapak mertua.
"Iya, Pak, saya tadi solat Magrib di Mushola dekat butik kak Vera. Soalnya Bagas belum menjemput saya dan juga gak nelpon atau mengirim pesan memberitahukan kalau dia kerja lembur," sahutku.
"Aaahhh, itu hanya alasan saja! Sholat di rumahkan bisa. Palingan juga Dina selingkuh sama cowok yang ada di butik itu."
"Astagfirullah, dia adalah sepupunya Kak Vera, Yah. Tanya saja ke butik kalau gak percaya."
"Sudah, gak malu apa ribut-ribut begini!" Ayah mertua pun membentak.
Sesampainya di rumah kontrakan, aku membersihkan diri dan segera mengajak Galang tidur di kamar. Tak kupedulikan Bagas yang sedang mabuk di depan televisi.
***
Pagi ini cuaca sangat mendung. Tidak terasa sudah enam bulan aku kembali bekerja di butik Kak Vera. Galang pun tumbuh dengan pesat. Di usianya yang baru empat belas bulan, Galang sudah lancar berjalan. Galang 'lah semangat hidupku.
"Sayang, hari ini bunda gajihan. Nanti Galang bunda beliin robot-robotan, ya."
"Nya nya nya nyaah." Dengan ekspresi senang, Galang langsung memainkan tangannya.
Begitu lucu dan aktifnya Galangku.
"Yuk, Bunda dan Ayah antar ke tempat nenek."
"Ayah, cepatan! Bunda dan Galang sudah siap." Aku berteriak dari luar.
Tidak berapa lama, Bagas keluar sambil menuntun motor bututnya.
"Hari ini 'kan Bunda gajihan, ayah minta uang Bunda ya, buat memperbaiki motor ini?"
"Lho, emang uang gajihan Ayah udah habis? Kan baru aja gajihan."
"Ayah kan cuma ngasih dua ratus ribu sama Bunda. Itu pun sebulan sekali Ayah kasih," sahutku lagi.
"Bunda juga harus membayar utang sama Kak Vera. Utang sewaktu melahirkan Galang," sambungku.
"Halah, nanti aja bayar utangnya. Yang pentingkan membaiki motor ini dulu. Kalau motornya rusak, bunda juga gak akan bisa kerja."
"Jadi istri itu jangan terus-terusan ngeyel. Mau kamu jadi istri durhaka."
Aku hanya bisa diam. Tidak mau terus berdebat yang tak akan ada habisnya. Segera mengajaknya berangkat kerja dan takut kalau hujan akan segera turun.
Sesampainya di butik kami segera mengerjakan aktifitas seperti biasanya. Tapi hari ini Kak Vera tidak ada di butik. Kata Merwais, Kak Vera sedang keluar kota karena ada kerjaan. Kak Vera bukan hanya memiliki butik ini, tapi dia juga seorang wanita karir yang sukses. Walaupun dia kaya, kak Vera tidak pernah sombong kepada siapa pun.
Saat jam istirahat siang, Bagas mampir ke butik dan langsung meminta uang padaku.
"Bund, mana uangnya?"
"Belum di kasihakan, Yah. Biasanya sore saat mau pulang kerja."
"Minta aja duluan dua ratus lima puluh ribu. Gak mungkin kan cowok itu gak ngasih."
"Ya Allah, Yah, banyak banget. Bunda kan juga harus nyicil utang yang dulu."
"Lagian, motornya kan gak rusak banget."
"Aahh, selalu menolak apa yang di minta suami. Apa mau jadi istri durhaka!"
"Minta aja sama tuh cowok, pasti dia kasih. Lagian tuh cowok kayaknya naksir sama bunda. Kesempatan, dong"
"Astagfirullah, maksud Ayah apaan, sih?"
"Halah, ngaku aja Bund. Dia 'kan selingkuhan Bunda?" Bagas pun meninggikan suaranya.
Sehingga sebagian pengunjung menoleh ke arah kami. Aku malu. Sangat malu.
Tidak berapa lama Bagas pun membisikan kalimat di telingaku.
"Kalau masih sayang sama Galang segera lah ambil uang itu."
Aku pun melongo dan menitikan air mata.
_______________
Khanza Az-Zahra

Komentar Buku (85)

  • avatar
    Phopy Putri Affandi

    bagus bgt

    01/09

      0
  • avatar
    rsty amLya

    ceritanya bagus

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Levia Andhita

    bagus sekali

    04/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru