logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Part 5. Kembali Bekerja

"Bu, bangun."
Sayup-sayup terdengar seseorang membangunkanku. Dengan berat sekali mata ini terpaksa kubuka. Aku berada di ruangan yang serba putih, sejenak mengingat apa yang terjadi. Baru tersadar, aku baru saja melahirkan.
Teringat akan buah hati, langsung saja bertanya kabar tentang bayiku. Tapi perawat itu menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya.
"Sssttt ... jangan bicara dulu, Bu. Ibu masih lemah." Perawat itu memberikan aku segelas air, yang setelah aku rasa minuman itu sudah dicampur gula. Tubuh yang semula lunglai, terasa lebih bertenaga setalah air gula itu masuk ke tubuh.
Tidak berapa lama Dokter pun datang.
"Alhamdulillah, lbu sudah sadar. Gimana perasaan ibu saat aku ini, apakah sudah agak mendingan?" tanya dokter tersebut.
"Syukur Alhamdulillah, lbu adalah seorang yang kuat," lanjutnya lagi.
"Bagaiman keadaan bayi saya, Dok?" tanyaku tidak sabaran.
"Bayi lbu sehat. Akan teapi bayi lbu harus diberikan sinar X dulu selamat empat hari. Biar paru-parunya bersih."
Aku hanya mengangguk tanpa mengerti maksud penjelasannya. Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti hal-hal seperti itu.
Selama enam hari di Rumah Sakit, tak pernah sekali pun keluarga Bagas menengokku di sana. Sebelum pulang, kami harus menyelesaikan biaya administrasinya dulu.
"Dik, uang tabungan kamu kurang buat bayar administrasinya."
"Hah! Emangnya harus bayar berapa?" tanyaku penasaran.
"Delapan juta empat ratus rupiah."
Aku terkejut, begitu mahalnya biaya melahirkan di Rumah Sakit.
"Jadi kita harus mencari tambahan empat juta empat ratus lagi dong"
"Gak, cari enam juta lebih. Soalnya uang kamu cuma ada dua juta"
"Haaaahh!" Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Bagas.
"Bukankah uang tabunganku semuanya ada empat juta? Itu pun aku yakin sudah kamu curi sebagian, Bang. Harusnya uang tabunganku mencapai enam juta." tak tahan rasanya mendengar kebohongan Bagas dan aku pun menangis.
"Jangan keras-keras nangisnya. Kamu tuh, bikin malu aja." Bagas sewot.
"Lalu, kemana uangku yang dua jutanya lagi? Kamu pakai lagi buat selingkuh dan mabuk? Dasar suami gak punya otak. Abang harus mencari sisa kekurangannya lagi sebagai tanggungjawab terhadap aku dan anakmu."
"Kemana aku harus mencarinya?"
"Usaha dong, Bang. Apa-apa semua harus pake uangku? Gak bisakah usaha dikit aja untuk mencari pinjaman?"
"Uang kamu 'kan uangku juga, Dik. Kalau kamu gak kuijinkan kerja, gak bakalan kamu dapat uang. Jadi uang kamu ada hak aku juga dong. Jangan ngeyel jadi istri, nanti kamu berdosa dan jadi istri durhaka."
"Kalau kamu gak terima uangmu kupakai, urus saja sendiri semuanya."
Bagas pun meninggalkanku pergi. Dan tas milikku diletakannya di atas nakas. Aku menangis melihat perlakuannya dan segera mengambil tas itu. Kemudian aku periksa uang yang ada di dalamnya dan menghitungnya kembali, ternyata uang itu hanya tinggal satu juta tiga ratus. Bagas benar-benar terlalu. Aku pun menangis sesegukan.
Tidak berapa lama, Isha datang bersama Mama. Mereka heran melihat mataku yang bengkak dan merah.
"Kak Dina kenapa menangis?" tanya Isha.
Aku menceritakan semuanya tentang perlakuan Bagas. Isha tampak kesal dan marah.
"Kurang ajar banget tuh, abang ipar. Pengenku buang ke jurang aja tuh orang," geram Isha.
"Yang sabar ya, Nak. Ini Mama punya emas sepuluh gram. Kamu bisa memakainya dulu. Yang penting kamu dan bayimu hari ini bisa keluar. Kalau lama-lama 'kan bisa tambah mahal lagi bayarannya," kata Mama.
"Gak, Mah, Dina gak bisa memakai perhiasan ini. 'Kan semuanya ini kenangan dari Ayah"
"Biar Dina coba meminjam dengan Kak Vera, pemilik butik tempat Dina bekerja dulu."
Aku pun segera mengambil ponsel dalam tas kecilku dan langsung mengirim pesan pada kak Vera.
[Kak Vera, bisa tolong Dina?] Pesanku kirim.
Tidak berapa lama kak Vera langsung membalas pesanku.
[Minta tolong apa, Din?? Udah keluar dari Rumah Sakit, ya?]
[Belum, kak. Nah, itulah masalahnya]
Aku pun menceritakan semuanya kepada kak Vera.
[Ok. Aku akan segera ke Rumah Sakit] pesan terakhir dari kak Vera.
***
Tidak berapa lama kak Vera datang bersama seorang pemuda. Pemuda itu dia perkenalankan sebagai sepupunya yang baru datang dari Dubai. Kak Vera pun langsung memelukku.
"Apa kabar, Din? Sehat selalu ya dan sabarlah dalam menghadapi ini semua."
"Oya, perkenalkan ini sepupuku Merwais. Dia baru datang dari Dubai."
"Bagaimana? langsung aja ya, ke administrasi, biar Dina langsung istirahat di rumah aja."
Kak Vera pun langsung mengurus semuanya. Tak berapa lama, datang dua orang Perawat membawa bayi mungilku.
"Hari ini ya, Bu Dina pulangnya?"
"Semoga cepat sehat ya, Bu!" kata kedua Perawat itu, kemudian berlalu pergi.
***
Dua bulan telah berlalu. Bayi mungilku yang bernama Galang tumbuh dengan sehat. Selama itu pula Bagas hanya jadi benalu yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan. Mungkin aku sudah mati rasa hingga aku tak peduli apa yang dia kerjakan. Sampai akhirnya kami harus keluar dari rumah Mama, karna Bang Wira sudah menjual rumah itu dengan alasan dia perlu modal besar.
Kami pun tinggal di sebuah kontrakan. Dengan uang dari hasil penjualan rumah. Mama tinggal bersama Isha. Karna aku tak ingin kalau mama tinggal bersamaku, cuma akan membuat Mama makan hati saja.
Semenjak tinggal di kontrakan, Bagas mulai memberiku uang gajihnya walau pun tidak seberapa. Mertuaku pun akhirnya berkunjung ke rumah untuk melihat Galang, cucunya.
Namun kebiasaannya mabuk tidak pernah bisa berhenti. Bahkan dia selalu meminta uang hasil penjualan rumah Mama. Kalau tidak aku beri, maka dia pun akan mencurinya. Uang yang tidak seberapa itu pun akhirnya mulai menipis. Beruntung Galang minum ASI eksklusif. Hingga tidak perlu beli sufor sebagai tambahan.
Saat Galang berusia delapan bulan, Bagas memintaku untuk bekerja kembali di butik Kak Vera. Karna biaya hidup semakin mahal dan teringat hutangku kepada kak Vera, akhirnya aku pun memutuskan untuk bekerja lagi.
Ibu Mertua bersedia menjaga Galang selama aku bekerja. Kebetulan Bapak Mertua juga sudah datang dari kampung halaman mereka dan akan segera menetap di kota.
Kuraih ponsel dan segera menelpon Kak Vera.
(Halo, kak Vera. Boleh gak aku kerja lagi di butik kakak?)
(Halo Din, kamu mau kerja lagi? Boleh kok. Tapi maaf, gak bisa bawa Galang kerja, ya. Gimana?)
(Iya kak, Galang akan kutitipkann di rumah ibu mertua kalo aku kerja nanti.)
(Oke deh. Besok bisa turun gak? Kebetulan barang baru masuk semua, nih.)
(Iya, Kak, besok aku akan mulai turun.)
***
Pagi yang sangat cerah. Aku segera bersiap diri untuk berangkat kerja. Sebelum itu aku harus mempersiapkan segala kebutuhan Galang untuk berada di rumah neneknya nanti.
"Bund, cepetan dong, siapkan sarapannya. Lelet banget, sih."
Bagas memintaku untuk menyiapkan sarapannya. Tanpa dia perduli dengan kesibukanku yang belum selesai. Padahal dia cuma santai sambil bermain ponsel dan cekikikan sendiri.
Karna sudah ada Galang, sekarang dia memanggilku bunda.
"Ambil sendiri dong, Yah. Aku lagi repot nih, nyiapin peralatan buat Galang"
"Ih, Bunda. Itu kan tugas Bunda"
Akhinya aku mengalah. Aku tak ingin merusak moodku yang lagi baik saat ini.
Lima belas menit dari rumah lbu Mertua, akhirnya aku sampai di butik kak Vera dengan di antar Bagas.
"Makasih, Yah. bunda kerja dulu. Assalamualaikum" Aku pun tak lupa mencium punggung tangannya.
Saat itu aku melihat Merwais--sepupunya kak Vera-- melintas di depanku dan dia pun menyapa. Sepintas terlihat wajah Bagas tidak suka saat Merwais menyapaku.
__________________________________
Khanza Az-Zahra

Komentar Buku (85)

  • avatar
    Phopy Putri Affandi

    bagus bgt

    01/09

      0
  • avatar
    rsty amLya

    ceritanya bagus

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Levia Andhita

    bagus sekali

    04/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru