Dua minggu telah berlalu sejak kejadian malam itu. Lumayan tenang selama berada di rumah Mama. Tanpa mendengarkan para ipar dan mertua yang selalu bermulut pedas. Aku terus memikirkan, langkah apa selanjutnya yang harus kuambil. Aku bertukar pikiran dengan Kak Vera, pemilik butik tempatku bekerja. Kak Vera seorang yang sangat baik. Dia tak hanya menganggapku sebagai karyawan di tokonya, tetapi juga menganggapku sebagai adiknya. Sebenarnya karyawan di butik Kak Vera ada lima termasuk aku, tapi usia mereka semua lebih muda dari usiaku. Jadi lebih nyaman bercerita dengan Kak Vera di banding dengan teman sesama karyawan. "Kak, gimana menurut kakak. Diteruskan atau apa? Aku malu Kak, kalau harus gagal lagi untuk kedua kalinya." Aku meminta pendapat pada Kak Vera. "Menurut kamu bagaimana? Tergantung hatimu, Din. Kalau kamu sudah tidak suka lagi sama Bagas dan tidak ingin memberi dia kesempatan, aku bisa apa, itu pilihanmu," sahutnya yang membuatku harus berpikir jernih. "Tapi kalau boleh aku kasih saran, mencobalah untuk memaafkannya dan berilah dia kesempatan. Mungkin dia bisa berubah." "Apapun keputusanmu, Kakak akan terus mendukungmu." Aku merenungkan apa yang Kak Vera katakan. Sampai pada suatu sore, Bagas datang ke rumah Mama. "Dik, pulang yuk. Abang minta maaf, Abang benar-benar menyesal. Abang janji tidak akan mengulanginya lagi." Di depan Mama, Isha dan suaminya, Kak Lisna dan juga keponakanku, Bagas berjanji. "Baiklah aku memaafkanmu. Tapi aku gak mau lagi ke rumah ibumu. Keluargamu sangat rese dan tidak memedulikan aku," sahutku dengan nada masih sedikit jengkel. Setelah Bagas berjanji di depan keluargaku, dia benar-benar menepati janjinya. Walau kebiasaan mabuknya tidak bisa hilang, dia tidak melakukan kekerasan lagi dan aku pun tidak pernah lagi ke rumah ibu mertua, sekalipun itu di hari lebaran. Biarlah aku dianggap sebagai menantu durhaka. ***** Saat ini, usia kandunganku sudah memasuki bulan kedelapan, tetapi aku di kejutkan oleh kenyataan yang tak kuharapkan. Ponsel Bagas berdering di pagi itu. Kebetulan dia sedang berada di kamar mandi. karena terus berdering, aku sebagai istri mencoba melihat siapa yang menelepon tersebut. Dilihat dari layar ponsel, ternyata bos di tempatnya bekerja menelepon. Tanpa berpikir panjang, langsung kuangkat telepon tersebut. "Halo sayang, cepat, ya, jemput aku. Entar aku telat, nih" Mendengar suara perempuan yang menelepon, aku sangat terkejut. apalagi perempuan itu mengatakan sayang. Tanpa berpikir lagi, langsung kuputuskan sambungan telepon itu. kecewa. Ya, aku sangat kecewa. di saat aku sudah hamil tua, Bagas bermain api dibelakangku. Ada sesuatu mengambang di ujung netraku dan tak terasa air itu pun mengalir membasahi pipi. Tidak berapa lama, Bagas pun masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat ponselnya berada di tanganku. Deket kabponsel itu dia rebut dari tanganku. "Kenapa ponselku ada di tanganmu, Dik?" tanyanya curiga. "Tadi ada Bos menelepon kamu, Bang," ujarku sembari berusaha menyembunyikan amarah yang tersimpan di dada. Seketika wajah Bagas terlihat terkejut dan berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Ngapain juga kamu menerima panggilan telepon yang bukan milikmu," sahutnya dengan nada marah. "Karena yang tertulis di layar ponselmu nama bos, ya, tentu aku terima. kali aja ada yang penting. Eh, ternyata emang sangat penting. Kata Bos cepat dijemput entar telat." Aku mengungkapkan sindiran dan berusaha menyembunyikan amarah dan luka. Setelah selesai memakai baju, Bagas berlalu dengan terburu-buru tanpa pamit padaku. Sarapan yang sudah aku siapkan pun tidak disentuhnya. Ada rasa sesak di dalam dada dan hati ini terasa perih bagai di iris sembilu. Apakah Bagas selingkuh? Atau kah hanya salah sambung? Perlukah aku mencari bukti lagi atas perselingkuhan nya? Kenapa uang tabunganku untuk persiapan melahirkan selalu berkurang? Bagaskah yang mengambilnya untuk dia selingkuh? Selama seminggu pertanyaan itu terus bekecamuk dalam pikiranku. Sampai akhirnya, terjadi kontraksi di perut akibat terlalu tertekan. Mules yang terjadi membuatku tak bisa bertahan. Aku pun meminta bantuan Isha dan kakak lpar ku Lisna. Kebetulan saat itu Mama tidak ada di rumah. Mereka pun segera mengajakku ke puskesmas terdekat. Tidak lupa aku meminta Isha untuk membawakan baju dan uang tabunganku. Sesampai di Puskesmas, aku segera di tangani Bidan dan perawat yang bertugas. Bidan itu pun segera memeriksa keadaanku. "Maaf Bu, ini baru pembukaan satu. Apakah ibu mau tetap di sini atau mau pulang dulu," kata Bidan yang menanganiku. "Di sini aja langsung, Bu Bidan, takutnya nanti kaki langsung lemas dan gak bisa jalan," sahutku dengan tenaga yang lemah. Bidan pun memeriksa riwayat kehamilanku di buku catatan ibu hamil. "Riwayat ibu ini, anak pertama melahirkan di Rumah Sakit, ya, Bu! Dengan kondisi ibu yang sesak nafas dan gak kuat ngejan." "Yang ini anak kedua, ya, Bu? Kalau di lihat tafsiran tanggal kelahirannya masih satu bulan lagi," jelas Bu Bidan. "Boleh tanya, Bu, apakah Ibu merasa stress? Soalnya Ibu hamil gak boleh merasa tertekan atau apapun. Ibu hamil harus rileks biar bayinya juga sehat," tanya Bidan. Aku hanya terdiam karna memang salahku tidak bisa menjaga kondisi tubuh. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan Bagas dan selingkuhannya. Bu Bidan itu memang baik. Dia selalu menjagaku dan selalu mengecek kondisi tubuh dan kehamilanku. Tidak berapa lama Bagas pun datang. Bidan tidak bisa berbuat banyak lagi karna kondisiku semakin lemah. Dan akhirnya aku pun di rujuk ke Rumah Sakit. Sesampai di Rumah Sakit, aku langsung dibawa ke ruang tindakan. Karna kondisi yang semakin melemah, para perawat segera memasang selang infus hampir di seluruh tubuhku. Di saat aku melahirkan dengan mempertaruhkan hidup dan mati, Bagas tidak berada di sampingku. Aku hanya ditemani perawat, Dokter kandungan, dan Bidan yang bertugas di waktu itu. Pukul tujuh pagi, bayi mungilku lahir ke dunia. Bayi laki-laki yang ganteng. Aku hanya sebentar melihat bayi mungil itu. Bayiku langsung di bawa ke ruang inkubator dan harus mendapat penanganan khusus. Aku sangat bahagia, walaupun hanya sebentar melihatnya. Dan hanya mampu berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada bayi mungilku. Aku merasa lelah dan mata mulai berkunang-kunang. Aku merasa ingin tidur. Sebelum hilang kesadaran, sayup-sayup terdengar dokter mengatakan harus menyiapkan empat sampai lima kantong darah. Karna aku mengalami pendarah dan juga harus di kuret, karna plasenta bayiku yang telah hancur sebagian masih menempel di dinding rahim. Melihat kondisiku makin lemah, para perawat dan bidan segera melaksanakan perintah dokter. Mereka sangat sibuk dan terlihat gugup. Sampai akhirnya, yang kurasakan hanya lah kegelapan dengan tubuh yang sangat ringan. ______________________________ Khanza Az-Zahra
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bgt
01/09
0ceritanya bagus
12/06/2025
0bagus sekali
04/06/2025
0Lihat Semua