Pagi itu Rio buru-buru keluar dari rumah, rambut masih acak-acakan, tas hampir nggak dibawa dan untung nya ingat kalau ke sekolah harus bawa tas, dan dia langsung pakai tas gendong nya dan kemudian segera berangkat dengan kendaraan yang dimilikinya. Setelah itu dia pun mengebut dan hampir tabrakan, tapi dia kemudian mengebut lagi dan melupakan kejadian yang hampir tabrakan dengan mobil, kemudian begitu sampai didepan sekolah, Rion melihat Dion, Robby, dan Erik. "Itu kan mereka bertiga! Hai teman-teman!" Tapi nggak tahu mereka mendadak budeg atau memang budeg beneran, Rio nggak tahu. Tapi kesal juga dia sapa ketiga teman sekelasnya, nggak ada yang jawab, dia pun dengan perasaan kesal yang ditahannya, dia pun mengejar mereka bertiga. "Kalian itu kompak banget jalannya! Tungguin dong! Jalan apa lari sih! Kok cepet amat!" “WOY TUNGGU—!!” Dan kasihan nya si Rio, Dion dkk Tetap jalan. Nggak nengok. Budeg kelas berat. Sementara di tempat lain, Diana bangun dengan mata membelalak. Alarm? Mati. Ibunya? Menginap di rumah bude. Ayahnya? Di luar kota. Hasil akhirnya, Diana kesiangan. Dia langsung turun dari kasur, kemudian gosok gigi kemudian gosok gigi nya cepat dan kemudian lari, rambut tidak disisirin dan belum kepikiran tentang rambut yang belum dirapikan, seragam dipakai setengah sadar. Dia keluar rumah dengan fokus ingin segera pergi ke sekolah. “Gara-gara tidur kebablasan… mampus gue kalau telat.” Dan sialnya, Diana dan Rio sekarang sama-sama sial karena gerbang sekolah hampir ditutup. Dan akhirnya Rio lari ngejar Robby dkk… Diana lari juga ikut-ikutan Si Rio yang lari. Keduanya sama-sama panik, sama-sama belum sarapan, dan sama-sama ingin segera masuk ke dalam gerbang yang hampir mau ditutup. Rio dan Diana akhirnya berlari berdampingan. Suara napas Diana yang ngos-ngosan terdengar jelas, dan itu bikin Rio otomatis nengok. Kesalahan fatal. Dalam sepersekian detik, keduanya saling pandang sambil tetap lari… dan justru karena itu, mereka telat satu langkah. “BRAAAK!” Gerbang ditutup tepat di depan wajah mereka. Rio langsung mendengus keras dan dari dengusan tadi dia benar-benar kesal pada Diana. Dan juga kesal gara-gara hari ini dia sial ketemu Diana dan juga nggak bisa masuk gara gara Diana mengalihkan fokus nya. “Hhh—sial banget.” Diana yang masih ngos-ngosan langsung melotot. “Kenapa lo nafas gitu?” tanya Diana dengan suara keras. Rio menoleh, keningnya berkerut. “Lo kenapa? Belum pernah dengar orang nafas apa?” “Bukan gitu! Lo kesal sama gue?” Rio mendengus lagi, lebih keras. “Pede banget sih lo!” Diana makin tersinggung. “Gue tahu tadi lo nafas gitu! Dan gue tahu dari cara lo mendengus kaya gitu lo kesal sama gue! Ngaku saja lo! Kenapa lo kesal!? Gue nggak salah apa-apa! Dasar cowok aneh!” Rio langsung balik nyolot. “Gara-gara lo! Lo tadi nafas juga! Nafas lo kedengeran banget sama gue!” “Hah?” Diana bingung. "Gue nafas! Ya karena gue hidup! Dan selama lo nggak budeg! Lo pasti dengar nafas gue ngos-ngosan!" "Gue lari cape! Lo nggak mikir itu! Hah! Dasar cowok aneh!" “Kalau nafas lo nggak kedengeran, gue nggak nengok! Kalau gue nggak nengok, gue nggak sadar kita lari bareng! Dan gara-gara gue nengok—gara-gara LO—gue jadi kehilangan kesempatan masuk!” Diana sampai bengong satu detik. Baru kemudian balik nyentak: “ANJIR–! Lo nyalahin gue cuma karena gue… bernafas!?” Rio melotot balik. “IYA! Lo nafas terlalu keras!” Diana hampir melempar tasnya ke muka Rio. "Dan lo juga udah mendengus kesal juga, gue kedengaran lo nafas juga! Impas!" Rio melotot waktu lihat Diana benar-benar mau melempar tas ke mukanya. “Lo padahal ya gara-gara-nya! Udah bikin gue gagal masuk, sekarang mau ngelempar tas pula! Bisa-bisanya!” Diana langsung nyolot balik, rambut acak-acakan, napas masih belum stabil. “Siapa suruh lo nengok pas gue ngos-ngosan!? Gue juga nggak minta lo nengok! Lo yang sok-sok kepo!” “Lah gue nengok karena gue denger LO nafas! Normal dong gue nengok!” bentak Rio. “Gue juga nengok karena lo nengok duluan! Gue jadi ikut! Lo tuh magnet masalah! Sekarang gue telat gara-gara lo!” Rio makin naik pitam. “Kenapa sih gue harus ketemu Lo hari ini!? Timing-nya sial banget! Jam sial! Orang sial! Semua sial!” Diana balas caci dengan nada makin tinggi. “DIAM! Lo yang salah! Lo yang mulai nengok!” “Gue nengok karena penasaran siapa yang liatin gue!” “Gue juga penasaran siapa yang liatin gue! Mana tau KUNTI siang-siang lewat, kan!? Tapi pas gue liat muka lo, gue percaya!” PLAK. Diana benar-benar melempar tas ke wajah Rio. Rio tentu nggak mau kalah—dia balikin tasnya ke muka Diana. Di saat keduanya hampir teriak sampai level 10, suara berat memotong udara. “HEH! KALIAN BERDUA!” Pak Satpam muncul sambil buka gerbang sedikit dengan muka kesel. Di belakangnya, ada Ibu Winda—guru piket—yang dari tadi udah denger keributan mereka. “Masuk!” ujarnya tegas. “Dan setelah ini, kalian berdua pindahkan TONG SAMPAH besar di belakang mushola. Petugasnya nggak masuk. Kalian gantiin.” Rio otomatis mengangguk. Diana cuma cemberut dan menatap Rio seperti ingin mengubur hidup-hidup. Akhirnya mereka berdiri berdampingan, sama-sama telat, sama-sama bau keringat, sama-sama kesal… dan sekarang sama-sama harus mindahin TONG SAMPAH yang baunya kaya neraka bocor.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Lihat Semua