Aldy melihat kearah sang pengrajin. Ia mengambil beberapa uang berwarna merah di sakunya, lalu memberikannya kepada sang bapak. "Ini untuk ucapan terima kasih saya." Sang bapak menolak, ia sudah menerima uang dari bosnya. Patung ini memang sebagai hadiah untuk Aldy, jadi ia tak boleh menerima imbalan. "Tak usah pak, saya sudah di bayar oleh bos," jawabnya menolak uang dari Aldy. "Bapak tau, dia wanita yang saya cintai selama ini pak. Dia pergi entah kemana, tapi dia berjanji untuk kembali. Tolong terima uang ini." "Tapi pak?" "Tak apa, ini hanya untuk ucapan terima kasih," jawab Aldy. Sang pengrajin itu mengambil uang yg Aldy berikan, meskipun ia masih ragu. "Terima kasih pak." "Sama-sama. Apa saya boleh membawanya pulang hari ini?" tanya Aldy. Ia takut catnya kurang kering atau hal yang lainnya. Ia tak mau patung Ara cacat, apalagi sampai rusak. "Silahkan pak, tapi apa bapak akan membawa patung ini dengan mobil bapak?" tanya sang pengrajin. Bagaimana tidak, mobil Aldy sangat kecil, dan hanya muat empat orang. Sedangkan patung tak bisa dilipat, tingginya pun seratus lima puluh delapan cm. "Aku akan menelepon anak buahku," jawab Aldy. Ia mengambil ponselnya, lalu menelepon anak buahnya untuk membawa pic up kantor untuk membawa patung Ara. "Saya permisi pulang pak," ucap Aldy dan pergi meninggalkan sang pengrajin. Aldy pulang kerumah dengan perasaan senang. Sedikit senyuman ia terbitkan di bibirnya, membuat semua keluarga bingung. Baru kali ini ia melihat senyuman tulus itu terbit. Sejak peninggalan Ara, hanya ada tatapan datar dan menusuk, yang selalu ia tampakkan. "Lo kenapa?" tanya Alfa bingung. "Kenapa?" tanya balik Aldy. "Gak biasanya lo senyum kayak gitu, kesurupan? Atau jangan-jangan." Alfa menyentuh dahi Aldy, megecek suhu tubuhnya. "CK, gue gak apa-apa," ucapnya dan pergi meninggalkan Alfa yang kebingungan. Semua keluarga Fathee berkumpul untuk makan malam. Aldy mengambilkan Sisil nasi, dan sepotong ayam goreng yang lumayan besar, dengan sayurannya. "Di habisin ya, kalo kurang nambah gak papa." Sisil menatap Aldy dengan senyuman sumringahnya. "Makasih om," jawab Sisil. Aldy bisa melihat Sisil, yang begitu lahap memakan ayam goreng, dan sayurannya. Rasanya ia ingin selalu ada disampingnya. "Apa Sisil tinggal disini saja?" batin Aldy. Melihat mata Sisil yang begitu sama dengan mata Ara, dan Sisil yang tak di akui oleh keluarganya, hampir sama dengan Ara-nya dulu. Bedanya Ara tak dibuang, ia tetap tinggal dirumahnya, meskipun selalu menerima tekanan batin setiap hari. Semua yang berada dimeja makan bisa melihat ketulusan Aldy. Sejak tadi siang Sisil datang, Aldy sering tersenyum, dan sedikit banyak bicara. Apa sebegitu besar cintanya kepada Ara? "Sisil, tinggal dimana?" tanya Elva. "Rumah Sisil banyak Oma, kadang di depan toko, kadang juga di warung, tapi Sisil sering tidur di masjid," jawab Sisil dengan senyumannya. Tak ada kepedihan sama sekali ketika anak kecil itu menceritakan tempat tinggalnya. "Orang tua Sisil dimana?" tanya Elva lagi. Ia tak peduli, meskipun Aldy mengisyaratkannya untuk diam. "Sisil, gak pernah liat ayah Sisil, dan ibu Sisil buang Sisil di pasar, katanya Sisil anak pembawa sial." Wajah yang tadi gembira, tiba-tiba, menunduk lesu. "Hey, anak cantik gak boleh nangis. Oma jadi kasian sama ibu kamu, kok bisa ya, dia buang berlian berharga seperti kamu?" Nada bicara Elva di buat-buat, supaya Sisil tak sedih kembali. Sisil mendongakkan kepalanya menatap Elva. "Sisil berlian?" tanya Sisil dengan mata yang berkaca-kaca. Elva mengangguk mantap. "Semua anak didunia ini itu berlian, mereka tak berdosa, dan layak untuk di sayangi." Sisil tersenyum senang. "Oma gak bohong kan?" tanya Sisil lagi. "Oma gak mungkin bohong sayang. Liat Abel dan Zen, mereka berlian, dan kamu juga berlian. Kalian berharga." "Aaaa aku baper," teriak Abel sambil memegang dadanya layaknya terkena anak panah. "Jangan rusak suasana Abel," tegur Alfa, yang jengah dengan sifat anaknya yang satu ini. Semua keluarga mengatakan jika anaknya sama dengannya. Jadi ini alasan Aldy selalu geram, dan ingin memarahinya. "Oke-oke maaf pa. Sens dong." "Sisil mau gak tinggal disini?" tanya Elva membujuk. Sisil menggeleng tak mau. "Aku tak mau merepotkan keluarga ini karena menampungku." "Keluraga ini tak akan kerepotan. Kamu mau ya?" bujuk Elva. Aldy tak menyangka mamanya bisa sebaik itu. Ia kira mamanya akan mengusir Sisil dari rumah ini, tapi malah sebaliknya, mamanya menyuruh Sisil tinggal disini. "Terima kasih ma," ucap Aldy. "Ya Oma, Sisil mau," jawabnya dengan senyuman. "Ye.... Abel punya dua adik!" Tangan Abel terangkat kesenangan. "Sil kamu nanti ikut circle aku ya!" pinta Abel. "Jangan," tolak Aldy tak setuju. "Circle apa?" tanya Aina menimpali. Kenapa dirinya baru tau jika putrinya itu memilki circle. Apalagi mengingat umur Abel yang masih delapan tahun. Masih kelas dua SD. "Circle plakor," jawab Abel tanpa beban. Semua orang terkejut. Tak terkecuali, Aldy, Zen, dan Sisil yang tak mengerti dengan plakor. "Gak, kamu gak boleh masuk circle kayak gitu Abel." Alfa menatap anaknya horor. Tau dari mana anaknya itu sebutan plakor. "Kenapa pa? Papa harus bangga punya anak yang cita-citanya jadi plakor," jawab Abel membela diri. Sedangkan Aina, ia sudah gemas ingin menyentil bibir tipis anaknya yang asal berbicara itu. "Abel tau plakor itu apa?" "Tau dong ma," jawabnya dengan nada sombong. Elva menatap Abel dan Alfa bergantian. Ia sudah tak terlalu terkejut dengan cucunya. Mungkin gen Alfa lebih banyak di tubuh Abel. "Apa plakor?" tanya Elva. "Plakor adalah orang yang terkenal, dan ada dimana-mana. Di tv, di ponsel, di TikTok, plakor selalu ada." Sungguh keluarganya sangat dipenuhi dengan derama absurd. Jika ia tidak bersuara, mungkin drama itu tak akan selsai sampai nanti malam. "Plakor adalah perebut suami orang. Kamu paham?" tanya Aldy. "Enggak." "Contohnya papa kamu, punya pacar, dan pacarnya di sebut plakor. Kamu mau papa kamu di ambil plakor?" tanya Aldy mencoba sabar. "Kok gitu sih om?" "Ya emang gitu bel. Kamu mau menjadi plakor?" "Enggak om," jawab Abel sambil menggeleng kepalanya kuat. "Ya sudah lupakan menjadi plakor itu hal yang tak boleh di lakukan." Alfa mengelus dadanya. Untung saja Aldy bisa meluruskan jalan anaknya yang sedikit sesat itu. "Alhamdullilah, akhirnya." ~~~~~ Aldy duduk di sofa yang berada di balkon kamarnya, menatap bintang yang begitu terang di malam hari. Tiba-tiba mamanya duduk di samping Aldy. "Belum tidur?" tanya Elva. "Belum. Mama sendiri?" tanya balik Aldy. "Seperti yang kau lihat. Sembilan tahun ini, tidur mama tak pernah nyenyak." "Kenapa mama gak ke Jerman aja? Kasian papa disana kesepian." "Lalu membiarkanmu, menggila?" "Aku tak gila ma?" "Tak gila? Tapi tergila-gila." Elva menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. "Kau tau kan, sembilan puluh sembilan persen dari seratus persen seorang ibu di dunia ini menyayangi anaknya. Seorang ibu akan melakukan apapun supaya anaknya hidup bahagia dan nyaman." "Ya aku tau itu, memangnya kenapa?" tanya Aldy. "Besok mama dan teman mama akan memperkenalkan kamu dan dia." Alif menatap mamanya bingung. "Di kenalkan?" "Ia. Dan kamu tak boleh menolaknya. Kamu harus datang jam tujuh malam dengan mama, tak ada alasan." Alif bernafas panjang. "Mau bagimana lagi, terserah mama." Elva tersenyum, ia mengelus kepala aldy dengan sayang. "Bukannya mama memaksakan kehendak Al, tapi mama mau kamu berubah." "Ya, Aldy tau, tapi jika wanita itu tak mau dengan Aldy bagaimana? Atau Aldy yang tak mau dengan dia?" "Kalo sama-sama mau, bukan perjodohan namanya anakku," jawab Elva geram. "Aku tak mau menyakiti wanita itu ma, aku masih mencintai Ara." Elva mengangguk. "Cinta itu tak akan hilang jika kamu tak menemukan penggantinya. Kamu disini menunggu, belum tentu Ara yang disana akan datang. Atau jika tidak ia sudah memiliki suami, atau pun seorang anak." Elva yang melihat Aldy terdiam, semakin terus menyudutkan Ara, supaya Aldy manerima perjodohan ini. "Waktu sudah berlalu begitu lama. Sembilan tahun Al. Kau lihat Alfa? Dia sudah memiliki tiga anak, sedangkan dirimu?"
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 27 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (209)
Kha Thomas
sangat bagus
09/04
0
RendiIndri
menarik
22/01
0
febrianaandita
terharu banget ka😻😻
sangat bagus sekali cerita nya
sangat bagus
09/04
0menarik
22/01
0terharu banget ka😻😻 sangat bagus sekali cerita nya
01/07/2025
0Lihat Semua