"Being a part of your cool air, it's so much fun." _anonim_ 🌸🌸🌸 "Apakah kau baik-baik saja di sana?" Terdengar suara lembut di balik ponsel Ayumi. "Ya. Aku baik-baik saja, Rumi!" jawab Ayumi masih dengan mata yang terpejam. Arumi adalah saudara kembar Ayumi. Arumi clarina Nakagami. Kebiasaan orang tua di Indonesia, menamai anak kembar mereka dengan nama yang hampir mirip pula. "Mengapa kau menghubungiku di pagi buta." tanyanya dengan suara yang masih serak, menandakan Ayumi baru bangun dari tidurnya. "Hei, ini sudah pukul tujuh dan kuyakini di Jepang sudah pukul sembilan." "Bagiku, di hari libur, matahari muncul pukul sepuluh, Rumi." Arumi terkekeh. "Pulanglah kemari. Kau terlalu betah hidup sendiri." "Tidak! Aku masih ingin di sini," terdengar suara dengusan di seberang sana. Ayumi mengakini bahwa sekarang Arumi sedang kesal. "Jangan sering pulang malam, meski aku tahu jam kerjamu tak teratur." Petuah sang kakak. "Kemarin aku syuting Music Video dan aku dipasangkan dengan orang Korea." Terdengar grasak grusuk di sana, kemungkinan Arumi sedang mengubah posisinya. "Benarkah? Kau baik-baik saja, apakah traumamu kembali?" "Aku baik-baik saja, meski awalnya aku sedikit takut, tapi sekarang aku sudah merasa baik-baik saja. Ia juga menyewa apartemen di sebelahku." "Apa?" Ayumi menjauhkan ponsel dari telinganya, saat mendengar pekikan Arumi. "Dia tidak mengikutimu kan?" tuduhnya kemudian. "Hei jangan membuatku takut. Dia terlihat baik. Yah, semoga dia orang baik." "Meski demikian, kau juga harus berjaga-jaga dengan orang baru," pesan Arumi sembari menghela napas yang terdengar berat. "Aku tahu ini pasti sulit bagimu. Namun, tidak semua orang sama. Meskipun dia juga orang Korea, bisa saja dia berbeda dengan 'orang itu'." "Aku tahu!" Ayumi mengangguk seakan lawan bicaranya bisa melihat gerakannya. "Jadi kau ingin berteman dengannya?" "Hmm. Aku tak tahu, di satu sisi aku masih sering melihatnya sama dengan orang itu, tapi di sisi lain ia selalu saja membantuku dan membuatku sedikit merasa tenang jika bersamanya." "Aku sebenarnya tak pantas untuk mengatakannya, tapi aku berharap kau bisa mendapatkan teman baru lagi." "Aku akan mencoba untuk tidak berpikiran aneh saat berada di dekatnya." "Ayumi. Maafkan aku, karena telah membuatmu mengalami kejadian itu." Ayumi mencelos. "Jangan memulainya lagi, kau sudah berkali-kali meminta maaf padaku. Hal itu bukan kesalahannmu." "Akan tetapi, hal itu tak akan terjadi jika orang itu tak mengira kau adalah aku." Terdengar nada penyesalan Arumi. "Jika kau ingin membahasnya lagi, aku akan menyudahi percakapan kali ini." "Jika kau berani, aku akan langsung terbang ke sana dan memukulmu." "Baiklah aku akan mematikannya sekarang, agar kau segera datang kemari," ejeknya membuat Arumi mengucapkan segala sumpah serapahnya. Padahal ia tahu bahwa Arumi hanya bercanda, karena Ayumi tak akan bisa menghampirinya ke Jepang. Percakapan antar bersaudara itu berakhir, Ayumi berusaha melanjutkan tidurnya agar otaknya tak kembali bernostalgia di masa lalu, di masa saat ia harus berhenti mengharapkan cita-citanya terwujud. Arumi dan Ayumi merupakan saudara kembar identik. Arumi yang lahir lima menit terlebih dahulu membuatnya mendapat gelar kakak yang terkadang tak diterima oleh Ayumi. Keduanya selalu bersama sejak lahir, namun berpisah saat mereka kuliah. Arumi memilih kuliah di Korea Selatan ketimbang kuliah di negara sendiri. Ia memilih kuliah di negara yang mendapat julukan Negara Ginseng karena ingin melihat para idol kesayangannya. Padahal ketika di sana, ia juga sulit untuk bertemu biasnya secara langsung. Hanya saja ketika selesai kuliah, Arumi tiba-tiba pulang ke Indonesia dan memilih hidup bersama keluarganya. Berbeda dengan Ayumi, yang kuliah di Indonesia dan langsung melanjutkan pasca sarjananya di Jepang. Ia ingin merasakan hidup di tempat kelahiran Ayahnya. Dan ketika pendidikannya selesai, ia memilih untuk hidup mandiri dan menjadi model di Jepang. Menjadi model bukanlah keinginannya, melainkan keinginan Arumi yang tak bisa Arumi gapai. Sedih? itulah yang dirasakan Ayumi saat melihat sang kakak tak memiliki harapan untuk melakukan kemauannya sendiri. Meski sulit, Ayumi terpaksa menenggelamkan cita-citanya demi membahagiakan Arumi. 🌸🌸🌸 Suara ketukan pintu membuat Ayumi membuka matanya yang masih sangat berat. Ia mengerjap dan memaksakan diri untuk bangun membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya dengan mata yang masih menyipit. "Mengapa kau membangunkanku?" Ayumi sedikit kesal karena Jeno membangunkannya, padahal ia masih ingin tidur. Jeno yang tak tahu dengan apa yang diucapkan Ayumi mengangkat alis. "Sepertinya kau belum sepenuhnya sadar," gumamnya pelan. Ayumi terlihat heran. "Maksudnya?" Ia berpikir sejenak dan tiba-tiba mengangguk menyadari ucapannya. "Ah, maaf. Lagi-lagi aku menggunakan bahasa ibuku." Jeno hanya mengedikkan bahu, "Sepertinya aku mulai terbiasa dengan bahasa asing yang sering kau gunakan," pungkasnya sambil melirik jam tangan. "Hari ini kau akan ke mana?" Ayumi berpikir sejenak. "Hmm. Aku tak tahu harus kemana? Aku tak memiliki rencana apa pun hari ini?" "kalau begitu ayo kita ke bioskop sore nanti." Mata Ayumi melebar. "Sepertinya aku sudah mengatakan bahwa aku tak suka berada di kegelapan." Jeno tahu itu, tapi ia sengaja mengajak Ayumi. Bukannya jahat, hanya saja Jeno ingin membantu Ayumi keluar dari masalah hidupnya. "Aku tahu. Maka dari itu aku mengajakmu. Tenang saja! Ada aku." Entah kata-kata itu seakan membuat Ayumi terhipnotis, jika Jeno berada di sampingnya, apakah semua akan baik-baik saja? Apakah traumanya akan hilang? "Aku tak bisa, Jeno. Aku takut," lirihnya karena harus menolak ajakan Jeno. Jeno mengangguk pelan. "Baiklah, jangan merasa bersalah, kau terlihat tak cocok dengan wajah seperti itu." Ayumi menelengkan kepala. "Jadi harus bagaimana?" tanyanya penasaran. "Bagaimana apanya?" "Wajahku Jeno, raut wajah yang cocok itu seperti apa?" desak Ayumi butuh jawaban yang pasti. Jeno menatap Ayumi yang sedang tersenyum. "Nah seperti ini," ia menangkup pipi Ayumi dengan kedua telapak tangannya. "Wajah yang terlihat bahagia, sangat cocok untukmu." Ayumi terdiam dan menahan napas, ia segera mengalihkan pandangannya pada Jeno. Jantungnya berdetak kencang sampai-sampai Ia takut suara degupannya akan terdengar di telinga Jeno. "Oh. Maafkan aku." Jeno menarik tangannya. Tiba-tiba kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Terdengar suara langkah kaki di tangga sehingga keduanya menoleh ke sumber suara. "Oneesan!" Keiko menyelamatkan situasi yang sedikit kikuk. "Yah ada apa, Keiko?" tanyanya kemudian. Ayumi sudah menganggap Keiko seperti keluarganya sendiri semenjak gadis berginsul itu pindah di apartemen ini. "Oneesan aku memerlukan bantuanmu?" Keiko menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya dan Ayumi. Keiko berusaha menahan rasa bahagianya saat menatao lelaki yang tempo hari dilihatnya kini telah berada di sampingnya. Lelaki tampan dan tinggi yang ia kagumi. Ayumi menyadari tingkah laku Keiko. "Jeno, kenalkan dia Keiko, penghuni di lantai bawah." Jeno mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Keiko. Malah terkesan disambut dengan sangat bahagia oleh Keiko. "Jeno Lim." "Keiko Asami," balasnya dengan senyuman yang tak pernah berhenti mengembang. "Kalian berdua terlihat sangat akrab." Keiko bergantian menatap Ayumi dan Jeno. "Kau tahu kemarin aku melakukan syuting Music Video kan?" Keiko mengangguk. "Dia pasanganku dalam MV tersebut." Ayumi menunjuk Jeno dan membuat Keiko histeris. "Benarkah! Lantas mengapa kau tak memberitahuku, Oneesan?" Mulut manyun Keiko terlihat sangat lucu. "Karena kau tak bertanya, Keiko," ujar Ayumi enteng. "Jadi bantuan apa yang kau butuhkan?" Lanjutnya. "Aku juga harus membuat Musik Video untuk tugas akhirku dan aku ingin kau membantuku menjadi modelnya. Tapi aku juga harus mencari model pria." Keiko menatap Jeno dengan memperlihatkan puppy eyes-nya, seakan ia meminta sebuah persetujuan. Jeno mengangguk mengerti akan maksud dari Keiko. "Baiklah, aku akan membantumu." "Yes! Mempunyai tetangga model ternyata sangat bermanfaat bagiku. Terima kasih, Jeno Oniisan⁶," Keiko tersenyun sumringah memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang terlihat imut. "Terima kasih juga, Oneesan." Keiko membungkuk kemudian berlari pergi. "Jadi bagaimana rencana hari ini?" Ayumi berbalik untuk melihat jam dinding di dalam apartemennya, "Baiklah! aku akan menjadi pemandumu hari ini. Kita akan berangkat sore nanti." Jeno bersorak bahagia mendengar ucapan Ayumi. 🌸🌸🌸 ⁶ Panggilan untuk kakak laki-laki (orang lain, bukan kandung, Jepang)
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
16/09
0baguss bgt ka
14/04/2025
0azka
03/01/2025
0Lihat Semua