logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3

"Winter won't stop you from having fun right?" ~anonim.
🌸🌸🌸
Pukul tujuh malam Ayumi kembali berkumpul dengan para staff di salah satu restauran di Ikebukuro, Toshima-ku. Restoran yang berada di lantai satu Hotel Sakura memperlihatkan keramaian malam kota Tokyo. Hari ini adalah perayaan syuting yang telah berakhir dan perpisahan para staff dengan Ayumi. Mereka akan kembali ke Seoul, kecuali Jeno. Jeno akan tetap berada di sini untuk melakukan beberapa pemotretan lagi. Dan Jeno berencana menghabiskan masa liburannya di sini.
Ayumi yang tidak bisa minum minuman beralkohol merasa tak enak hati kepada para staff. Bukankah di Korea memiliki etikat cara meminum alkohol ketika bersama orang yang lebih tua?
Sutradara Kim mengangkat botolnya, "Sebagai pembuka aku akan menuangkan sake⁵ di gelas Ayumi." Sorakan staff lain terdengar sangat riuh.
Ayumi menatap seluruh staff dan tersenyum canggung. Hal yang sangat dihindarinya kini terjadi. Ia berdiri dan memegang gelas dengan kedua tangannya lalu menatap cangkirnya yang sudah terisi cairan bening. Jika tak meminumnya hal itu akan terlihat sangat tak sopan. Ayumi memaksakan diri untuk meminum sedikit cairan yang memberikan sensasi panas di tenggorokannya. Ia sengaja menyisahkan sedikit cairan agar tidak ada yang mengisinya kembali. Dari drama Korea yang pernah ia tonton, tak akan ada yang menuangkan minuman di gelasmu jika gelas itu tak kosong. Jeno yang terlalu peka dengan keadaan sekitar memastikan bahwa Ayumi sedang tak baik-baik saja.
"Ayumi, habiskan minuman di gelasmu!" Yoora mengangkat botolnya berniat menuangkan minuman ke gelas Ayumi. "Kau tidak mungkin hanya minum setengah gelas saja sampai pulang nanti bukan?" selidiknya dengan mata memicing.
Ayumi mengangkat gelasnya, menandaskan semua minumannya sampai habis, lalu menjulurkan gelasnya di depan Yoora.
"Ayumi, berikan padaku!" Jeno mengambil cangkir berisi sake dari tangan Ayumi, "biarkan aku yang meminumnya," lanjutnya, kemudian meminum dengan sekali teguk.
"Wow! Ada apa ini? kau meminum sake miliknya?" Yoora menyipitkan mata curiga.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Noona, Ayumi terlihat tak menyukai minuman alkohol." Jeno menggunakan bahasa Korea sehingga Ayumi merasa terdiskriminasi.
"Sepertinya aku harus belajar bahasa Korea," batin Ayumi.
Ayumi yang tak mengerti hanya menatap bingung keduanya.
"Ia mengatakan bahwa sepertinya kau tak bisa minum minuman beralkohol," bisik Yoora yang berada di samping Ayumi.
"Kau tak bisa minum? Aku mengira semua orang jepang menyukai sake." Kini giliran Sutradara Kim yang berkomentar.
"Aku lahir dan dibesarkan di Indonesia, di daerah yang hampir tidak ada alkohol. Dan di sana, aku tak pernah minum sake atau sejenisnya, Ibuku tak pernah mengizinkan. Sepertinya lidahku masih sulit untuk menerima rasanya," jelasnya membuat semua orang mengangguk paham.
Meski Ayumi telah menetap di Jepang selama tiga tahun, tapi lidahnya masih menolak untuk meminum minuman fermentasi tersebut.
"Kau keturunan Asia Tenggara? Pantas saja wajahmu cukup berbeda dengan wanita pada umumnya." Yoora menoleh menatap wajah Ayumi yang memang sangat berbeda dengan orang Jepang yang ia temui selama berada di sini.
"Sebenarnya ayahku orang Jepang, tapi sepertinya gen ibuku yang berdarah Indonesia lebih dominan pada diriku."
Jeno menaikkan alis, ketika mengetahui bahwa Ayumi berdarah Indonesia-Jepang. Ia sudah menduga bahwa Ayumi memang keturunan asing.
"Kau tinggal bersama keluargamu di Shibuya?"
Ayumi menggeleng pelan. "Tidak. Keluargaku menetap di Indonesia, mereka hanya sesekali mengunjungiku."
"Wah ternyata kau sudah hidup mandiri di sini." Yoora terdiam sejenak, lalu tiba-tiba membulatkan mata. "Kau juga menyewa apartemen di Shibuya, kan?" Ia beralih menatap Jeno. "Apakah apartemen kalian berada di kawasan yang sama?"
"Tidak Noona, Apartemen di Shibuya itu banyak." Jeno berdalih, ia tak ingin berkata jujur dan membuat Yoora semakin banyak bertanya.
Setelah acara minum-minum berkedok perpisahan yang berlangsung cukup lama, Ayumi segera pamit pulang. Jeno yang searah dengannya juga berniat untuk pulang dan berpamitan pada para staff. Tak lupa Jeno meminta para staff agar tidak terlalu mabuk mengingat besok mereka akan pulang ke Korea.
"Apakah karena bertubuh mungil, sehingga ia bisa berjalan dengan sangat cepat."Jeno bergumam masih memperhatikan jalan di sekitar.
Ia berusaha mencari Ayumi. Namun, karena tak menemui gadis berambut sebahu itu, Jeno memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan taksi. Salahnya tak meminta nomor yang bisa dihubungi. Apakah Ayumi mau memberinya nomor ponsel yang bersifat pribadi? Mengingat wanita bertubuh kurus itu terlihat cuek dan menutup diri dari jangkauan Jeno.
🌸🌸🌸

Ayumi yang tengah bersantai di sofa mengernyitkan alis saat mendengar suara ketukan di pintunya. "Siapa yang mengetuk pintu di tengah malam seperti ini?" Ocehnya. Ia segera membuka pintu dan melihat Jeno di depan sana.
"Ada apa? Kau memerlukan sesuatu?" tanya Ayumi ramah. Ia ingin mengubah pandangannya pada Jeno. Lelaki yang tengah berdiri di hadapannya ini bukanlah sosok yang selama ini dia benci, sehingga tak ada alasan untuk menghindarinya. Meski terlihat mirip, tapi bisa dipastikan bahwa Jeno bukanlah orang itu.
"Ah, tidak, aku hanya ingin memastikan bahwa kau sudah berada di sini." Jeno menatap arloji di pergelangan tangannya, sudah waktunya untuk kembali ke apartemen miliknya. "Kalau begitu aku akan masuk ke apartemenku." Pamitnya.
Ayumi mengangguk, cukup heran dengan tingkah Jeno yang seolah-olah terlihat peduli padanya. Padahal ia hanya rekan kerja yang sekarang merangkap menjadi tetangganya.
Ayumi yang sedang menikmati cemilan tengah malamnya dikagetkan dengan lampu yang tiba-tiba padam. Tanpa sadar ia berteriak dengan cukup lantang. Padahal ia tahu, apartemennya tak kedap suara. Sudah pasti tetangga barunya akan mendengar. Ia meraba sekelilingnya, mencari benda persegi yang selalu ada di dekatnya. Namun nahas, benda itu tak kunjung ia temukan.
Jeno yang mendengar teriakan Ayumi segera keluar apartemen sembari menyalakan senter di ponselnya. Ia merasa berhak untuk mengecek keadaan tetangganya itu.
Ketukan di pintu membuat Ayumi tersentak kaget. Namun, suara Jeno kemudian terdengar dan membuat kegugupannya sirna. Ayumi yang tak melihat apa-apa terpaksa merangkak sambil meraba-raba jalur yang akan dilaluinya.
Ayumi membuka pintu dan membuat Jeno sedikit khawatir, wajah Ayumi terlihat pucat pasi dan matanya sudah berkaca-kaca. Jeno yakin bahwa Ayumi dalam keadaan yang tidak baik.
"Kau terlihat ketakutan?" Air muka Jeno terlihat khawatir.
Suara gaduh di tangga terdengar semakin jelas. Ayumi dan Jeno sedikit menyipitkan mata saat cahaya terang yang berasal dari senter mengarah padanya.
"Ada apa?"
"Dia mengganggumu?" tanya Kakek Akira menodongkan tongkat kayu miliknya pada Jeno.
Sepasang suami istri yang tiba-tiba datang dengan napas tersengal terlihat sangat memprihatinkan. Sudah dipastikan mereka juga ikut terkejut saat Ayumi berteriak. Untung saja, Keiko menginap di rumah salah satu temannya, sehingga kejadian ini tak akan terlihat dramatis dengan segala kehebohannya.
"Maaf, Nek, Kek. Saya hanya terkejut karena lampu tiba-tiba padam," sesal Ayumi. Ia cukup kasihan melihat keduanya yang sampai sekarang masih sulit mengatur napas.
"Kau punya penerangan, lilin atau senter?"
"Saya punya, Kek."
"Baiklah, kami akan turun dan melanjutkan tidur."
Ayumi membungkuk. "Saya minta maaf, karena telah mengganggu tidur kalian."
"Ah tidak masalah."
Ayumi beralih menatap Jeno. "Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin mencari ponselku dan mengambil senter."
Jeno memberikan ponselnya dan mengikuti Ayumi. Jeno memperhatikan Ayumi yang dengan cepat mengambil senter dari dalam kamarnya. Bukan hanya satu, ia bahkan mengambil tiga senter sekaligus.
Jeno mengerutkan alis heran. Tetangganya memang berbeda dari yang lain. "Kau yakin akan memakai semua senter itu."
"Aku sudah terbiasa menggunakan tiga senter. Biasanya akan ada pemberitahuan tentang pemadaman listrik, tapi kali ini sungguh tiba-tiba, sehingga aku tidak mempersiapkan diri. Aku sangat takut akan kegelapan."
"Mengapa kau takut? padahal kau bisa melihat keindahan dalam kegelapan."
Sosok Ayumi merupakan kebalikan dari Jeno yang sangat menyukai kegelapan. Menurut Jeno, saat berada di kegelapan, ia bisa menikmati pemandangan langit bertabur bintang, yang saat ini sulit dinikmati di wilayah perkotaan karena efek dari polusi cahaya.
"Aku mempunyai alasan tersendiri," gumamnya yang masih dapat Jeno dengar.
Jeno mengangguk. "Aku paham. Apakah kau berani sendirian?"
"Aku berusaha untuk berani, cahaya dari ketiga senter ini cukup untuk menghilangkan sedikit ketakutanku."
"Kau ingin aku menemanimu," godanya pada Ayumi.
"Kau bercanda!" pekiknya tertahan sembari melotot mendengar penuturan Jeno yang menurutnya cukup berani. Padahal mereka belum lama saling mengenal.
"Baiklah, aku akan kembali."
"Jeno!" Panggil Ayumi, membuat Jeno yang telah berada di ambang pintu berbalik. "Terima kasih karena telah membantuku."
"Oh, tidak masalah, bukankah sekarang kita tetangga. Tetangga wajib saling membantu, bukan?" Ayumi tersenyum dan segera berjalan untuk menutup pintu.
"Yah. Sepertinya karena kita tetangga, sehingga kau terlihat peduli padaku." lirihnya.
🌸🌸🌸
⁵minuman beralkohol asal Jepang yang terbuat dari fermentasi beras (anggur beras).

Komentar Buku (22)

  • avatar
    Cegi

    bagus

    16/09

      0
  • avatar
    adrianaalya

    baguss bgt ka

    14/04/2025

      0
  • avatar
    Bintang Pratama

    azka

    03/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru