logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2

Don't blame the cold weather, blame yourself for not wearing the right clothes" -anonim-
🌸🌸🌸
Ayumi sedikit menyipitkan mata saat berada di depan gedung apartemennya. Terlihat temaram lampu dari lantai dua dan ia yakin bahwa cahaya itu bukan dari kamarnya. Lalu siapa? Apakah apartemen di sampingnya sudah berpenghuni. Mengetahui hal itu, ia sedikit merasa lega. Setidaknya, ia tak lagi merasa kesepian dan tak takut jika malam menjelang.
“Oneesan! Kita punya tetangga baru," pekik Keiko tertahan saat melihat Ayumi masuk ke dalam gedung.
Ayumi mengangkat alis. "Oh, ya? Lantas mengapa kau sangat bahagia? Apakah dia seorang pria?" Kamar 201 memang telah kosong dua bulan yang lalu. Sebelumnya, kamar itu dihuni oleh seorang wanita yang berprofesi sebagai penjaga perpustakaan. Namun, ia pindah karena telah menikah.
Keiko tersenyum penuh arti. "Oneesan, kau tahu saja maksudku."
"Apakah dia tampan?" ucapnya dengan nada mengejek sembari menyipitkan mata penuh selidik. Keiko tak mungkin seriang itu, jika pria yang dilihatnya tak memiliki wajah yang rupawan.
"Sangat tampan, dia tinggi seperti seorang model." Wajah berbinarnya menandakan bahwa ia bersunguh-sungguh.
Ayumi tersenyum singkat. "Aku akan naik ke kamarku."
Keiko mencegat Ayumi. "Jika kau bertemu dengannya, jangan lupa untuk mengajaknya sarapan bersama besok pagi Oneesan."
Ayumi mengangguk, "Baiklah, Keiko."
Ayumi merasa penasaran dengan penghuni baru yang menurut Keiko sangat tampan. Keiko tak pernah salah dalam menganalisis seorang pria. Jika ia mengatakan bahwa lelaki itu tampan, Ayumi akan sangat menyetujuinya. Meskipun masih kuliah, Keiko sudah sering bergonta-ganti pasangan. Menurutnya pasangan itu bagaikan skincare. Jika tak cocok harus diganti, meskipun pemakaiannya masih sehari.
Ketika melewati pintu kamar 201, Ayumi sengaja melambatkan langkahnya agar tak mengganggu si penghuni baru. Namun celaka, alam seakan tak mendukungnya. Ayumi dikagetkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.
"Astaga! Kau mengagetkanku!" teriaknya sambil memegang dada untuk menstabilkan degupan jantungnya.
Jeno yang tak mengerti ucapan yang diserukan Ayumi merasa yakin bahwa Ayumi keturunan asing. "Kau baik-baik saja?" Jeno kembali memperhatikan Ayumi, memastikan bahwa gadis cantik itu baik-baik saja.
Ayumi menatapnya kaget, kemudian menunduk "Aku baik-baik saja."
"Maaf, membuatmu terkejut." Jeno mendekati Ayumi, namun Ayumi segera melangkahkan kakinya menjauh.
"Oh, tidak apa-apa." Ayumi buru-buru masuk ke apartemennya membuat Jeno semakin heran dengan tingkahnya.
"Mengapa ia seperti ketakutan jika melihatku?"
Ayumi merutuki dirinya yang sangat terang-terangan menghindari Jeno Lim. Mengapa Jeno menyewa sebuah apartemen? Apakah Jeno ingin menetap dalam waktu yang lama? Ayumi sedikit tak tenang mengetahui bahwa Jeno-lah yang menjadi tetangga barunya.
Jeno yang turun dari tangga melihat seorang nenek yang tersenyum padanya.
"Aku mendengar suara Ayumi berteriak di atas sana." tatapan penuh selidik menghiasi wajah Nenek itu.
"Maaf. Ini salahku. Aku mengagetkannya."
"Oh tidak apa-apa, Ayumi memang seperti itu. Saya Nenek Akira, kau tadi hanya bertemu dengan Kakek, kan?" Nenek Akira sangat memaklumi Ayumi. Sebagai penghuni terlama di apartemen ini sekaligus menjadi penanggung jawab gedung, ia sudah hapal betul tentang Ayumi yang sering "kagetan".
Jeno lagi-lagi mengangguk dan meminta maaf karena telah menimbulkan keributan di malam hari.
"Mampirlah ke apartemenku untuk sarapan besok." ajak Nenek Akira yang dibalas anggukan oleh Jeno. Meski ia tak yakin akan hadir.
🌸🌸🌸
Meski hari ini hari minggu, Ayumi tetap harus bangun di pagi hari. Walau lokasi syuting cukup dekat, tapi dirinya harus menyempatkan diri untuk membantu Nenek Akira menyiapkan sarapan. Sarapan bersama merupakan sebuah tradisi yang dilakukan di hari minggu. Walau demikian, Ayumi sering melewatkan sarapannya.
"Ohayou⁴!" Ayumi menyapa Keiko yang telah berada di ruang makan apartemen milik Nenek Akira.
"Ohayou, Oneesan, apakah kau telah memanggil penghuni baru itu?" Ayumi sedikit tersentak, ia melupakan amanat Keiko.
Ayumi meringis. "Maafkan aku Keiko, aku melupakannya."
Nenek Akira menghampiri mereka, "Semalam aku telah memanggilnya Keiko."
"Apakah dia akan datang Nek?" celetuk Keiko terlalu penasaran dengan si penghuni baru.
"Aku tidak tahu, tapi kemungkinan ia tidak akan mampir. Apalagi dia penghuni baru, masih sulit untuk beradaptasi."
Terlihat wajah kecewa Keiko. "Padahal aku ingin berkenalan dengannya."
Sampai acara sarapan selesai, Jeno tak kunjung datang dan membuat Keiko semakin kecewa. Berkali-kali terdengar suara helaan napas dari bibirnya. Ayumi yang ingin bekerja, segera keluar dan berpapasan dengan Jeno yang sedang berdiri di sisi tangga. Ayumi tak menyapanya, ia bergegas pergi untuk berjalan ke stasiun kereta api.
"Ayumi, bolehkah kita berjalan bersama? Mengapa kau menghindariku?" Jeno melempar beberapa pertanyaan sekaligus.
Ayumi mengernyit. "Kau bukan anak kecil lagi, kan? Mengapa harus berjalan bersama?"
"Bukankah pemandu yang terpercaya adalah orang asli dari daerah itu sendiri?" paparnya percaya diri membuat Ayumi sedikit tak nyaman.
"Tapi sayangnya aku bukan pemandumu." Ayumi membalas perkataan Jeno dengan cuek.
Jeno sedikit memelas. "Aku belum mengenal seluk beluk tempat ini."
"Lantas mengapa kamu memilih untuk tinggal di daerah ini?" Ayumi masih bicara tanpa memandang wajah lawannya.
"Karena Yoora Noona merekomendasikan untuk tinggal di Shibuya. Dan satu-satunya apartemen yang menerima sewa bulanan hanya di apartemen itu."
"Kau bisa menggunakan maps, kan? percayakan dia untuk menjadi pemandumu."
"Hei! Kau tak suka jika aku berada di dekatmu, aku akan menjauh tapi biarkan aku mengikutimu."
"Lebih baik kau berjalan di sampingku."
"Baiklah, aku akan berjalan di sampingmu." Terlihat Jeno memberi jarak agar Ayumi bisa lebih tenang. "Mengapa ia tak suka jika aku berjalan di belakangnya?" Pertanyaan itu masih bersarang di kepalanya. Ia masih sangat penasaran dengan Ayumi. Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi membuatnya ingin lebih mengenal wanita itu.
Syuting kali ini cukup sulit menurut Ayumi, kali ini ia akan melakukan skinship bersama Jeno. Sebagai adegan akhir dalam Musik Video ini, Jeno dan Ayumi akan berpeluka. Ayumi yang biasanya profesional, kini tak bisa mengatur tingkat kecemasannya.
"Cut!"
"Cut!"
"Cut!"
Berulang kali sutradara Kim memberinya arahan, tapi Ayumi tetap terlihat kikuk. Seharusnya, ia terlihat sangat terharu dan bahagia bertemu lelaki yang selama ini telah menjaganya dan mencintainya dari kejauhan. Sutradara Kim menghentikan syuting sejenak, memberi waktu pada ke dua modelnya untuk beristirahat.
Jeno menghampiri Ayumi yang sedang duduk melamun. "Apakah kau sakit? Kau terlihat sangat pucat."
Ayumi menggeleng. "Tidak. Aku baik-baik saja," lirihnya pelan. Jeno segera berbalik dan meninggalkan Ayumu dengan langkah yang tergesa-gesa. Ayumi memandang punggung lelaki itu tanpa mengerjap. Mengapa dia sangat lincah? Apakah dia tak lelah syuting seharian?
Ayumi kembali melamun, merutuki segala kebodohannya yang tak bisa melakukan adegan terakhir dengan baik. Apa mungkin karena baru comeback setelah setahun tak pernah berhadapan dengan kamera?
"Minumlah, agar kau tidak kedinginan!" Suara Jeno menyadarkan Ayumi dari lamunannya. Jeno kembali membawa gelas kertas berisi teh hangat.
Ayumi mendongak menatap Jeno. "Terima kasih!" ucapnya lalu mengambil gelas kertas tersebut. Ayumi merasakan kehangatan saat memegang gelas kertas yang diberikan Jeno. Di cuaca dingin seperti ini, memang sangat cocok menikmati segelas teh hangat.
Jeno tersenyum ketika melihat Ayumi meminum teh pemberiannya. Ia mengira, Ayumi akan membenci segala hal yang menyangkut tentang dirinya. Meski tetap cuek, tetapi Jeno merasa bahwa Ayumi orang baik. Ia hanya memberi batasan pada orang yang baru dikenalnya.
Pukul sebelas malam syuting akhirnya selesai. Meski sulit, Ayumi tetap memaksakan diri untuk lebih profesional. Lagi-lagi Sutradara Kim memberikan perintah pada Jeno untuk menemani Ayumi.
Jeno yang sudah tahu sedikit tentang Ayumi segera mempercepat langkah untuk menyamakan posisinya dengan Ayumi, meski dengan jarak yang tak bisa dikatakan dekat. Jeno hanya ingin membuat Ayumi merasa aman dan nyaman. Saat di dalam gerbong yang cukup sepi, beberapa pria melirik ke arah Ayumi dan segera menghampirinya. Terlihat jelas bahwa Ayumi merasa risih dan kurang nyaman berada di dekat pria asing itu. Terbukti, saat dirinya merogoh totebag dan mengambil earphone dan segera memasangnya, agar pria tersebut tak mengajaknya bicara. Jeno yang memperhatikan ketidak-nyamanan Ayumi merasa harus membantunya.
Jeno mendekatkan diri dan duduk di sebelah Ayumi, membuat para pria asing tadi mendengus dan menjauhkan diri.
“Terima kasih,” cicit Ayumi sambil melepaskan earphone yang sebenarnya tak terhubung di ponselnya.
“Maafkan aku karena lancang duduk di dekatmu.”
“Ah, kau tak usah sungkan. Justru aku harus berterima kasih,” titahnya lalu menoleh pada Jeno. Memperlihatkan senyuman yang cukup membuat Jeno bergetar.
Jeno menyadari bahwa Ayumi ternyata sangat cantik. Meski tersenyum, matanya tetap bulat bak boneka, menambah kesan manis. Apakah Jeno menyukainya? Sepertinya tidak. Jeno hanya sedikit kagum padanya. Bukankah kagum dan suka adalah hal yang berbeda?
🌸🌸🌸
⁴ Selamat pagi (untuk orang yang sudah akrab, seperti keluarga, teman dan bisa juga di gunakan pada junior). Formalnya (ohayou gozaimasu).

Komentar Buku (22)

  • avatar
    Cegi

    bagus

    16/09

      0
  • avatar
    adrianaalya

    baguss bgt ka

    14/04/2025

      0
  • avatar
    Bintang Pratama

    azka

    03/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru