"Winter must be cold for those with no warm memories” — Anne Bradstreet 🌸🌸🌸 Ayumi membuka matanya yang terasa berat, lalu meraup ponsel pintarnya dan mematikan alarm yang berbunyi. Ia mengerang pelan, meregangkan lengan dan kaki. Cahaya terang yang menembus masuk melalui cela jendelanya memaksanya untuk meninggalkan kasur tercintanya. "Oh damn! Sepertinya aku akan terlambat." Ayumi tergesa-gesa, setengah berlari menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Kebiasaan di saat cuaca sangat dingin seperti ini, menenggelamkan keinginannya untuk mengguyur tubuhnya, meski menggunakan air hangat sekalipun. "Siapa yang akan mandi di cuaca seperti ini?" gumamnya sambil menatap wajah di depan cermin. Suara langkah kakinya terdengar sangat jelas, dibarengi dengan suara benda-benda yang terjatuh, kebiasaan buruk Ayumi jika sudah terburu-buru membuat semua benda akan berantakan. Ia tidak ingin datang terlambat di syuting pertamanya, setelah vakum selama setahun. Ayumi Clarisha Nakagami, seorang model yang menguasai tiga bahasa, bahasa Jepang, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, sehingga ia kerap dijadikan translater dadakan oleh manajernya. Ia lebih menyukai menjadi model musik video ketimbang model pakaian. Meski memiliki kepribadian yang tertutup dengan orang yang baru dikenalnya, tidak menghalangi profesinya yang harus lebih banyak berinteraksi kepada orang asing. "Mengapa buru-buru, Oneesan¹?" Keiko yang melihat Ayumi berlari menuruni tangga sedikit khawatir. Ayumi yang menempati apartemen di lantai dua mengharuskannya menggunakan tangga. "Aku terlambat, Keiko!" "Meski terlambat perhatikan langkahmu, kau tak ingin terjatuh di tangga, kan?" Teriakan Keiko membuat Ayumi melambatkan langkahnya. "Baiklah." Ayumi melambaikan tangan pertanda ia akan baik-baik saja. Karena waktunya sudah tak banyak, ia tak bisa lagi menggunakan kereta bawah tanah dan terpaksa menggunakan taksi, meski harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Perjalanan dari Dogenzaka menuju Disneyland yang berada di kawasan Maihama membutuhkan waktu dua puluh lima menit jika menggunakan taksi. "Kau Ayumi?" Wanita berambut pendek menyapa Ayumi, saat ia tiba di lokasi syuting. Wanita itu menggunakan bahasa Inggris dengan logat Korea Selatan. Ayumi tersenyum kepadanya. "Ya. Saya Ayumi Nakagami, senang bertemu dengan anda." Ayumi sedikit membungkuk untuk memberinya salam hormat. Yoora juga membungkuk, "Perkenalkan saya Yoora, salah satu penata rias untuk projek ini. Senang bertemu denganmu juga Ayumi-ssi." Ia menuntun Ayumi untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. "Kau telah bertemu dengan pasanganmu?" tanyanya sambil memperbaiki riasan Ayumi yang tidak sempurna, dikarekan tragedi bangun terlambat yang menimpanya. Ayumi menggeleng pelan. "Aku bahkan tak tahu siapa model prianya." Manajernya hanya memberi tahu, bahwa ia mendapat projek yang di sutradarai oleh orang Korea Selatan, ia tak tahu siapa pasangannya, dan memang tak mau tahu. "Benarkah? Dia Lim Seung Hoo. Kerap disapa Jeno Lim, model terkenal di Korea Selatan. Bahkan wajahnya sering terpampang di Elle Magazine." Yoora terlihat sangat memujanya terbukti ketika matanya berbinat saat membicarakan tentang pasangannya. Ayumi memang tidak update tentang dunia permodelan di Korea Selatan. Ia hanya mengetahui sederetan para idol yang sedang naik daun. Jika ditanya apakah ia menyukai salah satu dari mereka? Ayumi akan menjawab iya, meski tak tergolong fanatik. Yoora menepuk bahu Ayumi sehingga ia mendongak menatap Yoora, "Jeno Lim datang. Aku akan memperkenalkannya padamu," ia melambaikan tangannya. "Jeno-ssi kemarilah!" teriaknya sambil melambaikan tangan. "Oh, Noona². Ada apa?" Jeno menatap Yoora kemudian beralih pada Ayumi, ia cukup heran melihat reaksi Ayumi, wanita di hadapannya itu tiba-tiba membulatkan mata seperti orang kaget dan ketakutan. Ayumi memandang singkat Jeno lalu menunduk, degupan jantungnya tiba-tiba kencang. Bukan karena salah tingkah atau semacamnya, tetapi kecemasan Ayumi tiba-tiba menggerogotinya. Tubuhnya seketika bereaksi saat melihat wajah Jeno Lim. "Ada apa denganku?" Suaranya membatin. Jeno yang sedari tadi memperhatikan Ayumi, merasa bahwa wanita yang akan menjadi partner kerjanya tak nyaman. Ia mengerutkan dahi tatkala melihat Ayumi sedang meremas jemari dengan sangat kuat. "Mengapa wanita ini terlihat takut untuk memandangku?" Ucap Jeno dalam hati. "Dia lawan mainmu, bukankah kalian harus saling mengenal terlebih dahulu agar nantinya tak menimbulkan kecanggungan?" Suara sumringah Yoora begitu bahagia. Jeno mengulurkan tangan, "Jeno Lim. Lelaki yang akan mengagumimu di video musik ini," ucapnya ramah. Ayumi meyakini bahwa Jeno cukup pandai bersosialisasi pada orang yang baru dikenalnya. Ayumi membalas uluran tangan Jeno, "Ayumi," singkatnya. Jeno memperhatikan Ayumi dan meyakini bahwa Ayumi bukan pribumi asli Jepang. Mata besar dan bulat membuatnya tak seperti wanita Jepang pada umumnya. Musik video ini, bercerita tentang lelaki yang mengagumi seorang perempuan, tetapi tak bisa mengatakannya secara langsung. Sang pria tak memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya, sehingga ia hanya bisa mengaguminya secara diam-diam. Sang pria akan mengikuti ke mana wanita itu pergi, dan menjaganya dari kejauhan. Meski terdengar romantis tapi Ayumi menganggapnya seperti lelaki yang tak normal. Jika lelaki seperti itu ada dalam hidupnya, ia akan memberikan gelar sebagai penguntit. Untung saja, hari ini merupakan hari kerja sehingga tak banyak orang yang berkunjung ke Disneyland. Entah berapa bayaran yang sutradara Kim berikan pada pihak Disneyland agar mereka mendapat izin melakukan syuting di sini? Adegan demi adegan Ayumi lakukan sesuai arahan sutradara. Model profesional memang tak usah diragukan lagi. Syuting yang di jadwalkan selama dua hari ke depan membuat Ayumi harus bekerja ekstra. Dalam dua hari, ia harus menyelesaikan syuting di dua lokasi yang berbeda. Lokasi pertama di Disneyland dan yang kedua di Tokyo Imperial Palace yang berada di kawasan Chiyoda. Sutradara Kim terlihat memberikan arahan pada Ayumi untuk adegan terakhir hari ini. Tak mudah melakukan syuting di luar ruangan dengan cuaca dingin seperti sekarang. Meski berada di minggu terakhir musim salju, tapi tetap saja, hawa dingin masih terasa. "Cut!" Sutradara Kim berdiri. "Kerja bagus, untuk hari ini kita sudahi saja. Besok kita akan berpindah tempat ke Imperial Palace." Ia menghampiri Ayumi, "aktingmu hari ini sangat memuaskan," pujinya. "Terima kasih Sutradara Kim." Untung saja para staff sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan Ayumi. "Rumahmu cukup jauh bukan? Biarkan Jeno Lim mengantarmu pulang." Ayumi menggeleng, "Tidak perlu," ucapnya cepat, bahkan sangat cepat, sehingga Sutradara Kim terlihat heran. Ayumi melirik aplikasi pengecek jadwal keberangkatan kereta. "Saya akan menggunakan kereta saja!" lirihnya pelan. "Kalau begitu, biarkan dia mengantarmu sampai ke stasiun." Sutradara Kim menunjuk Jeno. Ayumi sebenarnya ingin berjalan sendiri malam ini. Namun ia tak enak untuk menolak permintaan sutradara Kim. Perjalanan menuju stasiun kereta Maihama membutuhkan waktu berjalan kaki selama tujuh menit. Dan Ayumi merasa sangat tak tebiasa dengan kehadiran Jeno di belakangnya. "Tolong! Berjalanlah di depanku!" Ayumi berbalik dan memberi perintah agar Jeno tak berjalan di belakangnya. Jeno melangkah lebar untuk mendahului Ayumi, ”Kau takut?" "Tidak, hanya saja kau seperti penguntit," sahutnya cepat. Jeno terkekeh. "Meskipun saat syuting aku selalu mengikutimu bagai penguntit, tapi di dunia nyata aku tidak seperti itu. Aku hanya tak ingin mendengar omelan Hyung³ jika tak mematuhi perintahnya." Jeno menatap langit malam Jepang, tak jauh berbeda dengan langit di Korea Selatan. Gelap tak berbintang. Ayumi tak memberikan respon apapun lagi, Ia ingin menikmati perjalanan tanpa gangguan orang lain. Ayumi merapatkan jaketnya dan berjalan cepat untuk mengurangi hawa dingin yang mulai merasuk sampai ke tulang-tulangnya. "Terima kasih telah mengantarku," sahutnya secepat mungkin sambil menundukkan pandangan saat sampai di stasiun kereta. "Kau tak usah sungkan, aku sudah terbiasa seperti ini." Ayumi mengerutkan alis, ia menebak bahwa Jeno Lim selalu mengantar seseorang pulang. Mungkin ia mengantar pacarnya, tebak Ayumi. Saat Ayumi berbalik, Jeno kembali memanggilnya. "Kau tak perlu takut padaku, aku bukan lelaki yang akan menerkammu, jadi hilangkan pandanganmu yang seolah-olah mengatakan bahwa aku lelaki brengsek." Setelah mengucapkannya, Jeno berbalik dan pergi meninggalkan Ayumi. Ayumi tak menampik hal itu, ia memang menghindar dan sedikit menjaga jarak dari Jeno. Ia takut kejadian nahas yang pernah menimpanya terulang lagi. Apalagi Jeno juga keturunan Negeri Ginseng. Meski ia tahu tak semua orang bermata sipit itu jahat. 🌸🌸🌸 ¹ Kakak perempuan (Jepang) ² Panggilan adik laki-laki pada perempuan yang lebih tua (Korea) ³ Panggilan adik laki-laki pada pria yang lebih tua (Korea)
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
16/09
0baguss bgt ka
14/04/2025
0azka
03/01/2025
0Lihat Semua