logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Berhadiah Nasi Kotak

“Alhamdulillah, udah sampai.” ucap Mbak Irin pada kami.
"Wah, sebenarnya ini acara apa sih, Mbak?" tanya Mas Bina pada Mbak Irin.
“Nanti kalian bakal ketemu dengan teman-teman lainnya kok." ucap mbak Irin sambil melepas helm. "Yuk masuk!" lanjutnya.
Kami berempat hanya bisa melihat kanan kiri, tolah-toleh agak bingung.
Masjid besar dengan keramaian hilir mudik kendaraan. Wushh wusshh...seperti suara angin kencang yang tiba-tiba datang kemudian menghilang.
"Kencang yah mobilnya." ucap mas Tole pada kami.
Sampai di dalam masjid, aku yang melihat banner bertuliskan “Doa Bersama Anak Yatim dan Bakti Sosial Menyambut Bulan Muharram di Masjid ..." tiba-tiba sedih, menangis, tersedak seraya izin pergi ke kamar mandi.
“Farabhy bukan anak yatim. Orang tua, bapak kandungnya pergi dengan wanita lain, bukan berarti Bhy yatim.” batinnya.
Cukup lama aku berada dalam kamar mandi, hingga Mas Tole menjemputku.
"Bhy, masih lama?" tanyanya.
“Sakit perut, Mas!" sahutnya dari dalam kamar mandi.
"Acaranya akan dimulai, Bhy! Cepatlah!" Mas Tole meminta cepat-cepat.
"Sebentar lagi, Mas. Tunggu yah."
"Aku tunggu di depan." jawab Mas Tole.
Suara teriakan dan senyum di wajah Farabhy saat bersama teman-teman sejatinya hanya untuk menutup kesedihan dalam hidupnya. Walaupun Farabhy tahu, mereka tak bisa membayangkan bagaimana beratnya menjadi dirinya, dengan permasalahan yang tak sama dengan mereka. Bagi mereka, aku bahagia dengan berpura-pura berteriak kegirangan. Padahal sejatinya seperti menangis dalam hujan, tak nampak bahwa air mata itu telah membaur dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuh.
Kesedihannya semakin menjadi. Farabhy yang telah mengalami kepedihan di usia itu, bertemu dengan seseorang, jauh lebih bahagia dari pada harus mengingat kesedihanku yang semakin melekat. Kehadiranku dalam tempat itu semakin membuatku terpuruk. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa kulakukan adalah berdoa, "Semoga cita-cita kalian tercapai saudaraku."
Mas Tole, Mas Bina, Farabhy, dan Mbak Dina, bergabung bersama teman-teman lainnya yang terbagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah sepuluh orang. Bersahut-sahutan kami berbincang tentang keseharian kami.
“Aku Totok. Ayahku meninggal dikala aku masih usia dua tahun." katanya.
Totok ini lelaki yang begitu mudah menyapa kami. Serasa teman yang benar-benar kenal dengan kami.
Di sela-sela obrolan kami dengan kelompok lain, Mbak Irin menghampiri kami sambil tersenyum.
"Adik-adik, ini dibagikan dan dimakan bareng yah..." ucapnya pada kelompokku.
"Wah, nasi kotak." pikirnya.
Memang benar kata nenek, aku belum pernah bertemu dengan makanan seperti ini. Menurutku, apa yang ada di desaku adalah hasil bumi yang tidak mungkin ada di tempat lain. Namun penilaianku salah. Ternyata masih banyak bahan-bahan makanan lain di luar sana yang masih bisa dan harus aku rasakan, sebagai pembelajaran untukku. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh bapak dan nenekku.
Dari nasi yang dibungkus dengan menarik ini, aku mendapatkan pelajaran bahwa apapun kondisinya, apapun makanan yang dimakan, apapun masalah yang menghadang, paling tidak kita bisa mempunyai manfaat dan mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain dari apa yang kita dapatkan.
Tepat pukul 12.00 siang aku tiba di rumah, disambut oleh bapak dan nenek. Buah tangan yang kubawa, kutunjukkan pada mereka berdua dengan senyuman manis. Nasi kotak, inilah oleh-oleh yang diberikan pada mereka.
"Bapak, Nenek, isi kotak ini enak lho!"
Bapak terdiam mendengar pernyataan Bhy itu, kemudian mendekati Mbak Irin sambil berkata “Terima kasih..."
"Hari ini Farabhy bisa menunjukkan suatu hidangan kepada Farabhy. Hidangan yang belum pernah ia makan. Sekali lagi terima kasih, Nak." ucap ayah lagi kepada Mbak Irin.
"Nggeh, Bapak. Terima kasih juga Irin sampaikan, telah disambut baik di keluarga ini. Semoga bisa bertemu dan mengajak dek Bhy lagi." sembari menoleh dan memberikan senyuman padanya.
Tangan Kak Irin diulurkan pada Farabhy, bapak, dan nenek. Memberikan salam untuk berpamitan.
“Irin pamit dulu, nggeh... Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumsalam, hati-hati, Nak."
Menjelang sore, bapak mengajakku ke sawah miliknya. Cangkul sudah siap di pundaknya.
“Bhy! Ikut Bapak ke sawah!"
Aku pun girang dan bergegas, karna sangat ingin pergi ke sawah bersama bapak. Sawah dengan tanaman ubi-ubian menjadi hasil panen utama dalam keluarga kami, yang nantinya akan bapak jual kepada sahabatnya di pasar.
"Bhy! Tolong bersihkan rumput yang tumbuh itu!" Bapak menunjuk ke sebelah kananku.
Tanganku pun gesit, bergerak mencabutnya. "Rumput tumbuh subur seperti ini, andai saja punya kambing, hemm... pasti ndak mubazir." batinku.
Sembari melihat kanan dan kiri, sawah milik orang lain, “Bapak!” aku menunjuk sawah di sebelahnya. Bersisik.
"Ada kacang.” wajah polos dengan senyuman kutunjukkan pada bapak.
"Ha ha ha... Bhy, Bhy! Kamu mau ya, Nak?" tanya bapak padanya.
"He he he... Itu enak Pak, buat cemilan nanti malam."
“Kamu ini ada-ada saja tingkahnya. Jangan, itu milik orang lain, lihatlah!" menunjuk ke arah pemiliknya.
Bapak pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak banyak tingkah dan tak banyak basa-basi, seketika itu juga aku mulai menghampiri pemilik kacang, sembari membawa tas kantong hitam kecil, aku pun duduk jongkok di tumpukan tanah area persawahan, menunggu sang pemilik menawarkan sisa hasil panennya kepadanya. Farabhy yang waktu itu sudah menduga kalau sang pemilik sawah akan menawarkan sisa panen kepadanya, hal ini dibuktikan dengan tas kantong hitam yang aku bawa di tangan.
"Nak, sedang apa kau disitu?" tanya pemilik sawah pada Bhy.
"Tidak ada, Pak. Hanya melihat orang." kemudian menunjuk ke arah orang yang sedang mencabut kacang. Sambil menemukan pretelan kacang yang jatuh di hadapanku. Kubuka, "Krek!" lalu ku makan sambil menunduk malu dilihat sang pemilik.
"He he he. Nak, sana!" menunjuk tengah sawah miliknya. "Cari, mungkin masih ada pretelan kacang."
Farabhy meringis. "Boleh, Pak?"
“Agee... Cari!"
Farabhy yang sudah ngiler, bergegas mencari pretelan kacang dengan sedia kantong hitam yang ku pegang.
Tiba-tiba, "Bhy! Kamu sedang apa?" bapak memanggil.
"A aakuu cari kacang, Pak!"
Bapak menghampiriku seraya berkata, "Malu nak..."
Aku yang telah mengantongi kacang separuh kantong hitam dan kuletakkan pada sela bajuku yang kebesaran ini, memberi tahu bapak.
"Sebentar, Bapak mau ke pemiliknya."
"Bapak! Bhy... Bhy tidak mencuri, sungguh! Pemiliknya membolehkanku mencari pretelam kacang di sawahnya."
Tak mau dengar, bapak tetap menghampiri sang pemilik.
"Jika cucuku meminta kepadamu, aku mohon jangan kau beri. Aku tidak mau dia menjadi orang peminta-minta." ucapnya.
Sang pemilik sawah pun mengangguk, kemudian berkata, "Bapak, cucumu itu tidak meminta, akulah yang menyuruhnya mencari. Lagi pula sangat sayang jika tidak ada yang mengambilnya. Sudahlah. Nanti ada lebihnya, akan kuberikan pada cucumu. Aku senang melihatnya." sambil tersenyum melihatnya.
Pakaian terlalu besar seperti ini masih saja suka kupakai. Entah, aku dulu tak berfikir kenapa kukenakan baju yang terlalu besar. Yang jelas, aku bangga dengan pakaian itu. Baju yang tidak memiliki kesamaan antara atasan dan bawahannya, bersalip-salipan warna yang kupakai, tapi itulah yang kupunya. Anak seusiaku saat itu masih belum mengenal trend. Yang ada di fikirannya hanya bermain saja.

Komentar Buku (123)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..

    09/06

      0
  • avatar
    Dewa hardiansya

    sangat baik

    05/02

      0
  • avatar
    Jerry Wahyudi

    bagus

    17/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru