“Bagus, Alya,” puji Ustaz Fatah padanya. Pandangan semua orang pun tertuju padanya, murid baru yang cerdas. Namun, bisa dikatakan juga Ustaz Fatah memberikan pertanyaan tersebut karena Alya sudah tidak lagi muda seperti anak lainnya yang masih berusia lima belas tahun, sedangkan Alya jika dia melanjutkan sekolah mungkin bisa dikatakan dia adalah calon MABA (Mahasiswa Baru). Namun, Alya tidak terlalu senang dengan pujian itu, justru dia merasa malu karena untuk pertama kalinya dia mengaji kitab seperti ini dan bahkan materinya pun tidak tahu. Ya, memang jika materi malam ini bisa dia jawab dengan baik karena dia menyimak, tetapi jika diberi pertanyaan sebelumnya, Alya akan diam karena tidak tahu. Akhirnya bel pergantian pengajian pun berbunyi, tetapi sebelum pengajian kedua, seluruh santri akan melakukan salat isya berjamaah. Ustaz Fatah keluar lebih dulu meninggalkan kelas dan diikuti oleh seluruh santri. ***
Bel kedua berbunyi, pengajian siap dimulai kembali. Namun, suasana kali ini berbeda. Saat tadi mengaji kitab oleh guru sebelumnya, santriah seakan tegang. Namun, ketika akan memasuki pengajian kedua, para santriah seakan bersemangat. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka seperti akan mendapat hadiah dari seseorang. Sampai tibalah guru pengajar kedua berjalan menuju ruang putra dan ... yap, mereka para santriah langsung bersorak kegirangan. Alya yang masih polos dan belum paham dengan situasi, kondisi tersebut, langsung mengernyitkan dahinya keheranan. “Lah, kenapa? Ada apa?” gumamnya sendiri bertanya-tanya karena dia belum melihat wajah dari guru kedua. “Nanti juga kamu bakalan tahu, Al,” timpal orang di sampingnya. Sontak Alya kaget mendengarnya dan malu, dia kira tidak ada yang mendengar gumamannya tadi. Gadis itu pun tersenyum malu. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapan salam dari guru kedua.
Refleks Alya mendongak dan melihat ke arah sumber suara dengan kagum. ‘Ustaznya masih muda,’ batinnya. Guru tersebut matanya terus memandangi seluruh isi ruangan dari ruang putra sampai putri, tetapi pada saat memperhatikan keadaan ruangan putri, tatapan ustaz tersebut berhenti di tatapan mata Alya. “Anti yang murid baru itu, ya?” tanya guru tersebut. “Iya,” jawabnya sambil mengangguk. Dia penasaran dan ingin tahu siapa nama pengajar yang ada di depan itu. “Kak, ustaznya masih muda, ya? Siapa dia?” tanya Alya penasaran pada teman sebelahnya. “Nah, itu dia Cep Adnan,” jawabnya. “Oh, ini tah, ustaz yang banyak disukai itu,” ujar Alya mengangguk terkesan. Perkenalkan dia adalah Cep Adnan, putra bungsu dari pasangan Ustaz Ali dengan Ustazah Ai Khadijah, yaitu sang pemilik yayasan. Nama Cep Adnan sendiri itu bukanlah nama aslinya, melainkan hanya panggilan kesayangan sedangkan nama aslinya adalah Ikram Adnan Alfarizi. Kata Cep untuk panggilannya merupakan sebuah pelesetan anak kesayangan dari kata Asep, yang dalam bahasa sunda mengarah pada makna tampan atau kasep, karena nama Asep sudah terlalu banyak maka orang tua memanggilnya dengan sebutan Cep sampai akhirnya semua orang pun mengenal dirinya sebagai Cep Adnan bukan Ikram Adnan. Tanpa berkedip yang bernama Cep Adnan itu terus dia perhatikan dengan saksama. Sebab dari nama inilah penyebab dia mau mandi malah dijutekkin sama orang lain yang belum pernah dia kenal. ‘Orangnya kalem, ganteng, putih, dan bersih. Pantesan banyak yang suka, tapi ... mukanya kusut amat, ya, kek gak pernah senyum,’ batinnya memuji dengan sedikit bumbu meledek. “Kamu, anak baru. Mana kitabnya?” tanya Cep Adnan menyadarkan lamunannya. Alya pun terkejut mendengar pertanyaannya, sontak dia pun menjawab. “Be-belum beli, Ustaz,” jawabnya sambil menunduk. Pertanyaan dari guru kedua ini membuat dirinya kesal bukan kepalang, sebab dia bertanya dengan sedikit nada yang tegas sedangkan Alya menganggap pertanyaan itu dengan nada bentakan. “Bisa-bisanya sih, dia nannya anak baru sambil membentak dengan muka dinginnya. Iih, boro-boro suka, deh, aku,” gerutunya. *** Tujuh menit berlalu setelah dia memasuki kelas, barulah dia memulai pengajiannya. Kebetulan malam Sabtu adalah waktunya belajar ilmu tajwid dan tilawah Al-Quran, sehingga tidak terlalu berat bagi Alya untuk memahami materi yang diajarkan oleh Cep Adnan. Sebenarnya, bukan hanya malam ini saja Cep Adnan mengajar kelas persiapan, tetapi di waktu lain pun ada jadwalnya. Tanpa membuang waktu pengajian pun dimulai, semuanya sudah memegang Al-Quran kecuali Alya, tetapi guru di depan tidak terlalu memperhatikan. Alya yang kebetulan tidak membawa Al-Quran karena tidak tahu jadwal, badannya sedikit-sedikit dia geserkan agar dekat dengan teman di sampingnya dan dia bisa melihat bacaannya. “Silakan buka Q.S An-Nur ayat 30!” perintah Cep Adnan. Pengajaran pertama adalah membaca Al-Quran terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pengoreksian dan berlanjut ke ilmu tajwid sambil bernadzom. Semua santri mulai bergiliran membaca satu ayat suci tersebut dan pas bagian Alya, sikap Cep Adnan pun keluar lagi. “Alya, sekarang giliran kamu. Eh, iya ‘kan nama kamu Alya?” pintanya sambil bertanya memastikan nama. “Iya,” jawab Alya. “Mana, Al-Qurannya?” tanyanya lagi. “Lupa bawa, Ustaz,” jawabnya. “Astagfirullah, kamu itu sebenarnya niat mengaji atau enggak, sih?” sindirnya. “Niat,” ketus Alya terbelalak. Dia tidak memikirkan mau dia suka atau tidak sama sikapnya yang jelas Alya dibuat kesal olehnya dan serasa dipermalukan di hadapan semua orang. “Ya, sudah. Pinjam saja pada temanmu.” Alya pun meminjam kitab suci pada teman di sampingnya. Dia menghela napas dalam-dalam dan mulai membacakan ayat sucinya secara tartil. Cep Adnan dibuat kagum olehnya, ternyata dia bisa juga membaca Al-Quran meski sebenarnya kelas persiapan ini adalah untuk orang yang mau belajar dan memahami ilmu tajwid sekaligus ketertiban dan ketartilan membacanya, tetapi ternyata gadis yang berada di sebelah samping pandangannya sudah paham betul dalam membaca Al-Quran. Tidak mau kalah dengan Alya, Cep Adnan pun menguji Alya dengan memberikan satu pertanyaan dari penggalan ayat suci tersebut untuk dihukumi tajwidnya. Dia mengira bahwa gadis tersebut mungkin belum bisa untuk menjawabnya. “Alya, sebutkan hukum tajwid dari kata pertama ayat tersebut?” Alya diam tidak menjawab. Melihatnya, Cep Adnan merasa senang karena dia masih belum bisa dan akan terus dia asah untuk belajar sampai bisa. “Gimana, Alya? Bisa?” tanyanya lagi memastikan. Alya pun mulai mengangkat kepalanya dan menjawab. “Untuk kata pertama di sini, karena yang pertama hukumnya mengikut ke kata yang kedua maka hukumnya idghom mitslain dan untuk akhir kata kedua yaitu mad tabi'i di mana di sana terdapat ya (ي) yang sebelumnya ada kasrah pada huruf nun (ن).” Mendengar jawabannya tersebut, Cep Adnan pun dibuat kagum olehnya, biasanya murid baru atau yang menduduki kelas persiapan tersebut adalah orang yang memang belum paham mengenai ilmu Al-Quran dan kitab-kitab permulaan lainnya, tetapi ternyata Alya lebih pintar dari apa yang diduga. “Mumtaz. Semuanya benar,” puji Cep Adnan. Namun, gadis itu tidak menghiraukan perkataannya dan dia langsung mengembalikan kitab suci yang dia pegang ke pemiliknya. “Menyebalkan,” gerutu Alya. Sifatnya mulai terlihat lagi saat dia merasa dipermalukan oleh orang lain meski memang bisa dimaklumi bahwa dia itu adalah murid baru.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
not bad
25/02
0bgus
23/12
0keren baru baca 3bab
10/09
0Lihat Semua