logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Tiga

Hanna mendengus perlahan, bahunya yang sejak tadi tegang kini merosot sedikit. "Akhirnya selesai juga," batinnya lirih. Ia hanya ingin segera pulang, menutup pintu kamar, dan keluar dari situasi mencekam yang membuatnya merasa seperti orang asing di pestanya sendiri. Terlebih lagi, kehadiran Tasya malam itu seperti duri yang terus menusuk setiap kali wanita itu membuka suara.
Musik lembut masih mengalun pelan, mengiringi satu per satu tamu yang mulai berpamitan. Hanna berdiri tak jauh dari meja panjang yang kini berantakan, memeluk , Sesekali ia melirik jam di ponselnya, menghitung detik demi detik yang terasa berjalan lambat.
Di sudut ruangan, ia melihat Bimo masih asyik bercengkerama dengan Tasya dan beberapa teman lama mereka. Keduanya tertawa lepas, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Hanna merasa dirinya tak lebih dari sekadar pemeran pembantu yang tak diinginkan, atau bahkan pengganggu dalam drama percintaan yang sedang diputar ulang di depannya.
“Hanna…” Tasya tiba-tiba menghampiri. Senyumnya manis, namun tatapan matanya tajam, menyimpan rencana yang tak terbaca. “Instagram kamu apa?”
“Hah? Instagram?” Hanna mengerjap, tidak siap dengan pertanyaan yang mendadak itu.
“Iya, Instagram. Punya, dong? Masa iya hari gini ada orang yang tidak main media sosial? Atau kamu masih main Facebook ya? Hahaha!” Tasya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar meremehkan di telinga Hanna.
Hanna tertegun sejenak, namun akhirnya mengangguk kecil. Ia tidak ingin terlihat kuno di depan wanita ini. “Iya, ada,” ucapnya pelan sembari membuka kunci ponsel dan menunjukkan akunnya.
“Yaudah, gue follow ya. Nanti jangan lupa  follback biar gue bisa tag foto-foto malam ini. Seru banget kan tadi?” ucap Tasya santai.
Tanpa butuh waktu lama, kedua perempuan ini resmi berteman di dunia maya, sebuah pertemanan yang Hanna tahu hanya basa- basi. 
Saat hendak keluar, Hanna berhenti sejenak di kasir. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyerahkan kartu kreditnya untuk melunasi seluruh tagihan acara malam itu. Di depan sana, beberapa meter darinya, Bimo dan Tasya berjalan beriringan menuju lobi. Mereka sepertinya tak pernah kehabisan bahan pembicaraan; hal-hal kecil yang bagi orang lain biasa saja, mampu membuat keduanya tergelak. 
“Jadi, kamu pulang sama siapa nih?” tanya Bimo saat mereka sampai di depan lobi, menunggu Hanna yang baru saja menyelesaikan urusan pembayarannya.
“Ehh… ga tahu, nih. Dari tadi aku telepon sopir tidak ada jawaban. Sejam lalu bilangnya masih kejebak macet tapi ga tahu di mana,” balas Tasya sembari menekuni layar ponselnya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat agar terlihat menggemaskan.
“Naik taksi online saja, banyak kok di jam segini,” Hanna menyahut sembari berjalan mendekat, mencoba memberikan solusi yang logis.
Tasya menoleh ke arah Hanna. Enak saja lo suruh gue naik taksi online, batinnya sinis, namun wajahnya tetap memancarkan senyuman manis nan lugu. “Aduh, gimana ya... gue ga biasa naik taksi online di sini. Gue kan baru sampai Jakarta, masih bingung, takut gue kenapa-kenapa di jalan.”
“Iya juga, sih. Jakarta sudah banyak perubahan,” Bimo menyela, seolah membenarkan ketakutan Tasya.
“Yes,” sahut Tasya singkat dengan nada manja.
“Ya sudah, aku antar saja kalau begitu.” Kalimat Bimo meluncur begitu saja, tanpa meminta pendapat Hanna terlebih dahulu.
Tasya berpura-pura menolak, aktingnya sungguh luar biasa. “Hah? Terus Hanna gimana? Tidak apa-apa, Han, kalau Bimo antar aku dulu?”
“Kamu pulang dulu ya Sayang. Apartemen Tasya kan agak jauh di Jakarta Timur, nanti kamu capek di jalan kalau ikut. " ucap Bimo sembari membelai tangan Hanna.
Hanna tercekat. “Memangnya di mana tempat tinggal Tasya?”
“Di Jaktim. Mana macet banget kan arah sana, jadi mending kamu tunggu Mas di rumah saja ya? Mas cuma sebentar kok,” Bimo melanjutkan sembari membelai pipi Hanna, gestur yang biasanya membuat Hanna luluh, namun kali ini terasa seperti sebuah sogokan agar ia mau mengalah.
“Tidak apa-apa ini? Terus Hanna naik apa?” Tasya kembali pura-pura khawatir, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Tidak apa-apa, dia sudah biasa naik taksi online kok. Iya kan, Sayang?” jawab Bimo enteng sembari menoleh pada istrinya.
Hanna tidak pernah bisa berkata tidak kepada suaminya. Lelaki yang menikahinya tiga tahun lalu ini adalah poros dunianya. Dengan hati yang berat, Hanna hanya bisa mengangguk setuju, membiarkan suaranya terkubur di kerongkongan.
Detik berikutnya, Hanna menyaksikan pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa pertahanannya. Ia melihat Bimo membukakan pintu mobil untuk Tasya dengan sangat sopan. Ia menyaksikan tangan Bimo menahan bagian atas pintu agar kepala Tasya tidak terbentur saat masuk ke mobil. 
Senyum tipis Tasya melambai dari balik kaca mobil sebelum pintu tertutup rapat. Hanna masih berdiri mematung di trotoar restoran yang mulai sepi, menatap ponsel di tangannya dengan pandangan kabur. Dengan tangan gemetar, ia memesan taksi online untuk dirinya sendiri. Hatinya terasa penuh, sesak oleh luka yang tak tahu harus ditumpahkan ke mana. Ia adalah istri sah namun justru mirip perempuan yang dibuang. 
Di dalam mobil, Tasya menolehh ke arah Bimo dengan senyum puas yang tersirat di bibirnya. “Tidak apa-apa itu kamu tinggalkan Hanna sendirian di situ, Nyet?” tanyanya, hanya ingin mengetes sejauh mana Bimo bisa mengabaikan istrinya demi dirinya.
“Aman... dia sudah biasa kok, dia mandiri,” jawab Bimo enteng sembari menginjak gas dan melambaikan tangan sekilas kepada Hanna di spion.
“Ya sudah, thanks ya, Nyet,” seru Tasya seraya mengulurkan tangan kanannya ke belakang leher Bimo, sebuah sentuhan intim yang membuat Bimo sedikit tegang namun menikmatinya. Tasya menoleh ke belakang, melihat sosok Hanna yang semakin mengecil di kejauhan, dan memberikan senyum mengejek yang tak Bimo lihat.
Mobil itu tiba di pelataran sebuah apartemen mewah. 
“Yakin ga mau mampir dulu nih, ?” tanya Tasya dengan nada menggoda saat Bimo mematikan mesin.
“Udah malam Tasya. " Jawab Bimo dengan senyum. 
“Sebentar aja. Lagian aku punya hadiah tambahan buat kamu yang tidak bisa aku kasih di depan teman-teman tadi,” rayunya sambil berkedip nakal.
Bimo tertawa, pertahanannya runtuh seketika. “Dasar kamu.” seraya menyentuh hidung mancung Tasya. 
Bimo, yang di dalam lubuk hatinya memang masih menyimpan ruang besar untuk mantan kekasihnya ini, tak kuasa menolak undangan itu. Mereka tertawa di lorong lift, saling dorong kecil seperti dua kekasih lama yang baru saja CLBK. Setibanya di unit apartemen yang harum aroma vanila itu, Tasya menyalakan lampu remang yang memberikan kesan hangat sekaligus intim.
“Duduk dulu,” ucap Tasya sembari meletakkan tasnya dan duduk mepet di sebelah Bimo di sofa panjang. Tanpa memberi celah bagi Bimo untuk berpikir, Tasya mengambil ponselnya dan mengangkat kamera depan. Ia merapat, menempelkan pipinya ke pipi Bimo, siap mengabadikan momen tersebut.
Bimo tak berkutik, ia hanya bisa mengikuti permainan Tasya, tak peduli seorang perempuan sedang menunggu nya dirumah. 

Komentar Buku (0)

    Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru