logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Dua

​“Bim… Bim, coba lihat siapa yang datang!” seru salah satu teman Bimo. Suaranya melengking penuh gairah, seolah-olah baru saja melihat pahlawan yang memenangkan peperangan muncul di ambang pintu.
​Bimo menoleh. Dalam hitungan detik, ekspresi wajah pria itu berubah total. Senyumnya merekah lebar, matanya berbinar penuh kejutan yang meluap-luap, binar yang tidak pernah ia tunjukkan pada Hanna, bahkan saat istrinya itu memberikan dukungan di masa terburuknya.
Bimo bangkit dan menyambut perempuan berbaju merah itu dengan pelukan yang Terlalu hangat untuk ukuran seorang teman. 
​“Tasya… kok kamu di sini?” ucap Bimo antusias, suaranya bergetar senang.
​“Selamat ulang tahun ya, Nyet,” balas Tasya manja.
Tanpa canggung, Tasya mencium pipi kanan dan kiri Bimo seolah bahwa kedekatan mereka tidak pernah terputus oleh waktu maupun status pernikahan Bimo.
​“Tapi kamu bilang tadi enggak bisa datang,” protes Bimo,  nada bicaranya  terdengar seperti rengekan bahagia seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
​“Namanya juga surprise nyeet. " ujar Tasya ringan, lalu bergelayut manja di lengan Bimo. Tangannya melingkar posesif, sementara tangan Bimo mendarat di pinggang wanita itu. 
​“Thanks ya, aku seneng banget kamu datang. ” ucap Bimo tulus. kemudian menuntun Tasya duduk.
Hati Hanna mencelos saat melihat Bimo menarik kursi di sampingnya yang seharusnya menjadi  tempat duduk Hanna. 
​“Mas Bimo...”
​Suara lembut Hanna nyaris tenggelam di tengah hiruk pikuk tawa mereka. Namun, begitu ia memberanikan diri melangkah maju ke area cahaya lampu, suasana seketika hening. Satu per satu mata kini tertuju pada Hanna. Wanita itu berdiri mematung dengan kotak kue yang hiasannya sudah rusak di tangan. Di ruangan ini, Hanna merasa seperti tamu asing yang tak diundang. Padahal, dialah yang memesan ruangan VIP ini. Dialah yang membayar semua hidangan mewah yang akan segera memenuhi meja panjang tersebut.​
“Eh, Sayang… baru sampai?” Bimo menghampiri Hanna, mencoba menetralkan situasi yang mendadak canggung. Ia mengecup pipi istrinya kilat, sebuah formalitas yang terasa sangat hambar dibandingkan pelukan eratnya pada Tasya tadi.
​Hanna hanya diam, matanya menyapu meja panjang di depan mereka. Seluruh kursi telah terisi penuh. Dua kursi persis di sisi kanan dan kiri Bimo kini sudah diduduki oleh Tasya dan salah satu teman akrab suaminya. Tidak ada tempat bagi sang istri sah untuk duduk di samping suaminya sendiri.
​“Ohh, jadi Mbak ini istri kamu?” sahut Tasya. Nadanya datar, matanya menilai Hanna dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa ada jejak penyesalan sedikit pun.
​“Iya, ini Hanna. Istriku. Sayang, kenalin, ini Tasya...” Bimo terdiam sejenak, tampak mencari diksi yang aman di depan teman-temannya. “Teman lama aku.”
​Hanna hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan meski dadanya terasa sesak luar biasa. “Hanna,” ucapnya singkat, mencoba menjaga martabatnya sebagai istri sah.
​“Maaf ya soal kue tadi,” ucap Tasya, seolah baru teringat insiden tabrakan di pintu masuk.
​Bimo menatap keduanya bergantian dengan bingung. “Emangnya ada apa? Kalian sudah saling kenal sebelumnya?”
​“Enggak, Nyet. Tadi aku buru-buru karena enggak sabar mau kasih surprise ke kamu, eh enggak sengaja nabrak Hanna,” kekeh Tasya dengan tawa yang dibuat-buat. “Sorry ya, Han, kuenya jadi rusak. Lagian kenapa juga sih kamu pakai acara bengong di depan pintu gitu? Enggak langsung masuk saja? Jadi aku tidak lihat kalau ada orang.”
​Kalimat itu telak menyindir Hanna. Tasya mencoba memutar balik fakta, membuat Hanna tampak seperti orang bodoh yang menghalangi jalan. Bimo hanya manggut-manggut tanpa sedikit pun niat untuk membela istrinya.
​“Ohhh... kirain kenapa. Enggak masalah kok, cuma kue saja,” sahut Bimo enteng. Kata-katanya yang menganggap "hanya kue saja" menghantam ulu hati Hanna. Bimo tidak tahu betapa besarnya harapan yang Hanna titipkan pada kue cokelat yang kini hancur itu.
​“Tapi tenang saja, aku juga bawa kue kok buat kamu, Nyet,” kata Tasya, menunjuk kotak kuenya yang masih sempurna.
​“Ya sudah, yuk duduk, Sayang.” Bimo mengajak Hanna, namun ia sendiri tampak bingung melihat tak ada kursi kosong di dekatnya.
​“Eh, mau duduk di mana istri kamu, Nyet? Apa aku pindah saja?” tanya Tasya manja, berpura-pura hendak berdiri namun tangannya tetap memegang erat lengan Bimo.
​“Enggak, enggak usah pindah. Kamu tetap di sini saja.” Bimo menahan bahu Tasya, lalu menoleh ke arah temannya yang duduk agak jauh di ujung. “Bro, lo pindah sana ya. Biar Hanna duduk sini.”
​Temannya menurut, dan Bimo menarik kursi kosong itu ke ujung meja, jauh dari jangkauan lengannya. “Duduk sini, Sayang.”
​Hanna duduk di sana, di ujung meja yang dingin. Ia merasa seperti penonton dalam sandiwara ulang tahun suaminya sendiri. Sepanjang acara, perhatian Bimo tersedot sepenuhnya pada Tasya.
​“Yuk potong kue!” seru salah satu teman, berusaha memecah kecanggungan yang mencekik udara.
​“Iya, ayo!” Tasya cepat menimpali. Ia membuka kotak kue miliknya dengan cekatan. “Pakai kue aku saja ya, Nyet. Kue yang itu kan sudah rusak.” Ia menunjuk kue Hanna tanpa sedikit pun rasa sungkan.
​“Ehh iya, enggak apa-apa,” jawab Bimo tanpa menoleh sedikit pun ke arah Hanna yang kini tertunduk.
​“Tapi kamu izin dulu dong sama Hanna. Dia juga sudah susah payah bawa kue buat kamu,” kata Tasya, nadanya terdengar seperti sindiran tajam. Dia seolah ingin menunjukkan betapa penurut dan tidak berdayanya Hanna di rumah tangga ini.
​“Enggak apa-apa, kan, Sayang?” Bimo akhirnya menoleh sekilas pada Hanna.
​“Iya... enggak apa-apa,” gumam Hanna pelan. Suaranya tertahan di tenggorokan yang terasa terbakar. Ia membiarkan Tasya memegang kendali penuh atas pesta yang seharusnya menjadi persembahan cintanya.
​“Potongan pertama buat siapa nih, Nyet?” tanya Tasya dengan nada menggoda.
​Bimo sempat ragu. Pandangannya bergantian antara Hanna yang duduk tertunduk di ujung meja dan Tasya yang menatapnya penuh harap. Namun, keraguan itu hanya berlangsung sedetik.
​“Karena ini kue dari kamu, jadi potongan pertama buat kamu deh,” ujarnya manis. Bimo menyuapkan sesendok kecil kue itu ke mulut Tasya. Sorak-sorai riuh menyambut adegan itu, seolah mereka sedang menonton pesta pertunangan, bukan ulang tahun seorang pria beristri.
​Hati Hanna mencelos. Rasanya pedih luar biasa menyaksikan suaminya menyuapi wanita lain tepat di depan matanya sendiri.
​“Sekarang giliran istrimu dong, Nyet. Masa cuma aku sih?” suara Tasya terdengar nyaring, seolah sedang mengejek kesabaran Hanna.
​“Iya, Sayang, ini buat kamu.” Bimo menyodorkan sendok yang sama—bekas mulut Tasya—ke arah Hanna.
​Tiba-tiba, rasa mual yang sejak tadi Hanna tahan melonjak hebat ke kerongkongan. Bau manis kue itu mendadak terasa menjijikkan di hidungnya. Harum cokelat yang biasanya ia sukai kini terasa amis dan menyesakkan.
​“Hueeekk…” Hanna spontan menutup mulut, perutnya bergejolak hebat.
​“Ih, kok gitu sih? Kalau enggak mau makan bekas aku, ya sudah, tapi enggak usah sampai mau muntah gitu dong. Aku tidak penyakitan, tahu!” Tasya berseru dengan nada tersinggung yang jelas dibuat-buat.
​“Iya, Sayang, kamu kok begitu sih. Enggak sopan tahu,” Bimo menimpali dengan nada tidak suka. Ia tampak malu di depan teman-temannya karena reaksi Hanna.
​“Enggak... bukan begitu, Mas. Aku memang benar-benar enggak enak badan...” Hanna mencoba menjelaskan dengan suara gemetar. Air matanya sudah menggenang di pelupuk, siap tumpah kapan saja.
​“Ah ya sudah, enggak apa-apa, Nyet. Aku mengerti kok. Mungkin Mbak Hanna memang sensitif orangnya,” potong Tasya cepat, memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling sabar dan dewasa.
​“Sorry ya, Tas,” ucap Bimo. Permintaan maaf itu ditujukan kepada Tasya, bukan kepada istrinya yang sedang berjuang menahan tangis dan rasa mual akibat kehamilan nya. 
​Sepanjang sisa acara, Hanna hanya menjadi pajangan yang tak berarti. Ia melihat Bimo memakai jam tangan pemberian Tasya, sebuah jam mewah merek Bremont yang harganya fantastis, menggantikan jam pemberian Hanna tanpa ragu. Bahkan ketika temannya memuji jam lama pemberian Hanna yang sebenarnya juga barang tak kalah mewah bahkan harganya berkali lipat dari hadiah Tasya, Namun Bimo hanya memasukkan ke saku celananya. 
​Hanna hanya bisa menarik kembali tangannya yang tadi sempat menyodorkan kado miliknya. Ia menelan kepedihan itu diam-diam, menyadari bahwa tak ada hadiah yang bisa membuat Bimo lebih bahagia daripada kehadiran Tasya.
​“Jangan yang ini.” Bimo menahan tangan Tasya yang hendak mengambil nasi goreng seafood.
​“Kenapa sih, Nyet? Aku lapar banget nih.”
​“Ini nasi goreng seafood, Tasya. Kamu lupa?”
​“Hmm... kamu masih ingat saja kalau aku alergi seafood.” Tasya menggoda manja, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Bimo.
​“Kalau aku tahu kamu bakal datang, pasti aku request semua makanan kesukaan kamu.”
​Ucapan itu menghantam Hanna tepat di dada. Bagaimana mungkin Bimo masih mengingat setiap detail kecil tentang Tasya, Sementara Hanna? Bimo bahkan mungkin tidak tahu bahwa istrinya itu sangat menyukai durian. Namun, demi suaminya yang anti terhadap baunya, Hanna rela tidak menyentuh buah itu sejak hari pertama mereka menikah. Sama seperti banyak hal lain yang diam-diam Hanna hindari, semata-mata demi menjaga perasaan lelaki yang ternyata tak pernah menjaga perasaannya sama sekali.

Komentar Buku (0)

    Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru