logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Kembalinya cinta pertama suamiku

Kembalinya cinta pertama suamiku

verayanti


Bab 1 Satu

Langkah Hanna terasa ringan, hampir seperti ada pegas yang menariknya maju menyusuri lorong restoran mewah itu. Senyumnya tidak luntur sejak ia turun dari taksi. Sesekali ia menunduk, mengagumi kotak transparan di tangannya; sebuah kue cokelat premium dengan hiasan buah beri segar yang tampak berkilau di bawah lampu kristal restoran.
​Di dalam tas selempangnya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kue mahal. Sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah yang tegas. Pipinya merona senyum mengembang kala membayangkan sebuah  skenario terindah di kepalanya: ia akan meletakkan alat itu di atas meja makan, Bimo terkejut, lalu suaminya itu akan memeluknya erat sembari membisikkan kata-kata cinta yang selama ini hampir tidak pernah didengar. Bimo sangat ingin menjadi ayah. Inilah "hadiah" untuk kesabarannya menemani Bimo dari titik nol.
​Pagi tadi, rencana kejutan ini sempat tertunda. Bimo bergegas pergi dengan setelan jas terbaiknya, katanya ada rapat sangat penting yang menyangkut masa depan perusahaan mereka yang baru saja stabil. Hanna mengalah, seperti yang selalu ia lakukan. Ia membatalkan janji kencannya dengan dokter kandungan hanya agar bisa menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan ulang tahun Bimo sekaligus kabar bahagia ini.
​Namun, langkah Hanna mendadak kaku tepat di depan pintu kayu jati ruangan VIP yang sudah ia pesan atas nama suaminya. Suara tawa Bimo dan teman-temannya terdengar riuh. 
​“Eh, gue denger Tasya balik dari Inggris ya?” Suara salah satu sahabat Bimo memecah keheningan di lorong sepi itu.
​Hanna menahan napas. Nama itu... nama yang selama tiga tahun ini menjadi hantu tak kasat mata di rumah tangga mereka. Jantung Hanna berdegup kencang secara tidak wajar, telinganya mendadak panas.
​“Yoi... gue yang jemput tadi pagi,” sahut Bimo santai. Ada nada bangga dan binar bahagia dalam suaranya yang tidak pernah Hanna dengar sebelumnya. Bahkan saat Bimo berhasil memenangkan tender besar, suaranya tidak sereyah ini.
​“Gila lo, Bim. Emang bini lo nggak masalah lo jemput mantan? Mana hari ini ulang tahun lo lagi,” tanya temannya yang lain, diiringi denting gelas yang beradu.
​Bimo terdengar menyeruput minumannya sebelum menjawab dengan nada enteng yang menyakitkan. “Ya jelas masalah lah kalau dia tahu. Tapi kan dia nggak perlu tahu. Hanna itu gampang, kasih alasan kerjaan sedikit juga dia percaya.”
​Deg.
​Dunia Hanna seolah berhenti berputar. Seolah oksigen di lorong itu mendadak habis, dadanya terasa sangat sesak. Rapat penting itu... ternyata hanyalah kebohongan untuk menjemput perempuan dari masa lalunya. Alat tes kehamilan di dalam tasnya kini terasa seperti beban yang amat berat. 
​“Gue inget banget gimana lo hancur waktu Tasya ninggalin lo ke Inggris dulu,” timpal teman Bimo yang lain, seolah sengaja menabur garam di atas luka Hanna yang baru saja terbuka. “Lo kayak orang gila, Bim. Untung aja lo buru-buru ketemu Hanna. Kalau nggak, gue nggak tahu lo bakal jadi apa sekarang.”
​“Udah jadi ODGJ lah pastinya!” celetuk yang lain, disusul tawa renyah mereka yang memekakkan telinga Hanna.
​Bimo ikut tertawa. Suara tawa yang bagi Hanna terdengar seperti sembilu yang menyayat kulitnya pelan-pelap. “Jujur aja... sampai sekarang gue belum bisa move on sepenuhnya dari Tasya. Dia itu... beda.”
​Hanna memejamkan mata erat, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang tadi ia rias dengan susah payah. Kata-kata Bimo adalah pengakuan paling jujur yang pernah ia dengar, sekaligus yang paling membunuh.
​“Jangan-jangan lo nikah sama Hanna cuma buat pelarian aja?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja, tajam dan telanjang di antara asap rokok yang mungkin sedang mengepul di dalam sana.
​Hanna menunggu. Ia meremas jemarinya sampai memutih, berharap suaminya akan membantah. Ia berharap Bimo akan berkata bahwa Hanna adalah segalanya, bahwa Hanna adalah penyelamat hidupnya. Namun, yang terdengar hanyalah helaan napas panjang yang terdengar pasrah.
​“Heh... maybe,” jawab Bimo singkat.
​Tawa kembali pecah. Tawa yang merayakan kehancuran hati seorang istri di balik pintu.
​“Gila lo, Bim. Hanna yang sesempurna itu cuma lo jadiin pelarian? Kariernya cemerlang, dia cantik, penurut. Mending buat gue aja kalau lo bosen.”
​“Iya, gila lo, Bim. Nggak inget lo, demi Hanna lo juga sampai kehilangan sahabat terbaik lo? Siapa namanya dulu? Dewa?”
​Keheningan singkat terjadi di dalam ruangan itu. Nama Dewa membuat suasana sedikit berubah, lebih berat. Bimo bergumam pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah, seperti ada rasa bersalah yang sedikit tersisa. “Iya... Dewa.”
​Hanna tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu adalah racun. Ia berbalik, hendak melarikan diri dari kenyataan pahit itu, ingin segera menjauh sejauh mungkin. Namun, tubuhnya yang gemetar justru menabrak seseorang yang baru saja muncul dari tikungan lorong.
​Brakk!
​“Aww... kueku!” pekik Hanna pelan. Kotak kue transparan itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai marmer yang dingin. Beruntung kotaknya cukup kokoh, menahan isi kue agar tetap utuh di tempatnya, meskipun hiasan cokelat dan buah beri di atasnya kini hancur berantakan, persis seperti hati pemiliknya.
​“Eh, maaf... maaf sekali, saya tidak sengaja...” Sebuah suara perempuan menyela dengan nada halus yang sangat anggun.
​Hanna segera berjongkok, mengabaikan lututnya yang lemas, hanya ingin menyelamatkan satu-satunya benda yang masih ia miliki saat ini. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kotak itu. Saat itulah, ia melihat sepasang sepatu hak tinggi bermerek mahal yang berkilau.
​Di depan Hanna berdiri seorang wanita dengan kecantikan yang mengintimidasi. Rambutnya lurus sebahu, wajahnya dipoles make-up natural yang mahal, dan ia mengenakan dress merah tanpa lengan yang sangat memukau. Di tangannya, wanita itu juga membawa kotak kue serupa—namun jauh lebih indah dan utuh.
​“Maaf sekali lagi,” ucap wanita itu sambil menunduk sekilas. Matanya menatap Hanna dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan angkuh. Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu meletakkannya di atas kotak kue Hanna yang kotor. “Biar saya ganti kuenya, ya. Saya benar-benar buru-buru.”
​“Eh, tidak usah, tidak apa-apa...” tolak Hanna parau, suaranya hampir tidak keluar.
​“Sudah, ambil saja. Anggap saja permintaan maaf saya.” Perempuan itu tersenyum singkat—senyum yang sangat cantik namun terasa seperti tamparan bagi Hanna—lalu melangkah pergi dengan langkah penuh percaya diri.
​Hanna masih terpaku di posisinya. Ia perlahan berdiri, matanya membulat saat melihat ke mana arah perempuan itu berjalan. Langkahnya menuju ruangan yang sama. Ruangan VIP tempat Bimo berada.
​Dengan cepat, Hanna memutar posisi berdirinya, sedikit mengintip melalui celah pintu yang belum tertutup rapat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Bimo berdiri dari kursinya dengan wajah yang mendadak cerah senyum paling tulus dan berbinar yang pernah Hanna lihat seumur hidupnya.
​Bimo menyambut kedatangan perempuan berbaju merah itu dengan pelukan hangat. Sangat hangat. Tangannya merangkul pinggang wanita itu dengan protektif, menuntunnya duduk persis di sampingnya, di kursi yang seharusnya menjadi milik Hanna malam ini.
​Hanna mematung di lorong yang dingin. Ia menatap uang ratusan ribu di atas kuenya, lalu menatap kuenya yang hancur. Di dalam tasnya, alat tes kehamilan itu masih tersimpan rapi, menjadi saksi bisu bahwa kabar paling bahagia dalam hidupnya baru saja menjadi duka paling dalam di hari ulang tahun suaminya sendiri.
​Kecurigaan itu kini terjawab dengan fakta yang lebih tajam dari sembilu. Perempuan itu... Tasya. Cinta pertama suaminya telah kembali, dan Hanna baru saja menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki tempat di hati Bimo.

Komentar Buku (0)

    Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru