logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 POV ibu dan lena

"Sialan itu si Dani,pake dateng kesini segala"ucap Bu Endah yang lari tergopoh-gopoh.
"Bu,tunggu dong!"teriak Lena yang kelelahan lari mengejar Ibunya.
"Buruan Lena, keburu si Dani ngejar kita"ucap Bu Endah yang lari lebih dulu.
"Nggak lah, orangnya nggak ngejar kok Bu, jangan ngebut Bu, Lena nggak kuat"ucap Lena dengan napas terengah-engah.
Kemudian mereka berdua duduk dibawah pohon pinggir jalan, menepi sebentar untuk mengusir lelah.
"Kaki Lena sakit,Ibu sih larinya buru-buru,sampe ketinggalan kan sendal Lena disana"gerutu Lena karena kakinya yang sakit karenya nyeker.
"Emang sialan tu Syafa, pasti ngadu sama Abangnya"hardik Bu Endah pada menantunya itu.
Lena nyengir sambil mengibaskan tangan kanan di depan wajah untuk mengusir gerah karena lari tunggang langgang tadi,sementara Bu Endah, nyengir kuda sambil memijit kakinya yang pegal karena terlalu jauh lari,tubuhnya yang tambun itu disandarkan dibatang pohon besar.
Tinn...tin...
Sedang berteduh dari teriknya panas, mereka malah dikejutkan dengan suara klakson mobil yang berjalan agak ngebut, bahkan mobil itu sampai melewati posisi mereka,lalu mundur lagi kebelakang.
"Bu, Lena. Sedang apa disini?"tanya pemilik mobil yang ternyata adalah Reva.
"Aduh, Mbak Reva. Kami dikejar sama Abangnya Syafa sialan itu"ujar Lena, dia berkata sambil memijit kaki yang terasa pegal.
"Iya nih, Abangnya tiba-tiba Dateng"sahut Bu Endah.
"Yaudah yuk masuk,Reva anterin pulang"ajak Reva. Dengan mata berbinar, Bu Endah dan Lena langsung masuk ke mobil Reva.
"Buk, enak ya mobilnya dingin"ucap Lena berbisik ditelinga ibunya.
"Iya,Len. Jok nya juga empuk.Pokoknya harus ini Mas mu nikah sama Reva,biar kita enak kemana-mana naik mobil"jawab Bu Endah gak kalah berbisik.
Lena mengangguk, ternyata diam-diam Reva memperhatikan obrolan mereka dari tempat duduknya di depan.
"Buk, kita mampir ke cafe dulu ya,Ibu pasti haus kan?"ajak Reva,kemudian menepikan mobilnya dan mengajak Bu Endah serta Lena untuk ke cafe.
"Ibu malu Reva, Ibu sama Lena nggak pakai sendal"ucap Bu Endah sembari menumpukan satu kaki pada kaki lainya. Reva menoleh ke belakang melihat kaki Bu Endah dan Lena.
"Oooh, gampang lah, kita beli dulu di minimarket"ucap Reva kemudian.
Setelah membeli sendal, mereka memilih tempat duduk paling pojok karena suasananya lebih sejuk ketimbang tempat duduk yang lain.
"Buk,gimana itu si Syafa sudah urus perceraianya sama Mas Damar kan?"tanya Reva tanpa rasa malu pada Bu Endah.
"Sudah, kamu tenang aja Reva, sebentar lagi Damar pasti akan cerai dari Syafa, sebentar lagi pasti Syafa akan ditendang dari rumah itu,biarin aja tu perempuan mandul jadi gembel.Biar dia tau rasa"ucap Bu Endah dengan pedenya.
"Baguslah Bu, kalau Syafa cepat-cepat cerai dari Mas Damar, kan Reva bisa cepet nikah sama Mas Damar"'ujar Reva dengan senyum sinis. 'Dan aku,akan menjadi nyonya dirumah mewah Mas Damar'ucap Reva dalam hati.
"Mbak Reva kenapa kok senyum-senyum sendiri?"tegur Lena melihat Reva yang senyum-senyum sendiri,membayangkan menjadi istri Damar dan tinggal dirumah mewahnya,padahal rumah itu adalah rumah Syafa.
"Eh,enggak...tadi Lena ngomong apa?"tanya Reva gugup.
"Pasti lagi mikirin,Mas Damar ya?"selidik Lena, wajah Reva memerah karena malu.
"Mbak, Lena minta uang dong buat bayar kuliah, ada praktikum nih lusa"ucap Lena tanpa rasa malu.
"Berapa? nanti Mbak Trasnfer ya ke rekening kamu, Mbak lagi nggak pegang uang cash"jawab Reva dengan entengnya.
Lena mengepal tanganya dan menariknya dibawah meja, dalam hatinya bilang "yes".
"Nggak banyak Mbak, sejuta setengah aja"ucap Lena lagi.
Dan Reva langsung menyanggupi. Mereka memesan minuman dan makanan kecil untuk cemilan, sembari ngobrol-ngobrol membahas rencana pernikahan Reva dengan Damar. Dan, mereka janjian kalau nanti malam akan makan malam diluar.
"Bu, Ibu pulang kerumah Reva aja,biar nanti Mas Damar dari pabrik langsung pulang kerumah Reva,kita sama-sama perginya nanti dari rumah Reva aja, dari pada nanti pulang kerumah ada Syafa, pasti Mas Damar nggak boleh keluar"ujar Reva dengan manjanya.
"Bener juga Mbak Reva Bu,Belum lagi ada kakak iparnya Mas Damar, pasti mereka nanti melarang Mas Damar keluar. Lena telepon aja deh Mas Damar sekarang"ujar Lena sembari mengangkat ponselnya hendak mengabari Damar.
"Udah,biar nanti Mbak Aja"ujar Reva,kemudian mereka pulang kerumah Reva. Kebetulan orang tua Reva sedang tidak ada dirumah, untuk beberapa hari kedepan, orang tuanya sedang keluar kota,menghadiri acara pernikahan dirumah saudara Ibunya Reva.
"Mas, nanti kamu pulang kerja langsung pulang ke rumahku aja,ya. Dirumahmu ada Kakak sama Abangnya Syafa"ucap Reva melalui telepon, dan Damar langsung menyetujui.
Setelah mematikan teleponya, Reva mengajak Lena dan Ibunya masuk untuk istirahat dirumahnya.
"Ibu sama Lena istirahat dikamar depan aja ya, Reva juga mau istirahat sebentar"ucapnya,setelah mengantar Ibu dan Lena ke kamar depan, Reva masuk ke kamarnya dan membuka dompet. Ternyata uang di dompetnya hanya tersisa satu juta, itupun akan digunakan untuk mentraktir mereka makan malam nanti.Tentu saja Reva pusing saat Lena meminta uang, tapi di depan Ibu dan Lena, Reva pura-pura menyanggupi karena gengsi, dan cara ini juga dipakai Reva untuk menarik perhatian ibunya Damar agar Bu Endah cepat-cepat merestui Reva dan Damar segera menikah.
Reva memijit kepalanya karena pusing, dia harus menyiapkan uang satusetengah juta yang Lena minta tadi, tanpa basa-basi lagi, Reva segera memencet sederet nama dilayar ponselnya dan mengirim pesan pendek dari sana. Dan seketika urusan menjadi beres. Uang Satujuta setengah sudah langsung di transfer ke rekening Lena.
Setelah Maghrib, Bu Endah dan Lena sudah siap, Mas Damar juga sudah siap. Tadi pulang kerja langsung kerumah Reva sesuai intruksi Reva tadi. Dan,mereka langsung pergi ke restoran untuk makan malam.
"Masa aku ke restoran pakai baju kerja begini sih, sayang?"ucap Damar pada Reva,dia menunjuk kemeja yang masih dipakainya.
"Nih,udah aku siapkan, Mas Mandi dulu ya. Abis tu kita langsung berangkat"ucap Reva menyodorkan satu buah kemeja yang masih terbungkus rapih dengan plastiknya. Damar langsung menyambarnya dan membawa ke kamar mandi.
Sementara,Bu Endah dipinjami bajunya Ibunya Reva, dan Lena memakai baju milik Reva karena ukuran tubuh mereka yang hampir sama.
Mereka makan malam di restoran yang berada di Mall tak jauh dari rumah Reva, hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai disana.
Pengunjung belum terlalu ramai karena memang hari masih sore, dan ini pun bukan week end, jadi tempat masih banyak yang kosong.
Mereka memilih meja yang memang untuk kuarga, lalu memesan makanan karena Damar sudah sangat lapar.
"Mbak, kita cuma makan aja nih? nggak shoping segala?"tanya Lena pada calon kakak iparnya.
"Lena, kamu apaan sih?"hardik Damar lirih, ia merasa tak enak dengan pertanyaan yang Lena lontarkan pada Reva.
"Iyanih, masa cuma makan doang. Shopping tipis-tipis dong,Va"sahut Ibu.
Reva tersenyum kecut,ia bingung harus bagaiman. Untuk membayar makan malam ini aja ia ketar ketir takut uangnya tidak cukup, ini lagi. Lena sama Bu Endah minta di belanjakan segala.
Makanan sudah datang, Baru saja menikmati beberapa suap, ada seseorang datang menghampiri meja mereka. Damar terkejut bukan main, ternyata yang datang adalah Bang Dani, Kakak ipar damar.
"Loh,itukan Dani?"ucap Bu Endah gak kalah terkejut.
"Aduh, mau apa lagi tu orang?"ucap Damar seraya memejamkan matanya.
Dani semakin mendekat ke arah Damar.
Next?
🌷🌷🌷🌷

Komentar Buku (489)

  • avatar
    UkailMirza

    sangat bagus ceritanya

    15/04

      0
  • avatar
    paseknengah

    sangat bagus

    22/02

      0
  • avatar
    JusmanSetyadi

    g ada sepikernya?

    18/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru