logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 kepergok

Aku dan Kak Sari tertawa terbahak melihat kelakuan Lena dan Ibu yang lari tunggang langgang seperti maling dikejar polisi.
"Hahahaha, ngomong aja sok berani, baru digertak dikit, lari kalian. Dasar!"rutuk Kak Sari.
"Biasalah tu kak, orang kalau banyak lagaknya memang biasanya begitu.Yaudah kakak duduk aja dulu, Sya mau bereskan rumah dulu ini,biar nggak sakit mata nengok rumah kayak kapal pecah begini"ucapku pada Kak Sari kemudian beranjak kedapur mengambil sapu dibelakang pintu.
"Biar kakak bantu ya"ucap Kak Sari.
"Jeny, nonton TV sama papa sini, biar Mama sama Tante Sya, bersih-bersih dulu"ujar Bang Dani memanggil sikecil Jeny, Jeny pun lari menghampiri Papa nya.
Aku mulai menyapu lantai yang penuh dengan remahan makanan dan kulit kacang. Kak Sari memunguti pakaian kotor yang terserak di sudut lantai.
"Hiiih jorok banget"gumam Kak Sari pelan, tapi masih bisa kudengar karena posisi kami tak berjauhan.
"Kak, itu pakaian Mas Damar, Ibu dan Lena, nggak usah Kakak cuci, kalau perlu masukan karung aja,buang atau bakar sekalian"ucapku dengan kesal.
"Ohh, bajunya Mak lampir itu ini rupanya, hiiiih nggak Sudi Kakak nyucinya,kakak buang kebelakang ajalah ya"ucap Kak Sari sembari mencomot baju dengan ibu jari dan telunjuknya, terlihat jijik dan berjalan berjingkat kebelakang.
Aku cukup kuwalahan mengepel lantai bekas saos dan kecap yang telah mengering,tenagaku sungguh terkuras habis karena harus sedikit keras aku menggosok-gosok lantai.
Tapi, lama-lama selesai juga pekerjaanku dibantu Kak Sari.
"Kak, kita makan siang beli aja ya, Sya nggak ada persediaan apa-apa dikulkas, sengaja nggak belanja kemarin"ucapku pada Kak Sari.
"Biar Abang aja yang pesan go food,Sya, kamu mau makan apa?"ucap Bang Dani menawari,sembari menggeser-geser layar handphone nya.
"Nasi bebek enak nih kayaknya, Kakak mau apa?"
"Sama deh,Pa kayak Syafa"ucap Kak Sari yang sedang rebahan di kasur lantai memeluk Jeny.
Makanan sudah dipesan, tinggal menunggu beberapa saat, ah enak ya hidup zaman sekarang mau makan tinggal goyangkan jempol saja,makanan ada yang ngantar sendiri.
"Jam berapa biasa Damar pulang ,Sya?"tanya Bang Dani.
"Kalau nggak ada lembur,biasanya jam 5 sudah dirumah,Bang. Kalau ada lembur biasanya sampai malam"jawabku.
"Oke,kita tunggu aja. Mau ngomong apa dia sama Abang nanti kalau ketemu"ucap Bang Dani lagi.
"Entah lah Bang, paling juga bersilat lidah dia di depan Abang"jawabku lagi. Kak Sari masih rebahan sembari ngeloni Jeny di depan TV. Makanan yang kami pesan datang, diantar kurir gojek, setelah membayar, aku kembali masuk untuk menikmati makan siang bersama Kakak, Abang dan juga keponakanku.
Sepertinya Kakak dan Bang Dani akan menginap di rumahku, kalau benar aku pasti akan merasa sangat senang karena tak kesepian dirumah, Mas Damar? entahlah aku tak memikirkan lagi. Toh sebentar lagi dia mau tak mau akan pergi dari rumah ini, aku tak mau capek-capek bolak balik ke pengadilan, semua sudah aku serahkan pada Bu Dara,aku tinggal terima saja hasilnya nanti.
"Kok lama banget ini si Damar nggak pulang-pulang, kata mu dia pulang jam 5, Sya? ini udah setengah enam lewat?"ujar Kak Sari sembari menengok jam dilengan kirinya.
Hari memang sudah mulai gelap, Mas Damar belum juga pulang, aku sebenarnya tak peduli. Tapi kakak dan Abangku sangat ingin bertemu dengannya, terutama Abang, entah mau dihajar atau di apakan.
"Lembur kah dia?"tanya Kak Sari lagi.
"Enggak deh kayaknya,Kak.Ini bukan akhir pekan.Mas Damar biasanya cuma lembur kalau Jumat atau Sabtu aja"jawabku.
"Yaudah tunggu aja,Ma. Kalau nggak pulang, berarti dia emang udah nggak berani pulang kerumah ini lagi"ujar Bang Dani.
Kami melanjutkan ngobrol-ngobrol di teras depan,sembari melihat anak-anak bermain dihalaman. Jeny punya teman baru, karena tetanggaku disini rata-rata punya anak kecil seumuran Jeny, itulah yang membuat ibu mertua selalu merongrong aku untuk cepat punya anak, karena penghuni komplek ini memang rata-rata punya anak semua.
"Papa, nanti malam Jeny mau main kuda-kudaan di Mall,boleh nggak?"tiba-tiba Jeny berlari menuju Bang Dani dan merengek minta main kuda-kudaan.
"Kuda-kudaan apa sayang?"tanya Bang Dani.
"Kata intan, di Mall ada kuda-kudaan, Jeny mau naik"rengeknya lagi.
"Oooh,odong-odong kali Bang yang dimaksud intan, iyatuh di Mall yang depan simpang sana memang ada odong-odong bentuk kuda,memang ramai anak-anak suka naik. Yaudah nanti malam kita naik ya"bujuku pada Jeny, dan anak itu mengangguk kegirangan, lalu kembali berlari menuju teman-temanya.
"Jeny, udah dulu mainya ya, udah Maghrib sini masuk,temen-temenya juga pada mau pulang tuh!''teriak Kak Sari memanggil Jeny. Anak manis itu kembali kerumah karena panggilan dari Kak Sari, anak-anak yang lain pun berhambur pulang karena hari mulai gelap.
Sedari tadi,ponselku berdering tapi kubiarkan saja karena aku sedang menunaikan sholat Maghrib. Setelah selesai,segera aku lihat siapa yang menelpon,takutnya penting. Ternyata Sarah, ada lima panggilan tak terjawab darinya. Baru saja mau aku telpon balik, ada pesan masuk dari Sarah.
Sarah mengirim gambar, dan segera aku download, betapa terkejutnya aku. Ternyata Mas Damar, Lena,Ibu dan juga Reva, sedang makan malam di restoran,pantas saja Mas Damar nggak berani pulang. Rupanya dia....
"Halo Sar, itu kamu nggak salah liat kan?"tanyaku pada Sarah untuk memastikan bahwa yang dilihat itu benar Mas Damar.
"Eh, masa iya aku nggak kenal sama tu manusia sebegini deketnya,beneran deh. Nih orangnya ada di depan aku,cuma kehalang satu meja"jawab Sarah.
"Kamu sama siapa disana?"tanyaku
"Aku sama Wati ini, Wati aku suruh jaga Alena"
"Yaudah makasih infonya ya"
Emang bener-bener ya Mas Damar, udah ketangkep basah, masih aja bikin ulah. Eh tapi sebentar, aku melihat kembali foto yang Sarah kirim barusan, disana Mas Damar sudah nggak pakai seragam kerja lagi. Berarti,Mas Damar sempet pulang, mungkin langsung pulang ke kontrakan ibu,atau ah entahlah.
"Sya, masih lama nggak? Jeny udah nggak sabar ini mau naik odong-odong"panggil Kak Sari dari luar kamar sedikit berteriak
"Sebentar,Kak. Syafa beresin mukena dulu"jawabku,aku segera melepas mukena dan menggantung dibelakang pintu,mengambil jilbab pashmina dan tas kecil,kemudian segera keluar menemui Kak Sari dan Jeny.
"Kita sekalian makan malam diluar, sekalian belanja juga deh ya"ujar Kak Sari.
"Iya kak, yuk jalan sekarang aja. Mana Jeny nya?"tanyaku pada Kak Sari.
"Udah dimobil sama Abang, nggak sabar banget dia"jawab Kakak, kemudian aku mengunci pintu dan segera menuju Mall dekat rumah. Aku tak menceritakan perihal foto yang Sarah kirim barusan,biarlah aku gak mau merusak suasana malam ini,takut kalau Abang marah nanti malah kacau.
"Yeee Jeny naik kuda-kudaan"teriak sikecil girang saat aku dan Kak Sari masuk ke mobil.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di Mall, karena memang jaraknya sangat dekat dengan rumah, andai jalan kakipun,paling hanya sepuluh menit, tetapi karena kami mau sekalian belanja untuk kebutuhan rumah, jadi terpaksa bawa roda empat.
Setelah memarkir mobil,Bang Dani langsung mengantar Jeny naik odong-odong, sementara aku dan kak Sari masuk ke dalam untuk mengambil barang belanjaan.
"Jeny sama Papa dulu,ya. Mama sama Tante Sya mau belanja dulu,nanti kalau sudah selesai, telpon aja ya Pa,kita makan malam disini aja"ucap Kak Sari pada Bang Dani setelah berbicara pada Jeny.
"Beras masih nggak,Sya?"tanya Kak Sari saat melewati deretan karung beras.
"Masih,Kak, cuma bahan masakan aja yang abis"ucapku. Aku terus berjalan mengiring Kak Sari yang mendorong troli. Mengambil bahan-bahan makanan yang kami perlukan.
"Apalagi,Sya?"tanya Kak Sari.
Aku mengingat-ingat apa yang kurang, tapi kurasa sudah cukup.
"Sudah kayanya kak,ini aja"
"Yaudah Kakak bayar dulu ke kasir ya, kamu telpon Abang aja, kita makan sekarang. Jeny pasti juga udah selesai naik odong-odongnya"ujar Kak Sari.
"Eh, biar Sya aja yang bayar Kak, kok jadi ngerepotin Kakak"cegahku pada Kak Sari.
"Kamu apaan sih,Sya. Udah kaya sama siapa aja"
"Eh beneran,Kak"
"Ya beneran, kakak juga nggak becanda, udah kamu telepon Abang aja Say"paksa Kak Sari lagi,dan kali ini aku tak bisa menolak.
Aku segera menelpon Bang Dani untuk masuk, karena kami akan makan malam disini.
Bang Dani datang menggendong Jeny yang tampak murung, karena tak mau turun dari odong-odong tapi Bang Dani merayunya untuk turun.
Kami semua beriringan menuju restoran di dalam Mall ini. Disinilah, aku dan Sarah bertemu, tentu saja bertemu Mas Damar dan rombongan. Aku kira mereka bukan makan disini, tapi inilah saatnya dia kepergok sedang jalan berempat dengan ibu dan selingkuhanya.
"Malam Kak, Bang. Kesini juga rupanya ya"sapa Sarah ramah pada Abang dan Kakak ku.
"Iya, eh ini kawan Syafa yang tadi siang nganter ke pengadilan ya? makasih banyak ya udah bantu Syafa"tanya Kak Sari sembari menjabat tangan Sarah.
"Iya, sama-sama Kak, kita kan sahabatan lama, jadi wajar lah kalau saling tolong. Kita juga senasib, jadi Sarah tau apa yang Syafa rasakan, Sarah udah ngalamin duluan Kak, Bang"ucap Sarah lagi.
"Iyalah, makasih kalau gitu ya Sar"ucap Bang Dani.
"Ini anak Sarah? wah cantiknya"goda Kak Sari pada Alena yang sedang duduk tenang di stroller.
"Makan sini juga, Kak?"tanya Sarah.
"Iya nih"
"Yaudah,gabung sini aja, Kak kita juga masih mau duduk-duduk disini kok"ucap Sarah menawari. Aku masih melirik ke arah Mas Damar dan Reva, mereka belum ada yang menyadari kehadiran kami disini rupanya.
"Loh, Pa. Itu bukanya Damar ya"aku sedikit terkejut,rupanya Kak Sari juga melihat ke arah mereka,aku agak takut kalau Bang Dani menghajar Mas Damar ditempat umum, aku tau betul bagaimana Abangku, kalau sudah marah nggak akan pandang tempat lagi.
"Mana Damar?"tanya Bang Dani,matanya berkeliling mencari sosok yang sedang ditunggu sejak tadi.
"Waduh, gawat Sar?"ucapku pada Sarah, aku sedikit khawatir
"Alah biarin aja, dihajar juga biar mampus sekalian"ucap Sarah dengan emosi.
Bang Dani memghampiri meja tempat Mas Damar, Lena, Ibu dan juga Reva sedang makan. Bisa kulihat dari sini, Mas Damar sedikit terkejut melihat kehadiran Bang Dani yang dia lihat tiba-tiba sudah ada di dekatnya.
Next?
🌷🌷

Komentar Buku (489)

  • avatar
    UkailMirza

    sangat bagus ceritanya

    15/04

      0
  • avatar
    paseknengah

    sangat bagus

    22/02

      0
  • avatar
    JusmanSetyadi

    g ada sepikernya?

    18/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru