Malam ini, Mas Damar mengajakku kerumah orang tuanya,atau ibu mertuaku yang rumahnya tak jauh dari rumahku. Hanya beda RT. Mertuaku seorang janda, tinggal dengan adik ipar, Lena adik Mas Damar. "Ada apa Mas,kok tumben ibu nyuruh kesana,ada yang penting kah?"tanyaku pada Mas Damar sembari membereskan bekas makan malam. "Iya Sya,Ibu bilang,ada hal penting yang mau dibahas.Sudah kita ke sana saja,Sya"jawab Mas Rudi sembari membantuku membereskan bekas makan. Aku bersyukur,punya suami yang baik dan tak segan membantu pekerjaan istri dirumah. Aku dan Mas Damar sudah enam tahun menikah, pernikahan kami baik-baik saja, rumah tangga kami juga adem ayem, walaupun belum hadirnya buah hati yang menambah kehangatan ditengah keluarga. Tapi, kami saling mendukung satu sama lain dan saling menguatkan. Setelah membereskan bekas makan, aku menumpuk piring kotor diatas wastafel, mau sekalian aku cuci, keburu malam.Kulirik jam dinding sudah pukul delapan malam,musim hujan telah tiba. Aku dan Mas Damar harus segera kerumah Ibu, jadi kutunda dulu untuk mencuci piring mumpung malam ini hujan belum turun. Setelah mencuci tangan, aku mengambil jilbab instan dan dompet,kemudian menghampiri Mas Damar yang sudah siap dengan motornya. "Bentar, Syafa kunci pintu dulu,Mas"ucapku pada Mas Damar. Kupastikan semua pintu sudah dikunci,jaga-jaga kalau nanti hujan deras dan terpaksa harus menginap dirumah Ibu, aku sudah tenang karena rumah sudah dalam keadaan terkunci. Aku duduk dibelakang boncengan, kemudian motor meluncur kerumah Ibu. Tak butuh waktu lama,motor Mas Damar sudah sampai di depan deretan kontrakan yang Ibu tinggali bersama Lena. Ya,mertuaku ini memang tinggal dirumah kontrakan,karena rumah miliknya dulu dijual untuk menutupi hutang pada rentenir. "Assalamualaikum"ucapku dan Mas Damar bergantian. "Waalaikumussalam"jawab Lena dari dalam kemudian pintu dibuka, dan kami berdua di silakan masuk. "Ibu,Mana,Len?"tanyaku pada adik ipar. "Ibu, ada udah nunggu Mbak dan Mas dari tadi"jawab Lena sembari menutup pintu kembali. Tak lama Ibu muncul dari kamarnya,kusalami punggung tangan Ibu,tapi Ibu segera menariknya. Sedari awal menikah dulu, Ibu memang kurang suka denganku,entah apa alasannya aku tak mengerti. Tapi, aku selalu menghormati Ibu, karena sudah melahirkan suamiku. "Gimana,Mar?"tanya Ibu pada Mas Damar. Mas Damar menatapku, sementara aku sendiri bingung. Gimana apa nya ini? kenapa Mas Damar terlihat bingung dan gugup,sementara Ibu seperti sudah tak sabar menunggu sesuatu meluncur dari mulut Mas Damar. "Mas, ada apa ini?apanya yang gimana?"tanyaku pada Mas Damar.Bukanya menjawab,Mas Damar malah mengusap wajahnya dengan kasar. "Kok apanya?memang nya kamu belum ngomong sama Syafa? soal rencana yang Ibu bicarakan sama kamu tadi siang?"ucap Ibu setengah membentak pada Mas Damar. "Rencana apa,Bu? Mas rencana apa"tanyaku pada Ibu dan Mas Damar bergantian. "Yasudah, kalau Damar belum ngomong sama kamu,biar Ibu yang ngomong. Kamu tau kan Sya?Damar ini anak laki-laki Ibu satu-satunya, Ibu ini sudah tua.Teman-teman Ibu semuanya sudah nimang cucu,sementara Ibu?kapan Ibu nimang cucu.Keburu Ibu mati?"ucap Ibu panjang lebar,dan aku masih tak mengerti dengan ucapan Ibu dan soal rencananya. Ibu memang kerap mengeluhkan keadaanku yang belum punya anak,tapi aku selalu memberi Ibu pengertian kalau anak itu hak Allaah.Lagipula, Ibu tau, kalau hasil periksaku ke dokter selama ini, aku baik-baik saja. Hampir dua bulan sekali aku kedokter, dan hasilnya sama. Semua baik,kami hanya butuh sabar saja. "Iya Bu, Syafa ngerti. Syafa sama Mas Damar memang belum bisa kasih Ibu cucu, tapi apa rencana yang Ibu bilang tadi?"tanyaku. "Ibu berencana,menjodohkan Damar dengan Reva, Ibu sudah nggak sabar pengen punya cucu. Terserah kamu setuju atau enggak. Kalau setuju ya syukur, kalau nggak setuju ya mundur sana, Ibu udah nggak butuh menantu kaya kamu"ucap Ibu begitu enteng. Dan aku, mendengarnya bagai ada palu gada yang menghantam tubuh begitu kuat. Aku tau siapa Reva, Mas Damar pernah cerita. Reva adalah mantan pacarnya saat SMA. Dulu hubungan mereka hampir serius, Mas Damar hendak melamar nya, tapi Reva ketahuan selingkuh dan akhirnya merek putus. Sampai sekarang Reva ternyata belum menikah, entah dimana ibu bertemu dengan Reva, karena Mas Dmaar bilang perempuan itu merantau dipulau Jawa. "Mas?!"bentakku pada Mas Damar yang sejak tadi hanya diam membisu. "Apa-apaan ini,Mas? kamu nggak setuju kan sama rencana Ibu ini?"tanyaku pada Mas Damar. "Eh, siapa bilang Damar nggak setuju, bahkan tadi siang Ibu sama Damar sudah pergi ke toko perhiasan,beli ini untuk melamar Reva Minggu depan"sahut Ibu sembari mengangkat sebuah benda berbentuk love,berbalut kain beludru merah. Ya, kotak cincin.Keget bukan main aku dibuatnya, seumur pernikahan, hanya emas kawin seberat lima gram sajalah perhiasan yang Mas Damar berikan padaku, selebihnya aku belum pernah dibelikan perhiasan olehnya. "Dari mana Mas dapat uang untuk beli ini?hah?"tanyaku pada Mas Damar dengan dada yang bergemuruh, ubun-ubunku serasa mendidih, air mata sudah tak dapat kubendung lagi. Aku tau, sebagai karyawan pabrik sawit,gaji Mas Damar hanya 2,5 juta. Sebagian diberikan untuk ibunya dan Lena, dan aku cuma dapat jatah 1juta, tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu. Selama badanku sehat, aku masih bisa kerja dan ada sedikit bisnis,aku mampu menutupi kekurangan kebutuhan rumah tanggaku. Tapi hari ini?kenyataan yang aku lihat, mebuat aku seperti perempuan paling bodoh. Dan cincin ini, mereka sudah membelinya. Artinya?Mas Damar sudah tau rencana ini jauh-jauh hari, atau jangan-jangan Mas Damar berselingkuh di belakangku. Andaikan iya? kemana saja aku selama ini? sampai gak tau suamiku punya wanita lain, tapi selama ini tak pernah ada tanda-tanda sedikitpun Mas Damar berbohong soal apapun.Suamiku begitu jujur dan terbuka, itu yang membuat aku mempercayainya. "Mas jawab!!!!"ucapku denga memukul lengan Mas Damar bertubi-tubi. Lelaki yang sudah enam tahun membersamaiku ini, hanya bisa diam.Seperti kerbau dicocok hidungnya. "Heh,Syafa,jangan pukul anak saya"ucap Ibu melerai sembari menarik tubuhku. "Syafa,maafkan Mas, Mas tau ini menyakitkan untuk kamu. Tapi, kamu juga harus paham, Mas sudah lama ingin punya anak"jawab Mas Damar menunduk. "Iya aku ngerti Mas, aku juga ingin punya anak? tapi bukankah kita sudah sering membahasnya? Mas Juga kan tau, kondisiku baik-baik saja,rahimku subur"ucapku dengan derai air mata. Aku sudah berkali-kali periksa ke dokter, dan memang kondisiku baik, rahimku juga subur. Selama ini, Mas Damar tak pernah mau di periksa, alasanya malu sama dokter. Padahal aku juga ingin tau kondisinya seperti apa,dan kalaupun ada apa-apa, harus segera ditindak lanjuti. Tapi selama ini,Mas Damar nggak mau.Dan, aku tak pernah menceritakan ini pada mertuaku atau pada siapapun, aku selalu menjaga nama baik suamiku di depan orang. "Kalau memang Mas ingin punya anak, harusnya Mas juga mau di periksa sama dokter,nggak cuma Syafa aja."ucapku setengah berteriak. Ibu gak terima mendengar ucapanku barusan, Ibu menampar aku. "Kurang ajar kamu ya Sya, maksud kamu apa ngomong begitu sama Damar? kamu nuduh anak saya mandul?"bentak Ibu. "Syafa nggak bilang Mas Damar mandul, tapi memang kenyataanya Syafa sehat, dan Mas Damar?entah seperti apa"ucapku sarkas. "Sya, yang sopan ya kalau ngomong!"Mas Damar berkata sembari menuding wajahku. Selama enam tahun menikah, baru kali ini suamiku berkata kasar. "Aduh,ini kenapa jadi ribut sih. Mbak Syafa,udahlah turutin aja rencana Ibu,nanti kalau nggak diturutin, Mbak mau Ibu jantungnya kambuh?kalau sampe Ibu kenapa-kenapa, Mbak Syafa, Lena laporin ke polisi"ucap adik iparku santay keluar dari kamarnya. Ibu dan anak sama saja,nggak ada yang bener, rasanya panas sekali dadaku, aku gak tahan berada disini lama-lama. Aku keluar dari rumah ibu dan berlari pulang. Tak peduli lagi hujan deras yang mengguyur bumi malam ini, aku berlari menyusuri jalanan yang mulai sepi dibawah deraian air hujan,biarlah. Air mataku hilang bersama turunya hujan. Kudengar Mas Damar berteriak memanggilku dari depan rumah Ibu,tapi tak kuhiraukan. Bajuku basah kuyup,tubuhku menggigil kedinginan.Aku segera mengganti baju,aku tak mau badanku sakit, sudah cukup hatiku saja yang sakit malam ini. Aku terduduk bersandar pada sandaran dipan,memeluk guling. Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba aku mendapat takdir seperti ini. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini, aku masih berharap ini tak serius. Sampai jam sebelas,Mas Damar belum juga pulang. Dan hujan masih turun dengan derasnya. Mungkin ia menginap dirumah Ibu,biarlah malam ini aku tidur sendiri. Akankah hanya malam ini? Bagaimana dengan malam selanjutnya? 🌷🌷🌷 Entah jam berapa semalam aku tidur, aku baru terjaga saat mendengar azan subuh berkumandang. Aku segera bangkit, rasa dingin masih menyusup ditubuh, kubuka jendela kamar. Daun-daun pada pepohonan tampak tertunduk karena derasnya hujan semalam, kuhirup udara segar untuk mengisi rongga dadaku yang sesak. Hari ini, ada banyak pesanan di toko roti tempatku bekerja.Aku akan datang lebih pagi, agar bisa melupakan masalah yang semalam. Mesti toko roti ini milik sahabatku sendiri, dan aku juga sedikit menanam modal disana, tapi aku harus profesional dalam bekerja. Terserah, entah dimakan atau tidak, aku siapkan saja sarapan pagi ini untuk Mas Damar, aku masih istrinya. Berarti tanggung jawabku masih sama seperti dulu, melayaninya. Pakaian kerja juga sudah aku siapkan, aku yakin Mas Damar akan pulang pagi ini,karena harus bekerja dan pakaian Mas Damar ada dirumah. Kukeluarkan matic kesayanganku, dan segera aku menuju toko roti Sarah,sahabatku sekaligus bos ku. "Sarapan sudah Syafa siapkan diatas meja,bekal Mas juga sudah Syafa siapkan,baju kerja juga. Syafa berangkat pagi, ada banyak pesanan di toko.Kunci pintu di tempat biasa'' Send... Aku mengirim pesan pada Mas Damar sebelum menarik gas pada motor matic ku. Next?
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
sangat bagus ceritanya
15/04
0sangat bagus
22/02
0g ada sepikernya?
18/02
0Lihat Semua