Sang bunda menatap Alisya dengan tajam. Kedua tangannya menancap pasti di samping tubuh, bertolak pinggang. Napasnya menderu, terlihat dari bahunya yang naik turun secara cepat seiring ia menghela dan mengembuskan napas. "Alisya, kamu mau menyembunyikannya dari bunda?" Menggeleng dengan cepat. Alisya tak mau disalahkan. Bundanya bergerak, melangkahkan kaki untuk mengelilingi tubuh putrinya. Tangan Alisya bergetar, semakin mengeratkan pegangan pada kertas yang disembunyikannya di belakang tubuh. Bersiap, apabila ada kemungkinan kertas itu direbut oleh bundanya. "Berikan kertas itu pada bunda!" titah sang bunda penuh penekanan. Ia kembali berdiri tegap di hadapan Alisya, menunggu inisiatif dari putrinya sendiri untuk berlaku jujur dan menyerahkan kertas yang terus disembunyikan. Kejujuran harus tumbuh dari setiap pribadi itu sendiri, bukan tumbuh karena paksaan orang lain. Begitulah perspektif yang diemban sang bunda. Maka, ia tak pernah sekalipun memaksa Alisya dengan berbagai bentuk fisik maupun perkataan kasar yang seakan memprovokasi anaknya. Cukup berlaku tegas, yang artinya menuntun sang anak itu sendiri untuk berlaku semestinya. "Katanya gak mau menyembunyikannya dari bunda? Terus ini apa, Alisya? Kamu mencoba menyembunyikannya, loh!" Ia tampak kecewa. Menghela napas berat, sebelum pada akhirnya mendaratkan bokong di atas dipan dengan kasar. Sebelah tangannya memijat pangkal hidung, mencoba menghilangkan sedikit rasa pening. Sedangkan, sebelah tangannya lagi digunakan untuk menumpu tubuh ke belakang. "Bunda rasanya kecewa, Alisya. Selama ini, apa yang bunda ajarkan kepada kamu ternyata tidak ada yang benar-benar kamu serap dan amalkan di kehidupan ini. Bunda merasa berdosa, Alisya. Bunda sudah gagal dalam mendidik kamu," ucapnya mendramatis. Alisya menegakkan kepala yang tadinya tertunduk, ia menatap sendu ke arah bundanya, merasa bersalah. Sedangkan, sang bunda diam-diam tersenyum sinis karena melihat sedikit pergerakan putrinya yang tampak gelisah di sana. "Hahaha. Mau apa kau, Alisya? Mencoba menyembunyikan sesuatu dari bunda? Oh, jangan harap!" batinnya, begitu puas. Masih bergeming. Nyatanya, Alisya tetap kukuh untuk tidak memberitahu sang bunda terkait surat undangan beasiswa yang kini berusaha disembunyikannya. Ia tahu jelas, jika sang bunda tengah memainkan drama untuk membujuknya menyerahkan selembar kertas yang berada di balik punggungnya. Meski begitu, Alisya tidak akan dengan mudah ikut larut dalam drama yang dimainkan bundanya. Biarkan saja ia bermain sendirian. "Bunda gak habis pikir sama kamu, Alisya. Apa yang sebenarnya kamu coba sembunyiin dari bunda sampai bisa setakut ini?" Suara bunda Alisya terdengar lebih keras dari sebelumnya. Duduknya pun ikut berubah menjadi tegap. Pandangan matanya semakin menukik lebih tajam seperti tengah menelanjangi putrinya. Kesabaran sudah di ambang batas. Putrinya itu tak kunjung menyuarakan kejujuran, padahal sudah beberapa kali diberikan kesempatan. "Berikan kertas itu pada bunda, Alisya!" Alisya menggeleng. "Ini bukan apa-apa, Bun. Alisya gak ada niatan buat sembunyi-" "Apa, Alisya? Apa? Kamu gak ada niatan buat sembunyiin dari bunda? Omong kosong!" Bunda Alisya berteriak keras. "Gak ada niatan buat sembunyiin itu dari bunda, tapi apa yang kamu lakuin dari tadi? Kamu bahkan sampai bela-belain ngambil kertas itu diam-diam saat bunda tidur? Apa yang gak ada niatan itu, Alisya?" Alisya terhentak di tempatnya. Tak menyangka reaksi sang bunda akan terlampau jauh seperti yang dibayangkannya. Ini pertama kali. Pertama kali ia melihat raut wajah serta nada suara bundanya begitu menyeramkan. Astaga. Apa yang telah dilakukannya hingga menyulut amarah dari seorang wanita lembut yang memiliki gelar Ibu. "Maafin Alisya, Bun," cicit Alisya. Seketika-melihat air muka bundanya yang prustasi karena ulah yang telah dilakukannya-ia merasa begitu berdosa. Teringat lagi sebuah dalil yang mengatakan tiga buah dosa besar, salah dua diantaranya tengah dilakukannya. أَلاَ أُنَبِّئُكُم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : أَلأِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّوُرِ، فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ "Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, 'Baiklah, ya Rasulullah', bersabda Nabi. "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong". Maka Nabi selalu megulangi, "Dan persaksian palsu", sehingga kami berkata, "semoga Nabi diam" [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87] Ya, Allah, bukankah ia kini sudah melakukan dua buah dosa paling besar? Segera Alisya beristrighfar. Mengingat hadist itu, membuatnya meneteskan air mata karena merasa takut terhadap balasan yang akan ia dapat nanti. " Alisya minta maaf, Bun." Ia terisak. Berusaha menyingkap air mata yang berjatuhan dari sudut matanya. "Bunda sudah toleran dari tadi, Alisya, tapi kamu seakan tuli. Acuh dengan perintah bunda yang menyuruh kamu menyerahkan kertas itu pada bunda. Kenapa? Seburuk apa jika bunda tahu surat itu apa?" Suara bundanya melembut. Ah, terkesan tercekik malah. "Hah?" Alisya kembali menggelengkan kepala. "Alisya benar-benar minta maaf, Bun." Ia menarik napas sejenak dan menjeda kalimatnya. "Takut. Alisya takut bunda melarang atau bahkan menolak mentah apa yang nanti bunda lihat." Gadis itu lantas menyerahkan selembar kertas dengan tangan yang bergetar. Tangisan sang bunda pecah, saat menerima sodoran kertas dari putrinya. Ia membaca tulisan besar yang terpampang di atas kertas itu, "Harvard Collage." Wanita itu tahu betul, jika sudah ada tulisan tersebut, besar kemungkinan anaknya mendapatkan surat undangan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Universitas Harvard, Inggris. Astaga. Anaknya. Anak satu-satunya yang selalu ia beri petuah dan wejangan tentang kehidupan. Akhirnya. Akhirnya mendapatkan satu hal besar yang selalu menjadi harapan serta doa di setiap sujudnya saat menghadap Allah. "Ya, Allah." Ia menutup mulutnya, tak percaya. Tiba-tiba saja, tubuhnya luruh dan terduduk ke lantai. Setetes air mata tampak mengalir dan menyapa pipi yang telah berkerut seiring waktunya yang semakin surut, menua. "Bunda, jangan gini dong. Bunda gak boleh nangis!" Alisya tersentak, melihat bundanya malah menangis dan terduduk begitu saja di atas lantai. "Kalo Bunda gak izinin Alisya, gak papa, Bun. Alisya gak bakal pergi, kok. Alisya mau sama Bunda. Alisya gak bakal jadi anak durhaka yang ninggalin Bunda hanya demi sebuah pendidikan dunia. Gak akan, Bun. Alisya gak akan seperti itu," ujarnya. Di balik tangis yang membanjir. Sang bunda tampak menarik sudut bibirnya. Menyadari, betapa polos putri semata wayangnya itu. "Bodoh, Alisya. Kenapa bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini?" Alisya tertegun. Tangisnya berhenti. Ia menatap lamat ke arah sang bunda yang kini tengah menatapnya juga dengan lembut. Tangan kasar bundanya itu menyentuh pipi Alisya yang memerah karena tangis. "Hal baik sebesar ini. Apa bunda berhak marah dan melarangmu, Alisya?" tanyanya yang semakin membuat Alisya membatu di tempat.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
sangat asyik
13/11
0bagus
10/06/2025
0sangat suka
25/04/2025
0Lihat Semua