logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Pelabuhan Dua Hati

Pelabuhan Dua Hati

Renjana Kata


Bab 1 Undangan

Perempuan itu berlari, menerobos padatnya kota metropolitan pagi ini. Seragam putih dan kerudung panjang yang terulur sampai sebatas perut sudah tak lagi memperlihatkan kerapiannya. Apalagi dengan rok abunya yang lebar, bagian ujungnya terlihat seperti sudah tercelup air kubangan.
Kali ini, akibat larinya yang sembrono, ia menabrak seorang laki-laki yang tengah membawa segelas kopi panas-dengan gelas plastik khusus air panas. Isi gelas itu tentu saja tumpah, membasahi sebagian kerudung putihnya dan juga sebagian kemeja laki-laki yang tidak sengaja ditabraknya.
"Ck, sial!" Laki-laki itu berdecak. Tangannya mengusap bagian kemeja yang terkena tumpahan kopi.
Perempuan yang tak sengaja menabraknya itu menunduk, jari-jemarinya saling memilin di bawah sana. Menimbang antara kabur atau meminta maaf terlebih dahulu. Ia tersenyum kecut saat telinganya berkali-kali mendengar makian dari pria di depannya. Ingin sekali melangkah pergi, tapi entah kenapa kakinya malah terpaku di sana.
Lebih parahnya, perempuan itu kini merogoh tas ranselnya, mengambil selembar kain berwarna biru langit. "Alisya minta maaf, Om," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk membersihkan sisa tumpahan kopi di kemeja pria itu.
"Hei!" Pria itu menekuk alisnya, menatap tajam perempuan bernama Alisya. Ia mencengkeram tangan yang tadinya mengusap bagian dadanya yang terkena tumpahan kopi. "Tidak sopan!" ucapnya sambil menghempas tangan itu.
"Astagfirullah. Alisya minta maaf, Om." Alisya menundukkan kepalanya. Bodoh, mengapa pula ia malah lancang menyentuh orang yang tidak dikenalnya? Tentu saja pada akhirnya ia akan dicap tidak sopan.
"Sekali lagi Alisya minta maaf, Om. Permisi." Masih dengan menunduk, perempuan itu melangkah pergi.
Baru saja tiga langkah, pria tadi malah memanggilnya, "Hei, tunggu!"
Alisya memutar kembali tubuhnya, menatap pria itu dengan bingung.
Tangannya semakin erat menggenggam sapu tangan tatkala pria tersebut berjalan mendekat ke arahnya. Memejamkan mata dengan rapat. Ia takut, semakin takut karena pria itu menguarkan aura dingin saat mempersempit jarak keduanya.
"Biar saya sendiri yang membersihkannya."
Mendengar hal tersebut dan juga merasakan sapu tangannya ditarik paksa, barulah Alisya membuka matanya lebar-lebar. Perempuan itu menatap cengo punggung tegap pria tadi yang perlahan hilang, ditelan padatnya orang-orang yang berlalu-lalang. Ia merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya otak kecil itu memikirkan hal buruk yang akan terjadi. Oh, ayolah, mana mungkin ada orang yang berani melakukan hal jahat di tengah keramaian seperti ini.
Alisya mengembuskan napas lega. Syukurlah, tidak terjadi sesuatu yang buruk. Namun, nyatanya di detik berikutnya Alisya menepuk jidat dengan keras. Ia melupakan sapu tangan yang dibawa pria asing tadi. "Astagfirullah. Sapu tangan bunda."
***
"Alisya, pakaianmu kotor sekali. Kamu itu seorang pelajar atau anak jalanan sih?"
Seorang perempuan dengan rambut hitam yang tergerai itu menatap jijik ke arah Alisya. Kerudung yang bernoda kopi di bagian depan, kemeja putih yang lusuh, dan rok yang bagian bawahnya kotor, tentu saja membuat siapa pun apabila melihatnya akan terganggu.
Memang tidak mencerminkan seorang pelajar. Namun, bagi Alisya penampilan tidak boleh menjadi tolak ukur siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak.
"Kalo aku termasuk keduanya, kamu mau apa?"
Toh, bagi Alisya, mau dia siapa, pangkatnya apa, anak dari siapa, semua boleh dan berhak menuntut ilmu dan menjadi pelajar. Lagi pula, dalam agamanya telah diperintahkan setiap muslim untuk menuntut ilmu. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir no. 3913).
Jika hanya penampilan dan strata sosial membuatnya tidak menuntut ilmu, maka betapa berdosanya ia karena telah melalaikan kewajiban dari Allah. Alisya juga selalu menanam kuat perkataan ibunya untuk tidak mendengarkan penilaian orang terhadap dirinya, dan menyuruh ia untuk tetap pada tujuan menuntut ilmu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Masa bodoh dengan penampilan yang buruk dan jelek, asal jangan pikiran saja yang menjadi buruk dan jelek karena tidak bersungguh-sungguh mencari ilmu." Alisya mengatakan itu dengan penuh penekanan.
"Alisya! Kamu-" Perempuan dengan rambut tergerai itu hendak menyerukan protesan. Namun, seorang guru menginterupsi keduanya.
"Kalian berdua, sedang apa di sana? Cepat masuk, Ibu mau memberi beberapa informasi!"
"Maaf, Bu, sepertinya Alisya tidak boleh masuk dengan penampilan begitu. Dia terlalu kotor, bisa mengganggu anak-anak lainnya, Bu."
Alisya memutar matanya kesal. Perempuan
itu memang wataknya terlalu keras. Ada berbagai cara yang bisa dilakukannya untuk menjatuhkan lawan. Syukur, lawannya adalah Alisya yang memiliki kesabaran tinggi dan lebih memilih mengalah dibanding memperpanjang masalah. Meski begitu, beberapa kali Alisya juga sempat melawan karena perempuan itu yang terlalu melewati batas.
"Kana, jangan bicara seperti itu! Alisya datang ke sekolah niatnya untuk menuntut ilmu, bukan fashion show. Penampilan tidak akan mengganggu pembelajaran kalau kalian sendiri serius belajar, bukan menilai penampilan orang." Guru itu menatap Kana dengan tajam. "Ayo, cepat masuk!" titahnya sambil membuka pintu kelas dengan lebar.
"Anak-anak, Ibu ingin kalian mengisi formulir itu untuk melihat kesiapan kalian dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Diskusikan dengan orang tua kalian dan besok sudah harus dikumpulkan kembali, ya. Mengerti?" ucapnya setelah membagikan selebaran formulir pada masing-masing siswa.
"Mengerti, Bu," jawab seluruh siswa dalam satu kelas itu.
"Oh, iya, untuk Alisya, kamu tolong ikut ibu ke ruang guru. Ada beberapa yang harus ibu sampaikan secara pribadi."
"Baik, Bu," jawab Alisya yang kemudian mengekor guru itu menuju ke ruang guru.
"Alisya, apa kamu ada rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi?" tanyanya setelah sampai di ruang guru.
Hening. Alisya masih bingung. Dalam hidupnya sama sekali tidak ada rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Biaya adalah salah satu faktor yang membuat Alisya memilih tidak memikirkan hal itu. Jangankan untuk berkuliah, untuk makan sehari-hari saja begitu sulit. Alisya tidak mau terus-menerus membebankan ibunya yang hanya merupakan buruh cuci dengan gaji yang tak seberapa.
"Alisya tidak ada rencana seperti itu, Bu. Alisya mungkin akan langsung mencari pekerjaan setelah lulus dari sini."
"Jika rencana memang tidak ada, lalu bagaimana dengan keinginan? Apa kamu punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan?"
Alisya tersenyum kecil. "Semua pasti punya keinginan melanjutkan pendidikan, Bu, begitu pula dengan saya."
Guru itu terkekeh. "Tuh, ibu bisa menebaknya, kamu itu ada semangat untuk belajar, Alisya." Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan selebaran formulir. "Website sekolah mendapatkan pemberitahuan jika kamu terpilih menjadi salah satu siswi yang mendapat beasiswa di Universitas Harvard, Inggris. Mungkin karena pada lomba sains internasional kamu menyabet juara satu, kamu bisa mendapat kesempatan ini, Alisya."
Alisya tercengang di tempatnya. Ia mengambil formulir yang disodorkan gurunya dengan tangan yang bergetar. "Beasiswa di Universitas Harvard, Inggris?" cicitnya mengulang ucapan itu.

Komentar Buku (35)

  • avatar
    TiffanyShoimatul

    sangat asyik

    13/11

      0
  • avatar
    alyanur

    bagus

    10/06/2025

      0
  • avatar
    Tika

    sangat suka

    25/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru