"Wulan!" panggil Sinka dari arah lobi sekolah. "Sinka!" Wulan berlari kecil menghampiri sahabatnya itu. "Gimana? Semangat gak hari ini?" "Semangat dong!" "Hari-hari berdua terus ya kalian," ucap salah satu teman yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Hari-hari seperti biasa mereka lalui bersama, seiring berjalannya waktu mereka semakin dekat dan tak terpisahkan. Jam pelajaran pertama adalah seni budaya. Para murid di kelas sudah siap mengeluarkan buku. Hingga sang guru datang ke kelas, semuanya hening menunggu instruksi. Seorang pria paruh baya datang dengan memakai kemeja abu-abu. Sambil membenarkan kacamata, ia menatap ke kelas. "Selamat pagi, anak-anak!" ucapnya. "Pagi ini Bapak akan menyampaikan soal pengambilan nilai seni budaya. Kalian diharuskan menampilkan pertunjukkan. Entah itu bernyanyi, menari, apa saja. Kalian juga bebas untuk menentukan apakah mau berkelompok atau pun sendiri-sendiri. Terserah, asalkan konsep dan temanya semenarik mungkin," tutur sang guru menjelaskan. Wulan menarik-narik baju Sinka dari belakang. Membuat Sinka menoleh. "Hehe, aku paham!" kata Sinka. "Bagus!" Seakan sudah saling terkoneksi, tanpa harus diucap mereka sudah mengerti isi pikiran masing-masing. "Kalian akan tampil di aula kelas, bapak kasih waktu satu bulan ya. Pokoknya, pas nanti perform kalian harus udah matang. Paham?" tanya guru itu. "Paham, Pak!" jawab semua murid secara serentak. "Oke, karena ada urusan sama dewan guru lainnya. Bapak rasa cukup sampai di sini, maaf hari ini Bapak gak bisa ngajar full. Tapi bukan berarti kalian bebas di jam ini, tugas kalian sekarang adalah buat rancangan awal buat konsep yang mau kalian bawakan. Setelah itu kumpulkan ke ketua kelas. Konsep yang sudah oke nanti bakal Bapak acc, paham semua?" tanya Sang Guru sekali lagi. "Paham, Pak!" jawab para murid. "Oke, jangan ada yang keluar kelas ya!" Setelah itu, guru tersebut meninggalkan kelas. Karena memiliki urusan lain, ia terpaksa tidak bisa mengajar di kelas. "Yeay, jam kosong!" ucap salah satu murid. "Matamu! Bikin rancangannya, kumpulin ke aku paling lambat hari ini!" kata sang ketua kelas. Sinka lalu memutar posisi kursinya yang semula membelakangi Wulan, kini jadi menghadap ke arahnya. Sambil tersenyum mereka pun duduk saling berhadapan. "Ada ide?" tanya Sinka. Wulan menggeleng. "Enggak." "Hmmm." Sinka terdiam dan mulai berpikir sambil memutar-mutar pulpen di tangannya. "Dance aku gak bisa. Nyanyi juga gak bagus-bagus banget, kalo drama terlalu repot," gumam Sinka. "Paling simpel sih nyanyi." Salah satu anak murid laki-laki tiba-tiba mendekati Sinka. Ia adalah Ezra salah satu teman sekelas mereka. Dengan wajah genit ia menarik kursi dan duduk di samping Sinka. Kehadirannya cukup membuat risih mereka berdua. "Sinka, kamu udah ada kelompok? Mau sama aku gak?" tanya Ezra. "Aku udah sama Wulan," jawab Sinka. "Sama aku aja," balas Ezra. "Dibilang udah sama, Wulan!" Ezra lalu menoleh ke arah Wulan. Ia tersenyum kemudian sedikit membungkuk. Mendekatkan mulutnya ke arah telinga gadis itu. "Wulan, aku pinjem Sinka dong. Boleh ya? Aku mau berdua sama dia," bisik Ezra. "Eh?" Wulan bingung dan langsung menatap Sinka. "Kenapa? Ngomong apa dia?" Wulan menggelengkan kepala. Lalu menoleh ke Ezra. "Maaf ya, aku udah sama Sinka duluan. Lagian juga kan Sinka gak mau." "Halah! Bilang aja kamu gak mau Sinka aku ambil, kan?" "Emang iya?" tanya Sinka dengan wajah iseng. "Emang iya, Wulan?" "E-eh, gak gitu maksudnya." Mendadak Wulan menjadi malu sendiri. "Kamu cemburu ya Sinka sama orang lain?" Ezra semakin memanas-manasi. "Bener begitu, Wulan?" Sinka yang sudah gemas malah ikut memojokkan Wulan. Wulan bingung bukan main, sedikit kesal juga di hatinya. "K-kalian apaan sih? Stop-lah!" "Akui aja kalo kamu--" "Dibilang enggak ya, enggak! Ngerti gak sih?!" bentak Wulan yang sudah sangat marah. Sampai-sampai Sinka dan murid lain kaget. Tak pernah Wulan semarah itu. "Hahahahaha!" Ezra pun puas melihat respon Wulan yang begitu lucu. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, laki-laki itu pun beranjak pergi sambil tertawa. Sementara ia meninggalkan suasana canggung di antara Sinka dan Wulan. Semenjak itu, mood Wulan memburuk. Ia memasang wajah kesal selama sisa jam pelajaran. *** Pada saat istirahat tiba, Wulan dan Sinka makan di atap sekolah seperti biasa. Sinka sangat sadar bahwa sahabatnya itu masih kesal karena kejadian di kelas tadi, sesekali ia mencuri pandang ke arah Wulan sambil tersenyum kecil. "Udah dong marahnya," kata Sinka. "Siapa juga yang marah." "Kamu, emang gak marah aku godain tadi?" tanya Sinka. Wulan melirik Sinka dengan tatapan sinis. "Aku gak suka aja, kesannya kamu sama Ezra mojokin aku banget di depan teman-teman kelas yang lain. Siapa yang gak kesel coba? Lagian ngapain coba kamu ikut-ikutan? Sengaja banget sih," tutur Wulan yang melontarkan kekesalannya. Sinka pun tertawa kecil melihatnya. "Hahaha, marahnya kamu gemes juga ya." "Apaan sih? Aku gak bisa digemes-gemesin," jawab Wulan. "Maafin aku ya, janji gak akan gitu lagi," ucap Sinka. Tapi Wulan tak menjawab dan hanya melihat ke depan dengan wajah sinis. "Sebagai tanda maaf, nanti hari Minggu kita main ke danau. Aku tunjukkin kamu sesuatu, gimana?" tanya Sinka menawarkan. Wulan menghela nafas. "Iya, iya. Aku maafin." "Nah, makasih Nona Pemaaf, hehe," ucap Sinka. "Hari Minggu, aku tunggu janji kamu," tegas Wulan sambil melirik. "Siap!" Setelah berbaikan, pelan-pelan suasana di antara mereka semakin membaik seperti semula. Wulan mulai bertanya mengenai konsep pertunjukkan mereka. Sambil mengunyah makanan, Sinka terus berpikir mengenai konsep yang akan mereka bawakan. Mereka sepakat bahwa akan membawakan pertunjukkan berdua sebagai duo. "Kira-kira gimana ya? Kita mau nyanyi aja?' tanya Sinka. "A dulu," kata Wulan sambil menyuapi sayuran ke Sinka. Sinka berhenti berpikir dan menyantap makanan yang disuapi Wulan. "Aku bisa sih kalo nyanyi," lanjut Sinka sambil mengunyah makanan. "Ya, paling gampang sih nyanyi. Kalo kaya dance gitu aku gak bisa," kata Wulan sambil ikut menyuap makanan untuknya sendiri. "Ini lagi." Wulan kembali menyuapi Sinka, dan gadis rambut cokelat itu pun menurut. "Eh? Apaan nih? Kok pahit?" tanya Sinka sambil memasang wajah masam. "Iya, agak pahit sih. Kayanya aku terlalu mateng deh masaknya." "Iih, gak mau! Pahit!" Sinka buru-buru menelannya dan minum air mineral miliknya. "Tapi ini masih ada." Wulan kembali memaksanya. "Gak mau!" "Sedikit lagi, janji! Terakhir," kata Wulan. Sinka menghela nafas. "Janji ya." Iya lalu menyantap makanan dari sendok Wulan. Dan sambil menahan rasa pahit itu, ia mengunyah dan buru-buru menelannya. Tersisa setengah jam sebelum jam istirahat selesai, mereka pun terdiam dan tak bercakap-cakap. Sinka membaca kembali konsep rancangan pertunjukkan yang baru saja mereka selesaikan. Sementara Wulan duduk santai sambil meluruskan kakinya dengan sebotol minuman yogurt di tangannya. "Bagus, kita kumpulin ini aja?" tanya Sinka sambil menunjukkan hasil tulisannya. "Pertunjukkan lagu dan drama monolog," gumam Wulan sambil membaca. "Yap! Cepet kumpulin ke ketua kelas!" ujar Wulan. "Oke siap," jawab Sinka. Selepas itu, jam pertanda habisnya waktu istirahat berbunyi. Dengan kompak keduanya bergegas kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran selanjutnya. Bak dua kuncup bunga yang mekar bersama, Wulan dan Sinka bagai sakura yang berkembang melewati musim semi bersama.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bangat
08/04
0baguss bgttt
15/03
0seru sih, suka deh.
21/02
0Lihat Semua