logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Terabaikan

Saat langit menjadi gelap, Wulan dan Sinka mulai berjalan meninggalkan danau. Jalan setapak begitu minim penerangan ditambah pohon dan ilalang yang lebat di sekitar. Sehingga sepanjang perjalanan itu Sinka menggenggam erat tangan Wulan. Menjaganya agar tidak salah injak mengingat tanah licin dan adanya beberapa lubang.
Sinka membawa sahabatnya itu ke rumahnya. Entah sudah berapa lama Wulan tidak datang ke rumah orang lain selama dalam kurungan ayahnya. Setelah berjalan agak jauh, sampailah di sebuah rumah dua lantai yang berdiri di pinggir jalan. Mereka berdua membuka gerbang dan masuk ke dalam. Di sambut oleh Ayah Sinka yang berdiri di beranda rumah.
“Sinka!” sapa Sang Ayah.
“Sini masuk, Wulan!” ajak Sinka sambil berjalan berlalu mengabaikan Sang Ayah.
Wulan sedikit bingung dengan situasi di sini. Ia melirik ke arah Ayah Sinka dengan wajah canggung. Dan laki-laki paruh baya itu membalas lirikan mata itu dengan senyuman sehingga suasana kembali cair.
“Temannya Sinka ya. Silahkan, masuk aja gak apa-apa."
“Permisi, Om,” ucap Wulan yang kemudian berjalan masuk mengikuti Sinka.
Akan tetapi sahabatnya itu sudah berjalan dahulu ke kamarnya yang entah ada di mana. Wulan malah berpapasan dengan Nina yang sedang mengelap vas bunga. “Halo,” sapa Nina. Perempuan berusia 39 tahun yang sudah lama bekerja sebagai pembantu sekaligus orang yang mengasuh Sinka sejak kecil.
“Kamar Sinka di atas, naik aja,” kata Nina.
“Makasih,” ucap Wulan yang segera berjalan sesuai arahannya. Ia menaiki tangga ke lantai dua dan bertemu sebuah pintu dengan tumpukkan kado yang berantakan di depannya.
“Masuk Wulan!” panggil Sinka dari balik pintu itu.
Wulan pun membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Sinka sudah duduk manis di atas kasurnya sambil merapikan tas dan buku-buku. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Kamarnya tampak sederhana dengan foto-foto yang menghias dindingnya. Wulan berjalan perlahan dan melihat-lihat seisi ruangan yang cukup rapi itu.
“Sini, santai aja dulu. Nanti jam tujuh aku anter kamu pulang,” kata Sinka sambil menggeser posisi dan mempersilahkan Wulan duduk bersamanya di atas kasur. Ia juga menyalakan televisi dan membuka toples berisi snack.
Wulan lantas duduk di sampingnya, selama beberapa menit mereka menonton televisi bersama tanpa ada percakapan. Sampai akhirnya Wulan berbicara, secara terang-terangan ia langsung bertanya. “Kamu kenapa cuek sama Ayahmu?”
"Siapa yang cuek? Enggak kok."
"Kamu, tadi pas di depan rumah. Kamu gak ucap salam, atau seenggaknya jawablah sapaan Ayahmu."
"Aku gak liat, gak denger juga." Sinka mencari alasan.
"Bohong banget, keliatan kok kamu gak mau jawab dia. Ekspresi kamu beda. Ada apa sih?"
Sinka terdiam mendengar pertanyaan itu, ia membuang muka sesaat dan terus membisu. Sadar akan hal itu, Wulan memegang tangan Sinka dengan pelan.
“Kamu ada masalah, kah? Gak apa-apa, cerita aja. Kita ini sahabat, kan?” tanya Wulan sekali lagi untuk meyakinkan.
Sinka menghela nafas lalu menoleh. “Karena aku gak bisa memaafkannya,” jawabnya singkat.
“Kenapa?”
Sinka pun mulai bercerita. “Selama ini Ayah jarang sekali bertemu aku, sejak kecil aku tinggal sama Ibu dan Kak Nina. Yang paling bikin aku marah, waktu ibu sakit Ayah gak pernah pulang. Padahal Ibu butuh banget dukungan dari Ayah, sampai akhirnya Ibu meninggal Ayah gak juga pulang. Duh, aku sedih kalo cerita ini, gimana dong?” Mata Sinka berkaca-kaca setelah menceritakan masa lalunya.
"Udah ya, aku gak mau nangis." Gadis itu lanjut mengusap matanya.
Wulan mengelus punggung sahabatnya untuk membuatnya lebih tenang. “Gak apa-apa,” ucap Wulan.
“Sekarang, ayah malah beli rumah di Jakarta dan minta aku supaya ikut dia tinggal di sana. Aku gak mau. Buatku, di rumah ini satu-satunya kenangan aku dan Ibu. Jadi aku bakal bertahan di sini,” tutur Sinka lanjut bercerita. “Aku jadi nangis, kan?” Sinka pun menutup wajahnya saat air mata akhirnya mengalir ke pipinya.
“M-Maaf, Sinka. Kamu jadi nangis gini,” ucap Wulan.
“Kamu sih! Gara-gara kamu,” balas Sinka yang kemudian bersandar di bahu Wulan. “Aku tuh paling gak bisa kalo harus cerita soal ini."
“Gak apa-apa, semua orang punya masa lalu,” kata Wulan sambil mengelus kepala Sinka.
Mereka berdua terdiam. Sesekali terdengar suara sesegukan dari Sinka yang berusaha agar berhenti menangis, sementara televisi terus menyala tanpa ada yang memperhatikannya.
***
Seperti janjinya, jam tujuh malam Sinka mengantar Wulan pulang. Dari dalam garasi ia mengeluarkan sepeda motor yang sudah lama tak ia pakai. Beruntung, mesinnya masih bekerja baik saat ia menyalakannya. Wulan sudah berdiri di luar gerbang, di beranda rumah Ayah Sinka duduk memperhatikan.
Setelah mesin motor panas, Sinka segera menuntunnya ke luar gerbang lalu mulai menaikinya. “Ayo, Wulan!” ajaknya yang sudah duduk dan siap untuk memacu kendaraan roda dua itu.
“Sinka, awas hati-hati! Jalanan gelap!” kata Sang Ayah dari beranda rumah.
“Baik, Om!” jawab Wulan yang kemudian naik ke jok belakang. “Ayo, jalan!"
Mendengar itu, Sinka mulai memacu motornya berjalan meninggalkan rumah. Suara khas motor terdengar memecah keheningan malam, angin dingin pun turut berhembus mengiringi perjalanan mereka. Benar kata Ayah Sinka, jalanan gelap. Hanya ada lampu motor yang menerangi.
Wulan agak gugup, baru kali ini ia naik sepeda motor. Dari kaca spion, Sinka bisa melihat ekspresi sahabatnya yang agak takut menaiki kendaraan roda dua ini.
“Kalau takut jatuh, peluk aku aja,” kata Sinka.
“Iya, iya.” Wulan lalu melingkarkan tangannya ke perut Sinka dan bersandar di punggung kecilnya.
Sesampainya di jalan raya, suasana lebih terang dan ramai. Sinka semakin mempercepat laju motornya. Sementara di belakangnya Wulan terdiam menikmati angin malam sambil melihat pemandangan lampu-lampu yang bersinar cantik di tengah sawah yang gelap. Seakan beradu dengan indahnya gemintang malam di atas kepala mereka.
Setelah lima belas menit perjalanan, sampailah Wulan di rumahnya. Sinka memberhentikan motornya tepat di depan sebuah gerbang megah. Ia sedikit takjub dengan rumah Wulan yang bak istana raja.
“Wah, rumahmu gede juga ya, Wulan,” kata Sinka.
“Hehe, rumah Papaku,” jawab Wulan. “Makasih ya."
“Makasih?”
“Makasih untuk hari ini. Karena kamu aku dapat pengalaman yang indah, senja di pinggir danau itu jadi salah satu hari yang indah buat aku,” kata Wulan menjelaskan.
Sinka pun mengangguk. “Aku tau itu, danau itu jadi tempat kita berdua,” ucapnya sambil tersenyum.
“Aku masuk ya."
“Iya, sampai jumpa besok. Di sekolah."
Wulan mengangguk pelan sambil melihat Sinka memutar balik motornya dan beranjak pergi. Tangannya melambaikan tangan dan tetap berdiri memperhatikan Sinka dari kejauhan sampai cahaya lampu motornya benar-benar menghilang.
Setelahnya Sinka hilang dari pandangannya,gadis itu masuk ke dalam rumah melalui celah gerbang yang terbuka. Kepalanya berpikir mencari alasan tepat untuk disampaikan ke Ayahnya yang mungkin saja sedang bersiap untuk memarahinya sekarang juga.
“Wulan!” Benar tebakannya, hampir saja Wulan masuk ke dalam pintu rumah. Sang Ayah memanggilnya dari belakang. Gadis itu pun menoleh dengan wajah takut. Ayahnya berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Maaf, Pa. Aku—“
“Kemana aja kamu?” tanya Sang Ayah.
“Maaf aku gak ada kabar, Pa. Seharian ini, aku sibuk kerja kelompok sama temen."
“Sesibuk itukah sampai lupa supir jemput ke sekolah?” tanya Sang Ayah lagi.
Dengan gugup Wulan berpikir sejenak. “I-iya, aku lupa,” katanya pasrah.
Sang Ayah berjalan mendekat dengan wajah datar. “Sibuk sekali ya, kerja kelompoknya sampai malam begini."
“I-iya.”
“Ayah sendiri masih gak percaya, tapi gak ada bukti juga. Kamu selamat kali ini. Kalau seandainya kamu keluyuran dan Papa lihat kamu, awas saja. Kamu tau resikonya, kan?” tanya Ayahnya.
“Iya, Pa. Paham” jawab singkat Wulan.
“Jangan bikin malu keluarga kita, tetap jaga sikapmu,” bisik Ayahnya sambil berjalan pergi ke dalam rumah.
Kali ini Wulan bisa bernafas lega karena berhasil lolos dari hukuman Ayahnya yang sangat tegas dan ketat itu. Wulan pun berjalan menuju lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara di luar sana, masih banyak tantangan yang belum dilakukannya.
Hari itu, hanya secuil dari luasnya dunia yang bisa Wulan lihat. Dunia luar sedang menunggunya, pelan-pelan Wulan akan datang dan terbang dengan bebasnya.

Komentar Buku (330)

  • avatar
    LiwangRyan

    bagus bangat

    08/04

      0
  • avatar
    zaitareta

    baguss bgttt

    15/03

      0
  • avatar
    AdiJum

    seru sih, suka deh.

    21/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru