Siang itu jadi siang yang panas. Membuat peluh mengalir di dahi dan membasahi pipi. Tapi meski seterik apapun mentari bersinar, angin tetap bertiup sepoi-sepoi membawa hawa sejuk yang menenangkan. Di atap sekolah, Sinka membaringkan badan dan menaruh kepalanya di atas paha Wulan yang sedang duduk di lantai. Setelah menyantap bekal makanan, mereka menghabiskan sisa waktu istirahat bersama. Di tengah lamunannya, Wulan teringat sesuatu yang membuatnya harus bicara dengan Sinka. “Aku sebenernya mau deh, pulang jalan kaki bareng kamu, Sin,” ucap Wulan. “Kapan ya?” Mendengar itu, Sinka langsung membuka matanya dan menatap Wulan. “Kalau kamu sungguh-sungguh, pasti ada caranya." “Gimana?” “Asal kamu mau ikut petunjuk dariku, kamu bakal tau. Gimana? Kamu yakin gak mau ikut supir?” Sinka balas bertanya untuk meyakinkan diri. Wulan berpikir sejenak. “Yakin deh! Nanti aku cari alasan!” tegasnya tanpa ragu. Mendengar jawaban itu dari sahabatnya, Sinka lalu duduk dengan wajah penuh semangat. “Oke! Nanti aku akan tunjukkin ke kamu gimana caranya!” *** Waktu yang mereka nanti pun tiba. Bel jam pulang sekolah telah berbunyi, pelajaran terakhir pun sudah usai. Banyak murid yang sudah menyerbu pintu gerbang untuk segera bergegas pulang. Alih-alih ikut menyerbu gerbang, Sinka justru berjalan ke belakang sekolah bersama Wulan yang mengekor dirinya. Mereka melalui lorong-lorong sepi melewati kelas-kelas kosong. Sampai akhirnya mereka tiba di bagian belakang sekolah. Terlihat lahan kosong dengan kursi-kursi kecil. Di bagian ujung terdapat pembatas antara area sekolah dengan pemukiman warga, berupa tembok pembatas dengan tinggi dia setengah meter. “Liat itu,” kata Sinka sambil menunjuk salah satu sisi tembok. Rupanya terdapat sisi tembok yang roboh di salah satu sudut sehingga tingginya hanya dua meter saja. Di dekatnya, sebuah kotak kayu berdiri seakan menjadi tangga untuk mereka naik. Sinka lalu melangkahkan kakinya naik ke atas kayu yang ada di dekat tembok roboh itu. Dengan sedikit melompat, ia lewati tembok itu dan berhasil keluar dari area sekolah melalui jalan pintas. Kini dirinya berada di sisi luar tembok pembatas. “Ayo sini, aku bantu! Cuma ini cara supaya kita gak ketemu supirmu itu,” ajak Sinka. Wulan memegang tangan Sinka dan mulai menapak naik ke kayu. Dengan hati-hati, ia menjaga keseimbangan. Satu kaki ia angkat dan lewati tembok pembatas sekolah. Sinka terus membantu dan menjaganya sampai akhirnya Wulan berhasil keluar dari tembok itu. “Yeay! Bisa juga,” kata Wulan. “Bagus! Kotak kayu ini disiapin sama anak laki-laki, biasanya mereka lewat sini kalo mau bolos.” Sinka lalu melompat turun dari kotak kayu, disusul Wulan setelahnya. Mereka berdua lalu mulai berjalan melewati sisi belakang sekolah yang merupakan jalan kecil dekat rumah warga. Setelah beberapa meter melewati jalan itu, sampailah mereka di tengah sawah luas yang indah. Sinka berjalan ke arah rel kereta yang jadi jalan pintasnya untuk sampai di rumah lebih cepat. Kaki mereka menapaki bebatuan kasar di pinggir rel. Keduanya pun berjalan bersama di tengah rel kereta yang sepi dan sunyi. Angin dari barat bertiup membuat rambut mereka berkibar-kibar. Cahaya emas matahari senja menerpa mereka. Wulan amat senang berjalan di tempat ini, terlihat indah dan syahdu. “Aku gak pernah lewat sini, di sini bagus banget,” kata Wulan sambil berhenti dan melihat suasana sekitar. Karena Wulan berhenti, Sinka pun ikut berhenti. Ia mendekat ke arah sahabatnya yang terbawa oleh suasana indah sore itu. Dari arah belakang, Sinka melingkarkan kedua tangannya di pinggul Wulan. Lalu memeluknya dari belakang. “Menenangkan hati ya?” tanya Sinka dengan nada pelan. Wulan hanya mengangguk. “Tapi ini hanya secuil keindahan. Masih banyak tempat indah yang harus kamu lihat, Wulan,” kata Sinka sambil tetap memeluk Wulan dari belakang dan menaruh dagunya di bahu sahabatnya itu. Mata mereka mengarah ke arah yang sama. Mentari senja. Wulan lalu memegang tangan Sinka yang melingkar di pinggulnya. “Bawa aku ke sana." “Baiklah,” kata Sinka sambil melepas pelukannya. Wulan lalu berbalik badan, berdiri berhadapan dengan Sinka dengan jarak yang cukup dekat. Mereka berdua saling melontarkan senyum, kemudian saling berpegangan tangan dan mulai melanjutkan perjalanan pulang. Sinka membawa sahabatnya itu melewati jalan setapak kecil yang penuh dengan ilalang setinggi badan mereka. Pohon-pohon tipis juga berdiri, bergoyang saat angin meniupnya. Wulan tak tahu ke mana Sinka akan membawanya, suasana jadi lebih sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Setelah beberapa menit berjalan, Wulan dibuat takjub dengan tempat yang mereka datangi. Mereka sampai di sebuah danau yang cukup luas. Dari sini, sinar mentari terpantul jelas di air danau yang tenang. Berkilau bagai permata di akhir hari. “Wah.” Wulan takjub melihat hamparan air yang luas di depannya. Diiringi beberapa kelompok burung yang terbang melesat di atas danau. “Aku kasih nama tempat ini, permata yang tersembunyi,” kata Sinka. “Biasanya ada yang cari ikan di danau ini. Tapi sepi,” tambah Sinka sambil melihat pemukiman warga di seberang danau. Ada juga bendungan yang mengatur sistem irigasi serta sumber pembangkit listrik. Tanpa sadar air mata pun menetes dari mata Wulan. Melihat itu, Sinka menjadi cemas. Buru-buru ia mendekat untuk memastikan keadaan Wulan. “Kamu kenapa?” tanya Sinka yang berdiri di depan sahabatnya. “Selama ini aku cuma liat pemandangan seindah ini dari internet. Tapi sekarang akhirnya aku bisa liat langsung,” kata Wulan sambil sesegukan. Sinka lalu mengelap air mata sahabatnya dengan tangannya. Dan sambil tersenyum, ia berkata. “Kalau begitu, selamat datang!” ucap Sinka. Kemudian dengan lembut, ia memeluk sahabatnya yang tengah terharu itu. Selama beberapa saat, Sinka tetap memeluk Wulan. “Kita datang ke sini bukan buat nangis, kan?” Sinka melepas pelukan. Wulan mengangguk sambil menghapus air matanya. "Kamu harus belajar jadi orang yang bebas, Wulan. Supaya kamu bisa jadi dirimu sendiri." Sinka berbalik badan dan menghadap ke arah danau membelakangi Wulan. Merasakan angin sejuk yang masih berhembus. Ia lalu mulai melepas sepatu dan kaus kakinya satu persatu. Kemudian dengan ia lempar sepatu itu ke sembarang arah. “Di tempat ini, kita ingin jadi manusia yang bebas! Gak ada yang liat kita dan gak ada yang memarahi kita!” kata Sinka dengan sedikit berteriak. Sinka mulai berjalan ke arah air danau, membiarkan telapak kakinya bersentuhan dengan rerumputan yang lembut. Sementara Wulan masih terdiam berdiri di posisinya sambil melihat sahabatnya yang sudah sampai di pinggir danau. Tanpa ragu Sinka pun turun dan memasukkan kakinya ke air pinggir danau yang dangkal. Dari arah belakang, Wulan berjalan ke arahnya dengan sepatu yang sudah dilepas. Kemudian, ikut turun ke danau dan merasakan dinginnya air. Mereka berdua berdiri bersebelahan di pinggir danau yang tenang. Sinka mulai menggerakkan tangan kanannya, lalu menggenggam telapak tangan Wulan. Dengan senang hati, Wulan pun membalas genggaman tangan itu dengan hangat. Keduanya lalu saling menoleh dan tertatap. Sebuah senyuman manis terukir indah di masing-masing wajah mereka. “Aku senang kamu di sini,” kata Wulan dengan nada pelan. Burung walet yang terbang berputar-putar di atas mereka seakan menjadi saksi indahnya suasana saat itu. Dan tentang dua anak manusia yang penuh cinta, dua anak yang baru mengenal dunia. Hingga perlahan matahari tenggelam, cahayanya semakin pudar. Langit mulai gelap, menjadi akhir dari hari yang indah ini. Kedua sahabat itu masih di sana, duduk di atas batu menatap mentari yang hendak berpisah dengan hari. Wulan menyandarkan kepalanya di bahu Sinka. Selama beberapa menit mereka terdiam, termenung menikmati suasana indah dan syahdu ini. Yang sebentar lagi akan berganti dengan kegelapan malam yang penuh bintang dan angin yang semakin dingin. “Jika kamu punya tempat indah lainnya, maka bawalah aku ke sana, Sinka,” ucap Wulan. “Pasti,” jawab singkat Sinka sambil mengelus lembut rambut Wulan.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bangat
08/04
0baguss bgttt
15/03
0seru sih, suka deh.
21/02
0Lihat Semua