logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Merpati dan Lovebird

“Wulan!” panggil Sinka saat melihat teman barunya itu turun dari mobil.
Sambil menutup pintu mobilnya, Wulan melihat ke arah Sinka. Ia tersenyum lalu melambaikan tangan. Keduanya saling berjalan mendekat hingga akhirnya bertemu di depan lobi sekolah yang ramai oleh siswa lalu lalang.
“Gimana? Semangat gak hari ini?”
“Semangat dong!” jawab Wulan sambil tersenyum.
“Yuk masuk,” ajak Sinka yang kemudian langsung menarik tangan temannya dan berjalan masuk. Wulan pun hanya menurut dan mengikutinya dari belakang.
Dari kejauhan, beberapa anak perempuan mengamati Wulan dan Sinka. Sambil saling berbisik, mata mereka menatap heran ke arah dua gadis itu.
"Itu Sinka, kan?"
"Iya."
"Sejak kapan dia deket sama Wulan?"
"Semenjak mereka satu kelas lah." jawab seorang siswi sambil bercermin merapikan rambutnya.
"Kok mau ya, Wulan deket-deket sama cewek aneh itu?"
"Entahlah, masa bodo."
Ketika istirahat, jam kosong atau kapan pun dan kemana pun mereka selalu berdua. Teman-teman satu kelas pun mulai menyadari dan terbiasa dengan kedekatan mereka berdua meski belum sampai seminggu berkenalan.
***
Suatu pagi, Wulan sedang mempersiapkan bekal makanannya sebelum berangkat sekolah. Ia memasukkan beberapa sayur dan makanan sehat lainnya. Sementara sang ayah sedang melakukan beberapa olahraga kecil di depan rumah, melatih otot-ototnya agak tetap keras.
Tiba-tiba Wulan teringat sesuatu. Ia menoleh dan melihat ayahnya melalui jendela yang terbuka. “Ayah! Aku bawa sayuran agak banyak boleh ya?” tanya Wulan.
Sang Ayah menoleh. “Boleh! Bawa semua juga boleh, makin banyak makin sehat. Nanti biar ayah masak lagi."
Wulan lalu memasukkan banyak sayuran ke dalam bekalnya. Sampai-sampai kotak makanan itu penuh dan susah ditutup. Setelah kotak makanan masuk ke dalam tas, ia langsung beranjak pergi berangkat ke sekolah. Sang supir sudah menunggu di depan gerbang di samping mobil yang mesinnya sudah menyala. Tak lupa ia pamit dan mencium tangan ayahnya.
Singkat cerita, Wulan pun sampai di sekolah. Suasana hari senin pagi membuatnya bergairah. Ia segera berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. Bergabung bersama langkah para siswa yang berjalan beriringan.
Baru beberapa meter berjalan, tiba-tiba dua buah tangan menutup matanya dari belakang. Ia sedikit kaget, tapi setelahnya ia langsung tahu siapa orang itu.
“Gimana? Hari ini semangat gak?” tanya Sinka yang berdiri di belakangnya sambil menutup mata Wulan.
“Semangat!” Wulan berhenti berjalan. “Ini bisa dilepas gak?” tanyanya sambil memegang tangan Sinka.
“Oh iya, maaf.” Sinka buru-buru melepas tangannya dari mata temannya itu.
Wulan berbalik badan, sehingga kini mereka saling bertatapan dan bertukar senyum. “Masuk yuk,” ajaknya yang kemudian mulai masuk ke dalam kawasan sekolah. Menaiki tangga dan melewati lorong. Hingga sampailah mereka di kelas.
Tak berselang lama, sang guru pun datang membawa tumpukan buku yang tebal. Kedatangannya membuat para murid serentak duduk di posisinya masing-masing dan siap memulai kegiatan belajar mengajar. Aroma tinta spidol tercium saat sang guru mulai menulis di papan tulis putih.
Selama beberapa jam pelajaran pertama, Sinka dibuat pusing dengan soal-soal fisika yang cukup sulit. Begitu juga dengan yang lainnya, semua murid terlihat fokus ketika pelajaran ini sedang berlangsung. Seolah mata mereka tak mau ketinggalan dengan apapun yang ada di depan.
Teng! Teng!
Bel istirahat berbunyi. Menjadi tanda kebebasan mereka dari pelajaran rumit yang membuat lelah otak. Sambil menghela nafas, para murid bersandar dengan lega. Beberapa ada yang langsung berlari ke luar untuk buru-buru ke kantin.
Sementara, Wulan dan Sinka kembali menghabiskan waktu istirahat di tempat rahasia mereka. Dari atap sekolah ini, matahari terasa terik dan menyilaukan.
Keduanya duduk di tempat yang teduh sambil bersandar di dinding, dengan wajah menghadap ke langit biru. Sinka yang sudah lapar mulai makan terlebih dahulu.
Diam-diam, Wulan mengambil sayuran di kotak bekal miliknya dengan sendok. Lalu menaruh sayuran itu ke kotak makanan Sinka yang hanya berisi makanan cepat saji.
“Eh??” Sinka agak kaget melihatnya, lalu menoleh ke arah Wulan. “Kamu bawa sayuran banyak banget, dan kenapa aku dapet juga?”
“Sengaja. Supaya kamu ikut makan makanan sehat."
“Hmmm, aku gak mau! Gak suka!” kata Sinka merengek.
“Harus makan sayur! Terus aku udah bawa banyak gini, mau dibuang gitu?”
Sinka terdiam sejenak, menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap sayur di kotak bekalnya dengan tatapan malas. Tapi setelah itu, sebuah senyuman merekah di wajahnya. Buru-buru dirinya menghadap Wulan.
“Yaudah deh, aku makan sayurnya,” kata Sinka.
“Bagus, gitu dong!”
Sinka tersenyum kecil. “Tapi suapin!”
“Eh?” Wulan heran mendengar permintaan itu. “Aku udah tahu sih, dari senyuman kamu tadi kayanya ada maunya."
“Mau gak?!” tanya Sinka sekali lagi dengan tegas.
Wulan menghela nafas. “Iya, iya."
Tangan gadis berambut hitam itu mulai menyendok nasi dan sayur dari kotak bekal. Wulan mengarahkan sendoknya ke arah Sinka yang sudah membuka mulut. Setelah makanan masuk, Sinka mulai mengunyahnya.
“Begini baru aku suka,” ucap Sinka sambil tersenyum.
“Dasar,” gumam Wulan. Selama sisa waktu istirahat, keduanya menghabiskan waktu bersama di atap sekolah yang sepi. Hingga sampai waktunya datang, saat mereka harus ke kelas dan kembali menyimak pelajaran.
***
Waktu pun terasa begitu cepat, hingga sampailah di waktu pulang sekolah. Sinka dan Wulan berpisah tepat di depan gerbang sekolah. Wulan sudah duduk manis di jok belakang mobil sambil menyeka keringat dengan tisu dan menunggu sang supir tancap gas.
“Kamu dijemput terus ya,” kata Sinka yang berdiri di samping mobil Wulan.
“Iya, ini permintaan Ayahku. Aku gak boleh pulang sendiri."
“Apa gak bisa kalau sehari aja kamu gak dijemput. Supaya kita bisa jalan pulang sama-sama. Aku bakal tunjukkin tempat-tempat bagus di sekitar sini,” kata Sinka.
“Aku juga maunya gitu, tapi susah kayanya.” Wulan menghela napas.
“Kalau begitu, aku duluan ya!” ucap Sinka yang kemudian berjalan pergi.
“Iya.” Wulan lalu menutup kaca jendela mobilnya.
Sepuluh menit setelah kepergian Sinka, sang supir mulai tancap gas. Melewati jalanan yang sudah setiap hari dilihat oleh Wulan. Jalan raya sepi yang membosankan.
Dari kejauhan, ia ke arah rel kereta yang ada di tengah persawahan. Di sana, tampak seorang gadis berjalan kaki seorang diri sembari diterpa sinar hangat mentari senja. Wulan pun kaget karena yang dilihatnya adalah Sinka sedang berjalan pulang.
"Sinka, enak ya jadi kamu. Bisa berjalan seorang diri dengan begitu lepas tanpa di atur siapa pun. Mau pergi ke mana pun bisa, mau berbuat apapun bisa. Kamu bagai burung merpati yang terbang dengan bebasnya. Gak seperti aku, yang hanyalah burung lovebird yang terkurung dalam sangkar." gumam Wulan dalam hati.
Setelah beberapa menit, Wulan sampai di rumahnya. Gerbang mewah dan megah itu dibuka, mempersilahkan sang tuan rumah masuk.
Seperti biasa ia menyapa sang ayah yang tengah bersantai sore. Namun kali ini berbeda, Wulan tidak langsung masuk. Ia berdiri di dekat ayahnya untuk bicara sesuatu.
“Papa,” panggilnya.
“Ya,” jawab Sang Ayah singkat.
“Boleh gak kalau besok aku gak usah dijemput?”
“Gak.” Sang Ayah menjawab dengan tegas dan singkat.
“Kenapa, Pa? Aku ‘kan udah dewasa."
Mendengar itu, membuat Ayahnya langsung mengalihkan perhatian kepadanya. Juga membuat Wulan ketakutan.
“Iya, emang kamu udah dewasa,” kata Ayahnya. “Tapi kedewasaan gak diukur sama usia atau tinggi badan. Terus kamu mau apa kalau gak dijemput? Mau keluyuran? Mau main-main gak jelas kaya anak-anak lain? Sementara kamu punya waktu banyak buat belajar, jangan buang-buang waktumu,” tutur Sang Ayah dengan tegas.
“Tapi, Papa—“
“Wulan!” suara Ayahnya yang sedikit keras memotong kalimat Wulan yang belum selesai terucap. Sekaligus membuatnya bungkam seketika.
“Apakah jadi dewasa juga berarti kamu ngelawan sama Papa?” tanya Sang Ayah dengan datar.
Mendengar itu, Wulan menunduk. “Enggak, Pa."
“Bagus, kalau gitu kamu udah ngerti maunya Papa, kan? Sana masuk,” ucap Sang Ayah yang berhasil memenangkan perdebatan bahkan sebelum debat dimulai.
Dengan berat hati, Wulan pun masuk rumah dengan perasaan kecewa. Segala keinginan dan tuntutan Sang Ayah membuatnya seakan terbelenggu. Mau tak mau, Wulan pun kembali ke dalam kamarnya yang sepi dan penuh dengan kesendirian.

Komentar Buku (330)

  • avatar
    LiwangRyan

    bagus bangat

    08/04

      0
  • avatar
    zaitareta

    baguss bgttt

    15/03

      0
  • avatar
    AdiJum

    seru sih, suka deh.

    21/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru