logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Dua Sisi

Bel pulang sekolah pun berbunyi, anak-anak berhamburan ke segala arah. Keluar dari satu per satu kelas, memenuhi lorong dan tangga sekolah. Jam menunjukkan pukul empat sore, cahaya kekuningan pun mulai terpancar redup dari arah barat. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela dan ventilasi kelas.
Di dalam kelas, Wulan masih duduk sambil menopang dagu. Di depannya, Sinka sibuk merapikan buku-buku yang selesai digunakan. Dengan tatapan malas, Wulan melihat ke arah lorong yang masih ramai anak-anak.
"Yuk, pulang!" ajak Sinka.
"Hm, masih rame. Males banget kalo harus desak-desakan."
Sinka mengangguk. "Bener juga sih."
Wulan menoleh ke arah Sinka di depannya. "Kamu dijemput? Atau pulang sendiri?" tanya Wulan.
"Sendiri."
"Oh, ke arah mana?"
"Ke arah Jalan Satrianegara."
"Kita searah lho, bareng aku aja ya. Aku dijemput supir."
Sinka menggelengkan kepala. "Rumahku ke arah Jalan Satria, tapi itu deket banget. Aku mau jalan kaki," jawabnya.
"Hah? Jalan kaki?! Serius?" Wulan agak kaget mendengarnya.
Sinka mengangguk pelan.
"Aku deket sini kok, mungkin cuma satu kilometer dari sini. Aku suka jalan kaki sore kaya gini, rasanya tenang. Sambil mengingat-ingat hal yang terjadi selama seharian ini."
"Kayanya asik," gumam Wulan.
Mendengar gumaman itu, Sinka terpikir satu ide. Ia lalu memegang tangan Wulan sambil memasang wajah bersemangat. "Gimana kalo kamu ikut aku jalan kaki? Nanti sampai rumahku, aku bakal anter kamu sampai rumah naik motor. Naik motor sore-sore itu asik juga lho," ajak Sinka.
"E-eh? Gimana ya?" Wulan menolehkan wajah. "Gak bisa, aku udah dijemput."
"Suruh aja si supir pulang duluan."
Wulan lalu melepas tangannya dari Sinka sambil menggelengkan kepala. "Tetep gak bisa, Sin."
Wulan menoleh ke luar kelas. "Udah sepi tuh, yuk pulang!" Ia kemudian berdiri dan memakai tasnya. Diikuti Sinka yang langsung memakai kembali ransel miliknya.
Wulan mulai berjalan ke luar kelas dengan Sinka yang mengekor di belakang. Setelah melewati lorong dan menuruni tangga ke lantai satu, keduanya lalu keluar gedung sekolah. Di dekat gerbang, mobil hitam yang menjemput Wulan sudah terlihat. Ia segera mendekat untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Sinka, kamu ikut aku aja."
"Gak usah, aku jalan kaki aja. Udah biasa kok."
"Yakin? Kamu gak capek?"
Sinka menggeleng. "Udah sana masuk," ujarnya.
"Kamu keren banget sih," puji Wulan sambil tersenyum. Kemudian ia berbalik badan dan membuka pintu mobil. "Dadah," ucapnya kepada Sinka sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Kemudian, mobil itu pun berjalan dan meninggalkan area sekolah, membawa Wulan di dalamnya.
Sementara itu, Sinka berjalan kaki ke luar gerbang sekolah yang berhadapan langsung dengan jalan raya yang ramai dan bising oleh klakson kendaraan.
Tapi ia sedikit kaget saat melihat seseorang yang sangat familiar di matanya. Laki-laki tua sekitar lima puluh tahun itu sedang berdiri di samping gerbang bersama sebuah mobil yang terparkir di bahu jalan.
"Sinka!" panggil laki-laki itu yang tak lain adalah ayah Sinka. Menyadari kedatangan sang ayah, Sinka pura-pura tidak melihat dan berjalan melewati begitu saja dengan wajah datar.
"Sinka, tunggu! Tunggu!" Sang ayah masih berusaha memanggil anaknya, akan tetapi Sinka terus berjalan mengabaikannya. Sampai akhirnya, sang ayah kelelahan sendiri memanggil-manggil sang anak yang sama sekali tidak menggubris kedatangannya. Dari kejauhan, dirinya hanya bisa menatap Sinka yang berjalan terus menjauh.
"Dua tahun berlalu, rupanya kamu masih marah ya, Nak?" gumam ayah Sinka sambil menghembuskan nafas. Dengan terpaksa, ia masuk ke dalam mobilnya seorang diri. Suara mesinnya yang halus terdengar, rodanya pun berputar dan mulai melaju di atas aspal kasar.
Sinka mengambil jalan pintas menuju rumahnya, ia berbelok arah dan mulai berjalan di atas rel kereta yang sepi. Di sekitarnya, sawah hijau luas membentang hingga ke cakrawala. Burung-burung terbang menghias langit jingga di penghujung hari.
Cahaya keemasan dari arah barat menerpa wajahnya, terasa hangat dan menyilaukan. Sinka berjalan santai sambil menikmati suasana syahdu ini.
Terus menatap ke depan, Nak! Karena di belakang, hanya ada kesedihan.
Tiba-tiba terbesit kalimat itu dalam benaknya. Sontak Sinka menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa di sana. Sepi dan sunyi, hanya beberapa daun kering yang terbang embusan tertiup angin sore.
"Ibu?" gumamnya pelan. Tak lama berselang, ia kembali melangkah melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah, ternyata sang ayah sudah lebih dulu sampai. Ia menunggu kedatangan anaknya di depan pintu. Dirinya langsung berdiri saat melihat kedatangan Sinka yang kini sedang membuka gerbang.
Rumah mereka tak begitu besar, namun memiliki halaman yang cukup luas untuk menampung beberapa tanaman merambat. Suara besi tua terdengar saat Sinka membuka gerbang rumah.
"Kamu pasti capek, kan?" tanya Sang Ayah. Lagi-lagi, Sinka berjalan berlalu begitu saja. Jangankan menjawab, menatap pun ia enggan. "Sinka! Ayah belikan kamu hadiah, ayah taruh hadiahnya di depan pintu kamar!"
Benar saja, ada setumpuk kado dan bunga yang disusun di depan pintu kamarnya. Tapi dengan dingin, Sinka langsung menendangnya hingga kado-kado itu berantakan. Lalu berjalan melangkahinya, masuk ke kamar dan menutup pintu sedikit keras.
"Huufft," seorang asisten rumah tangga yang bernama Nina hanya bisa menghela nafas melihat perilaku Sinka yang amat dingin.
"Gak apa-apa," kata ayah Sinka yang tiba-tiba datang. "Suatu hari nanti, saya pasti akan bawa dia ke Jakarta!"
"Semoga aja."
***
Selama beberapa menit, Wulan dan supirnya melalui jalan raya yang lebar dan memasuki gapura pertanda jalan masuk ke desa mereka. Hamparan padi yang luas menyambut mereka. Mobilnya agak berguncang saat ban beradu dengan jalan penuh batu dan lubang.
Setelah mobil berhenti, Wulan sampai di rumahnya. Ia segera membuka pintu dan berjalan ke beranda rumah megahnya. Sang ayah sedang duduk di kursi depan sambil mengamati kolam ikan yang ia buat dengan hiasan bebatuan yang disusun cantik.
Wulan langsung mencium tangan Sang Ayah selayaknya anak yang sopan kepada orang tua. Setelah itu, ia lanjut berjalan masuk. "Wulan!" Sang Ayah tiba-tiba memanggil, membuat Wulan mendadak menghentikan langkahnya.
Sang Ayah lalu menoleh. "Bu Wika kan lagi ke kampung, jadi gak ada yang masak makan malam nanti. Papa mau beli ke luar, kamu mau makan apa?" tanya Sang Ayah.
"Aku mau makan sosis boleh gak?"
"Enggak," jawab Sang Ayah singkat. "Sejak kapan kamu minta sosis? Makanan kaya gitu gak sehat," tambahnya.
Sang Ayah mulai memasang wajah curiga, ia pun berjalan mendekat ke sang anak. "Atau jangan-jangan. Diem-diem kamu makan makanan cepat saji gitu di luar sana ya?" Sang Ayah memberikan tatapan mengintimidasi.
Wulan langsung menggelengkan kepala. "Enggak kok!"
"Bagus, jangan makan yang aneh-aneh! Kamu nurut sama Papa, kan?"
Wulan pun mengangguk. Setelah itu, Wulan langsung berjalan masuk ke rumahnya lalu mulai menaiki tangga. Sang Ayah terus memperhatikan dari luar. Sebelum akhirnya kembali sibuk memperhatikan kolam ikannya yang kesayangannya itu.

Komentar Buku (330)

  • avatar
    LiwangRyan

    bagus bangat

    08/04

      0
  • avatar
    zaitareta

    baguss bgttt

    15/03

      0
  • avatar
    AdiJum

    seru sih, suka deh.

    21/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru