“Mana sih?” gumam Wulan sambil melihat sekitar. Saat itu, waktu istirahat sudah tiba. Banyak anak lalu-lalang di lorong depan kelasnya yang cukup luas dengan jendela panjang yang jadi jalan masuknya cahaya. Wulan masih ingat Sinka mengajaknya istirahat bersama. Tapi anak itu malah pergi duluan dan entah di mana kini ia berada. Biasanya, Wulan istirahat dan menyantap makanannya sendirian di dalam kelas. Sesekali ada yang menemaninya, tapi ia lebih sering sendiri. “Wulan, sini!” ajak salah satu teman dari dalam kelas. Karena Sinka yang tak kunjung datang, Wulan berjalan masuk ke kelas dan memutuskan untuk makan bersama mereka. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba seseorang memegang tangannya dari belakang. Sontak, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Rupanya itu Sinka yang baru datang. “Ayo, Wulan!" “Ke mana?” tanya Wulan dengan polos. “Udah ayo!” Sinka segera menariknya pergi dari kelas. Kedua gadis itu berjalan melewati lorong demi lorong, menerobos beberapa kerumunan siswa dan siswi yang berdiri menghalangi jalan. Sampai pelan-pelan, kelas demi kelas terlewati. Sampailah mereka di lorong yang laboratorium dan ruang praktek yang sepi. Terdapat satu tangga kecil yang mengarah ke atas, tangga yang jarang dilewati siapa pun. Melihat itu, Wulan sedikit takut. Suasana yang sepi itu dan sedikit kotor itu memberi kesan angker dan berhantu. “Kita gak mau di tempat lain aja?” tanya Wulan. “Enggak! Udah ikut aja, gak akan ada yang tau kok." Sinka kemudian mulai berjalan naik ke tangga itu. Namun Wulan tetap berdiri di depan tangga karena takut melangkah. Sadar akan hal itu, Sinka berhenti dan menoleh ke belakang. “Kamu mau ikut apa diem di situ sendirian?” tanya Sinka. “Eh, iya. Ikut deh.” Wulan lalu memberanikan diri dan mulai melangkah menapaki satu per satu anak tangga itu. Setelah beberapa anak tangga mereka langkahi, sampailah di sebuah jalan buntu. Hanya ada satu pintu di depan mereka. Dan dengan mudah, Sinka membuka pintu tersebut. Cahaya matahari pun langsung masuk menerangi saat pintu dibuka. Keduanya melangkah keluar pintu, sampailah di atap sekolah yang berupa tempat kosong yang luas. Hanya ada beberapa penampungan air dan parabola di beberapa sudut. Angin berhembus kencang, membuat rambut Wulan berkibar terbang mengikuti arah angin. Dari atas atap sekolah ini, Wulan melihat pemandangan sekitar yang indah. Perkotaan terlihat dari jauh, sementara di sisi lain persawahan membentang luas seakan tanpa batas. Dan di atas mereka, langit biru yang indah menaungi. Tak pernah Wulan berada di tempat seindah ini di sekolahnya. “Sini, Wulan!” ajak Sinka yang memilih tempat teduh di salah satu sisi gedung. Wulan pun menurut dan mendekatinya. Mereka berdua pun duduk sambil bersandar di dinding. Wulan membuka kotak bekalnya yang ia siapkan sendiri, bau harum makanan pun tercium. Sinka ikut membuka bekalnya yang semula ia taruh di dalam loker. “Selamat makan ya, Wulan!” ucap Sinka sambil tersenyum manis. Wulan hanya mengangguk sambil membalas senyumannya. Lalu, dibawah langit biru dan hembusan angin yang menyejukkan keduanya duduk bersama sambil menyantap makannnya masing-masing. Sesekali Wulan melirik ke arah Sinka. Setelah menghabiskan setahun lebih di sekolah, baru kali ini Wulan merasa dekat dengan orang dengan secepat ini. Sangat aneh saat mengingat bahwa dirinya dan Sinka baru bertemu pagi tadi. Tapi, rasanya kini mereka begitu akrab. “Apa ini gak apa-apa?” batin Wulan. Saat hendak melirik-lirik Sinka, tak sengaja Wulan melihat isi kotak bekal milik Sinka. Gadis itu hanya memasukkan makanan siap santap ke dalam menu makanannya, seperti sosis dan sejenisnya. Wulan yang pola makannya sangat dijaga oleh sang ayah tidak terbiasa melihat itu. “Sayurmu mana?” tanya Wulan. Sinka menoleh. “Sayur? Gak ada, aku gak suka." “Kamu cuma makan itu?” Sinka mengangguk sambil mengunyah makanannya. “Mau sayur punyaku?” kata Wulan menawarkan. “Dibilang aku gak suka." “Tapi kalo cuma makan begitu, gak sehat, aku agak gimana gitu liatnya." “Kata siapa? Aku sehat kok, sehat banget malah." “Y-yaudah deh, yakin gak mau?” Sinka langsung menggeleng dengan tegas. Wulan akhirnya menyerah, ia kembali fokus dengan makanan miliknya. Setelah beberapa menit, mereka pun selesai makan. Sinka menghabiskan makanannya, sementara Wulan tidak mampu menghabiskan bekal makanannya sendiri. “Eh, kamu belum habis itu,” kata Sinka saat melihat isi kotak bekal Wulan. “Gak apa-apa, aku kenyang,” jawab Wulan sambil menutup kotak bekalnya. “Lain kali kamu bawa secukupnya, sayang banget makanan gak dihabisin." Selama beberapa saat mereka sempat terdiam karena kehabisan topik. Tapi sejak tadi, Sinka terus memutar otak untuk memulai percakapan kembali dan mencairkan suasana. Sementara hembusan angin sepoi-sepoi membuat Wulan perlahan mulai mengantuk. “Aku itu, pindah kelas karena gak cocok sama anak-anak kelas sebelumnya,” kata Sinka yang membuka percakapan. Sontak, Wulan kembali membuka lebar matanya yang hampir terpejam saat mendengar Sinka bicara. “Eh, iya? Kenapa?” tanya Wulan sambil menegakkan posisi duduknya. “Gak tau, aku gak bisa bergaul sama mereka. Alhasil, aku jadi gak punya temen dan kesulitan kalau ada tugas kelompok. Jadi aku minta pindah kelas sama guru." “Gitu ya, semoga di kelas baru kamu ini, kamu bisa cair bergaul sama yang lainnya." Sinka mengangguk. “Kayanya aku bakal betah di kelas ini. Bukan karena banyak teman atau apa, tapi karena ada kamu,” ucap Sinka sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Wulan. “Aku?” tanya Wulan sambil tertawa dan menunjuk dirinya sendiri. “Hu’um!” Sinka mengangguk. “Sadar gak sih? Kita itu baru kenal tadi pagi lho, tapi aku ngerasa kita udah deket banget. Dan aku juga ngerasa nyaman sama keadaan ini." Dengan senyum kaku, Wulan menjawab. “Iya sih, aku paham. Hehe.” “Kamu orang pertama yang aku bawa ke sini. Dan kamu itu, entah kenapa baik banget. Walau baru kenal, kamu langsung mau istirahat bareng aku. Terus satu lagi, aku tau kalo meja yang aku dudukin itu tempat kamu, kan? Tapi alih-alih usir aku, kamu mengalah dan duduk di belakangku, makasih ya." Wulan semakin merasa malu mendengarnya. “Gak apa-apa, kalau kamu udah duduk di situ masa aku usir? Gak masalah kalau kamu duduk di tempatku,” jawab Wulan. “Tuhkan! So sweet banget sih!” ucap Sinka sambil mendekat dan menyandarkan kepalanya ke bahu Wulan dengan ekspresi gemas. “Eh? Hehehe,” tawa kecil Wulan yang sedikit salah tingkah. Setelah bel masuk berbunyi, mereka berdua buru-buru melangkah pergi. Kembali menuruni tangga dan berjalan di lorong-lorong. Ini pertama kalinya Wulan istirahat di luar kelas, sehingga ia sedikit khawatir kalau sampai guru masuk kelas sebelum dirinya. Beruntung, belum ada guru yang masuk dan ia bisa duduk dengan tenang di tempatnya. Sementara itu, Sinka terlebih dahulu pergi ke loker untuk menyimpan kotak makanannya yang kosong. “Huh, sampe juga,” gumam Wulan sambil duduk di kursinya. “Wulan? Istirahat di mana?” tanya salah satu teman laki-laki yang duduk tak jauh darinya. “Hm, di luar." “Pantes gak keliatan. Tumben banget ya, gak pernah lho Wulan ke istirahat di luar. Bagus, bagus. Lanjutkan!" Setelah semua murid berkumpul, semua kembali fokus memperhatikan guru yang tengah menjelaskan materi di depan kelas. Suasana kembali menjadi hening, Wulan fokus dengan pulpen dan bukunya. Sampai waktu pulang tiba, suara sang guru terus terdengar menjelaskan mata pelajaran yang sedang berlangsung.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bangat
08/04
0baguss bgttt
15/03
0seru sih, suka deh.
21/02
0Lihat Semua