Dalam belenggu hitam pekat, gadis itu terduduk lesu bersama kabut tipis di sekitarnya. Tertunduk dan terdiam bisu, tak tahu harus berbuat apa. Meski sendiri dan menyedihkan, sang gadis tampaknya nyaman di sana. Biarlah, biar dia di sana sampai seterusnya. Sampai ia tersadar dan keluar dengan sendirinya.O Mata sang gadis terbuka saat alarm jam kecil di mejanya berbunyi. Dengan mata masih mengantuk, tangannya meraih jam itu. Seakan sudah hafal, jarinya menekan satu tombol tanpa melihat. Dan bunyi menyebalkan yang membangunkannya itu pun berhenti terdengar. "Mimpi itu lagi," gumamnya sambil menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang indah dengan ukiran-ukiran yang meliuk membentuk pola bunga. Melihat sedikit cahaya mentari yang masuk lewat ventilasi, ia langsung menyibak selimut mahal yang sejak tadi menutupi badannya. Dengan setelan piyama biru muda, ia bangkit dari kasurnya dan berjalan pelan ke luar kamar megahnya yang ada di lantai dua rumah. Sedikit tangannya merapikan rambut hitam lurusnya yang sedikit menutupi wajah. Di lantai bawah, semua anggota keluarganya sudah terbangun. Sambil menuruni satu per satu anak tangga bak putri yang baru bangun tidur. Sang ayah sudah duduk rapi di meja makan dengan setelan kemeja putih berlapis jas hitam. Menyantap makanan paginya yang penuh nutrisi serta gizi. "Kamar mandi samping lagi diperbaiki, kamu ke kamar mandi belakang aja," kata sang ayah saat melihat putrinya datang. Gadis itu mengangguk, lalu berjalan begitu saja melewati sang ayah menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahnya. Tak lupa ia membawa dua buah handuk putih yang lembut di tangannya. Sesampainya di kamar mandi, banyak pilihan menantinya. Shower, bath-up, ada banyak cara untuk mandi di kamar mandi mewah ini. Tak lama setelahnya masuk, suara air mengucur pun terdengar. Segarnya air pagi itu membasahi tubuh serta kulit halusnya. Selama beberapa menit ia terdiam dan membiarkan dirinya basah di bawah shower yang menyala. Setelah selesai mandi, gadis itu kembali ke kamarnya. Mengambil satu setel seragam sekolah berwarna putih dengan rok berwarna hijau dengan pola kotak-kotak yang agak samar. Satu per satu atribut itu ia pakai, seragam itu sangat pas di badannya. Rok hijau selutut itu terlihat manis dipakainya. Dan sebuah tanda nama di bagian kiri seragamnya terlihat. Wulandari Putri Pradani, begitulah nama yang terukir di seragam itu. Ini adalah tahun kedua Wulan berada di jenjang sekolah menengah atas. Setelah melewati tahun pertama yang super sibuk dan memusingkan karena tugas menumpuk, dirinya sedikit tak percaya bisa bertahan sampai tahun kedua. Atas kesabarannya, ia melewati itu semua dan mendapat tahun kedua yang lebih longgar. Wulan memakai tas ransel hijau muda miliknya dengan gantungan kunci beruang berbahan karet rubber yang lucu. Setelah merapikan rambutnya di depan cermin dan memakai lip-tint, ia pun segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya untuk segera berangkat sekolah. Keluarga Wulan adalah keluarga kaya yang memiliki usaha turun temurun, sang ayah sudah memegang perusahaan selama tujuh tahun sejak pindah tangan dari kakeknya yang memilih pensiun untuk menikmati hari tua. Meski begitu, rumah megah nan mewah mereka ini berada di tengah pedesaan yang masih asri. Desa asri ini adalah desa Arumani, tempat di mana Wulan dan hampir semua keluarganya lahir. Ya, desa asal mereka. Di dalam desa ini, keluarga Wulan yang dikenal sebagai keluarga Pradana. Yang dikenal secara turun temurun sebagai salah satu pemilik perusahaan yang sukses di bidang pertanian dan bahan pangan. Keluarga Pradana memiliki lahan luas, yang mana di lahan itu berdiri rumah-rumah megah milik anggota keluarga mereka. Salah satunya adalah rumah Wulan dan keluarganya. "Udah siap, Mbak?" tanya seorang pria yang buru-buru mematikan rokok saat melihat Wulan keluar dari rumah sambil memakai tas dan membawa beberapa buku. "Udah, Pak," jawabnya singkat yang kemudian langsung membuka pintu belakang mobil dan langsung duduk dengan manis. Sang supir langsung masuk ke tempatnya dan bersiap untuk segera berangkat. Perlahan mobil itu mulai berjalan keluar gerbang rumah. Dari dalam mobil yang berjalan pelan di jalan desa yang sedikit berlubang, mata Wulan menatap sawah hijau yang membentang luas, tampak indah bersama cahaya mentari pagi yang mengintip dari gagahnya gunung yang berdiri di kejauhan. Para petani sudah banyak yang turun ke sawah, kawanan kambing dan bebek terkadang lewat menghalangi jalan. Kadang juga, mobil Wulan harus berbagi jalan dengan mobil-mobil bak yang membawa karung-karung yang entah apa isinya. Sekolah Wulan berada cukup jauh, hampir mencapai kota. Ayahnya sengaja memilih sekolah itu karena memiliki kualitas yang sangat tinggi. Sang ayah tampak sangat memperhatikan pendidikan anaknya hingga memasukkan Wulan ke sekolah elit nan bergengsi itu. Sesampainya di sekolah, Wulan buru-buru berjalan ke kelasnya. Melewati kerumunan siswa yang berkumpul di depan gerbang sambil bercengkerama. Beruntung, ia belum terlambat. Dengan wajah lega, gadis itu segera berjalan ke tempat duduknya. "Lho?" gumamnya saat melihat ada anak lain yang duduk di tempatnya. Sosok perempuan yang asing di matanya. Gadis berambut pendek berwarna kecokelatan dengan jaket olahraga yang entah mengapa ia pakai di dalam kelas. Gadis asing itu menatap Wulan saat sadar dirinya sedang diperhatikan. "Kenapa?" tanya gadis itu kepada Wulan. "Kamu siapa?" tanya Wulan sambil mendekat. Gadis itu tersenyum. "Aku Sinka! Salam kenal ya." Mau tak mau Wulan menjabat tangannya sambil tersenyum. "Aku Wulan, kamu baru di sini ya?" Sinka mengangguk. "Aku baru masuk kelas sini, aku pindahan dari kelas lain," jawab Sinka. "Kalau begitu, semoga betah ya," ucap Wulan. Akhirnya ia mengalah dan membiarkan Sinka duduk di tempatnya. Kemudian ia duduk di kursi kosong yang ada di belakang Sinka. Pelajaran pun dimulai beberapa saat kemudian. Tak ada percakapan lagi antara Wulan dan Sinka. Walau sebenarnya Wulan masih sesekali memperhatikan teman barunya itu. Begitu juga Sinka yang sudah tak sabar rasanya ingin berbicara lebih banyak dengan Wulan. Tapi suara guru yang memberikan pelajaran di depan kelas memaksa mereka untuk bungkam. Sampai akhirnya bel pergantian jam pelajaran jadi tanda untuk mereka saling buka suara. Saat sang guru sudah berjalan pergi, Sinka segera menghadap ke belakang dan menatap Wulan sambil tersenyum. "Nanti istirahat kamu sama siapa?" tanya Sinka. "Aku sendiri, aku bawa makanan dari rumah," jawab Wulan. "Bagus, kalau begitu sama aku aja ya. Mau makan di mana? Di atas?" "Atas mana?" "Di atap sekolah." Wulan tertawa pelan. "Mana boleh, nanti dimarahin kalau ketahuan." "Makanya jangan sampai ketahuan! Nanti ya, aku tunggu di depan kelas!" ucap Sinka terakhir kalinya sebelum seorang guru masuk untuk mengisi jam pelajaran berikutnya. Kegiatan belajar pun kembali dimulai. Keduanya kembali fokus mengamati layar proyektor yang jadi media mengajar sang guru. Lembar demi lembar buku dibuka, dan kata demi kata mulai yang mereka ukir di buku catatan jadi hal lumrah saat pelajaran berlangsung. Sebelum jam istirahat itu datang, semua siswa harus bersabar melewati satu setengah jam pelajaran yang tersisa.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bangat
08/04
0baguss bgttt
15/03
0seru sih, suka deh.
21/02
0Lihat Semua