logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Gosip Sang CEO

"Sebenarnya aku sedang membutuhkan seorang sekretaris, apa kamu mau?" tanya Andre.
Maudy menganggukkan kepalanya. "Mau, aku mau. Kapan aku bisa mulai bekerja?" tanyanya begitu antusias.
Maudy bagaikan mendapat undian berhadiah ratusan juta rupiah, yang dia butuhkan hanyalah pekerjaan, tapi yang dia dapat lebih dari itu. Dia juga bisa melihat pria pujaan hatinya setiap waktu.
Maudy menyadari jika dirinya tidak mungkin bisa mendapatkan pria yang sangat dia kagumi sejak dulu, karena pria itu ternyata sudah menikah dan memiliki anak.
Tapi dengan melihatnya setiap hari, itu sudah cukup baginya. Apalagi sudah bertahun-tahun dia tidak berjumpa dengan Andre semenjak kelulusan mereka, tentu saja karena Andre harus kembali ke Jogja, tempat asalnya.
Ya, Maudy tinggal di Pekanbaru, mereka saling kenal karena Andre kuliah di Pekanbaru untuk mengambil gelar S1-nya. Perasaan Maudy mulai tumbuh setelah tahun pertama dia mengenal Andre.
"Kamu bisa datang ke kantorku besok dan kamu bisa langsung bekerja."
"Apa aku tidak perlu di interview dulu?"
"Tidak usah, kamu langsung temui saja bagian HRD di sana, bilang saja aku yang menyuruh kamu."
"Makasih ya, aku merasa sangat tertolong," ucap Maudy sembari menjabat tangan Andre.
"Sama-sama," ucap Andre dengan menepiskan senyumannya.
Kenzo mulai bosan, apalagi melihat Andre yang terus mengobrol dengan Maudy.
"Ayah, ayo kita pulang. Kenzo sudah capek," Rengek Kenzo.
Andre pun menganggukkan kepalanya. "Maaf ya, Mau. Aku balik dulu," ucapnya.
Maudy tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebelum Andre pergi, tidak lupa dia memberikan nomor teleponnya kepada Maudy.
"Andai kamu belum mempunyai istri, aku pasti akan mengejarmu lagi," ucap Maudy sambil menatap kepergian Andre dan Kenzo.
***
Maudy kini sudah resmi menjadi sekretaris pribadi Andre. Bahkan gadis itu selalu ikut ke mana pun Andre pergi meeting.
Andre juga merasa terbantu dengan kehadiran Maudy, dia tidak menyangka Maudy begitu kompeten dalam bekerja. Gadis itu bahkan menyelesaikan pekerjaannya tanpa cacat sedikit pun.
"Maaf, Pak. Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?" tanya Maudy sambil berdiri di depan meja kerja Andre.
Andre tengah memeriksa berkas-berkas yang diberikan Maudy padanya. Berkas-berkas yang berisi tentang proyek kerja samanya dengan perusahaan lain.
"Tidak ada, kamu boleh kembali ke tempat kerjamu," ucap Andre tanpa mengalihkan tatapannya pada berkas-berkas yang ada di depan matanya.
Maudy menganggukkan kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Andre. Sebenarnya gadis itu sangat penasaran dengan gosip yang beredar di perusahaan itu.
Gosip tentang CEO perusahaan itu yang ternyata sudah menduda dua kali, tapi Maudy tidak langsung mempercayai gosip murahan seperti itu. Bagaimana mungkin pria sebaik dan setampan Andre bisa bercerai sampai dua kali.
Wanita mana yang dengan bodohnya melepaskan pria idaman setiap wanita itu? Maudy melihat arloji di tangannya, ternyata sudah masuk jam makan siang. Gadis itu beranjak dari kursi kerjanya, dia berniat untuk makan siang di kantin.
Saat Maudy baru setengah perjalanan, tiba-tiba dia mendengar para karyawan wanita sedang berbisik-bisik membicarakan bos mereka. Meskipun mereka saling berbisik, tapi Maudy bisa mendengarnya dengan jelas.
"Pak Andre dulu melepaskan ibu Lyn dan menikah dengan ibu Melanie, tapi sekarang pak Andre juga ditinggalkan oleh ibu Melanie."
"Apa itu karma yang diterima oleh pak Andre ya, karena telah tega meninggalkan ibu Lyn yang sangat baik dan ramah itu?"
"Kalian sudah tau belum, ternyata ibu Lyn sekarang sudah menikah dengan adiknya pak Andre."
"Aku kasihan sama pak Andre, nasibnya sungguh malang, dia harus menjadi orang tua tunggal untuk anaknya."
Seperti itulah yang dibicarakan sang biang gosip. Maudy mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar percakapan mereka. Jika dia bukan karyawan baru di perusahaan itu, mungkin saat ini dia susah menghajar habis-habisan si biang gosip itu.
"Apa mereka tidak berpikir dulu sebelum bergosip ria? Apalagi yang mereka bicarakan atasan mereka sendiri. Jika Andre sampai tau, apa yang akan Andre lakukan? Memecatnya, minta ganti rugi, atau-" Maudy membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
Gadis itu tidak ingin ikut campur urusan mereka, bahkan dia juga tidak mempercayainya kecuali dia mendengarnya langsung dari sumber yang bersangkutan.
Maudy melanjutkan jalannya menuju kantin. Sesampainya di kantin dia langsung memesan makanan, dia tidak mau duduk lama di kantin. Gadis itu akan melakukan hal yang telah dia rencanakan dari awal, yaitu makan siang, tidak ada hal lain.
Apalagi di dalam kantin itu dia merasa sangat tidak nyaman, karena suasana di kantin tak jauh beda dengan suasana para karyawan wanita menjelek-jelekkan bos mereka. Setelah selesai makan, dia kembali ke kursi kerjanya.
Waktu terus berlalu, tak terasa susah waktunya pulang. Andre keluar dari ruangannya. Andre melihat Maudy masih duduk di kursi kerjanya.
"Kenapa kamu belum pulang? Bukannya hari ini kamu tidak lembur?" tanya Andre penasaran.
"Saya sedang menunggu bapak pulang, tidak enak jika saya pulang duluan," ucap Maudy.
"Lain kali, jika sudah waktunya pulang, kamu juga harus pulang. Tidak usah menungguku pulang," ucap Andre lalu berjalan keluar.
Maudy bergegas membersihkan meja kerjanya dan menyimpan semua berkas-berkas penting ke dalam laci meja kerjanya. Setelah selesai, Maudy mengambil tas selempangnya lalu dia bergegas mengejar Andre.
Maudy terlambat, ternyata Andre sudah masuk ke dalam basement untuk mengambil mobilnya. Gadis itu kini tengah berdiri sambil menunggu kedatangan taksi yang dia pesan.
Saat Andre melajukan mobilnya keluar dari basement, dia tidak sengaja melihat Maudy sedang menunggu taksi pesanannya. Andre melajukan mobilnya dengan perlahan, dia bahkan menghentikan mobilnya tepat di depan Maudy.
Maudy sangat terkejut saat melihat Andre keluar dari mobil mewahnya.
"Mau aku antar?" tawar Andre lalu berjalan menghampiri Maudy.
"Tidak usah, Pak. Takut merepotkan bapak," tolak Maudy.
"Kalau di luar jam kerja, kamu bisa memanggilku Andre."
"Tapi-"
"Ini perintah dari atasan kamu!" Maudy menganggukkan kepalanya. Dia lalu masuk ke dalam mobil saat Andre membukakan pintu mobil untuk Maudy.
Sungguh romantis, gumamnya dalam hati.
Andre lalu masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan kantor. Dalam perjalanan Andre maupun Maudy tidak saling bicara, hanya ada keheningan di antara mereka.
Maudy sebenarnya ingin menanyakan soal gosip yang beredar di kantornya, tapi dia bingung harus memulainya dari mana.
"Andre," panggil Maudy pelan, tapi masih bisa didengar oleh Andre.
Andre menoleh sekilas lalu kembali lagi fokus ke depan. "Apa?” tanyanya.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan marah ya." Andre terpaksa harus mengiyakan permintaan Maudy.
"Apa benar kamu sudah menikah dua kali? Dan sekarang kamu menjadi duda yang kedua kalinya juga?" tanya Maudy memberanikan diri.

Komentar Buku (192)

  • avatar
    rambealisa

    orang pekanbaru kah author ini

    30/12

      0
  • avatar
    Tharisya Su

    bagus

    30/10

      0
  • avatar
    Hilda yantiNur

    bagus

    16/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru