"Ayah!" seru Kenzo lalu memeluk Andre. "Kenzo sayang, ayah sangat merindukan Kenzo. Ayah pikir Kenzo tidak bisa datang ke sini." Andre lalu menggendong Kenzo. "Anak ayah ternyata sudah semakin besar ya, padahal baru 3 bulan kita tidak bertemu," imbuh Andre. Andre menyuruh Adrian masuk. Adrian menggendong Rafael, lalu masuk ke dalam rumah. "Mama dan papa mana, Kak?" "Mereka pergi menghadiri pesta koleganya." Andre menyuruh Rafael untuk bermain bersama dengan Kenzo, sedangkan Andre dan Adrian berbincang-bincang di ruang tamu. "Bagaimana kabar Lyn?" "Baik." "Maaf ya, Dri, aku sudah merepotkan kamu. Aku sebenarnya tidak masalah bertemu dengan Lyn, tapi aku hanya tidak enak jika harus bertemu dengan orang tua Lyn. Aku merasa sangat bersalah kepada mereka, karena aku telah menelantarkan putrinya selama ini. Aku bahkan mengingkari janjiku untuk menjaga dan membahagiakan Lyn." "Sudahlah, Kak. Semua juga sudah berlalu, sebenarnya ayah dan bundanya Lyn sudah memaafkan kak Andre. Jadi kakak tidak perlu merasa bersalah seperti itu," ucap Adrian sambil menepiskan senyumannya. Andre hanya tersenyum, dia tau jika sebenarnya Adrian merasa canggung saat ini. Tapi bagi Andre, Adrian tetaplah adik kesayangannya. Semua kesalahan Adrian sudah dia maafkan, hanya saja masih butuh waktu untuk melupakan semuanya, meskipun dirinya sudah mengiklaskannya. "Oh ya, Kak. Kapan kakak akan menikah?" "Hah?! Menikah!" Andre membulatkan kedua matanya. "Iya, menikah, kenapa kakak begitu terkejut?" "Kamu ini ada-ada saja, kakak ini baru saja bercerai, bahkan kakak sudah bercerai dua kali." "Memangnya kenapa kalau sudah bercerai dua kali? Itu bukan penghalang untuk kakak bahagia." "Siapa yang mau menikah denganku, apalagi setelah dia tau statusku yang sudah bercerai dua kali. Pasti mereka akan berpikir dua kali untuk mau menikah denganku," ucap Andre sambil menggelengkan kepalanya. "Pasti ada wanita yang bisa menerima kakak apa adanya. Kakak hanya perlu membuka hati kakak." "Sudahlah, Dri. Sekarang yang menjadi prioritas aku sekarang adalah Rafael. Dia masih sangat membutuhkan kasih sayangku, aku juga tidak mau salah menentukan pilihan. Aku juga takut Rafael tidak mau menerima kehadiran seorang ibu tiri." "Apa kakak mau aku kenalkan dengan sahabatku? Mau yang masih gadis atau janda?" tanya Adrian sambil menahan tawa. "Kamu mau meledekku? Gini-gini aku masih laku, siapa sih yang tidak mau sama Andre yang tampan rupawan," ucap Andre sambil melipat kedua lengannya di dada. Adrian dan Andre tertawa lepas, sudah lama sekali mereka tidak saling bercanda gurau seperti itu. Sebenarnya mereka saling merindukan momen-momen seperti itu, tapi mereka merasa canggung untuk mengutarakannya. *** Andre sangat senang melihat Kenzo mau tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Dia bahkan juga meminta Adrian untuk menginap satu hari, tapi Adrian menolaknya. Tentu saja itu karena dia meninggalkan Lyn di Pekanbaru. Pagi seperti ini Andre berjanji akan mengajak Kenzo untuk lari-lari pagi, bahkan saat ini Andre tengah memakai sepatu pemberian Kenzo. Andre berusaha membangunkan Kenzo yang masih terlelap dalam tidurnya. "Sayang, ayo bangun. Katanya mau ikut ayah lari-lari lagi," ucap Andre sambil membelai puncak kepala Kenzo. Kenzo membuka kedua matanya secara perlahan, kedua matanya mulai mengerjap, dia menatap wajah Andre yang kini juga tengah menatapnya. "Ayo bangun, Sayang! Jadi ikut lari pagi tidak?" Kenzo pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, sekarang kamu bangun, cuci muka. Ayah tunggu di bawah." Andre berjalan keluar dari kamar Kenzo. Andre menunggu Kenzo di ruang tamu, dan tak berselang lama Kenzo turun dari tangga dan berjalan menghampiri Andre. "Ayo, Yah. Kenzo sudah siap." "Ayo." Mereka keluar dari rumah. Andre mengajak Kenzo berlari pagi mengelilingi taman. Di hari libur seperti ini taman tampak begitu ramai. Saat Andre tengah berlari dia tidak sengaja menyenggol lengan seseorang yang mengakibatkan orang itu terjatuh. "Aduh!" teriak wanita itu. "Maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Andre lalu mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Wanita itu menggenggam tangan Andre lalu berdiri. "Terima kasih," ucap wanita itu sambil menatap wajah Andre. "Maudy!" seru Andre terkejut. Ternyata wanita yang tidak sengaja dia senggol lengannya dan terjatuh adalah sahabatnya waktu kuliah. Wanita itu pun juga terkejut saat dirinya menatap wajah Andre. "Andre!" seru Maudy yang sama-sama terkejut. "Apa yang kamu lalukan di sini? Apa kabar?" tanya Maudy sambil membersihkan celananya yang kotor terkena debu. "Kabar aku baik." Maudy menatap Kenzo yang tengah berdiri di samping Andre. "Dia siapa kamu?" tanya Maudy sambil menatap Kenzo. "Oh, ini anakku, namanya Kenzo. Sayang, beri salam sama tante," ucap Andre sambil mengusap puncak kepala Kenzo. "Pagi, Tante," sapa Kenzo sambil mencium tangan Maudy. "Anak kamu tampan seperti kamu, umur berapa dia sekarang?" tanya Maudy. "Kenzo sekarang berumur 6 tahun," sahut Andre. "Sekarang di mana istri kamu? Aku ingin tau, siapa wanita yang berhasil menarik hati sang pangeran es ini," goda Maudy. Andre hanya tersenyum, dia dulu memang terkenal dengan sebutan pangeran es. Sebutan itu tentu dia dapat karena sifatnya yang begitu dingin dengan semua cewek yang ingin mendekatinya. "Sayang, kalau boleh tau, di mana mama kamu?" tanya Maudy kepada Kenzo. "Bunda ada di Pekanbaru," sahut Kenzo dengan polosnya. "Em, begitu ya," ucap Maudy sambil menganggukkan kepalaya. "Maaf, Mau. Aku harus melanjutkan lari pagi, nanti keburu siang, kasihan Kenzo," ucap Andre yang mulai merasa tidak nyaman. "Boleh aku gabung dengan kalian? Kebetulan aku hanya sendirian," pinta Maudy. Andre merasa tidak enak hati jika menolak permintaan Maudy, mau tidak mau Andre menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya melanjutkan lari pagi mereka dengan mengelilingi taman. Tentu saja Maudy selalu bertanya tentang kehidupan Andre. Andre hanya menjawab seperlunya saja. Dia memang kenal dengan Maudy karena dia dulu satu kelas dengannya, tapi dia tidak terlalu akrab dengan gadis itu. Maudy diam-diam selama ini menyukai Andre, tapi dia hanya memendamnya, karena dia tidak ingin terluka nantinya. Gadis itu tau betul bagaimana watak Andre. Andre dulu adalah pemuda yang sangat sulit untuk didekati oleh siapapun. Tetapi ketampanannya memikat hati siapa saja yang menatapnya. "Em, boleh aku meminta nomor teleponmu?" tanya Maudy ragu-ragu. "Untuk apa?" tanya Andre penasaran. Dia tidak merasa akrab dengan Maudy, jadi dia tidak harus memberikan nomor teleponnya kepada Maudy. "Hanya untuk jaga-jaga, siapa tau aku membutuhkan bantuan kamu. Sebenarnya aku baru pindah ke sini satu bulan yang lalu," ucap Maudy dengan menepiskan senyumannya. "Bantuan apa yang kamu maksud?" tanya Andre penasaran. "Sebenarnya aku sedang membutuhkan pekerjaan, apa kamu bisa membantuku? Apa ada lowongan pekerjaan di perusahaanmu?" Andre sejenak terdiam, kebetulan sekali, sebenarnya dia membutuhkan seorang sekretaris karena sekretaris lamanya kini sedang cuti karena melahirkan.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
orang pekanbaru kah author ini
30/12
0bagus
30/10
0bagus
16/09
0Lihat Semua