"Apakah, apakah janin itu Dhira Bun?" kuberanikan bertanya setelah lama kita berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Selain pesan yang disampaikan itu, ayah Rian juga berpesan, jika benar anak yang lahir adalah bayi perempuan seperti keinginannya, maka berilah nama Andhira Putri Wijayanto. Benar sayang, kamulah janin itu, kamu anak kandung Bunda sayang, maafin Bunda sayang, maaf …," ucap Bunda diiringi tangisnya. Mendengar jawaban Bunda, aku merasakan gemuruh dalam dada ini. Rasa senang akhirnya aku tau siapa orang tua kandungku, diiringi rasa kecewa karena aku lahir dari sebuah kesalahan satu malam. Namun, setiap anak tidak dapat memilih dari rahim siapa dia lahir kan? Tidak dapat memilih Ayah dan Ibu mereka. Aku hanya berusaha meredam rasa kecewaku, serta memupuk rasa bahagia yang kurasakan saat ini. "Sayang, maafkan Bunda Nak, maaf kan Bunda yang tidak berani berterus terang Nak," ucapan dan genggaman tangan Bunda di tanganku menyadarkanku dari lamunanku. "Bunda …, bunda tahu Dhira tidak bisa marah ke Bunda, maaf Dhira yang termenung tadi Bunda, Bunda tak perlu minta maaf, Bunda tidak salah. Jujur Bunda, jauh di lubuk hati terdalam, Dhira ingin sekali bertemu dengan orang tua Dhira, namun sekarang setelah Dhira tahu kebenarannya, Dhira merasakan sedikit rasa kecewa bercampur dengan rasa bahagia, akhirnya do'a Dhira selama ini dikabulkan Allah," jawabku sambil menunduk memperhatikan foto Ayah Rian dan Bunda Kasih saat masih muda dulu. "Bunda lega sudah menceritakan semuanya, amanat Ayah mu sudah Bunda tunaikan semua. Bunda paham dengan perasaan mu sayang. Ingatlah Bunda dan Ayah selalu menyayangimu, apapun yang terjadi di masa lalu tidak merubah rasa sayang untuk mu sayang, jangan pernah berfikir bunda dan ayah menyalahkan kehadiranmu, hanya karena kamu hadir dari kesalahan satu malam, tidak sayang, Ayah dan Bunda benar-benar menyayangimu, dan jangan pernah menyalahkan dirimu apapun alasannya," ucap Bunda sambil memelukku. Entah mengapa tangisku pecah saat merasakan pelukan Bunda, tangis yang tak dapat kutahan, tak dapat ku hentikan, tangis yang keluar dengan sendirinya tanpa aku minta. Kupeluk erat Bunda Kasih, Bunda ku sendiri. Ibu kandungku yang selama ini aku harapkan kehadirannya, ternyata adalah orang yang selalu ada disampingku, orang yang selalu mendukung semua keinginanku, aku benar-benar bersyukur. Akupun tak menyalahkan Bunda yang bungkam dan mengarang cerita bahwa aku anak yang dia temukan di pintu panti ini. Aku paham Bunda hanya menjalankan amanat dari Ayah kandungku, walaupun aku tak habis pikir, apa yang membuat Ayah merahasiakan keberadaan ku ini, menyembunyikan identitasku. Tapi, aku percaya Ayah Rian pasti punya alasan dan mungkin itu juga untuk membuatku selalu aman, atau beliau ingin aku menjadi anak yang kuat dan selalu ikhlas menerima keadaan. Ya aku yakin Ayah pasti melakukan ini semua untuk kebaikan ku. Hampir satu jam aku menangis diperlukan Bunda. Rasa lega memenuhi ruang hatiku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya membuat lega. Kupandang wajah Bunda yang tersenyum hangat. "Terimakasih Bunda, terimakasih atas semuanya Bunda, terima kasih tidak membuang ku, terimakasih telah membesarkan ku dengan ikhlas dan penuh kasih sayang," kurasakan jari telunjuk Bunda menyentuh bibirku. "Jangan katakan yang tidak-tidak sayang, Bunda selalu menyayangimu, tidak ada rasa penyesalan di hati Bunda, kamu adalah kenangan terindah yang Bunda miliki dari Ayahmu," Malam itu, kami habiskan sisa malam dengan senyuman, tidak ada lagi tangisan. Bunda ceritakan semua tentang Ayah. Aku mendengar kan dengan sesekali menggodanya. "Ayah, Dhira merasakan kehadiran Ayah malam ini, terimakasih untuk semuanya Ayah, Dhira sayang Ayah," batin ku. "Kamu tahu sayang, Ayahmu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab, dia juga tipe laki-laki yang romantis. Ayahmu sangat menginginkan seorang putri, karena sahabatnya sudah dikaruniai seorang putra, Ayah ingin anaknya nanti akan menikah dengan anak sahabatnya, yaitu Rayyan. Dan ternyata keinginannya terwujud, dia mempunyai putri yang teramat cantik, dan akan menikah dengan putra sahabatnya. Mungkin besok atau lusa, Papa Rehan akan kesini, ada beberapa hal yang harus dibicarakan, masih tentang kamu dan Ayah Rian mu itu. Istirahat lah, malam sudah sangat larut sayang," perintah Bunda. "Selamat tidur Bunda," ucapku sambil mengecup pipi Bunda, lalu beranjak dari ruang kerja Bunda. Malam ini hatiku terasa sangat lega, mungkin karena keingintahuanku tentang orang tua kandungku sudah aku ketahui. Kurebahkan diri ini dikasur, kupandangi langit-langit kamarku ini, dulu sempat aku berfikir, kenapa kamarku adalah kamar terluas kedua setelah kamar Bunda? Dan sekarang aku tahu alasannya. Mungkinkah anak panti yang lain tahu kebenaran ini? Apa tanggapan mereka ya kira-kira setelah tahu aku anak kandung Bunda?. Tiba-tiba teringat akan Ranu, bagaimana reaksi dia, atau mungkin dia sudah mengetahui sejak lama? Bagaimana juga tanggapan Mas Rayyan, apakah dia sudah mengetahui siapa aku sebenarnya sebelum datang melamar tadi? Huft …, sungguh aku penasaran. Pagi ini, rasanya sedikit berbeda, karena aku sudah mengetahui statusku disini. Ternyata anak-anak panti sudah mengetahui kalau aku adalah anak kandung Bunda, akupun tak tahu sejak kapan mereka mengetahuinya. Mungkin sudah lama, mengingat tidak ada yang merasa iri denganku yang mendapatkan fasilitas yang berbeda dengan mereka. Mungkin sahabatku pun sudah mengetahuinya. Tepat pukul 09.00 terdengar suara deru mobil dari arah halaman depan panti. Ternyata Papa Rehan dan Mas Rayyan ditambah seorang pria yang aku sendiri tak tahu siapa itu. "Assalamualaikum …," Mas Rayyan mengucap salam. "Waalaikumsalam …, ayo mari masuk," Bunda menjawab salam dan mempersilahkan tamunya masuk, kemudian terdengar suara Bunda memanggil namaku. Aku pun beranjak keluar menemui para tamu itu. Kulihat senyum manis Mas Rayyan, kualihkan pandanganku darinya. "Andhira sudah tahu kebenarannya kan Mbak?" Papa Rehan bertanya dengan mimik serius. "Sudah, Mbak sudah cerita semuanya Dek," jawab Bunda. "Baiklah, kita langsung saja kalau begitu. Sebelumnya kenalkan Andhira, ini Pak Pram, beliau pengacara perusahaan yang dirintis Papa dan Ayahmu, kamu sudah tahu kan tentang perusahaan?" Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan. "Bagus kalau begitu, jadi kita langsung ke intinya saja. Mungkin selama ini, kamu tahunya kami adalah donatur utama di panti asuhan ini, padahal sebenarnya panti ini tidak pernah mendapatkan donatur dari siapapun selama ini," Papa Rehan menjeda penjelasannya. Aku sedikit mengernyitkan dahi, jadi darimana kita dapat uang? Bunda tidak bekerja dari dulu. "Kamu bingung Dek?" tanya Mas Rayyan kepadaku dan hanya kujawab dengan anggukan kepala. "Ayah Rian punya saham di perusahaan yang dikelola Mas, Dek." jelas Mas Rayyan. "Biar Pak Pram yang menjelaskan, silahkan Pak Pram," sela Bunda. "Jadi begini Mbak Andhira, saya panggil Mbak ya, biar pas sama Mas Rayyan," Pak Pram mulai bersuara dan aku tanggapi dengan anggukan. "Tujuh puluh persen saham yang ada di perusahan adalah milik dua orang, yaitu Pak Rian Wijayanto Almarhum, dan Pak Rehan yang sudah dialihkan ke Mas Rayyan ini, sisanya tiga puluh persen adalah milik beberapa orang rekan kerja yang bekerja sama dengan perusahaan. Nah tujuh puluh persen ini, dibagi menjadi empat puluh persen milik Mas Rayyan, dan tiga puluh persen milik Pak Rian. Nah, keuntungan dari 30% saham inilah, yang digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan di rumah panti ini. Sekarang, karena Mbak Andhira telah mengetahui kebenarannya, maka akan dilakukan pengalihan aset 30% ini menjadi milik Mbak Andhira seutuhnya, sesuai dengan amanat Almarhum Pak Rian." Pak Pram menjelang dengan singkat dan gamblang. "Saya menyerahkan saham itu untuk panti ini Pak, saya merasa sudah cukup, bahkan lebih dari cukup dengan apa yang saya punya sekarang, jadi biarlah tetap seperti sekarang ini," jawabku spontan tanpa pikir panjang dan ragu. Aku merasa tidak berhak atas itu, dan apa yang aku miliki memang sudah lebih dari cukup. "Masya Allah …, bersyukur Mas Rayyan dapat istri seperti Mbak Andhira ini," seru Pak Pram yang ditanggapi dengan acungan jempol oleh Mas Rayyan. "Tapi, tetap saja saya harus mengalikan kepemilikan aset ini, jika pun nanti Mbak Andhira ingin memberikan semua keuntungan ke panti ini, itu sudah hak Mbak Andhira," terang Pak Pram. "Haruskah?" Aku bertanya dengan serius. "Akan lebih baik seperti itu Dek, walaupun keuntungannya nanti akan kamu berikan ke panti, itu semua sudah hak mu," sahut Mas Rayyan. Aku mengarahkan pandanganku ke Bunda, mencari jawaban dari Bunda yang sedari tadi hanya diam. "Ikuti kemauan Ayah sayang," ucap Bunda. "Baiklah, aku harus bagaimana?" tanyaku setelah mendapat jawaban dari Bunda. "Hanya perlu tanda tangan di berkas pengalihan ini saja Mbak, silahkan." Pak Pram menjawab sambil menyodorkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Tidak membutuhkan waktu lama, semua proses penandatangan selesai, Mas Rayyan beserta Papa Rehan dan Pak Pram pun pamit undur diri. "Jangan rindukan aku, tunggu sampai kita halal," goda Mas Rayyan sebelum dia menaiki mobil. Aku hanya tersenyum, kurasakan pipiku memanas. "Ciee yang lagi kasmaran," goda Lani yang baru saja memarkirkan sepeda motornya. "Abis ngampus Dek?" tanyaku tak menanggapi godaannya. "Iya Kak, ngumpulin skripsi, minggu depan aku Yudisium Kak, kemungkinan akhir semester ini aku wisuda," jawabnya dengan riang. "Akhirnya selesai juga, mau lanjut S2 atau gimana nih?" tanyaku sambil merangkulnya dan mengajaknya duduk di kursi ruang tamu. "Lanjut Kak, tapi sambil kerja, aku udah ngelamar jadi dosen di kampus sebelah, dan Alhamdulillah diterima Kak," jawabnya tak kalah antusias. "Lani mau jadi dosen?" tanya Bunda tak kalah antusias. "Huum Bun, kan kemarin sudah bilang ke Bunda," sahut Lani. "Kirain Bunda becanda aja, tahunya serius. Tapi Bunda bangga Lani bisa, makan malam nanti kita umumin ke adik-adik ya, sekarang Bunda mau masak banyak, itung-itung merayakan keberhasilan Lani," ucap Bunda tanpa ada yang bisa menyela apalagi membantah. Aku dan Lani hanya bisa mengedikan bahu. "Ya begitulah Bunda," ucapku lirih. "Aku ga nyangka Kak, aku kira hanya Kakak dan Kak Ranu yang bakalan dirayakan pencapaiannya sama Bunda, ternyata aku juga, dulu aku iri kalau lihat Kak Dhira, tapi setahun yang lalu, aku tahu kalau Kak Dhira anak kandung Bunda, jadi ga terlalu iri lagi, adik-adik yang lain juga," ucapan Lani mengagetkan ku, jadi mereka sempat iri? Dan sudah setahun mereka tahu kebenaran ini? "Ranu tahukah?" tanyaku iseng dan ditanggapi anggukan, menandakan bahwa Ranu pun tahu siapa aku. "Darimana tahu? Bunda cerita?" cecarku lagi, Lani menggeleng lalu menjawab, "Taunya ga sengaja dengar yang diomongin Bunda sama Tante Andin, maaf Kak …, Bunda ga mau Kakak tahu waktu itu." "Tak masalah santai aja, sekarang ga usah iri, setiap adik-adik Kakak naik kelas, juara kelas atau apapun itu yang membanggakan, kita akan buat perayaan, bilang itu ke adik-adik nanti, biar mereka lebih giat belajar dan berusaha, sana istirahat," perintahku dan Lani pun langsung menuju kamarnya. Aku mencoba telepon sahabatku, Ranu ini benar-benar membuatku jengkel hampir seminggu ini dia tidak menghubungiku. Berulang kali ku coba, tetap tidak tersambung, yah sudahlah. Makan malam hari ini begitu riuh, adik-adik semua berkumpul, mereka berjumlah 12 orang, dan kesemuanya perempuan. Usia mereka beragam paling muda 10 tahun dan paling besar adalah Lani. Di makan malam ini juga aku memberi tahukan mereka, kalau kita akan merayakan semua bentuk prestasi yang telah dicapai oleh adik-adik panti, sehingga mereka tidak merasa dianak tirikan. Dan ternyata, hal ini memacu semangat mereka untuk berusaha dan belajar lebih giat lagi.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
mantap
01/03
0mantappppp
24/07/2025
0bagussss
24/07/2025
0Lihat Semua