logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Ku Yakinkan Hatiku Bagian Enam

Pukul 22.00 WIB keluarga Mas Rayyan kembali ke kediaman mereka. Aku masih termangu di teras rumah panti. Sudah benarkah keputusanku ini? Dua Minggu kedepan aku akan menjadi seorang istri. Menurutku memang terlalu cepat, namun lagi-lagi Mama Andin tidak mau mengulur waktu lama, tidak baik menurutnya dan beliau terlalu khawatir akan ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. Aku sendiri bingung, apa yang mereka khawatirkan, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
"Andhira …," sapaan dan sentuhan lembut di pundakku membubarkan segala lamunanku.
"Ya Bunda, Bunda belum tidur?" jawabku sambil menggeser tubuhku memberikan ruang untuk Bunda duduk.
"Apa yang kamu pikirkan Nak, apakah tentang pernikahan mu?" tanya Bunda. "Sedikit banyak iya Bun, tapi bukan sesuatu yang pantas Bunda khawatirkan kok," jawabku sambil mengulas senyum. "Cerita sama Bunda, tanyakan apapun yang mengganjal di hatimu itu, sebisa mungkin Bunda akan jawab," ucap Bunda dengan lirih.
"Bunda …, apa Bunda menyembunyikan sesuatu?" tanyaku hati-hati.
"Mungkin memang sudah saatnya kamu tahu Nak, sebelum Bunda cerita, tolong berjanjilah jangan benci Bunda," mohon Bunda dengan mata berkaca-kaca.
"Dhira janji Bun, apapun itu Dhira terima dengan ikhlas," jawabku sambil menggenggam lembut tangan Bunda.
"Ikut Bunda ke ruang kerja Bunda Nak." Ku Ikuti langkah pelan Bunda menuju ruang kerjanya.
Bunda mempersilahkan aku masuk, menggiringku duduk di depan kursi kerjanya. Kulihat beliau mengambil sebuah album foto kusam, namun sepertinya sangat terawat.
"Sayang lihat, ini adalah Bunda, Mama Andin, Papa Rehan dan ini … Ayah Rian." Bunda menjelaskan siapa saja yang berada di foto lawas itu, suaranya bergetar menahan tangis, siapa Rian?
"Bunda tahu kamu pasti bertanya siapa Rian? Rian …, Rian Wijayanto, pemilik rumah panti asuhan ini, jangan Nak, jangan pernah bertanya sebelum Bunda selesai," cegah Bunda saat tahu aku ingin menyela ucapannya dengan pertanyaan. Bunda menghembuskan nafas berat. "Kamu tau sayang, dulu panti ini tidak disini, namun di sebuah bangunan bekas gudang yang sudah tidak berfungsi. Gudang tua yang dimiliki keluarga Papanya Rehan, atau Kakek dari calon suamimu. Mama Andin dan Bunda dulu tinggal disana. Papa Rehan merupakan anak tunggal, dia kesepian dirumah besarnya, jadi dia minta ke orang tuanya untuk membangun sebuah panti di bekas gudang itu. Singkat cerita gudang tua itu disulap menjadi sebuah rumah mungil yang nyaman untuk tempat tinggal. Bunda merupakan anak yang pertama menempati rumah itu. Umur Bunda saat itu 5 tahun. Ibu Bunda meninggal saat melahirkan Bunda. Sedangkan Ayah Bunda, meninggal karena kecelakaan kerja saat merenovasi gudang yang dijadikan rumah panti itu, akhirnya Bunda diasuh di panti ini. Kemudian datang Mama Andin, Bunda masih ingat, bayi merah yang menangis kencang di depan pintu, saat itu Bunda sedang bermain dengan Papa Rehan. Waktu terus berjalan, hingga suatu saat Bunda bertemu dengan Ayah Rian," Bunda berhenti bercerita, matanya memerah menahan tangis.
"Bunda, jangan dipaksa jika Bunda tak sanggup," ucapku sambil menggenggam erat telapak tangannya.
"Tidak Nak, kamu harus tahu sekarang, Bunda udah berembuk dengan Mama Andin, harus secepatnya kamu tahu Nak, Bunda lanjutkan ya sayang," izin Bunda, dan kujawab dengan sebuah anggukan kepala, sungguh aku sedikit tak tega, namun penuh rasa penasaran.
"Kita bertemu dengan Ayah Rian, saat beliau sekeluarga dipindahkan tugaskan ke kota ini. Mereka sekeluarga mengontrak rumah di sebelah panti. Orang tua Ayah Rian sama-sama anak panti asuhan dulunya, jadi mereka sangat senang tinggal berdampingan dengan panti. Waktu terus berjalan, kami berempat tumbuh bersama, hingga suatu hari orang tua Ayah Rian membeli rumah ini nak, rumah yang kamu tempati dari kecil. Kita berempat masih terus bersama walaupun jaraknya sudah lumayan jauh. Setelah lulus kuliah, Papa Rehan dan Mama Andin menikah, setahun kemudian lahirlah Rayyan. Sedangkan Bunda, menjalin kasih dengan Ayah Rian, ah bunda sungguh malu menceritakan ini," kulihat pipi Bunda bersemu merah.
"Jangan menatap Bunda seperti itu, Bunda dan Ayah Rian menjalin kasih, saat itu Ayah Rian sudah bekerja di sebuah sekolah swasta di kota ini, saat Rayyan berusia satu tahun, Bunda dan Ayah Rian bersepakat untuk menikah. Malam itu, malam yang selalu Bunda ingat, malam saat Bunda dan Ayah Rian khilaf. Akibat kejadian malam itu, Bunda mengandung, mengandung seorang anak. Rencana pernikahan Bunda pun dipercepat, semua serba cepat. Namun naas, siang itu …," Bunda tidak melanjutkan ceritanya, air mata sudah mengalir dengan deras di pipinya. Sakit aku membayangkan apa yang terjadi sesungguhnya, aku tak mampu berkata-kata, semua bayangan aku buang jauh-jauh dari kepalaku.
Kutunggu dengan sabar, sambil menangkan Bunda. Ku usap lembut punggung Bunda. Tangisnya mulai berhenti, nafasnya mulai normal kembali.
"Bunda lanjutkan sayang, maaf menunggu lama, siang itu harusnya Bunda melangsungkan pernikahan, namun naas mobil yang dikendarai Ayah Rian dan orangtuanya tertabrak sebuah kontainer pengangkut barang. Mobil itu ringsek, kedua orang tua Ayah Rian meninggal ditempat kejadian, sedangkan Ayah Rian masih sempat mendapatkan pertolongan di ruang sakit saat itu. Bunda syok mendapat kabar itu, Bunda pingsan dan mengalami pendarahan, untung saja Bunda tidak mengalami keguguran saat itu. Dengan pikiran dan kondisi fisik yang tak begitu baik Bunda menyusul Papa Rehan dan Mama Andin ke rumah sakit untuk menemui Ayah Rian. Kondisi Ayah Rian masih sadar saat itu, walaupun terluka parah. Kamu tau Nak, Ayah Rian menguat kan dirinya untuk menyampaikan pesan terakhir untuk Bunda dan anaknya, Ayah Rian berpesan, kalau Bunda harus menempati rumah ini, menjadikan rumah ini panti asuhan menamai panti asuhan dengan nama Bunda, dan menjaga anak yang dikandung Bunda, merahasiakan identitas nya sampai dia menemukan jodohnya, dan berharap jodohnya adalah Rayyan," Bunda menghentikan ceritanya, menatapku dengan ekspresi yang membingungkan, seperti ada rindu, haru, rasa bersalah. Aku merasa mulai mengerti arah cerita ini, dari penjelasan Bunda, aku merasa akulah janin yang dikandung Bunda saat itu. Tapi mungkinkah? Mengingat ekspresi orang tua Mas Rayyan saat tahu akulah gadis yang menarik perhatian anaknya, disambungkan dengan cerita Bunda tentang masa lalu, membuatku sedikit yakin kalau akulah janin yang dikandungan Bunda kala itu. Jika benar, berarti aku bukan anak buangan. Namun tetap saja aku anak diluar nikah, kenyataan yang membuatku sedikit bersedih. Walaupun sedikit bersedih, tetap saja aku akan merasa bahagia jika memang benar janin itu adalah aku. Aku selalu berjanji dalam hati, tidak akan membenci orang tua kandungku. Bagaimanapun keadaan mereka, dan alasan-alasan mereka dengan begitu tega membuangku dulu.

Komentar Buku (271)

  • avatar
    FatinHabil

    mantap

    01/03

      0
  • avatar
    Shela

    mantappppp

    24/07/2025

      0
  • avatar
    Nisya ArRahma

    bagussss

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru