logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7. Secangkir Hot Chocholate

🍁🍁🍁
Aira meletakkan buku yang sedang dibacanya ke meja cafe lalu mengaduk cokelat hangat yang telah lama tersaji dihadapannya. Ia menghela napas berat, kehidupan yang dijalaninya saat ini sangat menghimpit perasaannya. Sejak kejadian di ruang kontrol itu, ia selalu berusaha menghindari Bisma saat di rumah atau di kantor. Entah mengapa, lelaki itu selalu ada di manapun ia berada.
Aira menyesap coklatnya, menghidu aroma yang menguar pada minuman itu, manis. Cokelat selalu menjadi pilihan saat ia merasa gundah gulana. Aira melirik jam yang melingkar di tangannya, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, ia seharusnya ada di rumah saat ini. Akan tetapi, saat ini ia tak ingin mengingat hal yang berhubungan dengan keluarga Wijaya. Ia ingin menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri.
Ia merasa kesepian, bahkan kenangan kedua orang tuanya sendiri hampir tak membekas di ingatannya. Ia hanya mengingat hal manis tentang kakek dan neneknya. Tak sadar air mata bergulir di pipinya, ia terisak perlahan. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan sapu tangan kehadapannya. Aira mendongak cepat melihat siapa yang memberinya sapu tangan.
"Pak Indra ...." Suara Aira tercekat, dengan cepat ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Lelaki yang disapanya lalu duduk di kursi depan Aira.
"Nih, pakai. Lagian ngapain kamu nangis di sini? Cari perhatian, ya? Biar viral gitu?" cecar Indra.
"Atau jangan-jangan, kamu kangen aku?" sambung Indra dengan mata yang semakin menyipit.
"A-apa?" Aira tergagap dengan rentetan kalimat dari mulut atasannya itu.
Aira tak menyangka lelaki tampan dihadapannya ini memiliki mulut layaknya wanita, cerewet.
"Hei, Nona. Mulutnya di tutup, aku memang tampan dari lahir," Indra menyugar rambutnya dihadapan Aira yang tercegang dengan kehadiran Indra yang tiba-tiba.
Mendengar ucapan Indra, Aira menjadi kesal. Ia segera beranjak pergi dari cafe dengan perasaan malu. Indra yang terkejut tak menyangka tindakan Aira ingin segera mengejar Aira, terapi pelayan restoran menahannya karena rupanya Aira lupa membayar minumannya. Indra segera menyusul Aira setelah membayar minuman Aira. Akan tetapi, Aira telah berhasil naik ke atas Busway dan meninggalkan Indra dengan buku di tangannya.
Aira yang kesal dengan perbuatan Indra tersadar di kursi bus yang membawanya pulang. Tangannya masih menggenggam sapu tangan milik Indra, ia lalu buru-buru memeriksa tasnya. Aira menepuk jidatnya sendiri karena buku novel kesayangannya terlupa di cafe. Ia semakin merasa bersalah tatkala mengingat jika minuman di cafe belum terbayar.
Ia merosotkan tubuhnya ke kursi bus. Semua kejadian hari ini membuatnya tidak fokus. Bunyi pesan yang masuk di gawai mengalihkan perhatiannya.
[Kamu berutang hot chocolate sama aku.]
Wajah Aira menjadi pias, ia yakin pesan dari nomer baru itu berasal dari Indra. Ia segera membalas pesan itu, ia tak ingin dipecat hanya karena hot coklat.
[Saya akan membayarnya di kantor besok, Pak. Saya mohon maaf sebelumnya,] balasnya disertai emoticon tangan bersidekap.
[Akan ku tagih kapan-kapan.]
Aira membaca balasan dari bosnya yang dilengkapi emoticon love diakhir dan tak berniat membalasnya lagi. Ia menyandarkan tubuh di kursi bus, sebentar lagi tiba di rumah keluarga Wijaya. Ia butuh untuk menenangkan pikiran sejenak sebelum sampai.
Halte tempatnya turun akhirnya tiba, gegas Aira melangkah menuju rumah Wijaya. Jarak Halte dan gerbang rumah memang tidak terlalu jauh, satpam yang telah mengenalnya pun langsung membukakan pintu gerbang untuknya. Aira berjalan perlahan menuju pintu rumah utama. Bangunan megah dihadapannya terasa berdiri pongah. Ia sangat merindukan rumah mungil milik neneknya. Entah kapan ia bisa kembali ke sana.
"Assalamualaikum ...," ujar Aira, lirih. Ia tau tak akan ada yang membalas salamnya. Semua penghuni rumah telah berada dikamar masing-masing.
Aira memasuki rumah dengan perlahan-lahan, ia tak ingin menimbulkan keributan hingga membuat orang-orang rumah terbangun di waktu selarut ini. Setelah sampai di kamarnya ia kemudian segera membersihkan diri dan naik ke tempat tidur. Tak butuh berapa lama, Aira akhirnya terlelap.
🍁🍁🍁
"Aku akan menikah sesuai keinginan Papa."
Ucapan Bisma membuat Aira menoleh pada lelaki yang duduk dihadapannya. Saat ini ia memang sedang berada di ruang keluarga bersama Orang tua Bisma. Pagi tadi ia di minta oleh Rukmini untuk menemuinya di ruang tengah. Saat ia datang, di ruang tengah telah ada Bisma beserta kedua orang tuanya.
"Tapi, aku tak mau ada acara buat pernikahanku. Pernikahan itu harus dilakukan di rumah ini. Cukup orang rumah ini saja yang tau!" sambung Bisma kembali.
Wajah orang tua Bisma yang tadinya sumringah mendengar keputusan anaknya menjadi kalut.
"Bisma! Maksud kamu apa?!" seru Hendarto dengan suara yang mulai meninggi.
"Aku sudah ingin memenuhi permintaan Papa, jadi Papa juga harus menerima segala keputusanku," jawab Bisma dengan sengit.
"Pah, ikuti saja mau Bisma, yang penting dia sudah bersedia menikah dengan Aira," ucap lembut Rukmini menenangkan suaminya.
"Satu hal lagi, aku ingin setelah menikah, kami tinggal di apartemenku."
"Apa yang kau rencanakan, Bisma? Kalau kau ingin menyiksa Aira lebih baik pernikahan ini tidak usah dilaksanakan!" ujar Hendarto, tegas. Ia tahu bagaimana sifat anaknya.
"Baiklah. Bagus kalau begitu" sahut Bisma dengan pandangan yang menusuk pada Aira.
Aira mengidik dengan tatapan yang mengintimidasi dari Bisma. Ia teringat ucapan Bisma sesaat sebelum keluar dari ruang kontrol sore itu.
"Lu harus mendukung kemauan Gue sama Papa, kalau tidak Lu akan kehilangan rumah nenek kesayanganmu! Gue bisa saja menjualnya, rumah itu dibangun dari uang Bokap Gue, jadi Lu tidak berhak sama sekali dengan bangunan itu!"
Ancaman itu membuat Aira menciut, ia tak mampu membayangkan jika rumah peninggalan neneknya akan hancur dan rata menjadi tanah tanpa menyisakan kenangan baginya.
"Okay! Tak ada pernikahan antara Kamu dan Aira!" ucapan Hendarto mengembalikan kesadaran Aira.
"T-tunggu, Pak. Saya ... saya bersedia hidup di apartemen bersama Mas Bisma," ujar Aira. Mendengar hal itu Bisma tersenyum lebar.
Mendengar hal itu, orang tua Bisma menoleh menatap Aira dengan lekat.
"Kamu ... benar tidak masalah tinggal berdua di apartemen, Nak Aira?" ujar Rukmini terdengar khawatir.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa," ucap Aira. Ia menunduk saat melihat Bisma menyeringai menyeramkan padanya.
Aira merasa ia telah masuk ke dalam perangkap yang akan membuatnya mati secara perlahan. Akan tetapi, tak ada yang bisa ia perbuat demi rumah neneknya yang sangat berharga.
"Baiklah, jika Aira menerima keputusanmu, Papa akan mengikutinya." Hendarto menghela napas panjang.
"Pernikahan kalian akan kita laksanakan secepatnya," putus Hendarto lagi.
Bisma yang mendenga ucapan papanya segera beranjak meninggalkan ruang keluarga. Di ruangan kini hanya tersisa Aira dan kedua orang tua Bisma. Ucapan-ucapan Rukmini dan Hendarto tentang persiapan pernikahan tak terlalu ia simak. Aira hanya mengangguk dan menuruti semua keinginan orang-orang yang menurutnya berjasa dalam kehidupannya.
🍁🍁🍁
"Gue akan menikah, secepatnya," ujar Bisma. Ia kemudian menjenguk strawberry cocktail miliknya.
Indra yang mendengar hal itu kemudian menoleh menatap lekat wajah sahabatnya.
"Kapan?" tanya Indra.
"Secepatnya. Mungkin besok, lusa, paling lambat minggu depan," jawab Bram dengan cuek.
"Lu mau nikah atau pergi liburan, Bro? Hehehe."
"Mungkin seperti itu.
"Gue cuma mau ngomong. Pernikahan itu sakral, Lu jangan pernah permainkan, Bro," sahut Indra, bijak.
Bisma yang mendengar hal itu hanya terdiam. Ia tak pernah ingin mempermainkan pernikahan, hanya saja menikah dengan orang yang tiba-tiba hadir di kehidupannya terasa sangat berat. Belum lagi hatinya masih terisi penuh oleh perempuan lain.
"Gue cuma bisa bilang selamat, Bro. Lu jangan pernah nyakitin hati anak orang, ntar kualat. Hahaha," sambung Indra menyesap Moktailnya. Ia mengamati buku novel terjemahan yang berada ditangannya. Sebuah novel terjemahan dengan alur cerita rumah tangga yang manis.
"Lu baca novel? Tumben," sahut Bisma saat melihat buku dalam genggaman Indra.
Indra hanya tersenyum kecil. Ia merasa tak senang jika membagi cerita tentang Aira pada Bisma.
Bisma yang mengamati perubahan wajah sahabatnya akhirnya mampu menebak jika sahabatnya sedang tertarik dengan seseorang.
"Siapa namanya?" tanya Bisma.
"Sarah," sahut Indra cepat. Ia lalu mengatupkan bibirnya dengan cepat.
"Nama yang bagus," ujar Bisma sembari terkekeh.
Indra mengutuk kebodohannya yang tak mampu menjaga rahasia dari sahabatnya. Ia tersenyum menatap buku di tangannya, terkenang dengan seraut wajah manis yang mulai menggelitik sudut hatinya.
***

Komentar Buku (18)

  • avatar
    ZaskiaKia

    bgs😋

    23/08/2024

      0
  • avatar
    MulyaniNeng

    sangat tidak masuk akal

    04/05/2023

      0
  • avatar
    AlfhiaNabila

    Sangat menyedihkan 🥹

    28/12/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru