logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Pertanyaan

POV; Salsa
Setelah ke kamar mandi saat itu, aku kembali ke meja cafe yang ada Mama, Papa sama Dewi menikmati makanan.
Aku melihat para pegawai cafe sibuk meracik makanan dan minuman yang dipesan orang-orang yang berkrumun banyak disana.
Sepertinya banyak yang tertarik untuk menikmati hidangan yang ada di cafe ini.
Mereka semua datang diwaktu yang sama seperti sedang berjanji tempat untuk saling bertemu di cafe ini.
Dulu aku kira itu, cafe cuma minum saja. Tapi ternyata beberapa cafe juga ada yang menyediakan makanan ringan. Seperti makanan khas dari daerahnya tersendiri.
Saat itu pikiranku melayang kemana-mana. Melayang ke sebuah tempat lorong, ketika aku menabrak Mas Angga dari arah timur.
Rasanya aku ingin tersenyum-senyum sendiri, mengingat bayangan mata Mas Angga yang sedikit lebar seperti masih tergambar begitu jelas. Senyum tipisnya seperti tiada mau memudar.
Aku tidak tahu Mas Angga itu keren apa tidak, namun yang aku pandang adalah penampilannya cukup berbeda dari yang lain.
Aku baru tahu namanya, ketika Mas Angga menghampiri mejaku. Tepat saat aku mulai memakan makanan khas Malang yang tepat berada di depanku.
Papa sama mama sepertinya terkejut, ketika ada seseorang yang mendadak datang menhampiri meja lalu memberikan sebuah kartu nama tentang pekerjaannya.
Seperti di bidang konveksi begitu, apa dia sudah kerja?
"Assalamualaikum, Pak ... Bu ...."
Saat itu aku menghentikan diriku untuk makan, padahal makananku masih banyak sendiri sementara papa, mama sama Dewi sudah mulai habis.
Mas ini kenapa datang ke sini?
Aku seperti dirundung banyak sekali pertanyaan.
Apa mas ini mau menyampaikan sesuatu?
Aku yakin mas Angga saat itu tidak akan menceritakan tentang aku yang hampir jatuh tadi karena memabraknya.
Saat itu aku masih berpiki-pikir dan saat itu aku juga ikut tercengang seperti papa, mama, sama dewi.
Karena tiba-tiba ada orang yang mau menhampiri meja kami dan itu bukan salah satu dari keluarga kecil kami.
"Wa'alaikumsalam!"
Papa menatapnya dengan wajah penuh tanya.
Sementara mama, aku dan dewi hanya diam dan menatap penuh mas muda yang aku tabrak tadi.
"Perkenalkan Pak, Bu ... nama saya, Angga. Dari kota Magelang. Mau memperkenalkan bisnis saya. Bila berminat silahkan bergabung. Ini kartu nama saya!"
Papa diberi kartu nama.
Tidak aku sangka juga waktu itu kalau Mas Angga sudah kerja, dari wajahnya malah masih seusia anak kuliah sekitar dua puluh satu tahun.
Tapi kalau sudah kerja jelas-jelas umurnya sudah lebih dari itu. Mungkin sekitar dua puluh empat.
"Kamu usaha buka privat bahasa inggris?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan papa. Sepertinya Mas Angga itu pria yang pekerja keras. Tapi belum tentu juga, apa Mas Angga itu mengajar? Atau bagaimana?
Mas Angga saat itu mengangguk, sambil tersenyum tipis ke arah papa.
"Kebetulan anak-anak kami tidak ada yang membimbing untuk belajar bahasa inggris. Jadi nanti kamu privat ya..,"
Mas Angga ini orangnya sangat percaya diri, berani berlama-lama melakukan kontak mata pada papa agak lama.
Tapi kalau aku belum juga dua menit kontak mata sama orang yang tidak pernah aku kenal justru tidak berani sama sekali.
"Iya pak, selain privat ada juga kelas bahasa inggris. Tergantung mau memilih yang mana. Kalau mau yang privat ya silahkan saja!"
Penjelasannya cukup singkat dan bisa langsung faham.
"Kalau privat biayanya ada biaya bensin ke rumah yang mau di privat, sama materi privat jadi ada dua. Tapi kalau cuman materi saja, itu tempatnya dikelas yang saya buat. Jadi, nanti bayarnya materi untuk bahasa inggrisnya saja!"
"Kira-kira berapa biaya perbulan untuk les materi bahasa nggrisnya kalau dikelasnya kamu?"
Mas Angga tanpa berfikir langsung bisa menjawab, mungkin semuanya sudah disiapkan.
Bagaiamana caranya tidak gugup dengan orang lain, setelah menyangkut tentang dunia bisnis pribadinya.
"Kalau saya sudah umum, Pak, satu setengah jam dengan tiga kali tatap muka itu saya hargai seratus ribu untuk satu anak!"
"Itu waktunya bisa memilih apa kamu jadwalkan?"
"Saya sudah menjadwalkannya, jadi nanti anak-anak tinggal masuk ke kelas saya saja sesuai jam yang saya tentukan!"
Aku masih ingat semua pertanyaan papa dan jawaban dari Mas Angga, apa tadi Mas Angga nyari buat ngajak langsung privat?
Kan mintanya Papa suruh mrivat aja, dengan datang ke rumah.
Tapi aku benar-benar belum siap untuk privat hari ini. Seminggu ke depan tidak bisa kah?
"Nyariin ada apa ma, mau ngasih jadwal les privatnya kapan? Kan Mas Angganya jadwalin sendiri kapan kesini. Jadi bisa kapan saja!"
"Iya mungkin, tadi soalnya cuma sempat tanya kenapa tidak ikut begitu, kebetulan Bu Fitri itu keluarganya. Jadi ya Angganya ikut acara, malah yang jadi terima tamu itu Angga!"
Aku menunduk, seperti tidak bisa menjawab. Selain privat bahasa inggris, mau ngapain juga mencariku?
"Hmm ... Ma, malam ini makanku di kamar. Soalnya harus menyelasaikan tugas juga. Lagian nasinya masih panas!"
Aku berlalu setelah mama menganngguk.
***
POV; Mustofa
"Sayang ... cup-cup ... jangan nangis dong, sayang ...."
Aini menangis begitu keras, aku menimang-nimang Aini. Aku dekap dengan penuh hati.
Namun rasanya aku semakin khawatir. Ini sudah jam delapan malam, tetapi ibu belum juga pulang.
Telponnya juga tidak dibawa, bagaimana caranya aku mendapatkan kabar ibu?
"Oooek ... ooekkkkkk .... "
Aku memberi ASI ibu yang sudah disiapkan dikulkas ditarus di dot, tadi sempat aku hangatkan sedikit untuk mengurangi asa dingin akibat ditaruh di kulkas.
Sekarang juga sudah tidak begitu hangat pula, hampir dingin tepatnya.
Aku meminumkan ke Aini, namun masih saja menagis.
Bagaimana cara menenangkanmu Aini?
Aku memelankan timanganku, lalu menepuk perlahan pantatnya. Sama miripnya seperti saat ibu menenangkannya.
Alhamdulilah berhasil juga,
Aini memejamkan mata, meminum ASI nya ibu yang ditaruh di dot itu dengan nafsu dahaganya. Kasihan adikku, karena masalah tadi pagi imbasnya malah menimpa ke kami semua.
Kipas angin yang tadinya aku nyalakan khusus untukku kini aku matikan.
Aku mengambil selimut hangat Aina. Lalu menyelimutinya dengan tangan kananku. karena tangan kiriku aku buat nggendong Aini.
Lihatlah mata yang sipit dengan bulu matanya yang kentik mulai terlihat itu, terpejam dengan anggunnya.
Dua adikku ini sangatlah cantik, semoga jadi gadis solihah.
Aini tertidur, namun masih meminum ASI ibu yang ditaruh di dot itu.
Sementara diluar sepertinya akan turun hujan lebat, karena dari dalam terdengar gemuruh yang sangat keras.
Aku belum melihat keluar, dari tadi aku sibuk menjaga adik kembarku ini.
Bahkan aku sholat tadi sampai dikamar ini, bukan di mushola. Terus mendengar Aini tiba-tiba menangis.
Aku jadi takut terjadi apa-apa dengan ayah ibu. Apalagi setelah mendengar tangisan keras Aini.
Ada yang bilang kalau ibunya sedih maka bayinya akan menangis karena batin kesedihan ibunya akan secara tidak langsung mengikatnya.
"Solatullah ... salamullah ... aala tohaa, rosulillah! Sholatullah ... salamullah ... Ala yasin ... habibillah .... "
Nada yang sama itu aku kembali aku ulang, sampai Aini benar-benar tertidur.
Kapan ibu akan pulang? Di kantor polisis apa yang terjadi?

Komentar Buku (51)

  • avatar
    Yuliana Virgo

    bagus

    04/07/2024

      0
  • avatar
    JalFaijal

    baikkk

    03/07/2024

      0
  • avatar
    Wifa Wahyudi

    asyik cerita nya bro

    21/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru