logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Lorong

POV; Mustofa
Hujan deras seperti menabur kepedihan luka yang amat dalam pada malam ini.
Malam suro pertama di bulan-bulan ganjil tidak pernah kejadian seperti ini, tapi mengapa bulan ini seperti bulan sangat menyeramkan.
Ada luka-luka yang bersemayam dan akan sulit hilangnya, ada tangisan yang seharusnya tidak pernah ada untuk dinantikan sekarang justru tangisan itu semakin terlihat.
Ada isakan penyesalan dari ayah akibat orang yang tidak pernah tahu dan mengerti seseorang yang lain.
"Ibu mau ke mana?"
Sore itu setelah cukup setangah jam dariku meninggalkan pembicaraan antara ibu dan dua polisi itu, aku barusan bisa beranjak ke kamar ibu setelah Aini dan Aina aku tidurkan dengan sholawat.
Beberapa saat pertanyaanku tidak dijawab ibu, yang ada malah diam sambil meneteskan air mata.

Tangis ibu seakan semakin keras. Kelopak matanya tergengangkan air mata yang cukup banyak.
Matanya memerah sembab. Ibu seperti merasakan bagaimana rasanya patah hati, namun saat itu benar-benar tidak mengerti kenapa ibu bisa menangis seperti itu.
Aku lihat di ranjang tidur tidak ada ayah, yang aku lihat hanya seprei yang berantakan dengan selimut yang masih tergerai. Bantal yang berundak ditempat tidak rapi.
Di mana Ayah? Apa sedang ke kamar mandi? Seharusnya kalau Ayah ke kamar mandi pasti akan melewati kamarku dan akan terlihat Ayah yang berjalan karena pintu kamarku sengaja tidak aku tutup.
Aku tidak memikirkan kalau sebenarnya saat itu ayah sedang dibawa ke sebuah tempat di mana makan tidak enak, di mana tidur tidak akan pernah nyenyak dan minumpun berasa terus dahaga.
Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan polisi-polisi disana lakukan. Aku takut ayah menghadapi siksa.
Jangan, itu semua bukan salah ayah. Yang salah utama adalah Pak Darsono. Namun kenapa ayah yang dibawa pergi?
"Ibu mau ke kantor polisi!"
Ujar ibu, sambil membereskan uang yang telah diambilnya dari almari. Aku tidak tahu persis itu jumlahnya. Tapi terlihat uang itu banyak, buat apa?
Panikku saat itu menjalar seketika, waktu itu aku berasa ingin mengikuti ibu, menenangkan ibu.
Namun aku tidak bisa, karena aku tahu aku harus menjaga dua adikku.
Dan mereka dua adikku itu tidak bisa diajak ke kantor polisi.
Di sana pasti ada asap-asap rokok yang sama sekali tidak baik udaranya dihirup oleh Aina dan Aini.
Di sana juga tempat yang ramai, bahkan membisingkan. Intinya tidak baik untuk adik kembarku.
"Ayah di mana bu?"
Aku pelan bertanya hal itu, meskipun dalam hatiku sempat terjawab, kalau dua polisi tadi yang membawah ayah pergi.
"Saat ini ayahmu di kantor polisi!"
Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping. Tuhanku mengapa menguji hal yang begitu berat?
Mengapa saat sulit-sulit itu terjadi di masa kecilnya Aina dan Aina.
Di masa seharusnya adik kembarku harus mendapatkan kasih sayang orang tuanya lengkap.
Betapa kejamnya orang yang telah melaporkan kejadian tadi, siapa dalang semua ini?
Apa secara hukum ayah salah?
Saat aku mendengar pengakuan ibu, barusan saja meyakini penuh, kalau pada kenyataannya ayah dibawa kesana.
Bersama dua polisi tadi yang datang bersama mobil berwarna hitam dengan kursi-kursi belakang yang terlihat.
"Kamu jaga adikmu, ibu mau ngurusin ini!"
Ibu semakin terisak, lalu berlalu pergi.
Aku diam dan tidak bisa mencegahnya pergi waktu itu.
***
POV; Salsa
"Tadi kamu dicariin lo, sama yang namanya Angga!"
Mama menghampiriku setelah menyuruhku makan malam.
Angga?
Angga siapa?
Mas tinggi yang memakai kemeja biru laut, yang ada di cafe waktu itu apa?
Aku mengingat-ingat kejadian di Cafe itu, saat itu aku lagi berjalan menuju kamar mandi. Yang saat itu Mama, Papa sama Dewi tetap sibuk melanjutkan makanan khas daerah Malang.
Brrak!!!!
Aku menabrak pria berbadan kurus dengan postur badan yang selisih sepuluh hingga lima belas centi dariku.
Hampir saja aku terjatuh, namun saat itu Mas Angga mencegahku agar tidak jatuh dengan memegang erat tangan kananku.
Memegang pinggangku dengan tangan satunya, sehingga wajahku begitu dekat dengan wajahnya.
Sampai akupun terkejut dan mataku melirik tajam, bahkan sempat tidak berkedip untuk beberapa saat.
"Kamu baik-baik saja?"
Saat itu aku benar-benar tidak menyadari kalau aku memegang erat kemejanya, hampir mendekapnya penuh.
Namun itu benar-benar kecelakaan yang tidak sengaja.
Hanya sekejab saja, nafasku tersengal-sengal.
"Iya ma ... maaaa ... maaf!"
Aku takut sama yang namanya Mas Angga waktu itu, takut dimarahi karena menabraknya.
Tapi justru Mas Angga menatapku dengan sangat tajamnya. Lalu membuat aku kembali berdiri tegak.
Rasanya panas dingin seperti menggrogoti tubuhku pada waktu itu, dan gemetar ada dimana-mana seperti aku habis menemui makhluk yang paling menyeramkan.
"Untungnya tadi aku lagi tidak membawa minuman, coba saja kalau bawa baju kamu pasti sudah kena minuman. Dan gelas itu pasti akan pecah saat aku memegang tanganmu cepat-cepat!"
Aku tersenyum dan tidak berani menatapnya, karena aku tahu. Aku salah, tidak perhatikan jalan saat mau berjalan dilorong cave yang akan menuju ke kamar mandi.
"Kamu ngapain disini?"
Saat itu aku bingung mau menjawab apa, melihat matanya yang menatapku seperti aku lupa tujuanku awalnya kemana.
Melihat penampilannya yang memakai kemeja biru laut, membuatku salah fokus.
Bahkan aku masih ingat parfumnya itu baunya seperti apa. Parfumnya sepertinya tidak pernah ada di pasaran.
Apalagi wajahnya yang tampan dengan gaya rambut yang begitu sepadan. Sungguh membuat aku tidak ingin mengalihkan pandangan.
"Aaaa ... aku ... aku mau ke ... Kamar mandi .... mmmmm ... Mas ...."
"Oh mau ke kamar mandi, nanti kamu tinggal ke kaana saja., soalnya kalau ke kiri kamar mandi laki-laki"
Aku sebenarnya tidak tahu juga kamar mandinya dimana waktu itu, soalnya aku cuman tanya pemilik cafe saja katanya lewat lorong saja begitu.
Ternyata setelah lorong harus belok ke kanan.
"Oh iya., terima kasih!"
Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi, soalnya itu lorong agak sepi.
Jadi aku tidak berani kalau dekat-dekat sama Mas Angga waktu itu.
Apalagi aku belum pernah bertemu dengannya sama sekali.
Aku takut juga kalau Mas Angga akan berbuat hal aneh.
"Namamu siapa?"
Mas Angga kembali memberiku pertanyaan, aku harus menjawab apa?
Apa aku jujur saja, tapi kalau aku jujur apa salahnya?
"Salsa ... Mas ...."
Aku menatapnya dengan menyembunyikan mata.
"Oh, salsa siapa?"
"Mutiara Salsa Putri Lestari ... namun panggilanku Salsa mas. Tapi kalau masnya mau panggilan lain silahkan asalkan namaku!"
"Aku panggil Tiara saja ya?"
Saat itu aku cuman bisa mengangguk. Lalu aku menyatakan pamit untuk segera ke kamar mandi.
"Terserah kamu mas, aaa..aku.. Mau, ke kamar mandi!"
"Hmm ... Iya ... iya ... silahkan!"

Rasanya melewati lanjutan lorong saat itu, aku masih gemetar. Telapak tanganku dingin berkelanjutan. Seperti apa saja aku itu!
Kebiasaan, kalau menemui cowok entah kenapa selalu merasakan seperti itu.
Tapi kalau bertemu pada Mas Angga waktu itu, begitu berbeda saat bertemu dengan cowok lain.

Komentar Buku (51)

  • avatar
    Yuliana Virgo

    bagus

    04/07/2024

      0
  • avatar
    JalFaijal

    baikkk

    03/07/2024

      0
  • avatar
    Wifa Wahyudi

    asyik cerita nya bro

    21/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru