POV; Mustofa "Mas ... sudah Mas ... sudah!" Ibuku didorong oleh Pak Darsono, dahinya terluka akibat terhantam batu. Maka pingsanlah Ibu. Sementara adikku Aina dan Aini menangis sejadi-jadinya, yang saat itu sedang aku pegang agar tidak ke tanah sebrang. Kejadian itu berlangsung hanya beberapa menit, namun seperti meninggalkan benih-benih kebencian paling dalam pada Pak Darsono. Aku mengingat jelas betapa pedihnya kejadian itu sangat sulit bagiku untuk melupakan. Hinaaan, cacian yang terang-terangan yang aku dengar dari mulut Pak Darsono yang amis itu, seperti bara api yang menusuk-nusuk hatiku dan merobek pula jantungku. Aku tidak membayangkan betapa sakitnya hati ayah saat mendengar semua kata-kata kotornya, kata cacian hinaan yang betubi-tubi. Melihat istri tercintanya terdorong hingga tersungkur dan menghantap batu hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu aku ingin menolong Ibu, namun aku punya tanggung jawab untuk menemani Aina dan Aini. Ayah memukuli habis-habisan pria paruh baya dengan pakaian coklat tua di sebrang jalan sana. Ayah seperti tidak perduli orang itu akan sekarat atau tidak. Ayah juga tidak perduli kepalan-kepalan keras yang ayah hantamkan ke perut dan wajah orang itu akan memar semua dan sampai merasakan sakit yang tidak bisa dijelaskan. Meskipun Ibu juga sudah di rumah dan tadi hanya raeat jalan di rumah sakit. Sampai saat siang ini juga aku masih begitu mengingat soal pertengkaran itu, antara Ayah dan Pak Darsono. Semua berawal dari Pak Darsono sendiri, tentang tanah Ayah yang diberi sampah bekas-bekas plastik minuman yang ada di sebrang jalan. Bayangkan saja kalau Pak Darsono diperlakukan orang seperti itu? Apakah tidak pernah membayangkannya? Bisa saja ayah begitu jijik dengan sampah-sampah itu agar tidak menyapunya, lalu membuangnya pada tempat sampah yang berada dibelakang rumah. Aku justru bangga sama Ayah, dia hebat tanpa bicara langsung membawa sampah-sampah itu pergi pada pagi hari usai setengah jam Pak Darsono pergi dari sana. Aku juga tidak habis fikir sama yang namanya Pak Darsono.
Setelah melihat sampah-sampah plastiknya dibersihkan justru mengamuk dan berkata yang tidak jelas. Kenapa dia tega-teganya melakukan perbuatan itu. Kalau tidak mau sampah-sampah plastiknya itu dibersihkan maka bersihkan sendiri. Buang ke tanahnya sendiri. Apa tidak punya lahan untuk pembuangan sampahnya sendiri? Seharusnya dia menyesal kalau ayahku mengingatkannya untuk membuang sampah-sampah itu di tempatnya dan bukan ditanah Ayah yang ada disebrang jalan. Bagiku ayah tidak salah kalau ayah membersihkan sampah-sampah plastik itu, namun kenapa Pak Darsono bisa-bisanya emosi. Memang kenapa kalau disapu, kalau bukan tujuannya bersih! "Maaf bu, saya harus membawa Pak Syafi'i ke kantor polisi!" Saat aku bersama Aini Dan Aina bermain bersama. Tiba-tiba ada dua polisi yang datang ke rumah kami. Lalu mau mengajak ayah pergi. Salah ayah apa? "Mohon maaf, suami saya salah apa?" Aku sebenarnya ingin mendengarkan apa yang dibicarakan Ibu dengan polisi itu. Namun aku harus membawa Aina dan Aini dalam kamar dulu. Kalau disini banyak kabel listrik, aku takut mereka berdua mainan kabel. Bahaya. "E ... mem ... mem ..." Aina memegang ujung kemeja kiriku. Pegangan Aina begitu erat, aku tidak bisa melepaskannya dengan secara paksa. Wajahnya yang imut membuat aku kembali duduk lalu melihatnya senyum-senyum dengan kedua matanya yang haru binar, aku tidak tahu bahasa anak seusia ini. Tapi aku tahu mereka Aina dan Aini bahagia kalau aku menemaninya bermain. Kalian tidak pernah bisa membayangkan wajah-wajah yang berseri-seri itu. Mereka berdua begitu menenangkan pikiran kalau dipandang. Karena mereka berdua begitu menggemaskan. Aku tadi sempat lewat depan kamar ayah, terlihat ayah masih tidur. Kasihan ayah terlalu letih. Namun apa yang akan terjadi setelah ini, apa polisi itu akan.., tidak mungkin. Jangan. Ayahku sama sekali tidak bersalah. *** POV; Salsa "Mama sama Papa mau ke mana?" Aku menghampiri Papa sama Mama yang mulai menuju ke garansi mobil. Aku tidak tahu mereka berdua sejak kapan dandan cantik dan tampan. Tahunya waktu mama ke kamarku untuk menyuruhku keluar katanya mau keluar. Sore seperti ini udaara dikotaku berasa begitu lembab, ada pertanda hujan namun tidak kunjung hujan. Sampai kapan musim hujan ini berlangsung? "Mau ke rumah Bu Fitri, anaknya lagi menikah. Kamu lupa undangannya? Kan kamu sendiri yang menerima undanganitu!" Aku tersenyum, sambil membenahi rambutku yang sepanjang pinggang terkena angin yang cukup kencang. Aku ingat-ingat memang benar aku sendiri yang menerima undangan itu dari bapak-bapak yang seusia atasnya papaku. Aku perhatikan awan semakin hitam pekat, suhunya dingin semakin menggigit. Kalau sudah begini, lebih enak merengkuh dikamar sambil memakai selimut yang tebal. "Iya Ma, lupa!" Aku tersenyum pahit, sambil menaruh sebagian rambutku ke arah depan dada kiri. "Ya sudah, Papa sama Mama ... mau berangkat!" Papa menghampiriku, kemudian aku kecup punggung tangannya. Mama juga aku perlakukan sama. "Pa ... Ma ... sebentar!" Dewi lari dengan sekencang mungkin dari arah pintu utama. Gadis sebahu itu sukanya memainkan game mulu kalau dikamar, bahkan sampai lupa waktu. Malam-malah juga tidak malah tidur malah masih main bareng sama temannya. Aku saja heran anak itu, kenapa bisa menjadi pecandu game? "Di suruh keluar kok malah belum keluar-keluar! Ngapain saja dikamar?" Pertanyaan yang selalu sama keluar dari mulut Mama. Kalau papa selalu diam, karena aku tahu papa diam-diam juga mengintip setiap malam ke kamar anaknya sudah tidur apa belum sambil mengucapkan doa-doa untuk melindungi kami. "Kalau nanti Papa sama Mama telat berarti menunggu hujan sampai berhenti ya ...." Izin Papa, sebelum masuk ke dalam mobil. Jujur, kalau Papa memakai peci hitam seperti itu terlihat masih berumur tiga puluh lima tahunan. Padahal usia Papa sekarang, sudah empat puluh tujuh tahun. Kata mama dari dulu wajah papa memang terlihat lebih muda dari umurnya. Mama aja dulu terjebak kalau umur Papa sudah dua puluh delapan, yang mama kira masih berumur dua puluh tiga tahunan. "Iya, Pa!" Jawabku singkat. Aku lihat Mama sudah masuk duluan ke dalam mobil. Seperti sudah benar-benar siap berangkat. Hanya saja membuka pintu kaca mobil untuk melambaikan tangannya ke arah kami sebelum mobil papa melaju keluar gerbang. Mama kalau diajak ke mana-mana seperti selalu semangat sekali. Entah kenapa, tapi aku juga suka kalau mama tersenyum begitu. Dibanding suka emosi. Kami melambai setelah mama melambai. "Kamu habis ini mau ngapain, Dek?" "Lihat-lihat vidio Kak!" Sudah aku duga, kalau ke kamar main hape ya jelas-jelas kalau bukan nge-game lagi. Tapi biarlah, penting sudah sholat ashar saja. Aku tidak bisa seperti Dewi yang selalu nge-game, aku soalnya tidak suka bermain game dari dulu. Tapi lebih tepatnya suka membaca novel online.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
04/07/2024
0baikkk
03/07/2024
0asyik cerita nya bro
21/06/2024
0Lihat Semua