“Aya, kita meditasi,yuk!” ajak Mahesa yang entah bagaimana sudah muncul di depan Gayatri. “Itu apa lagi,Mbul?” Gayatri yang awalnya fokus pada laptonya menghentikan semua aktivitasnya demi mendengar kata meditasi keluar dari mulut Mahesa. “Meditasi, Ya. Masa jurnalis nggak tahu, sih?”protes Mahesa. “Tahu, Mbul. Maksud aku buat apa kamu meditasi?”tanya Aya serius. “ Masa kamu nggak tahu kalau fungsi meditasi itu banyak , Ya? Meditasi itu untuk mengatur emosi dan melatih pikiran positif, juga membuat tidur menjadi lebih nyenyak dan membantu mengatasi insomnia.”jelas Mahesa dan Gayatri menatapnya dengan pandangan curiga. “Emang kamu insomnia, Mbul?” selidik Gayatri. “Nggak, sih.”jawabnya jujur. “Emosian sampai mau gebukin orang dijalan pas demo?”pancingnya lagi. “Nggak juga. Lebih pengen gebukin mafia minyak greng sih sebenanrnya.” Ujar Mahesa serius. “So? Ngapain meditasi?”cecar Gayatri. Ia merasa harus tahu tujuan dari Mahesa sebelum nanti dirinya terjebak dan ujungnya repot sendiri. “Hm, biar otak dan pikiranku ini tenang, Ya.”ucapnya dan Gayatri masih tidak mempercayainya. “Mbul, jangan ada yang diumpetin, ya. Aku bisa tau ,lho.”Gayatri berujar dengan tenang, namun mengena. “Hais! Susah amat ya kalau mau bohong sama kamu, tuh. Aku baca artikel, katanya meditasi itu jika dilakukan secara rutin mampu memancarkan aura positif yang bersemayam dalam diri. Ya, salah satu jalan membuka aura,gitu.”kisahnya dengan jujur. “Kan,aura lagi! Aura kamu tuh bagus-bagus aja, Mbul. Kau hanya belum menemukan wanita yang tepat. Itu aja,kok.”hibur Gayatri karena ia malas mengikuti keinginan Mahesa yang biasanya berujung berantakan. “Ayolah, Ya. Aku sudah pesan tempat meditasi nih di sanggar meditasi punya temanku si Catur.”rengeknya. Gayatri menepuk keningnya. “Nih anak kalau mau apa-apa bukan diskusi dulu malah langsung pesan.”batin Gayatri. “Mbul, biasakan nanya dulu sebelum melakukan sesuatu tuh bisa nggak,sih?”repet Gayatri. “Soalnya disitu ada tulisan diskon heboh untuk hari ini. Bayar satu free satu.”Mahesa ngotot membenarkan kelakuannya. “Kayaknya kita nih tertukar jiwa apa,ya? Harusnya yang beli ini itu, yang mau ini itu, apalagi tergiur diskon tuh cewek, Mbul. Kenapa malah kamu yang hobi kayak gini? Fix, jiwa kita tertukar!”seloroh Gayatri. “Ya bodo amat sekarang mau jiwa tertukar mau nggak, intinya kita datang aja dulu, Ya. Kita coba menikmati meditasi yang ditawarkan sanggar Catur. Kalau oke besok kita datang lagi, kalau nggak oke ya nggak usah kesitu lagi.” Mahesa masih melancarkan aksi membujuk agak memaksa ke gayatri. Gayatri memberikan ekspresi malasnya ke Mahesa. “Ayolah, kamu juga kan butuh jalan-jalan. Nggak stres apa seharian depan laptop? Kalau tuh laptop bisa ngomong, dia pasti bakal ngomong kayak aku.”ujar Mahesa. “Mbul, kalau laptopku bisa ngomong, itu creepy, tahu?”balas Gayatri sewot. “Makanya ikut aja, deh! Udah di jemput pakai mobil juga, tinggal ganti baju, bawa perlengkapan, terus go to vacation deh.” Mahesa bersikeras agar Gayatri menemaninya. “Kamu nggak punya cadangan yang lain gitu buat diajak yang beginian?”Gayatri masih enggan mengikuti meditasi. “Nggak ada yang bisa aku aniaya kayak kamu.”canda Mahesa dan Gayatri mencibir. “Ya udah, aku ikut. Tapi kalau aku nanti bosan, kamu tanggung jawab.” Ujar Gayatri pada akhirnya lalu bergegas ke kamarnya untuk berganti baju. *** Sanggar Meditasi Catur terletak di pinggiran kota. Suasananya masih asri dan sangat sejuk. Entah kenapa, angin yang berhembus ketika Gayatri dan Mahesa tiba disini pun terasa begitu menenangkan jiwa. Bau aromatherapi menyambut mereka ketika sampai di depan gerbang sanggarnya. Gayatri tiba-tiba bersemangat untuk meditasi karena merasa nyaman dengan keadaan sanggar. “Rasanya tenang bangt ya, disini?”Gayatri menghirup wangi aromatherapi dalam-dalam. “Berasa ada di mana,gitu.”lanjutnya sambil meregangkan tangan. “Ayo, masuk! Buka sandalnya Ya!”ujar Mahesa yang paling tahu kalau Gayatri sering grasa grusu. “Iya tahu!”jawab Gayatri. Mereka memasuki sanggar Catur yang bernuansa Jawa-Bali. Bangunan berbentuk joglo, namun pintunya penuh ukiran Bali membuat Gayatri dan Mahesa seolah-olah sedang liburan. Lalu ada beberapa bangunan yang terpisah-pisah. Ada bangunan untuk meditasi, ada untuk spa, ada juga galeri souvenir, serta ada juga bangunan studio foto. Selain wangi aromaterapi yang membuat rileks, kumpulan taman kecil yang penuh bunga khas Bali seperti melati Bali atau kesidang, Kamboja dan Bungan Tunjung, sandar, pucuk dan jempiring.juga membuat mata Gayatri segar seketika. Mereka menyusuri jalan setapak berbatuan menuju ruangan Catur. Pelan, tapi pasti terdengar lagu Jawa berkumandang. Mahesa menceritakan sedikit tentang Catur yang lahir di Jogja, namun besar di Bali. Jadi itulah mengapa ia memadukan dua kebudayaan tersebut untuk tema sanggar meditasinya. “Nanti fotoin aku disitu,Mbul.”Gayatri menunjuk beberapa spot yang instagramable. “Disini kamu juga bisa kok kalau mau berfoto ala model. Tuh, lengkap ada Kang Fotonya. Pokoknya hasilnya nanti sangat instagramable.” ujar Mahesa. “Mantap!”Gayatri langsung ceria seketika. Mereka lalu disambut Catur dengan teh rempah-rempah yang hangat dan menenagkan. Sungguh, suasana di sanggar membuat hati tentram. Catur, seorang pria dengan tinggi 180 cm, berperawakan agak berisi, namun lentur menjelaskan perihal meditasi. Ia menjelaskan bahwa meditasi adalah praktik yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari. Terkait dengan membuka aura positif dalam diri manusia, menurutnya jika kita bisa membebaskan semua pikiran negatif dari diri kita maka hawa positif akan mendominasi dan itu mampu membuat aura memiliki vibes positif. Mahesa dan Gayatri mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Catur. Catur juga menambahkan bahwa meditasi itu tidak harus selalu di sanggar,karena pada dasarnya meditasi itu bisa dilakukan di mana saja. Sanggar hanyalah tempat berlatih hingga nanti klien dapat bermeditasi sendiri di rumah atau tempat lainnya. “Jadi kalian sudah siap untuk memulai meditasi pertama kalian?” tanya Catur dan Mahesa beserta Gayatri mengangguk. “Ayo, kita ke ruang meditasi!” ajaknya Ruang meditasi di desain dengan warna krem yang ringan namun menenangkan. Lalu ditengah ruangan ada beberapa bantal yang di susun melingkar di atas permadani berwarna setingkat lebih gelap dari cat dinding. Di sekelilingnya dihiasi oleh lilin-lilin aroma terapi peppermint yang memang sangat cocok untuk membantu berkonsentrasi. Diujung ruangan terdapat air terjun mini yang gemericik airnya membuat jiwa melayang. Suasana alam yang jarang didapatkan diluaran sana, menjelma bagai negeri dongeng di ruangan ini. Catur mengambil posisi duduk di atas bantal lembut bernuansa krem tersebut, ia lalu mempersilahkan Gayatri dan Mahesa mengikutinya. Catur kemudian duduk dengan tegap lalu ia menarik napas dalam secara perlahan-lahan berulang kali. Gayatri dan Mahesa mengikuti Catur dengan seksama. “ Sekarang, fokuskan perhatian pada tarikan napas dan perasaan Anda. Fokuskan pikiran pada berbagai bagian tubuh secara bergantian, sambil terus menarik napas perlahan. Sadari apa yang Anda rasakan di bagian-bagian tubuh tersebut.” Ujar Catur dengan suara yang mengalun syahdu. “Anda juga bisa menyelingi sesi meditasi untuk berdoa, bersyukur, atau positive self-talk.” Lanjutnya. Gayatri dan Mahesa berusaha fokus pada kata-kata Catur. Sepanjang meditasi, Gayatri merasakan banyak ketenangan jiwa. Ia berdoa agar dirinya semakin baik dari hari ke hari, di beri kesehatan serta dihindarkan dari hal-hal buruk. Begitu menikmati, hingga 10 menit ke depan ia merasa bersyukur akan karunia Tuhan yang telah ia terima. Ia berterima kasih atas setiap bahagia juga duka yang ia rasakan sebagai langkah pendewasaan diri. Ketika Gayatri membuka mata, ia tahu bahwa hidupnya akan baik-baik saja dengan atau tanpa pacar. Ia menoleh ke Catur yang tersenyum saat melihatnya berhasil bermeditasi. Lalu, ia menoleh ke Mahesa dan tiba-tiba kejengkelannya muncul. “Mbul! Bangun! Kenapa malah tidur,sih?”
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 27 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (683)
Martince Banoet
yes
21/04
0
Hantori JRhantori
akusangat senang
26/03
0
Caleb Moses
struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami
yes
21/04
0akusangat senang
26/03
0struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami
14/02
0Lihat Semua