logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

5. RINDU YANG TERTAHAN

"Jani udah hubungi Mas Pras, tunggu dulu ya Bu!" kataku pada Ibu agar dia merasa tenang. Padahal, Mas Pras belum membaca pesanku sama sekali, masih centang satu. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia sulit sekali dihubungi.
"Deuh Teh, hese (susah) ya, enggak punya tetangga mah. Sekalinya punya, ada bonus masa lalunya!" sindir Ibu penuh kemenangan.
Aku diam saja mendengar celoteh Ibu, sambil terus menepuk punggung Hamdi yang kegerahan karena kipas angin yang mati.
Kulihat juga Nindy mulai tak nyaman, mungkin gerah juga. Ibu dengan sigap membuka pintu dan jendela yang tadi kututup rapat agar ada udara segar yang masuk.
"Assalamualaikum ...." Teh Lina pagi ini datang sambil menyodorkan sepiring makanan yang dibuatnya. Kali ini, dia buat kue lupis ketan .
"Waalaikumusalam ...," jawabku sambil mengambil piring dari tangan Teh Lina. Karena seringnya dia mengantar makanan, aku jadi tidak basa-basi lagi dan langsung menampi (menerima) pemberiannya.
"Belum mandi Neng?" tanyanya, lengkap dengan lirikan matanya yang tajam.
"Belum Teh, kesiangan!"
"Mentang-mentang ada Ibu, jadi semaunya aja. Mandi sana, biar enak dilihat nya. Ya kan Bu?" Dia mengalihkan pertanyaan pada Ibu. Aku yakin Ibu terkejut karena ucapan Teh Lina yang ceplas-ceplos itu.
"Enggak ada air, Teh. Si Jani lupa nampung. Tuh listriknya korslet!" beritahu Ibu.
"Lah terus kalian nunggu siapa? Ada suami kamu Neng?"
"Enggak ada Teh, udah berangkat. Tapi Jani minta dia balik lagi tadi!" kataku. Jujur saja, aku enggak mau sampai Teh Lina menawarkan suaminya membantuku dan bertemu dengan Ibu.
Walaupun Ibu sudah tahu semua, aku yakin situasinya akan canggung nantinya.
"Udah enggak usah, kasihan, orang mau kerja. Ada Papi kok di rumah, sebentar ya, biar Teteh panggilin!"
"Tapi, Teh!"
Tak sempat ku cegah Teh Lina, yang sudah keburu pergi memanggil suaminya. Aku dan Ibu saling berpandangan.
"Bu, jangan sampai Ibu keceplosan ya!" pesanku pada Ibu. Ibu hanya mengangguk dan mengatakan dia sendiri juga gugup, takut kalau Aa Hadi yang justru mengatakan macam-macam.
Tak berapa lama, Teh Lina datang kembali membawa suaminya.
Bisa kulihat raut wajah kebingungan saat dia melihat Ibu. Ibuku yang dulu sudah dianggap seperti Ibunya sendiri.
Aku sangat terkejut ketika dia langsung meraih tangan Ibu dan menciumnya.
Tuh 'kan, dasar semprul, sudah tahu ada istrinya disini.
Bola mataku spontan memutar, berpaling melirik Teh Lina yang tampak biasa saja. Mungkin, dia yang tak tahu apa-apa itu, merasa kalau cium tangan adalah hal yang biasa dilakukan, karena Ibu memang sudah tua.
Tapi tidak dengan Ibu dan Aa Hadi, mata keduanya terlihat jelas berkaca-kaca.
Aku hanya bisa berharap, kalau Teh Lina tidak menyadarinya.
"Maaf Pak, tadi sepertinya ada bau gosong sebelum korslet," kataku mencoba membuyarkan suasana yang membuatku gemetar itu.
"Oh, iya. Saya kalau lihat Ibu, suka teringat masa lalu," cetusnya santai.
"Hah?!" sahutku spontan. Lagi-lagi kualihkan pandangan ke Teh Lina. Mungkin, karena tidak mengerti apapun, dia hanya bersikap biasa saja.
"Maksudnya teringat masa lalu sama almarhumah Ibu," selanya. Aku yakin dia tahu kalau aku sangat gugup mendengar ucapannya lagi. Dasar mantan semprul!
💙💙💙
Sementara Ibu dan Teh Lina memegang kedua anakku di teras, sedangkan Aa Hadi memintaku untuk mematikan semua lampu dan colokan listrik. Setelah semua dipastikan dalam keadaan mati, dia memintaku menyalakan MCB kembali.
Setelah itu, dia memintaku menemaninya menyalakan lagi semuanya, satu persatu, dengan pengawasannya.
Sebenarnya, situasi ini sangat canggung, tapi mau bagaimana lagi? Berdua dengannya di dalam, sementara yang lain di luar.
Dengan telaten dia pergi ke kamar, lalu ke dapur. Satu persatu lampu dinyalakannya, begitu juga dengan colokan elektronik. Aku hanya mengekor di belakang, memperhatikan cara kerjanya yang tidak berubah sejak dulu.
Dia ini memang pandai dalam segala hal, apapun bisa dia kerjakan. Kalau kata orang mah, tangannya dingin. Sedingin hatinya yang sudah tega membohongi Jani, eaaakkk!
"Katanya bau gosong?!"
"Ya memang bau gosong ...," jawabku.
"Ini mah bau asem ada yang belum mandi!" cetusnya.
Plakk
Tak sadar kutepuk punggungnya lumayan keras. Hingga sesaat kemuadian aku merutuki kebodohanku, bagaimana kalau sampai Teh Lina melihat tindakanku tadi?
"Duh, sakit!" pekiknya.
Aku yang gugup mencoba mencari kesibukan dengan merapikan piring yang sudah dicuci oleh Ibu pagi tadi.
Malu, itulah yang kurasakan saat ini. Berdua dengannya dengan keadaan belum mandi sampai dia bisa bilang kalau aku bau asem.
"Jangan macem-macem atuh A, ada si Teteh di depan!" Lagi-lagi aku tak sadar kalau sudah menyebutnya dengan panggilan Aa.
Dia menoleh sebentar, lalu kembali sibuk meneruskan pekerjaannya, sambil berujar.
"Aa masih bisa nahan diri sama kamu, tapi enggak sama Ibu. Sampaikan maaf Aa ya!" pesannya. Berbarengan dengan itu, dia mencolokan kabel mesin cuci dan ...
Pet!
Listrik kembali mati.
Dia lantas mencabut colokan itu dan memeriksa kabel mesin cuci. Ternyata, korsleting listrik bersumber dari kabel mesin cuci yang rusak digigit tikus. Hmmm ...
"Ini yang bikin korslet. Biar nanti sore saya benerin kabelnya!"
Saya? Aku terhenyak dan menoleh ke belakang. Disana sudah ada Teh Lina yang menggendong Hamdi.
Ternyata, dia masih paham situasi begitu ada istrinya. Syukurlah, aku takut sekali kalau dia tiba-tiba nyeleneh.
"Enggak usah Pak, biar suami saya aja nanti!" tolakku halus.
"Enggak apa-apa atuh Neng, mumpung si Papi libur!" tambah Teh Lina. Aku bisa apa kalau sudah begitu? Sungguh, perasaan bersalah ini benar-benar menyiksaku.
💙💙💙
"Ibu, baru datang dari kampung ya?" tegur Aa Hadi pada Ibu yang terlihat gugup. Dia duduk di sofa butut ku, tanpa dipersilahkan dan mengambil tempat di samping Ibu.
"I-i-iya ... " jawab Ibu terbata. Aku tahu, Ibu pasti takut salah bicara.
"Si Papi itu kalau sama orangtua suka melow Neng. Maaf ya Bu," beritahu Teh Lina.
"Ibu enggak apa-apa," katanya masih dengan suara gemetarnya
"Papi itu, sama Ibu Teteh aja sayang banget. Bahkan dulu kita bisa nikah, karena saking cintanya dia sama Ibunya. Kalau dia melawan Ibunya, kita pasti enggak bakalan hidup bersama sampai sekarang," ceritanya lagi.
Aku semakin merasa serba salah. Teh Lina itu terlalu jujur dan terbuka pada kami, tapi kenapa kita malah tega menutupi semuanya dari dia?
Batinku kembali bergejolak. Sesama perempuan, aku ikut merasakan apa yang Teh Lina rasakan waktu Aa Hadi masih menolak keberadaannya, lalu memilih mencari pelarian dan menjalin hubungan denganku.
"Ibu bosan enggak disini? Mau enggak kalau saya ajak nyari kabel sambil jalan-jalan?" tanya Aa Hadi, dengan mata yang tak berpaling sedikitpun dari wajah Ibu.
"Teh Lina ikut?" tanya Ibu.
"Lina masih banyak pekerjaan Bu, si Papi minta dibikinin garang asem sama soto. Sok aja atuh, sama si Papi. Enggak bakal ngegigit kok dia mah!"
"Bagaimana Teh?!"
"Ya terserah Ibu atuh!"
Kasihan juga aku lihat Ibu, sepertinya, baik Ibu atau Aa Hadi sama-sama menyimpan kerinduan. Apalagi tadi dibelakang, dia sempat mengatakan kalau dia tidak bisa menahan rindunya pada Ibu ....
💙💙💙
Dua jam sudah Ibu pergi dengan Aa Hadi dan belum juga kembali. Selesai mandi, aku hanya bermain dengan Nindy dan Hamdi.
Kata Teh Lina, aku enggak perlu masak. Dia sengaja bikin makan siang yang banyak biar kami bisa ikut mencicipinya.
Ah, Teh Lina ... aku hanya bisa berdoa semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Dan rahasia ini, tetaplah menjadi rahasia kami, agar Teteh tidak merasakan sakit hati lagi, batinku.
💙💙💙
Tak lama, suara derum mobil Aa Hadi terdengar jelas. Beberapa saat kemudian, Ibu datang membawa beberapa paper bag. Gegas kukunci pintu untuk sementara waktu, karena aku kelewat penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka selama perjalanan.
Setelah itu, kami masuk ke dalam kamar belakang, lalu Ibu pun mulai bercerita.
Kata Ibu, Aa Hadi tak hentinya meminta maaf padanya. Seperti yang dia ceritakan, kalau dia dulu tidak mencintai istrinya.
Berarti sekarang udah cinta atuh? Duh A, Jani patah hati boleh enggak?
Selain itu, Ibu juga bercerita panjang lebar mengenai apa saja yang terjadi selama mereka pergi.
Katanya, Ibu dibelikan gamis sebagai kenang-kenangan.
"Cuma buat Ibu? Buat Jani enggak?" tanyaku asal.
Plakk
Ibu mendaratkan jitakan di kepala ku.
"Katanya enggak enak, tapi berharap dibeliin juga. Si Teteh kenapa sih? Minta sama Pras atuh Teh!" kata Ibu kesal.
Padahal aku kan hanya bercanda. Tapi kalau memang dia beliin juga, ya lain cerita!
💙💙💙
Siang itu, kami makan siang di rumah Teh Lina. Masakan Teh Lina sangat enak, sampai-sampai Ibu nambah dua kali.
Lalu aku? Jangankan untuk nambah, mau buka mulut lebar saja rasanya tidak sanggup. Bagaimana tidak? Aa Hadi duduk tepat di hadapanku.
Rasanya itu seperti makan dilihatin pacar, jaim!
Padahal, perut keroncongan. Karena sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke perutku.
Mana yang lain enggak ada yang menyadari situasi ini. Coba kalau ada, 'kan bisa minta dibawa pulang saja.
💙💙💙
Setelah makan siang, Aa Hadi kembali melanjutkan pekerjaannya. Membenarkan mesin cuci milikku yang rusak kabelnya.
Lagi-lagi situasi ini membuatku canggung, lantaran Teh Lina memintaku untuk menemani Aa Hadi membetulkan mesin cuci. Sementara Ibu dan anak-anakku main di rumah Teh Lina.
Agar tidak merasa semakin canggung, aku menyambi dengan menyapu dan mengelap apa saja yang bisa ku kerjakan.
Tak berapa lama, mesin cuci ku selesai dipasang kabel yang baru.
"Terima kasih ya Pak!" ucapku saat dia akan pulang.
"Terima kasih aja, nih?" Matanya menatap mataku dengan tatapan yang sama seperti dulu, setiap menatapku.
Duh, deg-degan! takut khilaf Jani, A!
"Jangan ngaco atuh!" seruku kesal.
Apa aku terlalu menganggap serius ucapannya ya? padahal bisa saja kan, kalau dia minta bayaran seperti tukang service?
"Aa cuma bercanda. Sudah sana makan, Aa tahu kamu masih laper," godanya sambil berlalu.
Mau makan apa? Mie instan?
Lima menit setelah dia pergi, ojek online mengantarkan makanan atas nama Anjani. Seporsi bubur ayam cianjur, lengkap dengan sate jeroannya.
[Habiskan buburnya, kalau memang ingin berterima kasih.]
Begitu bunyi pesan yang dia kirim ke ponselku.
Ish, kapan dia pesannya???
Godaan apa lagi ini, Ya Allah ...? Dia benar-benar perhatian atau sedang mencoba meruntuhkan benteng pertahanan ku?
Aku tak mau berpikir dulu, karena perutku keroncongan, otakku takkan bisa berpikir panjang dalam keadaan lapar. Segera kuhabiskan bubur ayam kesukaanku itu. Maafkan aku Teh Lina, kali ini aku laper, beneran deh!
💙💙💙
Malam harinya, kuceritakan semua pada Mas Pras, tentang kebaikan tetangga sebelah yang membantu membetulkan mesin cuci. Niatanku adalah, meminta uang lebih padanya untuk membeli sesuatu, untuk membalas kebaikannya.
Tadi, aku sempat berunding dengan Ibu. Kata Ibu, dia mau membuat pepes ikan kesukaan Aa Hadi sebagai ucapan terima kasih.
"Kalau dihitung-hitung, masih lebih murah manggil tukang service daripada beli bahan pepes ikan!" katanya perhitungan. Gemas sekali aku mendengarnya. Untung saja Ibu sudah tidur.
"Ya jangan begitu atuh Pa. Mereka aja enggak pernah perhitungan kasih kita segala macem. Lagian, mana ada orang kaya yang mau menolong sampai begitu!" kataku kesal.
Lama kelamaan, aku darah tinggi menghadapi Mas Pras yang kelewat pelit ini.
"Iya, besok Papa tambahin uang belanja Mama. Makanya dihemat atuh Ma!'
"Mama udah hemat Pa, beneran!"
"Tadi Papa lihat struk bubur cianjur yang mahal itu di meja!"
Astaghfirullah, aku lupa buang!
"Sekali-kali Pa!'
"Hobi sih hobi. Masa beli bubur yang seporsinya lima puluh ribu?"
Aku semakin naik pitam mendengarnya.
"Enggak usah marah. Makanan udah diperut! Kalau Papa tahu siapa yang beli bubur itu--"
"Siapa?"
"Ibu!!!"
"Bukan uang kita?"
Aku tak menjawab lagi. Makin kesal saja sama kelakuannya. Perkara bubur saja bikin hati sakit.
Aku berdiri dan berkacak pinggang.
"Denger ya Pa, aku tuh capek sama kamu! Jangankan bahagiain istri dan anak-anak, ngajak liburan ... cuma makanan aja kamu ributin. "
"Ma, ingat! Ada Ibu disini, kamu itu kenapa?'
"Kamu yang kenapa Pa, aku capek!"
"Ma, kamu tahu kan, apa tujuanku berhemat? apa salah? Dulu kamu tidak pernah mengeluh? Jangan-jangan kamu lihat kehidupan tetangga kita itu?! Mereka jauh berbeda sama kita Ma!" katanya membela diri. Padahal aku lelah karena kelakuannya, tapi kenapa dia malah menyalahkan orang lain?
"Terserah kamu Pa! Semoga saja kamu masih punya kesempatan membahagiakan anak-anak sampai rumah impian kamu terlaksana!"
Aku lalu pergi ke kamar Ibu dan menangis di sisinya. Baru kali ini aku bertengkar saat ada Ibu dan anak-anak.
Aku tahu Ibu serba salah dan merasa tak enak. Sebagai mertua, dia harus menjadi penengah. Tapi aku yakin, dibalik sikap netral Ibu, dia menangisi kehidupanku yang sebenarnya.
"Ibu bisa temani anak-anak? Pras mau bicara sama Jani," pintanya pada Ibu.
"Maaf Pras, Jani sedang emosi. Ibu takut Jani akan berbicara lebih keras sampai tetangga dengar. Lebih baik Jani disini dulu agar hatinya lebih tenang ...," kata Ibu.
Mas Pras menuruti ucapan Ibu.
Kenapa hati ini sungguh sakit? Hanya untuk makanan saja ucapannya sampai menyakitkan hati. Bagaimana kalau dia tahu bubur itu dari orang lain yang lebih memerhatikan istrinya daripada dia, suaminya sendiri.
Sebenarnya, aku tidak terlalu masalah. Aku hanya tidak ingin anak-anakku tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun karena obsesinnya.
Sejak mereka lahir, dia belum pernah mengajak Nindy dan Hamdi berlibur. Karena setiap off dia hanya mau istirahat. Bahkan tak jarang dia malah menggantikan jadwal temannya, agar bisa dapat bonus.
Untuk mainan, aku sendiri yang menyisihkan dari uang belanja. Kalau tidak, bisa dipastikan mereka takkan memiliki mainan sama sekali.
"Bu, maafin Teteh ya, harus bertengkar saat Ibu disini. Maafin Teteh, Bu ... Teteh mohon, Ibu jangan bilang Bapak!"
"Iya. Tapi sebaiknya, kamu selesaikan dulu masalah kamu sama Pras, biar Ibu enak tinggal disini. Lagian, enggak baik marah lama-lama sama suami!"
"Ibu tahu, apa yang Jani ributkan?"
"Mana Ibu tahu?! Ibu cuma tahunya kamu teriak aja," kata Ibu.
Syukurlah, pikirku. Ibu tak perlu tahu apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Segera kuturuti permintaan Ibu, agar dia tetap nyaman berada disini.
💙💙💙

Komentar Buku (113)

  • avatar
    Fitri Ajeng

    terimakasih atas karyanya 🤗

    22/05/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget cerita dan alurnya...

    30/03

      0
  • avatar
    Nrhlz Liza

    keren

    24/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru