Part 7 Di belahan bumi lain, benua Eropa, tepatnya di kota Paris yang terkenal akan keindahannya. Wanita bertubuh sintal itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan ia juga baru tiba di apartemen, tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Sudah seminggu ia berada di negara yang indah itu. Namun, belum sekalipun wanita itu memberi kabar pada sang suami. Ia memang sengaja mengabaikan prianya, sebagai bentuk rasa kecewa wanita cantik itu pada sang suami. "Terima kasih, Adrian. Semua kesuksesan yang telah aku raih sampai di puncak sekarang ini adalah berkat dukungan darimu," ucap wanita itu seraya menyunggingkan senyuman pada sosok pria tampan yang tengah duduk tepat di depannya. "Sama-sama, My Angel. Yang penting kamu bahagia dan aku pun ikut bahagia melihatnya. Tetaplah tersenyum seperti ini. Kamu terlihat semakin cantik, My Angel," jawab pria tersebut pada wanita yang terlihat tersipu malu. "Gombal kamu, Ad," ucap wanita itu berusaha mengendalikan degup jantungnya yang bertalu setiap kali berada di dekat sosok pria yang sudah lima tahun ia kenal. "Uum, kamu nggak pulang? Ini sudah malam, Ad.” "Sebentar lagi, My Angel. Apa kabar suami posesif di sana?” tanya pria itu balik seraya menatap wajah wanita yang ia cintai. "Aku belum tahu karena ponselku yang satunya lagi belum aku aktifkan," jawab Anggun seraya memijat pelipisnya. "Kamu kenapa, My Angel?" tanya pria itu terlihat khawatir saat melihat wajah wanita di depannya berubah sedikit pucat. "Entahlah, kepalaku agak sedikit pusing, Ad." "Istirahatlah, My Angel!” suruh pria itu setelah bangun dari tempat duduknya. Kemudian, ia mendekat ke arah wanita yang wajahnya semakin pucat. "Sebe—" Belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja tubuh indah wanita tersebut sudah berpindah dalam gendongan Adrian. Sosok pria bermanik agak kebiru-biruan itu memiliki tatapan yang mampu menghipnotis para kaum wanita. "Aku bisa jalan sendiri, Adrian. Kamu nggak perlu seperti ini. Ingat Adrian! Aku wanita yang suda—" "Sst, diam, My Angel. Aku sudah mengerti. Kamu nggak perlu mengulanginya lagi. Sekarang, minumlah vitaminmu ini," ucap Adrian menyodorkan segelas air putih dan juga dua kapsul kecil agak sedikit panjang itu pada wanita yang sudah ia baringkan di atas ranjang. "Terima kasih, Adrian." "Sekarang tidurlah, My Angel! Besok kamu istirahat saja. Pemotretan bisa dilanjutkan kembali setelah kondisi kamu benar-benar fit, My Angel," ucapnya sangat menyentuh hati. Kemudian, ia menyelimuti tubuh Anggun. "Baiklah, sekarang sebaiknya kamu pulang, Adrian. Ingat, aku ini istri sepupumu sendiri!" ucap wanita itu lirih sebelum ia menutup sepasang mata indahnya. "Aku akan tetap di sini, My Angel. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, apalagi keadaanmu yang sedang tidak sehat seperti saat ini," sahut pria itu penuh cinta seraya menatap lekat wajah wanita yang selalu menggetarkan hatinya. "Good night, My Angel," ucap pria itu kembali setelah melabuhkan kecupan di kening Anggun. Kemudian, pria berparas rupawan itu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamar Anggun. **** "Affan, Azzura. Astagfirullah!!" Dengan tubuh yang sedikit bergetar, Bu Fatimah melanjutkan langkahnya, mendekati sosok wanita yang terlihat sangat hancur dan duduk menekuk lututnya di samping ranjang Affan. "Apa yang terjadi, Nak? Katakan pada Umi! Apa yang telah Affan lakukan padamu?" tanya Bu Fatimah menatap pilu pada perempuan yang masih terus terisak lirih. "Zura kotor, Umi. Zura kotor," jawab wanita itu disela-sela isak pilunya yang masih terdengar jelas di telinga Bu Fatimah. "Affan yang melakukan semua ini padamu, Nak? Kamu, Ya Allah. Maafkan anak Umi, Nak." Bu Fatimah langsung membawa tubuh Azzura ke dalam dekapan. Ia mengelus lembut tubuh Azzura yang masih terus bergetar. "Pakai gamismu, Nak! Umi akan memberikan pelajaran yang setimpal pada pria itu. Ia harus bertanggung jawab," pungkas wanita paruh baya itu menatap tajam wajah damai putranya yang masih terbuai dalam dunia mimpi. "Kamu jangan ke mana-mana, Nak. Tetap di sini, tunggu Umi sebentar." Setelah itu, Bu Fatimah melangkah ke kamar mandi, mengambil sesuatu dari dalam sana. Beberapa menit kemudian, Bu Fatimah keluar sembari menenteng ember kecil. Dengan kasar Bu Fatimah menyiramkan seember air itu ke wajah sang putra. Byur!! "Banjir, tolong banjir!" teriak Affan gelagapan setelah membuka lebar kedua matanya. "Astagfirullah! Umi, aku kenapa?" Affan mengusap wajahnya. "Tanyakan pada dirimu sendiri! Semalam kamu pulang pasti dalam keadaan mabuk. Sejak kapan putra Umi berubah menjadi pria pemabuk? Sejak kapan kamu berani meminum minuman laknat itu, Affan? Jawab pertanyaan Umi!" sentak Bu Fatimah tajam pada putranya. "Karena minuman laknat itu, kamu telah merusak kehormatan perempuan baik yang tidak berdosa. Lihat wanita malang itu! Kamu telah merusak kehidupannya. Umi sangat kecewa padamu, Fan," ucap Bu Fatimah terisak. "Aku ...." Affan melihat sekilas pada Azzura lalu ia mencoba mengumpulkan kepingan ingatannya semalam. Setelah pulang dari restoran Zayyan, Affan mendapatkan satu pesan masuk di ponselnya. Pesan tersebut dari nomor seseorang yang tidak ia kenal. Kemudian, ia pun membuka pesan tersebut dan isi pesan itu membuat amarah di dalam dada Affan bergejolak hebat. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor misterius itu. Namun, hasilnya nihil. Nomor tersebut sudah tidak aktif. Kemudian, ia mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya, tetapi hasilnya masih sama seperti yang terakhir kalinya. Dengan keadaan kacau, merasa sangat frustrasi dan juga memendam rasa yang ingin segera ia luapkan, Affan pun memutuskan singgah di sebuah klub malam. Tempat laknat tersebut sudah beberapa kali Affan sambangi, setiap kali pikirannya merasa kacau karena jauh dari sang istri tercinta. Setelah menghabiskan beberapa gelas minuman haram di tempat laknat itu, Affan memutuskan pulang ke rumahnya dalam keadaan setengah mabuk. Tiba di rumah, ia mengingat telah mencekal tangan mungil sosok gadis yang mengenakan penutup kepala. Setelahnya .... "Enggak, ini nggak mungkin. Aku nggak mungkin mengkhianati Anggun," bantah Affan seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. "Aaww! Sakit, Umi," rintih Affan kembali setelah merasakan tamparan keras bertubi-tubi di kedua pipinya. Pria itu terlihat mengeluh kesakitan. Tampak sedikit darah keluar di sudut bibirnya. "Itu pantas untukmu, Fan! Bahkan harusnya kamu mendapatkan hukuman yang lebih dari itu. Umi akan membawa kasus ini ke ranah hukum," ancam Bu Fatimah pada putranya. "Dan, kamu masih sempat-sempatnya memikirkan perasaan Anggun, di saat wanita itu sama sekali tidak pernah menghargaimu sebagai suaminya. Wanita pembangkang yang lebih mementingkan karier di atas segalanya!" "Umi! Tolong jangan salahkan Anggun, Mi. Semua ini salah Affan. Jangan libatkan Anggun dalam masalah ini. Umi tega memenjarakan putra Umi sendiri?" tanya Affan pada wanita yang masih menatapnya tajam dan kecewa tentunya. "Kenapa enggak? Hanya karena Anggun, kamu sudah berani meninggikan suaramu pada Umi kamu sendiri, Fan! Kamu sudah dibutakan oleh cintamu pada wanita Itu!" ujar Bu Fatimah merasa sedikit terluka mendengar bentakan putranya. "Ingat perkataan wanita tua ini, Fan. Umi tetap akan membela pihak mana yang menurut Umi benar. Kamu sudah menghancurkan kehidupan Azzura, Umi malu memiliki putra berengsek seperti kamu, Fan! Kamu telah melecehkan kaum yang sama seperti wanita yang sudah mengandung dan melahirkanmu ke dunia ini. Tunggu saja surat panggilan dari pihak yang berwajib, kecuali kamu mau berjanji pada umimu ini." "Maafkan Affan, Umi! Affan tadi nggak sengaja meninggikan suara pada Umi," sesal pria itu merasa bersalah pada wanita paruh baya yang terlihat tengah menyusut cairan bening di pipinya. "Dan, soal semalam, Affan nggak sadar melakukannya, Umi. Bisa saja semalam perempuan itu yang berusaha menggoda Affan duluan, Mi," kilah pria itu berusaha membela diri. "Kamu!" Bu Fatimah kembali mendaratkan telapak tangannya di pipi sang putra. "Umi nggak percaya, putra Umi yang terkenal sangat bertanggung jawab dan juga baik, sekarang berubah menjadi sosok pria yang pengecut, demi menutupi kesalahan dan dosa yang telah kamu lakukan pada perempuan baik seperti Azzura. Umi menyesal telah melahirkanmu ke dunia ini, Fan. Ingat Affan! Ada hukum dari Allah yang kelak menantimu di masa depan nanti." "Tapi, Um—“ "Cukup, Affan!” teriak Bu Fatimah marah pada sang putra. "Ayo, Nak. Kita ke bawah!" ajak Bu Fatimah pada Azzura. “Dan, kamu ... Affan. Segera tutupi tubuhmu itu, pikirkan ucapan Umi baik-baik." Setelah itu, Bu Fatimah keluar meninggalkan kamar putranya bersama Azzura yang semenjak tadi masih terisak lirih membayangkan kejadian mengerikan semalam yang telah mengubah segalanya. Sedangkan Affan merasa sangat menyesal telah merenggut kesucian Azzura yang memiliki paras ayu itu. Ia juga melihat ada bercak merah di seprai putih yang sudah tidak terpasang rapi di ranjang besar miliknya. "Ampuni hamba, Ya Allah," gumam Affan lirih. **** Di lantai bawah, tepatnya di dalam kamar Azzura. Bu Fatimah kembali mendekap tubuh perempuan muda itu, setelah membantu Azzura membersihkan diri. "Maafkan Umi, Nak. Ampuni putra Umi," ujar Bu Fatimah pelan setelah melabuhkan kecupan di puncak kepala Azzura. "Sebentar, ya, Nak. Umi buatkan minuman hangat dulu untuk kamu," kata Bu Fatimah lagi. Beberapa menit kemudian, setelah Bu Fatimah meninggalkan Azzura sendirian di dalam kamar. Wanita yang masih terisak itu menyadari kedatangan sosok pria yang sangat ia benci. Pria itu sudah berdiri tegak tepat di depan pintu kamarnya. "Maaf, saya akan bertanggung jawab. Saya akan menikahimu," ucap Affan datar pada perempuan yang masih terus terisak di dalam kamarnya. "Saya tidak butuh tanggung jawab Anda! Saya akan melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib," jawab Azzura tajam. "Silakan! Kita lihat saja, siapa yang nantinya akan menang dalam kasus ini," ujarnya dengan tetap menunjukkan wajah datarnya. “Lebih baik kamu terima saja tawaran saya, sebelum janin saya tumbuh subur di dalam rahimmu." Degh!! ♡♡♡♡ TBC
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus dah pokonya cerita nih🥳
15/05/2022
3bagus banget cerita nya makasih ya
15/05/2022
1bagus novelnya banyak makna
11/09
0Lihat Semua