Willy: Gev, kamu di mana? Willy mengirim pesan padaku? Tumben. Aku: Aku lagi mau jalan balik ke kantor. Kenapa? Willy: Makan siang bareng, yuk! Tulisnya membuatku semakin heran. Pasti ada yang tidak beres. Hush, kenapa aku jadi buruk sangka begini sih. Positive thinking, positive thinking! Aku: Mau traktir kah. Dalam rangka apa? Willy : Boleh, kamu pengin makan apa? Aku: Apa bae[1]-lah yg penting kenyang, he… Willy : Ok, aku tunggu di warung Bang Toyib depan BPJS. Aku: Okeh, bos! Aku segera menyalakan motor. Niat mau mampir makan di rumah dulu batal. Bayangan Willy bakal membelikan makan siang lebih menggoda. Apalagi nama warung yang disebutkan itu terkenal menjual makanan enak. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kembali memacu si kuda besi di jalanan yang panas dan berdebu. Setelah berkendara beberapa lama, aku sampai di depan warung itu. Suasananya tidak terlalu riuh, pengunjung ramai keluar-masuk bergantian, dan beberapa kendaraan berjejer rapi di bagian depan dengan tukang parkir membawa peluit duduk tak jauh dari sana. Aku memastikan motor terparkir dengan baik lalu membuka helm dan masuk ke warung makan. Di dalam Willy sudah menunggu. Dia tidak melihat kedatanganku. Dia sedang sibuk dengan buku agendanya. “Serius amat. Target terpenuhi, makanya kamu mau traktir?” tuduhku tanpa basa-basi. “Eh, kamu. Memang kamu tadi di mana?” tanya laki-laki bergaya rambut undercut, ala-ala Jorge Martin─pembalap MotoGP asal Spanyol. Muka klimis berkesan metroseksual. “SD Rempoah, dekat rumah.” Aku menyeringai. “Hah, cepat amat!” Willy takjub. Memang jarak antara SD Rempoah dengan Warung Bang Toyib cukup jauh, dari ujung utara ke ujung selatan. “Enggak juga.” “Dasar!” rutuknya. “Ini sih, udah kayak pembalap.” komentar tambahan Willy sambil melihat jam tangannya. “Eh he… kamu pesen makanmu sendiri, gih.” Aku segera beranjak memesan makanan. Kali ini aku tertarik dengan pecel. Dan tentu saja, pasangan pecel terseksi adalah mendoan. “Target tembus?” tanyaku lagi yang sudah kembali ke kursi, karena tadi dia belum jawab tuduhanku. “Nyaris.” “Bagus, dong!” komentarku. “Aku lagi merangkak, nih. Masih cukup jauh dari target.” Makanan datang. Sepiring pecel dengan sayuran sehat dan sambal kacang lezat, ditambah beberapa potong mendoan yang jelas menggoda. Setelah menyedot es jeruk, satu gigit mendoan telah bertandang di mulut. Rasa gurih menyapa indra perasaku. “Berusaha terus, pantang mundur!” Motivasi Willy bagiku terdengar sangat basi. Itu, kan, kata-kataku untuk menyemangati saat dia terus mengeluh tentang target yang dulu jarang tercapai. “Berusaha, pastinyalah!” “Ngomong-ngomong gimana?” “Gimana apanya?” “Pacarmu?” “Pacar?” Aku spontan tertawa. Ups! Makanan dalam mulut nyaris tumpah. Aku segera menutup mulut. Menguyah dan cepat-cepat menelannya, ingin tertawa lagi. “Cinta belum pernah bertandang di hatiku.” “Aku tidak percaya. Kamu lumayan manis.” “Ehem, lumayan, kan?” Aku berusaha tidak peduli meski dalam hati aku cukup tersanjung. Sangat langka orang mengatakan aku manis kecuali Eisya. “Body kamu oke,” “Hei, hei… cewek itu yang dilihat cuma dari segi fisiknya, ya?” “Kamu orang yang cukup menyenangkan.” “Terima kasih, terima kasih. Kamu orang pertama yang banyak memujiku. Wah, jangan-jangan nanti tidak jadi ditraktir, nih? Aku harus balas jasa atas pujianmu barusan.” Aku tertawa kecil. “Aku serius.” “Lalu?” “Kenapa tidak punya pacar?” “Melihat dari casing-ku harusnya kamu tahu kenapa? Mereka tampaknya merasa horor waktu melihat aku.” “Itu perasaan kamu saja, Gev.” “Buktinya, selama sekolah, kuliah. Aku belum pernah pacaran satu kali pun. Em, satu kali ding, tapi enggak tahu bisa dibilang pacaran apa tidak. LDR, gitu.” Aku tertawa hambar. “Belum ketemu jodoh yang tepat saja,” katanya santai. Aku menanggapinya dengan manggut-manggut. Mulutku penuh makanan. “Kita tete-em-an, yuk!” “Hah?” Aku kaget mendengar ucapannya. “Sesama orang kesepian harus berbagi, kan?” “Gila ya, kamu!” tudingku kasar. “Istrimu? Mau kamu selingkuhi?” “Berbagi kasih. Aku rasa tidak ada salahnya,” ucapnya santai seolah tidak merasa bersalah. “Kamu pasti bercanda?” tanggapku masih tidak mengerti dengan maksud ucapannya yang terdengar asal bicara. “Aku sedang tidak bercanda. Lagian, cuma tete-em-an.” Pria itu angkat bahu, seakan menganggap perkara tersebut bukan hal yang terlarang. “Nggak,” kataku tegas. “Memangnya aku cewek apaan?” Rasa marah mulai menjalariku. “Jual mahal amat, sih?” jengitnya menoleh padaku. “Aku bukan tipe cewek yang suka merusak hubungan orang lain, apalagi rumah tangga orang. Sori, nih.” Aku jadi kehilangan selera makan. “Baiklah,” ucapnya dengan nada menyerah. Aku menatapnya dengan saksama. Mencari-cari jika ada kebohongan di sana. Sungguh, aku tidak menyangka dia mengajakku bertemu untuk bicara omong kosong seperti ini. Bagaimana kalau istrinya tahu perkataan Willy tadi? Perasaannya pasti terluka. Sepertinya Willy merasakan kejengkelan dan kemarahanku karena kini dia tampak salah tingkah. Mungkin tidak menyangka aku bakal menyemprotnya. Harusnya dia bersyukur aku tidak menyiramnya dengan air atau mencakar wajahnya. “Tapi ada hal yang harus kamu ingat, Gev. Kamu motivator terbaikku. Dan aku sungguh-sungguh menyukaimu.” AAAH! Kepalaku mendadak pening. Di Warung Bang Toyib ini rasanya aku mendengar suara istri Willy nun di Yogya sana sedang meratap menyanyikan lagu Bang Toyib. Ada obat pening tidak, ya? Aku menatap ke ibu pemilik warung. *** “Terus gimana?” tanya Eisya setelah mendengar curhatku tentang Willy. Tentu saja setelah mengalami kejadian tidak enak itu, aku langsung mengajak Eisya bertemu. Dia memintaku datang ke rumahnya. Jadilah, aku di sini, duduk di kursi rotan di terasnya yang teduh. Ekspresinya tidak kalah hebat dengan raut kagetku saat mendengar perkataan Willy. “Gimana apanya?” Aku balik bertanya. “Kamu sama Willy, lah?” Eisya melebarkan matanya. Dia tampaknya masih tidak percaya dengan yang kualami itu. “Perang dingin,” jawabku langsung. “Tapi lebih tepatnya dia yang mendiamkan aku.” “Aneh banget?” tanya Eisya. Aku mengangkat bahu. “Tak apa, aku malah senang dia tidak merecokiku terus. Tanya targetku terus. Maksudnya apa, coba?” “Mau bantuin kamu nembus target, kali.” Eisya tertawa. Aku menarik napas panjang. “Kamu enggak tahu Willy, sih.” “Emang aku istrinya harus tahu dia?” seloroh Eisya. “Sejak kejadian itu, suasana kantor jadi gimana, gitu?” tukasku, mengingat aku dan pria itu tidak bisa lagi melempar salam seperti biasa. Aneh, sih. Seharusnya aku yang marah karena perlakuannya yang tidak menghargaiku sebagai perempuan lajang. Namun, nyatanya dia yang pasang sungut dulu kalau berpapasan denganku. Ya, sudah. Aku pun tak mau ambil pusing. Mau cuek-cuekan, oke! “Canggung, maksudmu?” Eisya memastikan. “Iya, antara aku dan Willy, kalau berpapasan seperti dua orang musuh yang akan bertarung.” “Katanya selow bae.” Eisya mengingatkan jargonku. “Iya, sih. Tapi tetap berasa tidak nyaman.” *** Fadi: Ada sesuatu antara kamu sama Willy? Pesan dari Fadi dengan menyebut nama Willy tiba-tiba bertandang tanpa angin tanpa hujan. Padahal sebisa mungkin aku bungkam perihal penembakan tidak berperi-cintaan beberapa hari yang lalu. Aku: Tidak ada. Fadi: Tidak mungkin! Mata kalian tampak berkilat-kilat. Aku: Petir kali. Kilat! Fadi: Serius. Ada yang tidak beres! Cerita dong. Aku: Nanti pulang kerja kita ke angkringan depan UNSOED, ya. Aku melirik Fadi yang berada di sebelah kanan. Dia terlihat sedang mengantongi ponsel sambil manggut-manggut. Gerak selanjutnya dia menatapku meneriakkan kata semangat tanpa suara dengan mengepalkan tangan kanan. Spontan aku membalas salam semangatnya dengan senyum dan mengepalkan tangan kiri di depan dada. Sebelum menutup layar ponsel, mataku memindai sekilas pesanku pada Fadi yang berbunyi: angkringan depan UNSOED. Serta merta, sekonyong-konyong dalam pikiran melintas satu sosok yang kupikir tidak terlalu istimewa. Huup! Aku tersadar dengan sendirinya. Guru olahraga itu? Kok mirip penjual mendoan itu, ya? Memang saat ini aku juga sedang memelototi copy faktur penjualan dari SD-nya. Ada sesuatu yang menarik, menggelitik. Entah apa? Baiklah, nanti sore mari kita buktikan sekali lagi. Makan mendoan, sambil menikmati satu wajah yang mirip dengan guru olahraga itu. Ah, membayangkan mendoan keluar dari penggorengan langsung membuat liurku menganak. Pak guru itu juga. “Kenapa, senyum-senyum sendiri?” tegur Reihan yang duduknya segaris diagonal dari tempat dudukku. “Lagi jatuh cinta?” “Lagi membayangkan makan mendoan panas. Pasti nikmat, ya,” sahutku sambil mengalihkan pandangan dari Reihan lurus ke depan. Tanpa sengaja aku menemukan mata Willy sedang menatap dengan tatapan penuh kebencian. “Kenapa?” desisku menantang ke arahnya. *** “Willy mau menjadikan kamu selingkuhan?” Fadi mengulang kata-kataku masih dalam keadaan tidak percaya. Saat ini kami sedang menunggu mendoan tersaji. Segelas kopi untuk sementara yang menemani obrolan kami. Tidak peduli dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa kopi bila bertemu dengan mendoan yang mengandung minyak tak jenuh akan menaikkan kadar gula darah. “Dan dia marah setelah aku tolak. Kamu tahu, kan, sikapnya sekarang padaku.” “Nggak cowok banget, sih!” komentarnya. “Kalau aku, nih … aku kalau ditolak cewek, ya, sudah. Memang tidak ada cewek lain apa? Heran, istri Willy itu, kan, cantik banget?” Aku menanggapinya dengan anggukan kepala mantap. “Parah! Cari selingkuhan masa kayak kamu.” Fadi tertawa. “Sial!” makiku. “Tapi Willy bilang aku manis, lho,” “Dan kamu percaya?” Fadi tertawa sangat keras sehingga mas penjual mendoan yang sedang menggoreng dengan khusyuk menatap ke arah kami. “Hush!” kakiku sudah bereaksi menendang kakinya dengan cukup keras. “Adaaaw!” teriak Fadi. “Premanisme nih!” Fadi dan aku memang cukup dekat. Dia ini satu angkatan denganku. Satu angkatan saat masuk Kantor Perwakilan Penerbit Gala. Target penjualannya ke SMA-SMK. Orangnya ramah, tidak banyak tingkah, dan bisa membuatku mengobrol dengan nyaman. Dan pasti kami bisa saling bantai kata-kata macam tadi. Segala unek-unek tentang pekerjaan aku tumpahkan ke dia. Senasib seperjuangan, lah. Dia juga sering curhat tentang situasi pekerjaannya. Kami saling memberi saran dan dukungan. Hubungan yang saling menguntungkan. Tidak seperti pertalianku dengan Willy yang bersifat parasitisme. Salah satu pihak menderita kerugiaan. Tentu orang yang tidak untung itu adalah aku. [1] Bae: saja
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
hem
12/03/2025
0semnagat trus
01/11/2024
0bagus
10/07/2024
0Lihat Semua