“Mana undangannya?” Eisya menggoda, membuatku tertawa. Menertawakan kemalangan sendiri. “Undangan sekang[1] Hongkong!” semprotku. Eisya ganti tertawa. “Jadi, kemalangan teman adalah sebuah bahan lelucon?” “Oke, oke. Habis kamu tertawa dulu, sih. Berpartisipasi.” “Sial tuh, orang!” umpatku. “Apa maksudnya coba?” Aku merasa tubuhku sudah hampir mendidih. Makanya terus aku redakan dengan nyeruput jus tomat sampai setengah gelas. “Memang kamu ngomong apa sama dia?” “Ya, seperti saran kamu. Kami ketemuan.” Aku diam sejenak memperhatikan reaksi Eisya yang masih berkutat dengan tulang-tulang ayam. “Masa dia langsung bilang wajahku beda banget sama di foto. Memang terlihat beda, Sya?” “Sedikit. Kamu cukup fotogenik, Gev, memang lebih manis di foto.” Aku memelotot mendengar keterusterangan Eisya. “Jadi, wajahku super parah, ya, Sya? Sampai tidak pantas mendapat pacar.” Eisya tersedak. “Bukan begitu, Gev. Maksudku, kamu manis, kok. Coba kamu mau memanjangkan rambut.” “Harus gitu?” “Biar lebih manis.” “Oke, dan setelah pertemuan itu, tahu-tahu dia kabur. Padahal kami baru mengobrol sebentar.” Eisya tertawa lagi. “Dia sama sekali tidak balas pesanku. Setelah dipikir-pikir sebenarnya dia juga tidak seperti di foto.” “Aku rasa cowok macam dia tidak pantas buat kamu, Gev. Harusnya kamu bersyukur, tidak menikah sama orang tidak jelas macam dia.” “Benar juga. Alhamdulillah.” Aku tersenyum. Ada benarnya juga. Tidak terbayang menikah dengan orang seperti itu. Tuhan masih menyayangiku. Kalau tidak sayang, pasti aku sudah mengalami kisah cinta tragis akibat berpacaran online. Seperti yang tersiar di berita-berita. Ada yang mengalami kekerasan dari pasangan kencan maya, ada yang terbunuh bahkan ada yang nekat bunuh diri hanya gara-gara ditolak setelah ketemuan. Ih, seram! Untung aku belum terjerumus terlalu dalam. “Katanya sudah ilfil, kok masih mikirin dia?” ucap Eisya menggugah lamunanku. “Siapa yang mikir cowok itu. Eh, kamu sendiri gimana dengan Mamas Doni?” “Tambah mesra, dong! Dia itu yang paling ngerti aku.” “Ehem, ehem... tinggal peresmian, nih!” Tahu nggak, sih? Aku sama Eisya jadian nyaris bersamaan. Selisih satu minggu. Eisya dulu yang melakukan pengukuhan pacaran. Suatu kali aku menyempatkan main ke rumahnya. Seperti biasa kami mengobrol ke sana kemari ujung-ujungnya kami saling mengaku kalau sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Surprise! Pacar-pacar kami merupakan hasil dari keisengan kami. Aku dan Eisya tertawa bersama. Kok bisa, sih? Ini yang namanya sobat sejati. Selalu sehati. Kebetulan yang menggelikan. Namun, jujur aku sangat iri dengan hubungan Eisya yang tampak begitu lancar. Aku? Mungkin karena kami sama-sama sibuk. Makanya komunikasi seringnya hanya lewat Whatsapp atau telepon. Kami belum sempat ketemuan meski sepakat pacaran. Aneh, ya? Beda dengan Eisya, mereka sudah sering kencan. Baguslah, aku ikut senang. Setelah satu bulan menjomlo, akhirnya dia dapat seseorang yang menurutnya begitu beda. Tahu, bedanya di mana? Namun, dari curhatan Eisya, sepertinya Doni bisa bersikap dewasa dan memanjakan dia. “Sebenarnya aku mesra sama dia bukan tanpa masalah, Gev.” Wajah Eisya berubah murung. “Ada apa?” “Kamu tahu, kan, keyakinan kami beda.” “He-eh,” sahutku seraya menggigit mendoan hangat dan cabai rawit hijau. Camilan pengiring ayam goreng kami. “Kami masih mendiskusikan masalah ini. Belum nemu jalan keluar. Dia kekeuh dengan agamanya. Dan aku, tidak mungkin murtad.” “Berat juga,” komentarku sambil kepedasan dan kepanasan. “Hhh… itu dia, Gev,” desah Eisya. “Kamu benar-benar cinta dia?” Eisya mengangguk. “Tapi entahlah….” Kami lalu terhanyut dalam kebisuan masing-masing. Sementara tangan masih sibuk menyuap makanan khas dari kota Purwokerto, si mendoan yang sudah aku sebut tadi. Segelas air putih tak lupa menemani selain jus yang sudah aku tandaskan isinya. Kembali ke Eisya. Kupikir hubungannya benar-benar lancar. Ternyata tidak. Masalahnya lebih berat lagi. Menyangkut prinsip hidup yang mendasar, agama. Pilihan antara kesenangan dunia dengan cinta semu atau kekekalan neraka, tentu saja menurut keyakinan masing-masing. “Sudah, Gev?” tanya Eisya sekali lagi membuyarkan analisisku tentang hubungannya dengan Doni. “Iya,” sahutku singkat seraya bangkit dari duduk. “Yuk!” “Kali ini aku yang traktir,” kata Eisya. “Apaan?” “Menjamu teman yang sedang berduka. Banyak pahala, lho!” “Ambil sana!” *** Satu minggu kemudian aku dan Eisya sengaja ketemuan di sela jam kerja. Kami sepakat bertemu di Bale Kemambang, taman lain yang ada di Purwokerto, pada jam istirahat siang. Sempat curiga pasti ada apa-apa dengannya. Eisya mendadak mengajak keluar dan bertemu di tengah-tengah jam bekerja. Sungguh situasi yang langka. Sesuai namanya Bale Kemambang, di tengah kolam ikan ada sebuah balai bundar berhias tanaman rambat yang menambah kesegaran mata. Di situlah saat ini kami berada sembari memberi makan ikan. “Miss Echa atit?” godaku ke Eisya yang jadi guru di playgroup Owl Kids. “Kenapa, sih?” selidikku melihat pada roman muka Eisya yang mendung. “Ratu benar,” desah Eisya. “Apaan?” Aku menanggapinya dengan tertawa. Tidak mengerti apa maksudnya. “Lelaki itu buaya darat!” “Busyeeet!” timpalku dengan menderai tawa lagi. “Heh, kenapa? Doni minta putus?” “Dia menikah dengan cewek pilihan orangtuanya.” “Hahh?!” Aku memelotot dengan mulut menganga lebar. “Tidak perlu mendramatisasi, mbokan!” ucap Eisya membuatku bersikap wajar. “Dia bilang itu sebagai tanda bukti bakti pada maminya yang baru saja meninggal. Dia bilang itu permintaan terakhir maminya agar dia menikah dengan cewek yang memang sudah dijodohkan dengannya sejak kecil.” “Serasa nonton film,” gumamku menebar pakan ikan terakhir. “Ini kenyataan, Gev. Dan temanmu ini sedang patah hati.” “Bagaimanapun, aku rasa, kamu terselamatkan.” Aku menepuk-nepuk tangan untuk mengusir remah pakan ikan yang menempel. Eisya menatap tajam ke arahku. “Yeah, terselamatkan dari jebakan buaya darat yang seperti kamu bilang. Terselamatkan dari kebimbangan urusan keyakinan. Dan yang terpenting terselamatkan dari murtad, kalau kamu ternyata lebih memilih cinta daripada agama.” Aku diam sejenak. “Harusnya kamu bersyukur, Sya.” “Mungkin, tapi kenapa dia tidak pernah bilang sebelumnya kalau dia sudah dijodohkan?” Aku cuma tersenyum tipis. “Saat Zaka kabur, apa kamu sesakit ini?” Aku berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Aku tidak tahu rasa sakitmu, Sya. Tapi aku bisa melihat kalau kamu benar-benar seperti orang gila. Lihat dirimu! Kamu berantakan banget. Apa muridmu tidak pada takut, tuh?” Wajah Eisya saat ini memang kuyu, pucat. Rambutnya tergerai tidak beraturan. Padahal biasanya dia tampil rapi dan cantik dengan blus berwarna lembut dan rok panjang yang menebar wangi pelembut pakaian. Sekarang, dia mirip salah satu tokoh penyihir jahat dengan rambut acak-acakan. Aku berhenti tertawa dan menjawab dengan serius. “Saat aku menjalin hubungan dengan Zaka, tak ada getar cinta. Aku hanya merasa senang ketika ada yang mau berbagi kisah cinta denganku. Setelah dia lari, aku justru lega. Ya, seperti yang dulu pernah kamu bilang. Setidaknya aku tidak menikah dengan orang yang tidak jelas.” Dan satu lagi, setelah dipikir-pikir kenapa aku malah jadi lega karena dia menolakku. Itu karena sejatinya aku sama sekali belum siap untuk menikah. Makanya waktu itu aku maju-mundur saat menerima pinangan dia. Bagiku, pacaran is ok. Nikah, no way dulu, deh. “Entah, Gev. Aku tahu ini pasti jalan terbaik. Tapi tetap saja kecewa itu bercokol di hati. Seperti ada bagian yang meluruh.” Eisya memandang gerombolan ikan koi di kolam yang berkerumun dengan kosong. “Haha….” Tiba-tiba tawaku terburai setelah suasana mendayu-dayu menyelubungi kami. “Lucu sekali!” “Gev!” tegur Eisya. “Iya, iya, kita ini lucu. Bayangin, deh... kita dulu jadian sama mereka hampir bersamaan. Sekarang, putus pun, ditinggal kabur pun terpaut satu minggu lagi. Hebat! Kompak banget, kita?” Tatapan Eisya masih tanpa pijar kehidupan meski mulutnya menyungging senyum. “Ayolah, tetap semangat kawan! Cowok-cowok itu memang tidak pantas mendapatkan cinta kita,” kataku berapi-api. “Ayo, semangat! Kita cari cowok lain.” “Kalau saja semudah itu, Gev,” cetus Eisya membuatku terkatup. Benar juga! “Iya, ya.” Aku ikutan lesu menyadari kenyataan. Eisya saja yang gampang dapat pacar bilang begitu. Bagaimana dengan nasibku? [1] Sekang: dari
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
hem
12/03/2025
0semnagat trus
01/11/2024
0bagus
10/07/2024
0Lihat Semua