logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

5. Pengumuman Penting

Pengumuman Penting
“Gimana Bro, berhasil?” tanya Dion seraya duduk di depan Ardan. “Benar itu gadis yang lo cari, cantik gak?”
Malam ini tiba-tiba Ardan menghubunginya agar datang ke cafe biasa mereka jelajahi, yaitu cafe milik Ardan. Ardan memang sengaja menyiapkan satu ruangan yang di desain khusus untuk dirinya menenagkan diri, sekalian menjadi tempat ia dan sang sekretaris berkumpul.
Ardan hanya diam mendengarkan sahabatnya itu terus bertanya. “ udah?” jawabnya santai.
“Ahh ... gak seru lohhh, nyesel gue datang ke mari, mana gue udah rencana tidur lagi, sebagai sekretaris lo, gue ternistakan tau gak!” bentak Dion melemparkan bantal sofa kearah Ardan, namun bukannya senang Dion malah semakin kesal saat Ardan dengan mudah menangkap bantal tersebut dan memeluknya.
“Gue gak jumpa sama gadis itu!” ucap Ardan tegas namun bernada sendu.
Dion hanya bersiap-siap menyimak apa yang akan Ardan katakan, karena biasanya Ardan akan begitu.
“Gue udah nyari dia keseluruh kelas tapi gak ketemu,” jelas Ardan singkat.
“Lo udah cari di tempat yang selalu ada di mimpi lo?”
“Belum, tempatnya di pantai, tapi gue gak tau itu di mana?”
“Jangan-jangan di pantai yang ada dekat kampus itu, pantai itu juga tempat ditemukannya artefak baru yang ada di musium, gimana kalau lo nyari di sana!” usul Dion menggebu.
Ardan hanya diam mendengarkan usulan Dion, mimpi itu dan ini semua terasa begitu mengganggu baginya. Apakah benar keputusannya untuk mencari gadis itu? Begitulah kira-kira pikiran Ardan saat ini.
“Bagaimana proyek artefak itu, apa semua artefak berhasil di teliti?” tanya Ardan mengalihkan pembicaraan.
“Udah dan ternyata seluruh artefak itu hanya poto dari raja Aron dan istrinya ratu Agries serta anak mereka Argasya, satu lagi poto delapan pemuda yang kabarnya berjuang dalam kelompok FBI sekitar 500 tahun lalu, ber ...”
“Stop!” ucap Ardan seketika memotong perkataan Dion, “FBI?” tanyanya memastikan.
Dion yang melihat bos nya hanya bisa geleng-geleng kepala. “Iya Bos, FBI organisasi tersembunyi yang di dalamnya terdapat banyak detektif yang saat itu di pimpin oleh raja Aron dan Istrinya.” Jelas Dion dengan nada sedikit sabar.
Ardan merasa ada yang janggal dengan penuturan Dion “Kenapa organisasi ini sama seperti di mimpi gue, apa benar ini semua berkaitan? lalu siapa gadis bernama Arsyala?” batinnya.
“Eh bos, aeelah gue udah jelasin panjang lebar lo malah ngelamun!” teriak Dion kala melihat sang bos tidak mendengar segala yang ia ucapkan.
Ardan mulai kembali sadar dari lamunannya dan kembali mendengarkan ucapan Dion tentang artefak itu.
“Eh gue lupa, tadi Alan yang dari pihak penelitian bilang, katanya ada kotak yang masih belum bisa dibuka sekarang masih di departement penelitian, bahkan mereka udah ngelakuin segala cara,” tutur Dion seolah bingung kenapa perusahaan milik sahabatnya ini mau mengeluarkan dana besar hanya demi menyelidiki sebuah artefak. “Gimana kalau kita adain sayembara?” sambungnya gantung.
“Sayembara?” Ardan mengeryitkan alisnya mendengar ide gila apa lagi yang akan di usulkan sekretarisnya ini.
“Iya bos, sayembara untuk membuka kotak itu, setiap warga kota berhak mencoba membuka kotak itu dengan cara apapun dan siapa yang berhasil akan mendapatkan hadiah, dan yang paling kita utamakan adalah fakultas dari kampus yang kemarin datang ke musium, semuanya harus coba dan pasti gadis yang lo cari juga ikut bos, kalau dia ada hubungannya dengan ini semua dan mimpi lo pasti dia bakalan bisa dan tau tentang misteri kotak itu!” jelas Dion panjang.
“Ide lo jenius juga, tumben?” tanya Ardan yang pastinya Dion tau itu adalah sebuah ledekan untuknya, Dion yang ingin melayangkan seribu amarahpun tertahan kala Ardan memerintahnya.
“Tolong susun proposal tentang hal ini secepatnya dan atur pertemuan dengan semua dereksi kantor besok untuk membahas hal ini!”
“Aaasiiaapp Bos,” semangat Dion seraya memberikan hormat.
***
“Sayang banget di kelas pagi, lo gak datang Key,” ujar Leksa yang membuat Keyla penasaran.
“Emang kenapa?” tanya Keyla bingung sambil menyesap minuman miliknya. Malam ini ketiga gadis itu tengah berada di cafe yang sering mereka kunjungi. Mumpung Keyla tidak bekerja.
“Pasti lo mau bilang kalau tadi di kampus ada cogan datang, iyakan Le?” tebak Resya melirik Leksa.
Gadis itu sudah sangat tahu dengan sahabatnya yang tomboi ini, tapi tetap saja memiliki jiwa meronta saat melihat cogan. Walau saat ada pria yang mendekatinya Leksa selalu menjauh dan tidak suka, hanya karena trauma.
“Iya sih, apa yang lo bilang itu benar, tapi kan Keyla gak tahu kalau cogan yang gak dapat matanya lihat adalah anak dari pemilik kampus kita!” tukas Leksa dengan suara meninggi.
Keyla yang melihat tingkah para sahabatnya pun hanya dapat geleng-geleng kepala. Apalagi kadang sifat mereka tidak bisa dikondisikan, sempat terpikir olehnya kenapa ia bisa bersahabat dengan kedua gadis dihadapannya ini?
“Ternyata hanya itu yang membuat lo bilang kalau gue salah gak datang, lo kan tau kalau gue gak suka yang bigituan.”
“Jangan-jangan lo ...?” tanya kedua sahabatnya menggantung, tumben sekali mereka kompak.
“Jangan mikir aneh-aneh, gue normal.” telak Keyla gemas.
“Tapi lo juga sih Le, tumben amat lo alay kaya si Denay, hehehe” Keyla yang mendengar perkataan Resya pun tertawa terbahak-bahak yang diikuti oleh pelaku. Tapi yang menjadi korban hanya manyun.
Seketika di antara mereka menjadi hening kala es kream yang mereka pesan akhirnya datang.
“Selamat menikmati,” ujar peria yang membawa es kriem tersebut.
“Eh kok Kak Rangga sih yang bawa ke depan, pelayan yang lain mana Kak?” tanya Resya heran saat melihat seorang koki plus yang memiliki cafe tempat mereka nongkrong malah menyamar menjadi seorang pelayan.
“Hehehe, gak papa lagi mau aja,” ujarnya seraya menatap Keyla yang mulai fokus memakan es kream miliknya. “Eh Key, itu es kream punya kamu kakak tambahin dengan selei strobery dan coklat loh, enak gak?”
“Ehemm ... Ehemmm ... pantes ... nganter sendiri,” sindir Leksa santai seolah tidak ada yang terjadi.
Keyla yang mendengar penuturan Rangga hanya diam memperhatikan kembali es kreamnya lalu mengalihkan perhatian melihat pria itu.
“Ooo pantes beda dari yang lain dan enak banget, aku baru sadar maaf ya Kak, dan makasih juga untuk es kreamnya,” ujar Keyla tulus tanpa memahami tatapan lelaki itu.
“Iya sama-sama, itu aku buat spesial buat orang spesial,” ucap Rangga sambil mengusap kepala Keyla yang terbungkus hijap. “Kalau gitu, kakak pamit kembali ke dapur, selamat menikmati es kreamnya,” pamit lelaki itu dan akhirnya pergi.
Keyla kembali fokus dengan es kream dan sama sekali tak menyadari perkataan Rangga untuknya.
“Key lo tuh polos apa begok sih?” tanya Leksa bingung dengan tingkah temannya yang ketika jumpa es kream kehilangan kesadaran.
“hah ... emang gue kenapa?” tanyanya polos.
“Auu ahh,pusing gue lihat loh!” geram Leksa.
Walau ia menyadari bahwa Keyla masih sangat polos untuk hal cinta, padahal umurnya sudah menginjak 20 tahun. “Ehh, lo kok diam aja sih Res, nahan kentut loh?”
“udah ah jangan bahas yang gak penting, bagus kita bahas yang penting-penting aja,” ujar Resya seolah menghindari pertanyaan Leksa.
Memang benar apa yang dikatakan Leksa, sedari tadi sejak kedatangan sosok pria pemilik cafe itu kemeja mereka Resya hanya diam setelah mengeluarkan satu pertanyaan dan setelahnya bungkam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Eh guys tau gak? Akhir-akhir ini gue selalu ngerasa ada yang ngikutin gue, sampai perasaan itu malah ganggu gue kerja, apa benar ya ada yang ngikutin gue? semenjak penemuan artefak itu hidup gue seolah di awasi.” Jelasnya menjelaskan keluh kesahnya akhir-akhir ini.
“Hah, apa jangan-jangan udah ada yang menyadari kalau wajah lo mirip sama tuh perempuan yang fotonya kepajang di musium?”
“Bisa jadi!” ucap Leksa membenarkan asumsi Resya.
Setelah itu entah karena dorongan apa, Resya memainkan ponsenya dan mengetik seolah tengah mencari sesuatu.
“Eh guys, gue tadi sengaja cari penemuan yang berisi poto perempuan yang mirip dengan Keyla dari instagram tapi tiba-tiba gue nemu info terbaru, katanya sih dari keterangan hasil penelitian foto itu adalah foto dari raja Aron dan ratu Agries serta anak mereka Argasya yang merupakan ketua dari organisasi FBI dan beserta dengan foto kedelapan anggota mereka yang telah ada 500 tahun lalu, juga fakta bahwa ratu Agries meninggal saat melakukan misi.” Jelas Resya membacakan semua yang ia lihat diponselnya.
“Hemm gue udah tahu, pantas kalung yang merka gunakan sama-sama berlogo FBI, dan dugaan gue benar kalau foto itu sudah ada 500 tahun silam,”
“Gimana lo bisa tahu Key?” tanya Leksa heran, “Apakah aku tidak bisa sepintar Keyla juga?” batinnya.
“Ah kepo loh!”

Komentar Buku (70)

  • avatar
    zaraa zaufiaa

    bagusssss

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AdeliaMelia

    sangat bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Putrabungsu

    wow kren

    23/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru