“Dion, tolong undur semua rapat saya pagi ini, saya akan mengunjungi kampus yang kemarin kemusium.” Ucap Ardan tegas yang hanya diangguki Dion. “Tapi Pak, sebaiknya Anda pergi menggunakan mobil, karena akan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari kantor ke kampus itu,” saran Dion. Ardan hanya diam sambil berpikir dan selanjutnya pria itu menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Saya akan pergi menggunakan motor.” Dion hanya mengangguk mendengarkan jawaban sang bos. Baginya Ardan adalah sahabat yang sangat keras kepala. “Apakah Bapak ke sana untuk mencari gadis itu?” tanya Dion penuh selidik sambil menatap Ardan memicing. Ardan yang mendengar pertanyaan Dion hanya mengangguk kaku sambil berdeham singkat untuk menetralkan rasa malunya. Karena selama ini dirinya tidak pernah mau pergi ke sana sekedar melihat kampus kepemilikan sang ayah. Dan kali ini dirinya malah pergi ke sana hanya sekedar untuk mencari seorang gadis. Dion yang mendengar dan melihat tingkah Ardan pun tersenyum. “Ternyata bos gue masih normal,” Gumamnya sambil tersenyum. “Apa?” tanya Ardan yang seolah mendengar. “Ahhh, tidak Pak,” balas Dion sambil tertawa ringan. “Semangat Pak, semoga jumpa dan berjodoh, biar di antara kita tidak ada yang jomblo lagi, kan gak lucu kalau orang berpikir kita punya hubungan, hehehe.” Setelahnya Dio pergi dari ruangan sang bos sambil berlari terbirit-birit keluar dari sana. “Dion ,,,” Geram Ardan sambil melempar jaket yang ingin ia pakai. *** Penyambutan dadakanpun dilaksanakan oleh seluruh pihak kampus untuk menyambut kedatang pertama anak dari pemilik kampus itu. “Selamat datang, Nak Ardan, saya sangat tersanjung atas kedatangan Anda dan sungguh-sungguh minta maaf karena tidak menyambut kedatang pertama Anda dengan sebaik-baiknya, ada gerangan apa Nak Ardan datang kemari dengan tiba-tiba?” tanya pria paruh baya itu sedikit takut karena aura yang tajam dari anak pemilik kampus ini, salah bicara sedikit bisa-bisa ia dipecat. “Tidak masalah Pak Heri, saya datang kemari hanya untuk melihat-lihat sebentar, karena kebetulan saya ada pekerjaan di dekat sini, papa juga sudah sering menyuruh saya untuk datang kemari.” Tutur Arda seramah mungkin, agar peria yang seumuran dengan papanya itu tidak begitu takut dengan dirinya. “Kalau begitu saya ucapkan selamat datang ke universitas William Group, mari saya antar Nak Ardan untuk berkeliling!” Ardanpun hanya mengangguk atas ajakan pria bernama Herianto sebagai orang kepercayaan sang ayah di kampus ini. Dengan tenang ia mendengar segala penjelasan sambil melihat-lihat bangunan yang tergolong megah untuk seukaran kampus. Peria itu kembali melihat arlojinya dan menyadari waktu yang ia miliki tidak begitu banyak, Ardanpun memotong penjelasan pak Heri. “Maaf Pak, bisa beri tahu saya, bagian fakultas apa saja yang kemarin mengunjungi musium, apa boleh saya melihat mereka sebentar?” tanya Ardan memperjelas niatnya datang kemari. “Oh, sangat boleh Nak, ayo!” *** Di lain tempat seorang gadis tengah mengayuh sepeda dengan santai, tapi tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk keponsel yang membuat gadis tersebut memutar dan membalikkan sepedanya menuju arah yang berlawanan dengan tergesa-gesa. Rapalan doa ia ucapkan selama diperjalanan, tanpa mengenal lelah sepeda itu di kayuh dengan sangat cepat. Hingga terparkir di depan sebuah rumah sakit. Sang pemilikpun masuk dengan tatapan khawatir. “Key, kamu sudah sampai Nak, Ayo temui ayah mu dulu!” ajak bunda Keyla yang sedari tadi menunggu kedatangan anaknya di depan pintu. “Ayah kenapa Bun?” tanya Keyla khawatir saat mendapati begitu banyak luka di kaki dan tangan ayahnya. “Ayah tidak papa Nak, hanya kecelakaan kecil saja, tadi warga membawa ayah kemari karena ayah pingsan,” tutur Rian menatap sendu wajah anaknya yang terlihat sangat cemas. Keyla hanya bisa menghembuskan nafas pertanda ia sangat lega atas apa yang didengarnya. Syukurlah ketakutan yang sedari tadi menggandrugi pikirannya tidak terjadi. “Maafkan bunda Nak, tadi bunda panik mau berangkat kerja terus dapat kabar ayah kecelakaan, jadi bunda langsung SMS kamu,” “Enggak papa kok Bun, Keyla senang karena Keyla dapat kabar ini langsung dari Bunda.” Ujar Keyla yang tidak ingin membuat orang tuanya sedih. “Tapi karena bunda kamu tidak masuk kuliah atau kamu berangkat saja biar bunda yang jaga ayah di sini?!” usul Fara bunda Keyla. Namun langsung mendapati gelengan kepala dari sang anak. “Key mau di sini aja, nemanin Bunda sama Ayah, nanti siang Keyla juga ada kelas kok, boleh ya Bun?!” “Yaudah,” ujar Fara lembut seraya tersenyum. “Oh ya Bun, nanti bayar biaya pengobatan ayah pakai uang Key aja ya?” “Enggak usah Key, udah dibayar tadi pakai uang ayahmu,” mendengar itu Keyla hanya mengangguk. *** Setelah beberapa saat berjalan pak Heri berhenti secara tiba-tiba, Ardanpun hanya menatap bingung pria paruh baya di depannya. “Maaf , Nak Ardan, kemarin ada 2 fakultas yang pergi mengunjungi musium yaitu fakultas kedokteran dan sastra, mana yang ingin kamu lihat terlebih dahulu?” “Fakultas kedokteran,” jawab Ardan singkat. Mereka kembali berjalan, Ardan mulai menjelajahi matanya mencari gadis yang ia ketahui dipanggil dengan sebutan Key. Namun setiap kelas yang dikunjungi tidak satupun dia melihat gadis yang dicarinya. Ardan kembali mengeluh karena ini kelas terakhir yang ia datangi tapi gadis itu masih tidak ada, bahkan waktunya sudah tidak cukup untuk melihat yang lain lagi. “Maaf Pak, waktu saya tidak cukup untuk melihat kelas yang lain, saya masih ada beberapa pekerjaan, boleh saya minta tolong?” tanya Ardan tersendat, namun setelah melihat pek Heri mengangguk ia melanjutkan kata-katanya, “Saya ingin Anda menyiapkan data mahasiswa dua fakultas tersebut dan tolong kirim berkasnya kekantor saya, ini kartu nama saya, Pak,” “Baik Nak, akan segera saya siapkan.” Ardan pun segera pergi menuju parkiran setelah berpamitan. “Eh guys kalian tau gak kenapa Key gak masuk hari ini, tumben banget gak sih?” “Iya gue juga heran, biasanya kalau sebatas sakit Key pasti tetap datang, gue takut deh kalau terjadi sesuatu sama tuh bocah,” “Kita tunggu kelas siang aja, mana tau dia datang.” Ardan yang hendak melajukan motornyapun terhenti sejenak, menajamkan pendengaran untuk mendengarkan percakapan gadis-gadis yang melewatinya. Ardan hanya menangkap bahwa gadis yang tengah mereka perbincangkan sama dengan nama gadis yang ia cari. “Apa karena itu gue gak nemui gadis kemarin? Apa gadis yang mereka bicarakan sama dengan gadis yang gue cari atau sebatas namanya yang mirip?” tanya Ardan kepada dirinya sendiri dengan bingung lalu setelah itu pergi melajukan motor miliknya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagusssss
19/03/2025
0sangat bagus
02/12/2024
0wow kren
23/09/2024
0Lihat Semua