logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

3. Kunjungan Kemusium

3. Kunjungan Kemusium
Pagi ini tanpa diduga semua penghuni fakultas kedokteran tiba-tiba akan mengadakan kunjungan kemusium yang baru saja diberitakan oleh Dekan.
Karena semalam berita tentang penemuan artefak sudah menjalar keseluruh penjuru kota, ditambah semua artefak tersebut dapat dilihat di musium ternama kota itu.
Keyla merasa beruntung hari ini, karena kemarin ia baru saja gajian jadi dirinya membawa uang sekitar seratus ribu apabila di butuhkan untuk membeli makanan atau sebagainya. Walau memang setiap melakukan kunjungan makanan akan disediakan gratis dari kampus.
Akhirnya setelah sekitar setengah jam di dalam bus, mereka semua pun sampai di depan musium yang saat melihatnya Keyla hanya dapat menganga dan berkata “Wow” di dalam hati. Dan selanjutnya berjalan masuk dengan ia yang diapit oleh kedua sahabatnya.
Mereka pun diberikan arahan untuk berkeliling sementara, sebelum masuk kepada pembelajaran utama tentang segala sesuatunya isi musium ini.
“Wah, Guys yang pertama kali yang harus kita lihat adalah penemuan artefak kemarin, katanya fotonya udah dipajang, soal artefak yang lain bisa kita lihat nanti, yuk capcus!” ajak Leksa, seraya menarik tangan Keyla dan Resya.
Bukan hanya Leksa yang antusias, teman-teman sefakultasnya yang mendengar ucapan Leksa yang sangat keras langsung turut mengikutinya dengan sumringah.
Keyla yang malas pun hanya berjalan dengan santai di belakang kedua temannya. Saat memasuki ruangan tempat artefak itu terpajang betapa terkejutnya mereka kecuali Keyla yang tampak tak mau tahu dengan isi musium ini.
“OMG ...,” begitulah teriakan Denai salah satu teman mereka.
“Key, kenapa foto lo ada di sini, dan pakai baju kerajaan pula?” tanya Resya dengan wajah heran, bahkan semua teman-temannya masih ternganga, walau di foto itu sang gadis menggunakan kerudung kuno tidak seperti saat ini Keyla yang berpenampilan muslimah yang fashionable.
Mendengar penuturan Resya, Keyla yang sejak tadi tak mau tau akan artefak itu, segera melangkah dan melihat sebuah foto di dalam frame yang memang sangat mirip dengannya. Keyla pun membaca ukiran yang ada di bawah, tepatnya di bingkai foto tersebut, “Pasutri Aron Dan Agries, dan anak mereka Argasya.” beonya saat membaca ukiran kuno aksara Nusantara yang pernah ia cari tahu dan pelajari di masa SMA dulu.
Dan yang menjadi perhatiannya adalah kalung yang digunakan sang wanita yang nampak kembar dengan kalung digunakan pria sebagai pasangan wanita itu.
“FBI?” terkejutnya lagi lebih keras dan memecahkan lamunan seluruh siswa/siswi yang langsung berteriak heboh akan miripnya Keyla dengan foto tersebut. “Siapa wanita itu, kenapa dia sangat mirip denganku?” tanyanya di dalam hati.
***
Tanpa mereka sadari, sedari tadi tepatnya saat mereka menyebutkan Keyla sangat mirip dengan foto tersebut, pria yang tanpa mereka kenal yang saat ini tengah berbicang dengan rekan kerjanya malah fokus menatap Keyla aneh, hingga terlintas dalam benaknya,
“Apakah dia Arsyala, tapi kenapa teman-temannya memanggil dia dengan nama Key?” tanyanya sendiri.
“Pak Ardan ..., Pak ...!” panggil Dion dengan melambaikan tangannya kewajah Ardan, yang tampak melamun.
“Maaf, bisa kita tutup pembicaraan kita di sini, saya rasa semuanya sudah selesai.” jawab Ardan setelah ia mulai sadar.
“Apa Bapak baik-baik saja?” sambung Dion lagi.
“Saya baik-baik saja!”
Dion yang merasa Ardan terlihat banyak pikiran dan berbeda, langsung menutup percakapan di antara mereka dan rekan bisnisnya.
"Apa mereka dari kampus bokap gue?"
"Sepertinya, iya Pak," jawab Dion yang melihat Ardan menunjuk segerombolan mahasiswa.
Setelahnya Ardan mulai tak melihat lagi kerumunan siswa/siswi itu di sana, tepatnya gadis yang membuyarkan kefokusannya.
Kaki Ardapun tertarik mendatangi tempat di mana foto yang sibuk diperbincangkan banyak orang. Ia kembali melihat foto itu, dan yang membuatnya heran lagi adalah, “Bagaimana gadis itu dapat membaca tulisan ini, bahkan gue aja gak tau apa bacaannya?”
Dion yang mengikuti Ardan, juga tak urung turut melihat foto di hadapannya yang ikut membuatnya kaget.
“Maaf Pak, bukan kah foto pria ini sangat mirip dengan Anda?” Tanyanya antusias, yang diikuti oleh Ardan untuk melihat pria yang letaknya tepat di samping foto wanita yang baru saja ia lihat.
Namun, walaupun rambut peria dalam foto itu cukup panjang dan menggunakan mahkota raja, serta baju perang yang tidak sesuai dengan Ardan saat ini, tapi Ardan turut membenarkan hal tersebut.
“Lo benar, kenapa fotonya bisa mirip banget sama gue?”
“Dion, apa lo bisa baca tulisan ini?” sambungnya lagi.
“Maaf pak, saya tidak bisa.” Jawab Dion jujur, seraya memperhatikan tulisan yang Ardan tunjuk.
“Cari tahu apa tulisan dan keterangan dari foto itu segera!” perintahnya tegas yang di anggukan oleh Dion.
***
Di lain tempat, Keyla saat ini sudah di dalam bus untuk menuju pulang kekampusnya. Namun sedari tadi pula telinganya, hatinya, terlebih pikirannya mendengar dan berpikir tentang fakta bahwa wanita yang bernama Agries sangat mirip dengannya.
“Gue benar-benar gak nyangka Key, bisanya wanita di foto itu mirip banget sama lo!” tutur Vio yang duduk di depannya, juga teman kampus dan satu fakultas dengan ia dan ke dua sahabatnya.
“Sama gue juga gak nyangka, tapi yang menjadi pertanyaan gue, gimana lo bisa baca tulisan tadi Key?”
“Gue juga gak tau kenapa foto tadi bisa mirip banget sama gue, tapi kalau soal tulisan itu ..., gue pernah mempelajarinya dulu waktu SMA.” Jawabnya seraya menatap Resya yang berada tepat di sebelahnya.
“Tapi tahu gak guys, kalau foto pria tadi tuh ganteng banget! Tapi sayang foto ke-2 yang isinya 8 pria tadi wajahnya udah gak jelas,” sambung Denay yang sudah menunjukkan sifat mentelnya.
Oh iya di mana Leksa? Tenang Leksa saat ini tengah nyaman dengan dunia mimpinya di samping Vio.
Mereka yang mendengar Denay geleng-geleng kepala.
“Aelah lo, yang ganteng aja cepet banget, coba dalam pelajaran lemot lo.” Sambung Vio yang sedari tadi mendengar percakapan mereka di tempat duduknya.
Dan ucapan itu berhasil membuat semua yang mendengar tertawa, kecuali Denay yang memanyunkan bibir merajuk.
“Eh tapi Key, bisa jadi, jodoh lo nanti wajahnya juga sama persis kaya peria yang di foto tadi,” heboh Denay yang diangguki semuanya. “Mirip-mirip sama Lee Min Ho, ya kan guys?” sambungnya, tapi malah mendapat tatapan absurd dari para temannya.
Tapi tidak dengan Keyla karena wanita itu terlihat sedang berpikir dan kembali melamun. “Foto itu dari tahun berapa ya, kok pakai tulisan kuno dan kenapa sangat mirip dengan ku, ada kisah apa di balik foto itu?” pikirnya yang hanya dapat diketahui olehnya dan sang Maha Kuasa.
____________________________________________________
"Menjadi diriku memang sulit, walau mereka melihat aku selalu bahagia."

Komentar Buku (70)

  • avatar
    zaraa zaufiaa

    bagusssss

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AdeliaMelia

    sangat bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Putrabungsu

    wow kren

    23/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru