logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Perjanjian Dina

Siapa yang sudah tega menumbalkan aku? Apakah kedatanganku ke tempat ini ada campur tangan seseorang? Apakah ada hubungannya dengan Pak Yusuf dan Bu Endah? Yang kutahu hanya mereka yang sudah pernah bersekutu dengan siluman ular ini.
Atau jangan-jangan ada orang lain di kampungku yang juga bersekutu dengan siluman ular? Namun, siapa? Ah, berbagai macam pertanyaan muncul di kepala.
“Kau penasaran, Nona?” tanya lelaki siluman ular itu sambil berdesis.
Aku menatap wajah lelaki di depanku ini, berharap dia mau memberitahu siapa orang yang sudah menumbalkanku.
“Tuan, tolong katakan siapa yang telah menjadikan aku tumbal.” Aku memohon agar siluman ular ini mau memberitahu.
“Shhh ... tenang Nona, kau tak perlu tegang. Meski kau adalah tumbal, tetapi di sini kau akan menjadi ratuku,” ucapnya menyentuh hatiku. Ratu? Baru kali ini aku dianggap berharga.
“Aku hanya ingin tahu Tuan,” lirihku masih berharap ia memberi tahu.
Tak terasa air mataku menetes, ada rasa sedih di hati. Apakah angan-anganku untuk menjadi kaya dan membahagiakan keluargaku akan gagal? Susah payah aku datang ke tempat ini, tetapi mengapa kenyataannya begini?
Rasa takut pun terus menyergap hatiku setelah mengetahui aku adalah tumbal. Apa mungkin aku akan mati seperti anak-anak Pak Yusuf? Walau pangeran siluman ular ini berkata aku adalah ratunya, apakah aku bisa kembali kepada keluargaku?
“Mengapa kau menangis Nona, tenanglah. Aku tak kan menyakitimu meski aku sama seperti mereka sesosok siluman ular, tetapi aku adalah setengah manusia,” ungkapnya membuatku terkejut.
“Maksud, Tuan?” tanyaku penasaran.
Aku terheran mendengar perkataannya. Mengapa dia berkata setengah manusia? Bukankan semua yang ada di sini juga bisa merubah diri menjadi setengah manusia.
“Aku tak sama dengan mereka yang ada di sini, Nona. Aku anak dari perkawinan ibuku dan seorang manusia. Manusia tersebut yang telah menumbalkanmu,” ungkapnya sambil menatap tajam mataku.
“Siapa Tuan? Aku ingin tahu nama dari orang itu,” tuntutku agar ia memberi tahu.
“Namanya Ahmad. Seorang manusia yang telah membuat ibuku ratu Dewi Nagini, jatuh cinta. Namun, lelaki itu telah mengkhianati ibuku, hingga membuat ibuku murka.”
Ahmad. Siapa dia? Ternyata bukan Pak Yusuf yang menumbalkan aku. Memang sudah kuduga tidak mungkin Pak Yusuf akan setega ini. Namun Ahmad, aku tak pernah kenal dengan orang yang bernama Ahmad. Namun, siapa pun dia jika aku selamat dari tempat ini akan kucari tahu, siapa orang yang bernama Ahmad ini. Mengapa dia menumbalkanku?
Apa karena aku orang miskin? Sehingga orang bernama Ahmad itu memilih aku untuk dijadikan tumbal. Ah, dia tidak bisa kumaafkan!
“Lalu Tuan, apakah aku akan dijadikan mangsa?” tanyaku khawatir.
Lelaki siluman itu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata, “Tentu saja tidak Nona. Sudah kukatakan kau adalah ratuku.”
Kini lelaki ini sudah tidak lagi berdesis, bahkan semakin lama wajahnya tidak seseram seperti awal mula ia muncul. Wajahku memerah ketika lelaki ini memergoki aku yang sedang menatapnya dengan lekat.
“Apa kau terpesona melihat ketampananku, Nona?” godanya membuatku salah tingkah.
“Anu ... Tuan, itu ....”
Ia tertawa dengan keras melihat kegugupanku. Sedang aku, semakin malu melihatnya. Ada rasa aneh di dalam hati ini. Geli sekali.
“Sudahlah, mari kita bicara serius. Aku sangat tau sebenarnya tujuanmu apa. Aku akan memberikan apa pun yang kau minta, tetapi tidak dengan cuma-cuma Nona manis.” Ia berdesis lagi tepat di depan wajahku.
“Baik Tuan, apa pun itu syaratnya akan kulakukan.” Meski belum tahu aku akan tetap menyanggupi.
“Kau akan mendapatkan segalanya, namun tepat di umur 20 tahun kau akan menikah denganku. Jiwa ragamu akan utuh menjadi milikku dan malam ini kau harus menemaniku.”
“Maksud Tuan, di umurku 20 tahun, aku akan Tuan bawa ke tempat ini? Apakah aku akan hidup di sini?” tanyaku. Ada rasa kecewa mendengar itu semua.
“Iya Nona. Karena sejatinya kau adalah seorang tumbal. Namun, karena kutahu kau orang yang baik, aku memintamu dari Ibu ratu untuk kujadikan istri. Kau tak bisa menolak ini Nona atau nyawamu akan jadi taruhannya,” jelas lelaki siluman itu.
Entah apa yang kurasa saat ini. Harus bahagia karena aku pasti menjadi orang kaya dan membahagiakan keluargaku atau sedih karena saat ini umurku 15 tahun? Itu artinya hanya ada waktu 5 tahun aku bersama ibu, bapak dan adik-adik.
“Tuan, apakah jika nanti aku kau bawa ke tempat ini keluargaku akan menjadi miskin kembali?” Aku tidak ingin pengorbananku menjadi sia-sia di kemudian hari.
“Tentu saja tidak Nona. Kau tetap bisa memberikan kekayaan kepada keluargamu. Namun, kau hanya bisa datang di malam-malam tertentu dan hanya berbentuk bayangan saja,” ucapnya menjelaskan.
Aku tertunduk mendengar ucapan lelaki siluman ular ini. Jika ibu dan bapak tahu harta yang kudapat dari melakukan pesugihan, apakah mereka mau menerimanya? Selama ini mereka begitu taat kepada Allah, mereka bertahan dalam kemiskinan hanya ingin selalu berjalan di jalan Allah.
“Nak, meski kita miskin kita akan tetap selalu kaya di mata Allah. Jangan pernah lupa ibadah, Nak. Biarlah kita miskin di dunia namun kaya di akhirat.” Itulah yang selalu ibu dan bapak katakan.
Kini aku dilanda kebingungan, jika tidak melakukan pesugihan dan menyanggupi perjanjian dengan pangeran ular nyawaku akan tetap menjadi taruhannya. Karena sudah ada seseorang yang menumbalkanku dan pangeran siluman ular ini yang akan menyelamatkan aku. Namun, pada akhirnya aku pun akan dibawa untuk menjadi istrinya.
“Bagaimana Nona, apakah kau setuju dengan perjanjian ini?” tanyanya membuat wajahku terangkat.
Aku hanya terdiam menatapnya. Sepertinya dia tak perlu bertanya lagi. Bukankah dia pula yang sudah mengatakan aku tak bisa menolak, bagaimana pun nyawaku akan tetap diambil oleh bangsa siluman ular.
“Tenanglah, kau jangan takut. Kau masih mempunyai waktu lima tahun. Jika kau bisa membujuk Ahmad yang tak lain adalah ayahku untuk membatalkan dirimu dan mengganti tumbal dengan yang lain kau akan selamat. Namun, kau akan tetap terikat perjanjian denganku,” ungkapnya menciptakan secercah harapan untukku.
“Apakah aku bisa tetap hidup di alam manusia, Tuan? Setelah umurku 20 tahun aku akan tetap bisa bersama keluargaku?” cecarku bersemangat.
“Ya, Nona. Jika kau berhasil membujuk Ahmad untuk membatalkanmu sebagai tumbalnya kau akan tetap hidup sampai ajalmu sendirilah yang tiba. Namun, bukan berarti kau bebas dari perjanjian kita, kecuali kau mau pulang dengan tangan kosong saat ini.”
“Baiklah Tuan, aku setuju dengan perjanjian kita. Aku tak ingin pulang dengan sia-sia dan menjadi hinaan orang lagi.” Aku semakin bersemangat.
“Shhh ... kau wanita yang tangguh Nona. Aku sangat menyukainya,” ucap lelaki itu sambil mengerlingkan mata padaku.
Aku tertunduk malu melihatnya. Bukankah ia calon suamiku? Ah, entah apa yang aku pikirkan.
Dalam waktu lima tahun ini akan aku manfaatkan untuk mencari seseorang yang bernama Ahmad. Kemudian memintanya untuk melepaskanku, bagaimana bisa dia menumbalkan aku yang bukan siapa-siapanya, bahkan mengenalnya pun tidak.
“Ingat Nona, malam ini kau harus menemaniku!” ujarnya yang diiringi desisan di telingaku.
“Baik Tuan, aku harus apa?” tanyaku semakin gugup teringat kejadian yang kulihat di bilik bertirai tipis tadi.
“Ikutlah denganku,” ajaknya sambil melambaikan tangan.
Lelaki siluman ular ini berjalan keluar kamar, aku mengikutinya dari belakang. Entah hendak kemana dia, apakah mungkin aku juga akan dibawa ke bilik-bilik seperti yang telah kulihat tadi. Entahlah saat ini aku hanya bisa pasrah, aku harus terima apa pun yang akan dia lakukan.
“Kita hendak kemana Tuan?” tanyaku yang semakin penasaran.
“Namaku Argasyura, panggil saja Arga. Aku tak suka kau selalu memanggilku Tuan,” ucapnya dengan sangat tegas dan tanpa menoleh.
Entah mengapa aku merasa ular siluman yang bernama Argasyura ini menjadi berbeda. Dia tampak lebih serius dan berwibawa. Tidak sama seperti saat kami di dalam kamar tadi.
Kini kami tiba di suatu ruangan yang menurutku sedikit menyeramkan. Aku bergidik ngeri melihat pemandangan itu.
“Kenapa Nona, kau takut melihat makhluk-makhluk yang ada di depanmu? Inilah mereka yang telah melanggar perjanjian terhadap kami. Mereka datang mengemis untuk menjadi kaya raya atau pun untuk menjadi terkenal. Namun, setelah mereka mendapatkan yang mereka mau, mereka lupa akan janji yang telah mereka buat. Dengan seenaknya mereka melanggar janji tersebut bahkan menyalahkan kami,” katanya menunjuk sesuatu yang mengerikan di depan kami.
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan pangeran Arga. Apa maksudnya memperlihatkan makhluk yang berbentuk aneh ini? Apakah dia ingin aku memikirkan lagi niatku?
“Kau tau Nona, kami tak pernah meminta para manusia tersebut untuk datang menyembah kami. Merekalah yang mendatangi kami dan meminta bantuan. Tentu saja semua tidak mungkin kami berikan secara cuma-cuma.” Lanjutnya.
Aku terus diam tanpa berkata mendengar semua penjelasan pangeran Arga.
“Walau aku sendiri tak pernah berminat berurusan dengan manusia. Namun, aku tau bagaimana semua yang ada di sini memanfaatkan manusia yang tamak dan serakah untuk memenuhi nafsu mereka.”
“Apa aku salah sudah datang kemari, Tuan Arga?” tanyaku sedih.
Ketika mendengar perkataanku, pangeran Argasyura menatapku dengan lekat. Matanya begitu tajam hingga membuat aku tak berani menatapnya. Sepertinya ada yang salah dengan perkataanku.
“Kau tak salah Nona, hanya saja memang sudah jalan dan takdirmu untuk datang ke tempat ini. Namun, dendam yang ada di hatimu yang sudah membuatmu memilih jalan yang hina,” sahutnya dengan nada sedikit kesal.
“Tapi Tuan Arga, tak ada jalan yang bisa kutempuh selain ini. Semua orang seakan menjauhi keluargaku.” Sambil tertunduk aku mengatakan kepada pangeran Argasyura.
“Aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu Nona.”
Aku mengangkat wajahku kemudian mengangguk.
“Kau yakin dengan apa yang kau lakukan ini? sudah kutunjukkan padamu orang yang telah mengingkari perjanjian dengan kami. Apa kau tak akan seperti mereka juga, menghianatiku?”
Pangeran Argasyura seakan meragukanku dan aku sendiri pun mulai ragu dengan keyakinan hati saat ini. Namun, terlintas kembali wajah orang-orang yang telah menganiaya kami.
“Aku yakin seyakin yakinnya, Tuan.” Dengan tegas aku menjawab pertanyaan pangeran Argasyura.
“Baiklah, sudah cukup. Perjanjian kita sudah tersepakati, kau harus ingat Nona. Waktumu masih ada lima tahun untuk lepas dari penumbalan ini, jika kau tak bisa membuat ayahku itu melepaskanmu maka kau akan kubawa ke tempat ini. Atau kau akan tewas di tangan ibuku ratu Dewi Nagini,” cetus pangeran Argasyura memperingati.
“Baik tuan, aku mmengerti.” Kemudian Aku mengaguk.
“Ambillah ini, kau boleh membukanya setelah kau tak lagi di kerajaan ular ini.” Pangeran Argasyura memberikan sebuah kotak berukir ular.
Aku mengambil kotak tersebut, mungkinkah di dalam kotak ini terdapat banyak emas? Itu artinya perjuanganku berhasil, walau masih banyak yang ingin kucapai. Aku harus berjuang mencari seseorang yang bernama Ahmad dan juga membalas semua dendamku.
“Mari ikut denganku Nona, aku akan mengantarmu ke pintu gerbang. Di luar sana kau akan bertemu kembali dengan Ki Nogo,” ajaknya lagi.
“Si—siapa Ki Nogo, Tuan?” Aku merasa takut dengan nama yang di sebutkan pangeran Argasyura.
“Dialah yang telah mengantarmu masuk ke dalam alam kami,” celetuk pangeran Argasyura.
Apakah yang dimaksud pangeran Argasyura adalah kakek juru kunci?
“Berikan salamku kepadanya, jika nanti kau sudah bertemu dengannya kembali. Nona kau bisa memanggilku jika sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan,” ujar pangeran Argasyura.
“Bagaimana caranya, Tuan?” ucapku menanyakan.
“Ki Nogo akan memberimu minyak wangi yang aku sukai dan kau silakan bertanya kepadanya cara memanggilku Nona.”
Entah mengapa aku merasa raut wajah pangeran Argasyura berbeda. Wajahnya tampak ada kesedihan aku pun merasa iba terhadapnya.
Sambil terus berjalan di belakangnya aku dan pangeran Argasyura telah tiba di pintu gerbang.
“Keluarlah Nona, jaga dirimu baik-baik,” lirihnya padaku.
Aku mengucapkan terima kasih dan tersenyum padanya. Kulihat manik matanya bercahaya seperti ada buliran bening tertahan di sana.
Aku berjalan ke arah pintu gerbang, sambil terus mendekap kotak yang telah pangeran Argasyura berikan. Namun, tiba-tiba ada cahaya yang terang menyilaukan mata hingga semua seakan tertutup oleh sinar tersebut.
Tak lama kemudian sinar tersebut mulai samar dan kini suasana pun mulai berubah. Suara kicauan burung mulai terdengar semakin lama semakin jelas. Saat ini aku tengah berdiri di bibir sebuah gua.
Saat semua jelas aku terperanjat karena di sini sendiri. Kemana si kakek juru kunci? Bukanya pangeran Arga berkata aku sudah ditunggu olehnya. Tapi, di mana dia? Dan ya, saat aku memulai ritual bukan di tempat ini. Saat itu aku duduk di sebuah batu di pinggir parit.
Terdengar suara gemercik air, pasti itu parit saat awal aku melakukan ritual. Aku mengikuti arah suara gemercik itu dan benar saja terlihatlah kakek juru kunci sedang duduk di atas batu besar tempat kami melakukan ritual.
“Kakek!” Aku berteriak memanggil kakek juru kunci.
“Kau sudah selesai, Nak? Mari ikut kakek kita istirahat dulu di rumah,” ajaknya menawarkan.
Semua memang melelahkan dan menegangkan bagiku. Namun, semua akan terbayarkan nanti dengan senyum keluargaku.

Komentar Buku (165)

  • avatar
    Kilauanpena

    Jangan lupa Mampir dan saling dukung

    06/04/2022

      4
  • avatar
    Restu

    mantap

    8d

      0
  • avatar
    Anda Jasaku

    seru

    21/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru