Beranda/Karena Hinaan, Aku Pesugihan (Bersekutu dengan Siluman Ular)/
Bab 6 Ritual
Pagi ini cuaca begitu cerah. Aku telah siap berjuang atas nama keluarga. Sekali lagi kutatap wajah ibu, bapak dan adik-adik. Sebentar lagi kalian semua akan bahagia. Aku berjanji setelah kepulanganku nanti semua akan berubah. Walau aku tahu apa yang akan kulakukan akan penuh dengan risiko dan penuh dengan dosa. Namun, tidak ada jalan lain. Hati ini sudah terlanjur sakit selalu dihina dan diremehkan orang. Bahkan, beberapa waktu lalu kami sekeluarga telah dianiaya. Aku harus membalas mereka yang telah memfitnah keluarga kami. Setelah berpamitan aku langsung menuju terminal bus. Daerah tujuan tidak terlalu jauh, hanya hitungan jam saja. Sebenarnya aku bingung dan takut karena sebelumnya tidak pernah pergi jauh naik bus apalagi sendiri. Namun, bayangan akan merubah nasib keluarga membuat rasa takut itu hilang. Bus mulai berjalan. Aku sengaja memilih duduk di dekat jendela untuk melihat pemandangan yang sebelumnya tak pernah kulihat. Akan aku kenang selalu perjalanan ini. Tanpa terasa air yang terasa hangat membasahi pipi. Setelah beberapa jam terlihat tanda bahwa gunung X sudah dekat. Dengan hati berdebar aku berjalan ke arah sopir untuk memintanya berhenti. Mobil bus berhenti. Perlahan-lahan aku berjalan turun. Seketika angin berembus kencang, terasa dingin dan menusuk tulang. Sungguh terasa aura mistis di tempat ini. Aku berhenti sejenak. Ada rasa ragu ketika melihat ke arah atas gunung yang terlihat seram dan berkabut. Kupertimbangkan matang-matang yang akan kulakukan. Antara terus berjalan naik ke atas gunung atau berhenti dan pulang. Seketika terbayang kejadian fitnah dan penganiayaan yang kami alami beberapa waktu lalu. Kembali semangat dan rasa takut itu hilang. Aku melangkah dengan yakin. Aku berjalan masuk ke dalam hutan di kaki gunung. Terlihat sebuah rumah tua yang usang. Walau siang hari tempat ini begitu amat seram. Waktu itu Bu Endah bercerita jika akan melakukan persekutuan dengan siluman ular harus melalui juru kunci. Aku mencoba mendekati rumah tersebut hendak bertanya di mana juru kunci gunung siluman ular. Belum sempat kuucapkan salam, keluarlah sesosok lelaki tua berambut putih. “Kemarilah, Nak. Kakek memang sudah menunggumu,” ucap si kakek mengejutkanku. Dari mana dia tau bahwa aku akan datang ke sini? Siapa yang memberi tahu? Apakah keluarga pak Yusuf? Ah, mustahil. Mereka tidak tahu jika aku berniat melakukan ritual persekutuan dengan siluman ular di gunung ini. “Bagaimana Kakek tau bahwa aku akan datang kemari? Siapa yang memberitahu Kakek?” Aku bertanya penasaran. “Tidak ada satu pun manusia yang memberitahu Kakek, Nak. Kecuali dia yang namanya selalu kau sebut-sebut,” jawab kakek sambil terkekeh. “Siapa, Kek? Tidak ada yang sering kusebut kecuali orang tua juga adik-adikku.” Aku makin bingung dengan sikap kakek yang aneh ini. “Sudahlah, Nak. Kemari, duduk di sini. Aku tau niatmu sebenarnya baik, tetapi mengapa kau harus menempuh jalan sesat ini?” celetuk kakek itu. Aku terkejut mendengarnya. Ia seakan penuh teka teki. Dari mana dia tau apa niatku datang ke gunung ini? Ah, siapa dia? “Maaf, Kek, hari hampir sore aku tidak bisa berlama-lama di sini. Jika Kakek tau tolong beritahu aku di mana rumah juru kunci gunung ini,” kilahku menolak ajakannya. “Orang yang kau cari sudah ada di depanmu, Nak. Maka kemarilah. Duduk di sini. Umurmu masih muda, aku tak ingin kau menyesal kemudian,” tawarnya lagi. Aku berjalan mendekati kakek yang mengaku sebagai juru kunci. Apakah benar dia orang yang kucari, juru kunci gunung siluman ular? Kalau memang iya, pantas saja ia tahu aku akan melakukan pesugihan. “Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk merubah nasib, Nak. Hilangkan dendam di hatimu itu. Ikhlaskan apa pun yang telah mereka lakukan kepada keluargamu, biarkan Allah yang membalasnya, Nak,” ucap kakek menasihati. “Tidak, Kek, aku telah jauh sampai di sini. Niatku sudah bulat. Kakek jangan coba-coba untuk menggoyahkan pendirianku. Jika memang benar Kakek juru kunci menuju istana siluman ular, maka tolong bantu aku untuk datang ke sana,” sanggahku sedikit kesal. “Tidak, Nak, aku hanya menasihati saja. Aku tak pernah mencoba menggagalkan niat siapa pun orang yang datang kemari. Jika niatmu sudah bulat mari masuk, kita akan menyiapkan sesaji untuk membuka gerbang istana ular. Karena malam ini akan ada sesosok pangeran siluman ular yang akan mencari mangsa,” ucap kakek membuatku bergidik. Ah, apa aku sanggup? Aku berjalan mengikuti kakek tersebut masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak seperti orang kaya, terlalu munafik menurutku. Ia membantu orang untuk kaya raya, tetapi hidupnya sendiri miskin. “Aku bukan munafik, Nak, tapi aku takut azab dari Allah,” celetuk kakek itu membuatku terperanjat. Apakah dia bisa mendengar isi hatiku? Entahlah, intinya aku ingin segera melakukan ritual dan pulang menjadi orang yang kaya raya. Terserah pada kakek ini, tidak penting untuk tahu apa pun tentangnya. Kakek telah menyiapkan sesaji untuk dipersembahkan kepada penjaga gerbang istana siluman ular. Aku dan kakek juru kunci tersebut berjalan menuju hutan di lereng gunung. Walau hari masih sedikit terang gunung ini sungguh mencekam. Beberapa menit berjalan tibalah kami di sebuah parit yang airnya begitu jernih. Kakek juru kunci mengajakku duduk di berbatuan dan si kakek menyusun sesaji, kemudian membaca mantra “Ritual pembukaan gerbang akan dimulai. Kau harus fokus, jangan hiraukan suara apa pun di sekitarmu. Pejamkan mata, ingat meski apa pun suara yang kau dengar tetap pejamkan mata. Karena jika sesi ini gagal kau tidak akan bisa mengulanginya lagi. Paham!” perintah kakek dengan sangat tegas. Kakek juru kunci mulai mengucapkan mantra. Sementara aku mulai memejamkan mata. Mencoba untuk fokus walau sesungguhnya sangat sulit karena begitu banyak suara-suara yang mengganggu. Beberapa saat kemudian tiba-tiba suasana hening, bunyi jangkrik pun tak ada lagi. Suasana benar-benar sunyi sepi, tetapi aku tak berani untuk membuka mata. Aku takut perjuangan ini akan gagal, maka aku hanya diam menunggu instruksi si kakek. Walau suara bisik dari bibirnya saat membaca mantra pun tak lagi kudengar. Di tengah rasa bingung tiba-tiba terasa udara yang begitu dingin berembus kencang. Bulu kudukku semakin meremang, bingung harus melakukan apa. Sedangkan si kakek tidak ada tanda-tanda untuk memberi arahan. “Silakan masuk, pangeran sudah menunggumu di dalam.” Aku terkejut mendengar suara seorang lelaki yang memintaku untuk masuk ke dalam. Jelas itu bukan suara kakek. Perlahan-lahan kubuka mata untuk melihat si pemilik suara. Mataku terbelalak melihat pemandangan di sekitar. Suasana sungguh berbeda dari sebelum aku menutup mata. Di depan terlihat sebuah gerbang yang tinggi, sepertinya gerbang tersebut terbuat dari emas. Ukiran gerbang pun begitu eksotis, ukiran berbentuk ular yang meliuk indah seakan ular tersebut benar-benar hidup. “Cepatlah! Pangeran tidak suka menunggu lebih lama.” Suara lelaki asing itu mengagetkan lamunanku yang sedang mengagumi suasana tempat yang seperti istana. Sangat megah sekali. “Aku harus ke mana, Tuan?” tanyaku pada lelaki itu. “Ayo, akan aku antar,” ajaknya tanpa menoleh padaku. Aku berjalan di belakang lelaki asing tersebut. Siapa itu pangeran? Mengapa lelaki ini berkata bahwa pangeran itu telah menungguku? Kenapa kakek juru kunci tadi tak terlihat lagi? Di sini aku benar-benar sendiri. Belum lagi semua begitu aneh, seakan kakek juru kunci dan para siluman ini sudah mengenaliku. Masuk ke dalam istana, ternyata benar yang dikatakan Bu Endah. Istana ini begitu mewah, hiasan-hiasan dinding berbentuk ular terbuat dari emas, juga banyak bilik-bilik yang hanya tertutup tirai tipis. Sesuatu yang membuat aku sangat terkejut, di dalam bilik tersebut terdengar desahan juga desisan. Aku bergidik melihat bayangan dari balik tirai. Bu Endah bercerita hanya seseorang dengan kemampuan yang lebihlah yang bisa langsung melihat wujud asli mereka. Namun, semua terlihat jelas. Mereka adalah ular dan juga seorang manusia yang saling melilit tubuh. Apa aku mempunyai kemampuan lebih, itu? “Kenapa, apa kini kau takut?” tanya lelaki itu saat melihatku terus bergidik. “Oh ... Ti—tidak, Tuan.” Sesungguhnya aku sangat gugup melihat pemandangan ini. Seperti bisa membaca pikiran, lelaki ini tahu bahwa aku mulai merasa takut. Apakah nanti aku pun juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kulihat di dalam bilik-bilik itu? “Cepatlah masuk! Pangeran ada di dalam,” perintah lelaki tadi saat kami tiba di depan sebuah pintu yang sangat indah. Di luar dugaan. Ternyata aku bukan diantar ke dalam salah satu bilik yang hanya tertutup tirai tipis. Namun, aku diantar ke sebuah kamar yang tampak mewah. Pintu kamar ini terbuat dari emas dan yang selalu ada di mana pun yaitu ukiran ular. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Tampak suasana kamar yang benar-benar mewah. Aroma wangi bunga melati tercium tajam dari dalam kamar. Perlahan aku melangkah masuk. Belum selesai aku mengagumi isi dalam kamar yang mewah ini, tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Tidak lama kemudian terdengar suara desisan ular. Seketika tubuhku gemetar. Di sini aku benar-benar merasa ketakutan. Bingung harus melakukan apa. “Jangan takut, Nona!” “Siapa?! Si—Siapa itu? ” teriakku panik. Terdengar suara dari bawah tempat tidur. Perlahan-lahan keluar sesosok ular yang sangat besar. Lama kelamaan ular itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang kemudian berubah menjadi manusia. Sesosok lelaki tampan, gagah dan berpenampilan bak seorang raja tengah berdiri di depanku. Matanya terlihat begitu tajam memandang ke tempat aku berdiri saat ini. “Kecilkan matamu, Nona. Mengapa bola matamu begitu besar,” ejeknya kemudian tertawa sambil berdesis. Aku segera menundukkan kepala karena terkejut menatap lelaki di depanku ini. “Duduk, jangan hanya berdiri dan mematung. Tenang, aku tidak akan mematukmu.” Lelaki ini berbicara sambil selalu berdesis. “A—apa yang harus kulakukan Tuan? Tujuanku kemari untuk ....” “Ya, aku tau apa tujuanmu. Tak perlu kau katakan kepadaku karena kau adalah tumbal dari seseorang,” ucapnya memotong kata-kataku. Apa, aku tumbal? Apa maksud lelaki siluman ular ini bahwa aku tumbal. Ini adalah kemauanku sendiri tanpa ada yang meminta apa lagi memaksa. Lalu apa maksudnya mengatakan bahwa aku adalah tumbal? “Apa maksudnya, Tuan. Aku tumbal? Tidak ada yang mengirimku datang kemari tuan,” jelasku menampik ucapannya. “Kau begitu polos, Nona. Sehingga tak sadar jika kau adalah tumbal dari seseorang.” Dia terus saja berdesis-desis saat berkata. “Siapa, Tuan? Tolong berkata yang jelas! Tumbal apa, aku datang kemari untuk mencari kekayaan. Siapa yang telah membuat aku menjadi tumbal untukmu, Tuan?” Aku semakin merasa takut dan panik. “Tenanglah, Nona cantik. Aku tau hatimu baik. Tapi bukan berarti aku akan memberikan harta secara Cuma-cuma padamu, karena sesungguhnya kau tumbal dari pengikutku.”
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Jangan lupa Mampir dan saling dukung
06/04/2022
4mantap
8d
0seru
21/04
0Lihat Semua